Selasa, 17 Maret 2009

Melepas Kerinduan


Akhirnya jum’at 13 Maret pukul 19.45 keinginanku untuk mengunjungi salah satu tempat favoritku terpenuhi. Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat itu. Dua atau tiga bulan yang lalu, terakhir aku mengunjunginya.
Aku merasa nyaman mengunjungi tempat itu sejak setahun terakhir. Aku mengetahui tempat itu karena salah satu temanku, Hardianti yang mengajakku ke sana. Suatu hari di tahun 2008 dia mengajakku ke sana.
”Mbak, Yanti mau ajak mbak ke suatu tempat favorit Yanti. Tempatnya sederhana, tapi Yanti suke”, kata Hardianti.
”Bo...leh, ke mana?”, tanyaku dengan rasa penasaran.
”Nanti Yanti bawak. Tapi bukan hari ini”.
”Hari ni jak! Ambar dah tak sabar ni”.
”Tak bise. Tempatnye bukak kalau malam jak. Dia bukaknya dari Magrib. Nantilah kalau kita pas ada kegiatan lalu pulang malam, kita mampir”.
”Ok, Ambar tunggu. Awas bohong”.
”Ye.....”.
Akhirnya niat itupun kesampaian. Aku dan Hardianti pergi ke tempat itu saat suatu hari saat kami ada suatu kegiatan di kampus, dan mengharuskan aku dan Hardianti pulang malam. Tempatnya ada di Jalan Sultan Syahrir, tepatnya di depan warnet P3M tempat Hardianti bekerja dulu, yang kini tepat itu sudah beralih fungsi menjadi studio musik. Dulu nama studio musiknya adalah Fortosimo. Tapi kini sudah tidak menggunakan nama itu lagi setelah studio fortosimo fakum beberapa bulan, hingga akhirnya berubah menjadi ’Daun studio musik’.
Sebuah tempat yang sanggat sederhana. Seorang wanita separuh baya yang menjadi penjualnya. Dengan gerobak kecil, atap terpal (bahan karung berukuran besar yang biasanya untuk dijadikan atap penjual kaki lima) biru kecil sebagai atapnya, yang hanya ditopang dengan kayu di sebelah kiri dan kanan bagian belakang. Sedangkan di bagian depan tali pengikat terpal diikat erat pada gerobak. Hanya ada 4 meja berbahan plastik berukuran sedang, berwarna hijau disana. Dengan 4 kursi di masing-masing meja. Tempat itu sanggat sederhana.
Tempat itu hanya diterangi oleh satu lampu neon yang berada di gerobak, dan dibantu dengan lampu-lampu studio musik yang berada di balik tembok yang memisahkan antara tempat itu dengan penjual sekoteng tersebut. Sekoteng Warnet nama tempatnya.
Dulu tempat itu tak memiliki nama. Hanya saja setelah Warnet P3M pindah dan tak lagi berada disana, sejak itulah tempat itu diberi nama sekoteng Warnet. Kata Hardianti, tempat itu diberi nama sekoteng Warnet lantaran penjalnya ingin mengenag masa-masa saat Warnet P3M masih berada di sana. Penjual sekoteng memiliki hubungan dekat dengan orang-orang yang bekerja di Warnet P3M.
Sekoteng adalah nama salah satu hidangan dengan kombinasi air jahe yang mendominasi rasa, kacang hijau, mutiara, bulatan sebesar ujung ibu jari yang terasa kenyal yang terbuat dari bahan dasar tepung kanji, roti tawar, kacang tanah yang di goreng tanpa minyak (sangrai) lalu di tumbuk sekedarnya hanya untuk membuat kacang pecah-pecah saja. Kombinasi terakhir adalah susu kental manis. Semua kombinasi makanan itu dimasukkan dalam mangkok kecil. Diameter mangkoknya sebesar dua tengadah telapak tangan orang dewasa. Mangkok itu diletakkan dalam piring seng kecil sebagai alasnya.
Dulu aku sempat merasa aneh saat Hardianti mengatakan itu adalah salah satu tempat favoritnya. Lidahku juga juga belum terbiasa merasakan makanan itu. Rasanya sedikit aneh. Ada kombinasi rasa pedas yang dihasilkan dari air jahe, kacang tanah yang menimbulkan kesan seru saat mengigitnya ditambah susu yang membuat makanan itu lebih lezat. Tapi, setelah beberapa kali mencicipinya, aku ketagihan.
Suasana tempat yang sederhana, ditepi jalan dengan atap langit tak ada atap permanen. Sedangkan atap yang ada hanya menutupi gerobak dan 1 bagian meja yang berada di depan, yang menjadi tempat penjual bernanug jika suatu sat hujan turun. Aku bisa menikmati makanan sembari berbincang-bincang dengan sahabat dan bisa juga menikmati bintang-bintang juga bulan.
Setelah sekian lama tak mengunjunginya, sering aku berencana untuk menyambangi tempat itu. Pernah suatu hari aku mengajak Ica untuk ke sana. Tapi Ica tak bisa. Aku mengurungkan niatku. Keninginanku tak teecapai. Gagal. Hingga akhirnya tadi malam, aku dan Hardianti kembali mengunjungi tempat itu. Rumah kami berdekatan. Hanya berlainan gang saja.
Malam itu, Hardianti mengenakan kaos pendek berwarna cream yang dikombinasikan dengan swater berwarna hitam dan abu-abu, dengan rok coklat, kerudung berwarna ungu, tas kain denga motif bola-bola hitam dan merah serta sandal jepit.
Aku dan Hardianti langsung menuju tempat itu. Begitu sampai di sana, Hardianti berteriak, ”Mbak....Yanti kangen”.
”Yanti...apa kabar? Lamak tak ke sinik”, kata penjual sekoteng yang sudah mengenal Hardianti. Aku tak tahu siapa nama penjualnya. Kami memanggilnya Mbak.
Yanti juga berteriak saat ia bertemu temannya Puji yang sedang berada di sebuah tempat yang berada di samping Sekoteng Warnet. Tempat itu menjual sate. Puji adalah teman slah satu teman Hardianti saat ia masih bekerja di P3M dulu.
Hampir 5 menit Hardianti berbincang-bicang dengan sahabatya. Mungkin sudah lama mereka tidak bersua. Aku menuggu Hardianti di atas motor. Tak lama kemudian, Hardianti langsung menyambangi penjual sekoteng, aku mengikutinya.
Mereka tampak begitu akrab. Penjual sekoteng itupun bertanya pengalaman Hardianti selama belajar Bahasa Inggris di Oregon Amerika Serikat 2 bulan yang lalu. Saat mereka berbincang-bincang, penjual sekoteng itupun mempersilahkan kami duduk.
”Dudoklah Yan!”, katanya. Aku dan Hardianti memilih kursi di sebelah kiri gerobak.
”Duak ye mbak sekotengye! Punye Yanti kayak biase”, kata Hardianti. Penjual sekoteng itu sudah hafal selera Hardianti. Haridianti selalu memesan sekoteng tanpa bulatan (bola-bola) yang terbuat dari tepung kanji. Tak lama kemudian pesanan kami datang. Kami menikmati sekoteng yang sudah berada di hadapan kami.
Saambil menikmati sekoteng pesanan kami, Hardianti bercerita banyak tentang pengalamannya selama 2 bulan berada di Oregon. Bagaimana pola belajarnya, hari-hari yang begitu banyak pr (pekerjaan rumah), teman-temanya. Ia juga bercerita mengenai kerinduannya pada keluarga dan teman-temanya di Pontianak.
”Mbak, di sanak ade teman Yanti namanya Zaki, dia kuliah di ITB. Zaki itu ketua kelompok kami selama do Oregon. Die tu bahasanye bagus, pinter lagik. Yanti jak waktu awal-awal di sanak selalu dibantu kalau Yanti tak ngerti ape yang diomongkan bulek sanak. Dan die tu mbak kemaren diundang untuk ikut seminar di Harvad, mewakili daerahnye. Kebayang ndak Mabk pinternye die?”, kata Hardianti panjang lebar. Aku suka mendengarkan ceritaya. Aku tergoda untuk bisa mendapatkan kesempatan seperti yang di dapatkan Hardianti.
Hardianti menceritakannya dengan semangat dan penuh ekspresi. Tangannya ikut bergerak-gerak ketika ia berbicara. Jarang Yanti begini. Sejak pulang dari Amrik, dia lebih dia lebih ekspresif. Dia bukan lagi orang yang sulit untuk difoto. Bahkan dia menunjukkan beberapa posenye saat berada dirumahnya malam itu.
”Manis kan mbak?”, tanyanya padaku.
”He’e manis....”, aku hampir tak punya jawaban saat melihat foto yang ditunjukkan Hardianti padaku. Aku setengah tak percaya. Hardianti yang kukenal selama ini, anti difoto. Dia tak suka jepretan kamera. Dia hanya mau dijepret kalau bersama teman-teman. Dia selalu melarang kami yang dengan sengaja ingin mengambil gambarnya saat sendniri.
Tapi apa yang kulihat malam ini juah berbeda. Hardianti alias Yanti terlihat sangat ekspresif di saat difotonya. Dia tak malu-malu lagi bergaya didepan kamera.
Kami terus bernincag-bincang hingga larut malam. Pengunjung yang tadinya ramai sudah tak ada di sana. Hanya ada satu pengunjung yang sedang duduk menikmati sekoteng. Saat kami melirik jam di hp kami, ternyata sudah hampir jam 10 malam. Kami langsung pulang setelah membayar makanan yang telah habis sejak 30 menit lalu. Akhirnya setlah sekian lama, kerinduanku pada tempat itu terobati sudah.

Sepasang Spatu Plastik

Apa yang saat ini kutuliskan adalah kejadian pada Agustus 2008 yang lalu. Sudah lama memang.
Saat itu, aku sedang libur akhir semester. 2 bulan lamanya. Saat itu aku berpikir ingin cari kegiatan untuk mengisi liburan yang begitu lama. ’Pucuk di cinta, ulampun tiba’, temanku menawarkan kerja sama.
”Mbak, ada kegiatan ni. Mau ngak?”, kata temanku Hardianti lewat pesan singkat satu harii.
”Boleh, apa tu kegiatannya?”, aku langsung mengiyakan tawaran Hardianti, walau aku belum tahu apa kegiatan yang dimaksudnya. Pembicaraan kami berlanjut. Tak lama setelah kami berbincang-bincang lewat sms, Hardiyanti menelponku untuk menjelaskan kegiatan yang ditawarkannya.
”Ginik be mbak...Yanti ditawarkan untuk survei, ya macam penelitian gitulah. Tempatnya di Pontianak be, di Sungai Jawi”, Hardianti menjelaskan panjang lebar.
”O..gituk? Ok lah kalau gituk. Kite beduak ni?”, aku bertanya lagi.
”Iye...”, jawabnya singkat.
”Kapan mulainya?”.
”Katanya si kalau bisa secepatnya”.
”Ok, nanti kita bicarakan lagi”, pembicaraan kami berakhir.
Esok harinya, kami bertemu di kampus STAIN Pontianak dan kembali membicarakan kegaiatan yang akan kami lakukan.
Entah, apa alasannya waktu itu, kegiatan tak bisa segera dilakukan dan harus ditunda seminggu. Yang kuingat, Hardianti saat itu mendapat musibah. Ibunya masuk rumah sakit. Kami cansel start kegiatan itu, menunggu hingga ibu Hardianti pulih. Satu minggu sudah berlalu. Hardianti masih harus mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan ibu dan keluarganya. Tak selang beberapa lama, Hardianti tumbang. Dia juga sakit. Kegiatan survei harus segera dilakuakn. Tak bisa ditunda atau menunggu lagi. Hampir 2 minggu sudah tertunda. Hardianti menelponku.
”Mbak, udahlah. Mbak kerjekan jak same Ica ye! Yanti tak bise mbak kalau untuk minggu-minggu ni”, Yanti menjelaskan alasan mengapa ia mengudurkan diri dari survei itu.
Aku tak bisa berbuat banyak selain menyetujuinya. Aku tahu kondisinya saat itu. Aku tak mau membuatnya serba salah. Dan akhirnya aku memulai kegiatan itu bersama temanku Ica. Ica teman sekampusku. Dia tak menolak saat kami (aku dan Hardianti) mengajaknya bergabung bersama kami.
Kami (aku dan Ica) memuali survei itu dengan mendatangi kelurahan Sungai Jawi. Informasi awal yang kami dapatkan, kelurahan Sungai Jawi berada di kawasan Swignyoh. Tapi kami juga mendapatkan informasi jika kantor lurah Sungai Jawi itu terletak di Jl. Alianyang, tepatnya tak jauh dari simpang empat lampu merah menuju Jalan Pancasila.
Kami mengikuti pentunjuk kedua yang kami dapatkan. Kami berdua, aku dan Ica sama-sama tidak mengetahui dimana letak kantor kelurahanya. Kami menoleh ke kiri dan ke kanan.
”Ngah, perhatikan ke sebelah kanan ye! Ambar, perhatikan di sebelah kiri”, kataku pada Ica saat menyusuri Jalan Putri Candra Midi. Aku biasa memangil Ica dengan Angah. Angah adalah pangilan untuk anak tengah dalam bahasa Melayu.
”Ye lah...”, Ica menjawab pasrah.
”Ngah...ni dia lampu merahnya. Mana kantor kelurahannya? Dari tadi tak ada tanda-tanda bangunan kantor kan?”, aku bertanya pada Ica.
”Iya Mbar, sayepun tak ade nengok”, kata Ica.
”Lalu kite kemane ni?”.
”Terserah Ambarlah! Saye si ikut jak, saye pun taktahu”.
Melihat kepasrahan Ica aku hanya mengikuti filling.
”Ah...udahlah, kite belok kiri jak ye? Kalaupun tak ade, tadak be kite ni nyasar. Maseh kawasan Pontianak be”, kataku mengoda Ica.
”Ha’a be”.
”Mulai agik Ngah! Perhatikan sebelah kanan! Siapa tahu di dekat-dkat sinik kantornye”, aku kembali menyuruh Ica menebarkan pandangannya.
”Iye...buk”.
Dan tak lama kemudian setelah sesaat kami saling diam, mencari-cari kantor kelurahan.
”Ngah, Ngah, cobe tengok!”, aku menoleh kekanan sambil mebaca sebuah plang ’Kantor Kelurahan...’, itu die kantor kelurahannye. Alhamdulillah.....”, aku tak membaca plang itu lebih lanjut. Aku hanya membaca jika itu adalah kantor kelurahan. Aku juga tak tau itu kantor kelurahan wilayah mana. aku memberitahu kepada Ica dengan penuh rasa senang.
”Iye Mbar, Alhamdulillah... akhirnya ketemu juga”, Ica juga tampak senang.
Kami mulai masuk kawasan kantor keurahan itu. Aku memarkir motorku diantara motor yang lain yang sudah ada di halaman kantr kelurahan itu.
”Ngah, masuk lah! Angah yang ngomong ye!”.
”Ih...ndaklah, di kartu survior nye kan name Ambar. Ape pulak jadi saye”, Ica berkilah.
“Hihh…die ni. Alasan jak”, aku geram melihat tingkah Ica dan akhirnya aku mengalah. Kami masuk dengan ragu dan dengan detak jantung yang tak tetratur. Bisa urasakan detak jantungku waktu itu. Dag, dug. Sangat terasa.
Ini pengalaman pertama ku. Aku belum terbiasa. Ada rasa grogi, sungkan dan rasa-rasa lain yang berkumpul jadi satu dan tak terdeteksi lagi rasa apa itu.
”Bismillahirrahmanirrahim...., mudah-mudahan...lancar”, aku meyakinkan dan memberanikan diriku dengan lafaz Basmalah. Aku ragu. Tapi seketika itu juga, kutepis rasa ragu itu. Saat itu aku berpikir, orang lain tak akan mempercayaiku, jika aku tak memiliki rasa percaya diri pada diriku sendiri. Dan tugasku saat itu, meyakinkan pihak kelurahan agar aku bisa mendapatkan data-data yang ku perlukan. Aku kesal melihat ekspresi kemenagan Marisa alias Ica.
Dia tersenyum melihat kegugupanku.
”Masak survior gugup. Anak komunikasi harus bisa berkomunikasi dong..”, lagi-lagi dia membuatku geram.
”I...emanglah die ni. Lain waktu, awas jak”, aku membalas.
Aku dan Ica tak langsung masuk. Kami terhenti di papan pengumuman kelurahan yang terletak di teras. Menurut informasi yang kami dapatkan, kadang-kadang data RT, RW bisa didapatkan dari papan pengumuman. Tapi saat itu, kami tak menemukan data yang kami maksud.
Diruangan depan ada beberapa orang yang sedang duduk di bangku panjang yang terletak di ruangan depan kelurahan. Saat kami masuk, orang-orang disekitar memperhatiakan kami.
Ada seorang wanita yang sedang sibuk dengan kertas-kertas yang ada dihadapannya.
”Assalamualaikum, buk. Maaf buk, menggangu sebentar. Kami mau melakuakn survey di kelurahan Sungai Jawi dan kami membutuhkan data RT/RW di seluruh kelurahan ini. Boleh buk?”, aku berusaha meyakinkan pegawai yang sedang duduk ruangan bagian depan dengan menunjukkan surat tugas yang kubawa.
Ibu dengan pakaian seragam dinas itu, melihat dan membaca surat tugas yang kuberikan padanya.
”O..., tapi data apa yang mau diminta?”, ibu itu bertanya.
”Kami minta data RT, RW di kelurahan Sungai Jawi buk”.
”Ya udah. Masuk aja, temui bapak-bapak disana itu”.
”Makasih buk”.
Aku dan Ica lansgsung menghampiri seorang laki-laki terihat sibuk. Proses untuk mendapatkan data, tidak begitu lama. Hanya saja, kami harus menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang kami temui di kantor kelurahan itu. Pegawai kelurahan nampak ragu dengan kedatangan kami. Mereka curiga jika aku adalah salah satu tim sukses calon wlikota yang sedang mengumpulkan suara. Mereka curiga karena menurut mereka ada beberapa oknum yang tidak jujur dan menyalah gunakan data yang diberikan pihak kelurahan. Tapi syukur, aku dan Marisa berhasil meyakinkan jika kami berdua mencari data-data itu untuk kepentinagn survei, dan bukan untuk kepentingan lain.
Proses itu terus berlanjut. Hingga saat data-data itu sudah berada di tangan kami, aku membacanya. Data RT, RW kelurahan Sungai Bangkong. Aku terkejut.
”Pak, jadi ini bukan kelurahan Sungai Jawi Pak?”.
”Bukan dek. Ini kelurahan Sungai Bangkong. Kalau kelurahan Sungai Jawi tu di daerah Suwignyoh”.
’Aw...kenapa aku bisa jadi teledor begini....’, aku bergumam dalam hati. Aku kesal pada diriku sendiri yang tidak teliti.
”Wah..kami salah ni pak. Harusnya kami mendatangi kelurahan Sungai Jawi, bukannya kelurahan sungai Bangkong. Maaflah pak kalau begitu. Maaf telah menggangu aktifitas bapak. Terimaksih pak atas informasinya. Kami pamit”, aku dan Marisa langsung pergi menuju Jalan HM. Swignyoh.
Disepanjang jalan aku dan Marisa tertawa. Kami menertawai diri kami sendiri yang kurang teliti.
”Ya ampun...hampir aja kita salah Ngah!”, kataku pada Ica.
”Iya mbar ya? Kok kita bisa tak loding gini?”.
”Entah lah. Habis ini kita harus lebih teliti lagi. Jangan sampai kecolongan lagi.
Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di persimangan jalan HM. Swignyoh, Jalan Natakusuma, Jalan Alianyang dan Jalan Uray Bawadi.
”Kite dah masok Jalan Swignyoh ni. Mane...die kelurahannya?”, kataku pada Ica.
”Saye mane tau Mbar”, Ica menjawab singkat.
”Ya udahah kita cari aja. Kalau memang letaknya di sini, pasti ketemu”. Aku dan Ica menyusuri Jalana HM. Swignyoh. Kantor kelurahan Sungai Jawi kami temukan. Hampir sampai di ujung jalan itu.
Saat samapi di sana, aku melalui proses yang sama seperti yang kulakukan di kantor kelurahan sebelumnya. Lagi-lagi Ica tak menyerahkan tugas itu padaku.
”Alhamdullah ye Ngah. Urusanye tak ribet. Lancar-lancar jak”.
“He’e, syukurlah Mbar”.
Aku dan Ica mencari tempat foto copy. Data yang kami dapatkan harus kami foto copy karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencatatnya ke dalam foam yang telah tersedia.
Setelah urusan foto copy selesai, kami lansgung mengembalikan data yang kami dapatkan.
”Ngah, kite nak mindahkanye di mane ni? Kite harus carik tempat”.
”Terserah Ambar mau bawak saye kemane. Saya si ikut jak”.
”Ya udahlah, kite ke masjid Syakirin jak yuk!”. Marisa hanya mengangguk, tanda setuju.
Kami memindahkan semua data yang kami dapatkan ke dalam foam yang sudah tersedia di teras samping masjid syakirin. Teras itu tepat menghadap ke arah Jl. HM. Swignyoh. Didepannya ada beberapa makam. Kondisi lantainya kotor. Mungkin karena tempias air hujan. Saat itu musim hujan.
Kami menyelesaikan seluruh urusan traskip data. Urusan traskip selesai dan sampel yang akan kami datangi untuk mendapatkan data selanjutnyapun telah kami dapatkan.
Tiba-tiba, saat kami siap untuk pergi hujan turun. Sejak pagi, hari sudah mendung.
’Ngah ujan”, kite betedoh dibelakang jak yuk! Kalau di sinik, kite basah kenak tempias”.
”Ayok lah!”.
Kami berteduh dibagian belakang masjid. Kami duduk di bangku panjang yang terletak di depan warung kecil. Di warung itu menjual jajanan atau makanan ringan, sosis, haikeng, es instan dan lain-lain. Warung itu terletak di sudut teras belakang. Lama kami menunggu di sana. Bahkan hingga adzan Dzuhur berkumandang.
Setelah menunggu lama, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Gang Waspada 3 Jl. H. Rais A. Raachman. Target pertama kami adalah menemui ketua RT. Kami harus menemui ketua RT untuk mendapatkan seluruh data warganya. Setelah mendapatkan data warganya, barulah kami bisa mewawancarai 2 orang warga pada RT yang terpilih. Kami harus menemui 5 RT dalam satu kelurahan, 2 orang dalam satu RT. Total responden yang harus kami temui dalam 1 kelurahan adalah 10 orang. Begitulah yang harus kami lakukan seterusnya selama kurang lebih 1 minggu lamanya.
Target menyelesaikan survei dalam seminggu hampir gagal. Aku dan Ica cemas. Khawatir, kami tak bisa menyelesaikannya tepat waktu. Kami khawatir, karena perjalanan kami terhambat lantaran saat itu musim hujan. Hampir setiap hari di pagi, sore hingga mala hari hujan. Itulah yang membuat kami sedikit kerepotan.
Kmai keliling kelurahan Sungai Jawi untuk mendapatkan alamat responden sesuai dengan lembar acak yang kami gunaakan. Kami harus mendatangi Gg. Waspada 1, Gg. Nilam 5, Gg. Arafah, Gg. Bukit Seguntang. Masih ada 1 gang lagi yang tersisa, tapi aku lupa apa nama gangnya. Lokasinya tak jauh dari pusat perbelanjaan Garuda Mitra.
Kami melaksanakan tugas ini dengan lancar. Hanya saja ada beberapa hambatan yang kami temui. Dari ke lima RT yang kami temui, kami tak bisa bertemu langsung. Hanya 1 RT yang berhasil kami temui, selebihnya kami hanya membuat janji untuk datang kembali.
”Assalamualaikum...benar ini rumahnya Pak RT ya Buk?”, aku bertanya pada seorang ibu yangh sedang berada dihalaman rumahnya.
”Ya, benar. Ada apa ya Mbak?”, ibu itu kembali bertanya.
“Ini buk, kami mau menemui Pak RT. Kami mau minta data warga di RT ini buk. Pak RTnya ada buk?”.
”Minta data warga untuk kepentingan apa ya?”. Mendapatkan pertanyaan itu aku memberikan isyarat kepada Ica untuk menjelaskannya. Akhirnya Ica menjelaskannya.
Setelah beberapa menit Ica menjelaskan, sang ibu hanya menggangukkan kepala.
“O….tapi Pak RT nya sedang ngak di rumah. Bapak lagi kerja”.
”O...gitu ya buk. Kapan ya kami bisa menemui Pak RT?”.
”Mbak bisa datang lagi nanti malam”.
”O, ya makasih buk kalau begitu. Kami pamit. Mohon maaf sudah menggangu. Sampaikan salam kami kepada Bapak. Habis Magrib ya buk, kami kembali?”. Setelah temu janji aku dan Ica pamit dan meuju RT yang lainny. Tapi kamim mendapati hal yang sama. Kami tak berhasil menemui RT-nya. Kami hanya bisa temu janji.
Sore harinya, hujan kembali menguyur kota Pontianak. Jalanan basah, bahkan dibeberapa ruas jalan tergenag air. Saat itu sudah sore. Aku dan Ica memutuskan untuk pulang. Kami baru akan menemui beberapa ketua RT pada malam harinya.
”Ngah, mudah-mudahan nanti malam ngak hujan ya. Kalau hujan, cemane lah? Kite dah janji. Tak enak gak kalau kita tak datang”, kataku pada Ica saat kami diperjalanan. Hari masih hujan.
”Mudah-mudahan jak hujannya reda. Payah gak....anak kambeng takut hujan”, Ica mengodaku.
”Heh...nyaman jak ngatekan kite anak kambeng”.
”He2....ape jak namenye kalau ade orang tak bise kenak ujan? Asal kenak ujan, lalu demam”.
”Udah lah bising jak. Tengok jak, tulah nantik tu. Suke benar nak ngolok orang”.
”Dah lah..., kite tengok jak perkembangananya habis Maghrib”.
Tak lama kemudian kami tiba dirumah.
”Tak terse ye ngah, cepat pulak kite sampai rumah”.
“Ye, tak terase. Ambar tak tengok alam sekitar, betapok dalam mantel”.
Aku dan Ica harus menggunakan mantel waktu itu. Hujan tak bisa diajak kompromi, dan terus-terusan menguyur kota Pontianak.
Sesuai dengna rencana, usai Maghrib aku dan Ica akan langsung menuju 2 RT sekaligus. Hujan belum juga berhenti. Aku keluar masuk kamar. Resah.
”Ngah, cemane ni? Hujan belum berhenti. Kite nak nekat ke?”, tanyaku pada Ica yang baru saja usai shalat Maghrib.
”Itulah. Saye si tak ape. Tapi yang saye khawatirkan tu...Ambar nantik demam pulak berujan. Maklumlah anak kambeng”.
”Ngah.....Ambar cubit ye?”, aku memangil Ica setengah teriak.
”Yee...emang gak. Anak kambeng tak bise kenak ujan”.
”Tapi kalau kite tak turon tak nyaman gak. Kite dah buat janji dengan 2 RT. Nantik betungu pulak. Kalau kite besok buat janji lagi, takutnya mereke tak pecayak nantik”.
”Ye sih...tapi...”, belum selesai Ica berbicra angsung ku potong.
”Udah lah, tak pape. Nawaitu jak. Kalau emang demam, naseblah. Tu urusan dudi. Dah lah, angha tu siap-siap mang”, kataku sambil bersiap-siap.
”Ye be...”, jawabnye singkat.
Saat aku bersiap-siap, tiba-tiba Ica tertawa terpingkal-pingkal. Dia menertawaiku.
”Hi...tukan ape saye bilang. Anak kambeng tak bise kenak ujan. Nak turon, abes...minyak kayu putih dipakainye”.
”I...udah lah ngah...jadi-jadilah ngolok Ambar. Ni untuk keselamatan. Angah mau tangongjawab kalok Ambar kenapa-napa? Nantik angah panik, kalau Ambar saket”.
”Huh...sempat-sempatnye narsis. Udah belom?”.
”Udah, yok lah”.
Aku sudah siap dengan perlengkapanku. Berkas-berkas yang dibutuhkan sudah ada didalam tas. Ku cek satu persatu, tak mau ada yang ketinggalan.
”Udah belom ngah?”.
”Udah ni. Ambar punye kantong pastik 2 ngak?”.
”Kantong plastik untuk apa ngah?”, aku heran dengan pertanyaan Ica.
Setelah ku berikan kantong palstik yang dimintanya, aku terkejut bukan kepalang.
”Ya Allah Ngah...rupenye angah mintak kantong plastik untuk mbungkus kaki angah? Ambar kire untuk ape”, aku berbicara sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Ica.
”He2...biar kaos kakinye tak basah be”.
“Tapi, masah kite nak masok ke rumah Pak RT mcam tu. Dengan kaki plastik angah. Ndak ke heran nantik pak RT nye”.
”Nantik kalau dah nak masok rumah dibukak lah Mbar”.
”Cobe tengok angah tu. Macam orang nak perang. Pakai mantel, pakai helm standar, kakinye itam agik tu. Bebunyik-bunyik agik”, kami saling berpandangan, lalu tertawa.
”Ngah, bawa paying!”.
”Payung untuk apa lagi? Ndak ke kite pakek mantel?”.
”Ya, kita pakek payungnya kalau perlu. Pokoknya bawak jak lah! Nanti kalau kita pelu, ngak repot-repot lagi. Ni lagi musim hujan. Sedia payung be...”.
”Ye lah. Dah lah yuk berangkat!”.
Aku dan Icapun langsung pergi. Aku tak bisa mengehantikan tawaku. Aku terus tertawa disepanjang jalan. Tingkah Ica malam ini benar-benar membuat seluruh isi perutku menari-nari.
”Ngah jangan lupak, singah ke SPBU. Isik bensin lok”.
”Mbar..janganlah singgah. Kaki plastik saye ni nantik ketahuan”.
”Nanti angah mau dorong kalau motornye mogok?”.
”Ih...die ni. Yelah2. tapi nanti Ambar jangan ketawak-ketawan ye, waktu di SPBU. Nantik orang-orang di SPBU curige”.
”Tak janji ngah. Ambar tak bise nahan ketawak. Angah benar-benar gile malam ni”.
”Udahlah diam!”.
Selama berada di SPBU, aku tak bisa menghentikna tawaku. Tingkah Ica benar-benar gila. Dia berjalan dengan pelan agar orang-orang disekitar SPBU tak mengetahui keanehan yang ada pada kakinya. Dia berjalan, smabil menahan tawa. Dia memberikan isyarat agar aku berhenti tertawa. Tapi aku tak bisa.
”Ade ape dek, ketawak dari tadik?”, tanya petugas SPBU yang merasa aneh melihat tingkah kami berdua.
”Tadak bang. Tak ade ape-ape”, kataku sambil menahan tawa.
Setelah mengantri beberapa menit, tiba giliran kami untuk mengisi bensin. Begitu tangki motorku penuh, aku membayar lalu cepat meningalkan SPBU dan melanjutkan perjalanan.
Malam itu hujan belum juga reda. Kami menuju gang Bukit Seguntang.
”Ya...ngah, motor kita tak bisa masuk. Jalanya baru diperbaiki. Tu, ada kayu penghalangnya”.
”Ya udahlah motor, kita psrkir disini jak”.
”Tak ape ke ngah?”, aku sempat ragu aat Ica memutuskan untuk memarkir motornya di depan gang. Padahal rumah RT yang kami tuju, berada di ujung gang.
”Tak apa. Kita tawakal jaklah. Kita dah usaha dengan kunci stang. Jadi kita yakin aja sama Allah”.
”Ok. Sip”. Kami berdua langsung menuju rumah yang telah menjadi target kami. Mantel kututupkan diatas motor. Kami masuk dengan menggunakan payung yang kami baawa. Hujan masih lebat malam itu.
”Kapan angah nak buka tu sepatu plastik?”.
”Nantiklah, waktu udah sampai depan rumah Pak RT. Tenag aja”, kata Ica.
Ketika kami sampai dirumah tujuan, Ica langsung membuka plastik yang membalut kakinya yang berkaos kaki. Aku tak tertawa terpingkal-pingkal.
Rumah yang kami datangi sepi. Tapi beberapa motor ada di depan rumah. Setelah Ica selesai melepaskan sepatu plastiknya, barulah kami mengucapkan salam. Setelah mengucapkan salam beberapa kali, ditambah mengetuk-ngetuk pintu, pintu terbuka. Seorang ibu dengan yang sedang mengendong bayi yang menyambut kami malam itu.
Ku ketahui itu adalah istri Pak RT. Setelah mendapatkan data yang kami perlukan, kami langsung pamit.
Kami maish melajutkan perjalanan kami meunuju gang Arafah di Jalan Swignyoh. Tapi Ica tak lagi bersepatu plastik. Itulah, sepasang sepatu plastik yang hingga kini saat aku dan Ica bersama akan membuat kami berdua tertawa terpingkal-pingkal jika mengingatnya.
**Spatu platik: Kakinya dibungkus plastik, baru pakai sendalnya.

Sabtu, 07 Maret 2009

AADH??

Ada Apa Dengan Hati?
Ternyata benar. Apa yang sering ku dengar. Menjaga hati tak semudah menjaga diri. Hati sangat sensitif. Diam-diam hati mampu menjadi komentator handal dalam diriku. Sejauh ini, hal inilah yang kuraskan dalam diriku.
Rasanya, ingin....sekali menjaga hati agar hati mampu menjadi cermin yang bisa jadi cerminan diri. Bukan hati yang kotor, ibarat cermin yang usang penuh debu dan tak bisa terlihat lagi bayangan apapun yang ada didepannya. Sedih rasanya jika itu yang terjadi. Tanpa di sadari hati akan mengeras seiring dengan perubahan hari.
Begitu banyak debu-debu kesombongan yang akan menutupi kejernihan suara hati. Begitu juga dengan keluh kesah dan kurangnya syukur dengna begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan.
Tulisan ini lahir dari apa yang kualami sendiri. Bukan siapa-siapa yang memotivasiku untuk menuliskan ini. Aku hanya ingin menuangkan apa yang kuraskan. Aku terlalu sering berkeluh kesah. Terlalu sering lalai untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang begitu banyak. Terlalu sombong dengan diri yang sebenarnya hina. Terlalu angkuh untuk bisa mengakui kekurangan dan kesalahan diri. Terlalu merasa hebat dengan apa yang telah didapatkan. Padahal apaun yang ku dapat dan ku miliki bukan karena kehebatanku, bukan karena kecerdasanku. Bukan hanya itu. Banyak orang-orang disekitarku, keluarga, guru-guru, sahabat-sahabatku yang berperan untuk mendapatkan apa yang kutuju. Dan yang pasti Tuhan Yang Maha Baiklah yang telah menganugrahkan banyak nikmat itu.
Semoga saja debu-debu di hatiku bisa cepat ku bersihkan. Siapapun yang baca, mohon do’anya.

Rabu, 25 Februari 2009

Potongan "Coklat"

"Kasih sayang harusnya selalu ada disetiap detik yang kita lewati. Dengan begitu anda akan merasa lebih nyaman memiliki orang-orang disekeliling anda. Terlebih jika kita mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang begitu kita sayangi".

Siang menjelang sore, aku dan teman-temanku duduk berjejer didepan televisi. Itulah yang biasanya kami lakukan jika kami jenuh dengan aktifitas kami masing-masing. Hari itu, tak semua teman-temanku ada dirumah. Teman-temanku yang lain entah kemana. Eka yang sejak tadi berada di kamarnya, keluar dan menghampiri kami.
”Besok, Ambar kasi aku coklat ya!”, kata Eka 13 Februari lalu, saat moment yang dianggap sebagai hari kasih sayang (valentine) menjelang.
”Coklat apa Ka?”, aku bertanya padanya.
”Coklat valetine”, jawabnya singkat”.
Sebagian teman-temanku menantikan datangnya hari valetine. Valentine yang dianggap sebagai hari kasih sayang, memang identik dengan coklat. Saat aku dan Eka berbincang-bincang, kemudian kudengar Agus ikut berbicara.
”Agus juga ya Mbar!”.
”Ye...kitak semue mintak coklat. Macamlah. Ambar jak tak dapat coklat. Kitak pulak yang nak Ambar kasik. Sesama tak dapat coklat tu jangan saling meminta”, kataku sambil tertawa.
”Kau mau coklat apa In?”, tanya Eka pada Agus. In, begitu Eka biasa memanggil Agus.
”Coklat batangan ya!”, kata Agus dengan nada ringan.
”Yalah. Besok ku kasi kitak coklat. Tapi tak tau coklat apa, he, he...”, kata Eka sambil tertawa dan lansung ’ngacir’ (pergi).
Pembicaraan itu berlanjut hingga akhirnya mereka bubar. Tapi pembicaraan itu berakhir begitu saja, tanpa ending. Tak ada keputusan apapun. Akhirnya kami bubar dan kembali beraktifitas.
Eka dan Agus adalah teman kosku. Mereka berasal dari daerah yang sama, Sanggau. Teman-teman kosku yang lain entah sedang berada dimana saat itu. Hanya ada aku, Eka, Agus dan adikku Siti.
Keesokan harinya, saat momen 14 Februari menjelang, Agus sibuk dengan aktifitasnya. Entah apa yang dilakukannya. Emi dan Ema tak ada lagi di kos. Mereka pulang kampung. Kuliah sedang liburan. Sedangkan aku, Siti, Awek, Eka, Ririn dan Neni ada di rumah malam itu.
”Mbar, kemarinkan aku bilang mau kasi kalian coklat. Aku kasi malam ini”, Eka berbicara di depan pintu. Hanya kepala dan sebagian badannya yang tampak. Sedangkan anggota badannya yang lain, tertutup dinding kamarnya. Dia setengah mengintip malam itu. Entah apa yang disembunyikannya dari kami.
Mendengar apa yang dikatakan Eka, aku sempat tersenyum. Dalam hatiku berkata, ’Apa yang mau Eka kasi? Coklatkah?’. Belum sempat aku berpikir lebih jauh, Eka keluar dari kamar dengan memegang pisau, piring dan bungkusan berwarna kecoklatan.
”Aku mau kasi kalian coklat. Kemarenkan aku bilang mau kasi coklat. Nah...malam ini aku kasi”, dia berbicara sambil tertawa.
”Coklat apa Ka?”, aku bertanya.
”Coklat...”, Eka keluar dari kamarnya dengan membawa sesuatu. Tak lama kemudian dia duduk tepat dihadapanku. Tangganya sibuk mengiris makanan yang disebutnya sebagai coklat.
Aku tertawa melihat tingkah Eka. ’Ya Tuhan...Eka...ade-ade jak’, aku beegumam dalam hati. Aku mengenal betul makanan yang sedang dipotong-potong Eka. Dodol rebus. Begitu kami sering menyebutnya. Warnya kecoklatan.
Dodol rebus terbuat dari tepung ketan, yang dicampur dengan gula. Setelah menjadi adonan, dimasukkan kedalam kantong plastik ukuran ½ kg. Kemudian direbus selama 10 jam. Rasa dodol rebus tak jauh berbeda dengan rasa kue keranjang. Hanya berbeda pada bentuknya saja. Bentuk dodol, rebus mengikuti panjang plastik yang digunakan. Kalau kue keranjang bentuknya bulat dan relatif lebih kecil.
”Ini coklat...coklat dari kampung. Nenek aku yang buat. Dia lagi panen. Awek yang bawak. Inilah dia coklatnya”, kata Eka sambil terus memotong tipis-tpis dodol itu. Awek adalah adik Eka.
”Kak Eka ni, sangke coklat benar-benar. Semangat dah kite. E...dodol rupenye”, celetuk siti.
”Sama Sit, inikan warnanya juga kecoklat. Anggap jak ini coklat batangan. Makanlah!”, kata Eka, kemudian mempersilahkan kami memakannya.
”Ye...coklat lah kate die tu....”, Siti menggoda Eka. Eka tersipu mendengar kata-kata Siti.
”Kitak makan ya! In, kata kau mintak coklat. Ni dia coklatnya”, Eka memanggil Agus yang saat itu sedang berada di teras.
”Mana dia? Coklat apa?”, Agus tampak bersemangat. Tapi setelah ia mendekat dan tahu apa yang disebut-sebut dengan coklat oleh Eka, terdengar kata-kata yang sedikit aneh. ’Acek kau Ka’. Agus langsung kembali ke teras. Dia tak menghiraukan dodol yang Eka hidangkan.
”Hi...hi...”, Eka tertawa melihat temannya kesal padanya.
Kami berkumpul di depan televisi sambil menikmati coklat batangan alias dodol.

Jumat, 13 Februari 2009

Minggu, dan Penjual Manisan

“Ambar, Rohmah udah mau berangkat ke rumah Ambar”, begitu kira-kira pesan singkat dari temanku seminggu yang lalu. Minggu 8 Februari 2009, aku melakukan rutinitas mingguanku, bersama ke lima temanku yang tergabung dalam satu kelompok. Rohmah adalah salah satunya.
Rohmah baru ku kenal beberapa sebulan yang lalu. Rohmah teman yang cukup baik, walaupun belum beberapa lama aku mengenalnya. Dia ramah. Kami tergabung dalam satu kelompok setelah semua kelompok kegiatan kami mengalami perombakan di akhir Desember 2008. Aku dan keempat temanku membuat satu forum kajian rutin setiap hari minggu pukul 13.00 yang bertenpat di Gg. Era Baru Jl. H. Rais A. Rachman Sui. Jawi.
Biasanya aku pergi sendiri. Tapi minggu ini Rohmah mengajakku pergi bersama, walaupun rumah kami tidak berdekatan. Hanya saja, lokasinya tidak terlalu jauh. Kami sama-sama di kawasan Kota Baru. Entah apa alasan Rohmah mengajakku pergi bersaama. Bahkan ia menawarkan untuk menjemputku. Padahal sebenarnya aku bisa pergi sendiri.
Awalnya aku menolak, karena tak ingin merepotkannya. Tapi, aku juga sungkan untuk menolak ajakannya kali ini. Dia sudah beberapa kali mengajakku hunting buku, tapi aku selalu menolak, karena aku masih kuliah dan belum libur. Kali ini, aku tak kuasa menolaknnya. Kuterima tawarnnya.
Dia menelponku beberapa kali untuk memastikannya. Terakhir dia menelponku untuk meminta alamat kediamanku. Hingga akhirnya, Minggu siang dia datang ke rumahku untuk menjemputku.
Kami menyusuri jalan Prof. M. Yamin, lalu kemudian Rohmah membelokkan stir motornya ke Jalan Sutomo. Dia memacu motor grand yang tampak bersih itu dengan lamban. Awalnya aku aneh menyaksikannya, tapi akhirnya aku mengetahui mengapa ia memacu motrnya dengan sangat lamban.
”Mbar, Mbak Ais katanya telat. Jadi kita lambat-lambat aja ya? Biar mbak Ais sempat duduk-duduk dulu. Kasian dia pasti capek”, kata Rohmah.
”Oh...iye lah. Tak ape, kasian juga Mbak Ais. Pastilah dia capek”, pertanyaan dibenaku terjawab sudah. Mbak Ais adalah salah satu teman di kelompokku dan kegiatan mingguan bertempat dirumahnya.
Rohmah, tampak begitu mengenal kawasan Sungai Jawi. Dia keluar masuk dari satu gang ke gang yang lain dengan mudah tanpa hambatan. Jalan yang dipilihnyapun relatif jauh, berbelit-belit dan belum kukenal. Awalnya aku bingung, kenapa dia memilih jalan yang justru lebih jauh. Padahal kebanyakan orang meninginkan jalan yang bisa ditempuh dengan waktu yang lebih cepat.
”Jam berapa Mbar?”.
”Jam 12. 50 Rohmah”, aku segera melihat jam di hp ku.
”O...belum. Kita pelan-pelan jak ya? Biar kawan-kawan yang datang duluan”. Rohmah memperlambat motornya yang sedari tadi berjalan pelan. 10 menit kemudian, aku dan Rohmah sampai ke tempat tujuan. Penduduk setempat nampak sepi, gang demi gang yang kami laluipun tampak lengang siang itu.
”Mbak Ais udah nyampai ke belum ya Mbar?”, Rohmah bertanya padaku beberapa saat sebelum akhirnya kami sampai di rumah berpagar hijau No. 64 itu. Rumah Mbak Ais.
”Entahlah”, aku menjawab singkat.
”Tapi garasinya udah bukak tu! Coba Ambar liat, ada ngak motornya”, Rohmah menyurhku membuka pagar dan melihat kondisi garasi.
Aku membuka pagar dengan pelan dan hati-hati. Aku takut menggangu tuan rumah, yang mungkin saat itu sedang istirahat. Aku berjalan dengan langkah ragu. Ku tebarkan pandangangku pada bagian dalam garasi. ’Kosong, ngak ada motor, apa Mabk Ais belum pulang ya?’, aku bertanya-tanya dalam hati.
”Gimana Mbar? Ada ngak motor Mbak Ais?”, Rohmah bertanya dengan suara pelan, setenagh berbisik.
”Tak ada Rohmah, kosong. Tak ada motor satupun”, kataku menjelaskan kondisi yang kulihat.
”Gimana? Kita tunggu atau?”, kata-katanya sempat terhenti, kemudian dilanjutkannya lagi. ”Mbak Ais si nyuruh kita nunggu”.
”Ya udah kita tunggu aja”, kataku.
”Kita duduk disanak jak yuk!”, Rohmah berbicara sambil menunjuk ke arah kursi yang berada di halaman rumah salah satu warga. Posisinya tepat didepan kami.
”Eh...tak enak lah Romah. Itu kursi orang. Orangnya juga ngak ada”, kataku.
”Lalu, kita mau kemana??”.
”Entahlah, kalau nunggu disinipun ngak enak juga”, aku menjawab singkat.
”Iya, gimana?”, dia kembali bertanya padaku.
Kami berdiri berhadapan. Dengan wajah bingung, tak tahu apa yang mau dilakukan saat itu. Kami mulai tak tahan berlama-lama dengan kebingungan kami, ditambah dengan sinar matahari yang menyenagat kulit. Akhirnya, aku mengambil suatu keputusan.
”Udahlah Rohmah, kita nunggu Mbak Ais di warung depan aja yuk! Kalau disini ngak enak. Gimana, mau ngak?”.
”Ayok lah”, Rohmah setuju dan langsung memutar arah motornya.
Tak lama kemudian kami sampai di depan gang. Sampai disana kami kembali binggung.
”Wah, warung itu juga tutup Rohmah. Atau kita nongkrong aja disitu”.
”Terserah Ambarlah. Rohmah ikut aja”.
”Atau kalau Rohmah mau kita beli manisan dulu yuk! Sambil nunggu mbak Ais, kita makan manisan. Gimana?”.
”Ok”, Rohmah menjawab singkat.
Kami langsung mnghampiri penjual manisan keliling yang saat itu sedang berhenti dibawah pohon rindang diseberang jalan. Gerobaknya kecil, ada toples berukuran besar yang didalamnya berisi manisan pepaya, asam aram, nanas, sengkuang, kedondong, dan mangga. Manisannya hanya sisa sedikit, mungkin sudah banyak pembeli.
Di sana ada seorang laki-laki yang sedang sibuk memasukkan manisan ke dalam kantong plastik sesuai dengan takaran yang telah ditentukannya. Rohmah memarkir motor tepat disamping gerobak manisan itu.
”Ada manisan apa aja pak?”, aku bertanya pada laki-laki itu (penjual manisan).
”Ade kedondong, mangge, nanas, asam aram, pepayak same sengkuang dek”, laki-laki itu menjawab. Pertanyaanku tak membuatnya menyudahi aktifitasnya. Ia terus memasukkan manisan-manisan itu.
Laki-laki itu tak lagi muda. Rambutnya yang tertutup topi itu sudah memutih. Badannya sudah tidak tegap. Saat ia berdiri, badanya mulai condong kedepan. Giginyapun sudah tidak lengkap lagi. Ia memakai kaos lengan pendek berwarna putih bergaris hitam dan biru. Ia mengenakan celana berwarna hitam dan sandal jepit yang sudah menipis. Wajahnya tampak lelah. Tapi ia terus memasukkan manisan-manisannya kedalam kantong plastik dan melayani pembeli yang datang dan pergi.
Aku lalu berjalan ke melewatinya yang sedang asik dengan pekerjaanya dan memilih-milih manisan. Akhirnya aku memilih manisan nanas.
”Mau manisan apa Rohmah?”.
”Rohmah mau pepaya aja Mbar”, kata Rohmah.
”Berapa harganya pak?”.
”Dua ribu jak”, katanya.
Setelah kami memilih manisan dan membayarnya, kami tak langsung pergi. Aku melihat ada kursi bulat berwarna hijau di sebelah kanan gerobak manisan itu. Pasti itu kursi yang digunakan laki-laki itu saat ia menunggu pelangan untuk membeli manisaannya. Aku membuka pembicaraan.
”Boleh numpang duduk pak?”.
”O ya..duduk aja dek”.
Aku duduk di kursi bulat itu, sedangkan Rohmah duduk diatas motornya.
”Rohmah ngak apa-apa duduk disitu?”.
”Ngak apa-apa Mbar. Ambar duduk aja disitu”.
Kami menikmati manisan kami masing-masing. Beberapa menit aku duduk disana, ada beberapa pembeli yang datang dan pergi untuk membeli manisan. Aku memperhatikannya. Aku dan Rohmah tak banyak bicara, kami hanya diam.
Selang beberapa menit, datang seorang laki-laki dan perempuan dan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 3 atau 4 tahun. Kukira ia adalah suami istri.
”Alah.... e, cucuk datok ni”, hanya kata-kata itu yang kudengar jelas diucapkan oleh laki-laki penjual manisan itu. Ia mengendong dan menciumi cucunya. Ia tampak begitu menyayangi cucunya. Laki-laki itu berbincang-bincang dengan anaknya. Aku tak tahu apa yang mereka bincangkan.
Aku dan Rohmah masih menunggu Mbak Ais sambil memakan manisan kami. 5 menit kemudian pasangan suami istri itu pulang. Tiba-tiba laki-laki itu berbicra denganku.
”Itu cucuk aku, die tinggal di Jongkat. Bapaknye tak ade, kerje ke Malaysia. Itu sepupunye. Die nak pegi ke rumah keluargenye di sinik”.
”O...itu anak Bapak?”, aku bertanya padanya.
”Bukan, die anak kemanaan. Duluk si tinggal dengan aku di sinik. Tapi karene makney tinggal sorang di Jungkat sanak, jadi die tinggal di sanak sekarang, ngawankan mamaknye”.
”O....”, aku mengangguk-angguk.
Aku kagum dengan kasih sayangnya pada anak kecil yang disebutnya sebagai cucu itu. Percakapan kami terus berlanjut. Pembeli sedang sepi waktu itu.
”Bapak tinggal dimana?”, aku melanjutkan pertanyaanku.
”Di samping SMP 13, di Parit Tenggah”.
”Bapak memang mangkal di sini kalau jualan?”.
”Iya. Dari pagi jam 8 mangkal di sinik. Nantik sekitar jam 4 keliling ke gang-gang”.
”Untuk ngabiskan yang belum terjual ya pak?”.
”Iya”, laki-laki itu menjawab singkat.
”Bapak buat sendirik manisannya pak?”, aku bertanya lagi.
”Buat sendirik”.
”Lalu kapan Bapak buatnya?”.
”Kalau subuh-subuh tu, pegi ke Plamboyan belik buah-buahnye. Nantik sebelum pegi ngupasnye duluk. Kalau belum selesai dilanjutkan orang-orang yang ade dirumah. Duluk si tadak buat sendirik. Njualkan punye orang jak. Tapi njualkan punye orang tu susah, beresiko”.
”Ngape pulak pak?”.
”Ye, pegi pagi balek magreb. Nak balek awal, kenak omel, kalau balek magreb kite yang leteh. Barang tak abes, kite kenaknye. Kalau punye sendirik kan nyaman. Kite bise nakar sorang seberape banyak harus njual hari ini, kalau kite leteh nak balek tak ade yang marahkan”.
”Gituk ye pak? Lalu berapelah bapak dapat sehari dari jual manisan pak?”.
”Tak seberape si dek. Tapi ya....cukoplah untuk makan. Sehari dapat empat puloh”.
”Itu pendapatan bersih pak?”.
”Ya. Ya, cukoplah untok makan, cukupi kebutuhan sehari-hari”.
”Ye lah pak”.
Saat aku berbincang-bincang dengan penjual manisan itu, tiba-tiba Rohmah memanggilku.
”Ambar...itu Mbak Ais sama Wiwin. Ayoklah!”, Rohmah mengajakku pergi saat ia melihat Mbak Ais dan seorang temaku melintas dihadapan kami.
“Pak, kami pamit ye pak! Makkaseh kursinye. Pamit pak...Assalamualaikum”, aku segera menagkhiri pembicaraan kami dan pamit kepada laki-laki itu.
”O.. yelah. Same-same”.
Aku dan Rohmah lansung pergi menuju rumah Mbak Ais. Aku memandangi laki-laki itu. Aku bergumam dalam hati. ”Ya Allah, murahkan rezkinya. Semoga hari tuanya akan membawa banyak berkah”. Seketika itu juga, bayangan kedua orang tuaku melintas. Aku teringat kedua orang tuaku dirumah. Aku masih memandanginya. Dia masih bersemnagat untuk bekerja menjemput rezeki hingga akhirnya aku tak bisa melihatnya saat aku masuk salah satu gang yang tak jauh dari lokasi penjual manisan itu. Dan kami memulai kegiatan kami hari itu.

Rabu, 14 Januari 2009

Saat kami di tinggal pergi

Di balik dapur redaksi
Ambaryani

“Buk…Ape kabar? Warta dah terbit? Ari ape gak kbarnye? Peneng, stres ke die? Mak Nyah (begitu biasanya Hardianti memanggil Heriyanto) buat tugas gak? Atau ketika Yanti pulang nanti, Yanti bakalan kenak hukum?”, begitu kira-kira email Hardianti padaku seminggu setelah kebrangakatnnya ke Oregon Amerika.
Sejak tanggal 2 Januari kami resmi ditinggal ketua umum kami. Tak selang beberapa lama kami kembali kehilangan antek penting kami. Dian Kartika Sari pimpinan redaksi kamipun terbang ke Negara yang sama, hanya berbeda wilayah saja. Dian di Arizona.
“Kak, ngapa harus Ari? Tak bise bah Ari tu…”, Ariyunaldi yang didaulat untuk menjadi ketua umum sementara selama kepergian Hardianti sempat kebingungan dan protes .
“Tadak be Ri…duak bulan jek be…tadak lamak”, kata Hardianti menghibur.
“Tapi tetap jak tak bise”, kali ini muka Ari memerah, menandakan kekhawatiran yang luar biasa.
Tak hanya Ari yang merasa kebingungan. Teman-teman pengurus LPM yang lain pun merasakan kekhawatiran itu. Aku, sebenarnya merasakan kekhawatiran yang sama. Bahkan mungkin lebih dari apa yang Ari rasakan. Aku takut, aku tak bisa mengemban tugas menjadi pimpinan redaksi selama kepergian Dian Kartika Sari.
Suhu di kantor redaksi sempat beku, tak ada reaksi dari penghuninya. Aku bisa melihat kebimbangan teman-temanku yang lain. Terlebih masih ada beberapa Pr (pekerjaan rumah) yang belum selesai ketika mereka berdua, Yanti dan Dian pergi.
“Apa yang akan terjadi dengan LPM selama dua bulan ini?”. Hah…aku menghela nafas panjang, melepas sedikit beban yang kurasakan.
“Mbak….apa yang mau kita angkat untuk penerbitan edisi ini?”, Ari menanyakan perihal penerbitan padaku. Saat itu, aku, Ica, Lilis, Ari, Heri dan Syahbudin sedang menikmati gorengan di kantin Buk Karim.
“O…ye, apa ya yang mau kita ambil untuk penerbitan kita ni?”, aku balik bertanya pada Ari dan yang lainnya.
Pembicaran itu pun akhirnya mengalir begitu saja, hingga kami mendapatkan beberapa keputusan untuk penerbitan dan untuk kembali menjalankan roda kepengurusan LPM. Aku bisa merasakan semangat yang dimiliki teman-temnku.
Pembicaraan itu akhirnya kami lanjutkan dengan rapat umum dan rapat redaksi di kantor resaksi sekaligus penugasan (untuk liputan).
Wartawan mulai melakukan liputan. Anggota barupun sudah kami arahkan untuk penugasan. Sesuai dengan mandat yang telah diberikan oleh Hardianti. Semangat itu mulai muncul kembali.
Tapi, lagi-lagi kekhawatiran kembali muncul.
“Cemane ni lay outnye? Ambar belum bisa benar. Heri udah bisa ya? Heri kan kemaren udah belajar sebelum kak Yanti pergi”.
“Belom tau benar”, jawab Heri singkat.
“Ya Tuhan…apa yang akan terjadi dengan terbitan kami kali ini?”, kekhawatiranku semakin bertambah.
Aku dan teman-teman sudah telanjur berjanji tak akan mengecewakan dua orang teman kami. Kami juga sudah terlanjur bertekad, apapun yang yang akan terjadi dan apapun hasilnya, kami akan tetap beruasaha sebisa mungkin agar Warta bisa terbit. Itu komitmen kami. Tapi tetap saja, kami ingin memberikan yang terbaik. Tapi jika yang kami hasilkan tak seindah yang kami harapkan, itulah kemampuan yang kami miliki.
Proses peliputan sudah berjalan.
“Mbar, cemane ni? Ade narasumber yang tak mau di wawancarai”, Lilis wartawan kami, sekaligus ketua devisi peruasahaan tergopoh-gopoh menghampiriku. Dia tampak panik, karena tugasnya belum juga selesai. Date line pengumpulan berita sudah dekat.
“Emang kenapa Lis sampai tak mau di wawancarai? Katanya dia sibuk, banyak agenda. Dia bilang bisa di wawancrai haru Jum’at. Padahal kite kan nak ngeja date line. Dia tak mau tahu tentang itu. Mbar…Lilis diomelnya”, Lilis berbicara dengan wajah yang nampak lelah.
“Ya udah, nanti Lilis temui lagi. Siapa tahu beliau udah mau di wawancarai”, kataku.
“Ye lah…”, Lilis pasrah.
Marisa, Erika, Syahbudin, Septian, Zainuddin, Sabri tampak sibuk mencari sumber berita masing-masing. Hanya Heriyanto dan Ari Yunaldi yang tak begitu sibuk. Mereka hanya mendapat tugas untuk menghandle opini atau artikel, surat pembaca, foto dan karikatur. Aku sendiri harus mengkoordinir tulisan dari tiga Himpunan Mahasiswa Jurusan, Tarbiyah, Syariah dan Dakwah. Aku juga harus menangani kolom prasasti dan resensi.
Kamis, proses pengeditan sudah dimulai. Proses lay out serabutan. Dan belum tahu seperti apa hasilnya. Kita tunggu aja…

Minggu, 11 Januari 2009

Awal 1429 H Dalam kenangan

Ambaryani...
“Assalamulaikum, Mbar ni Iyan ni! Lagi di mana? Hari Minggu ada kegiatan gak? Kalau ngak ada Iya mau minta tolong ni!”.
“Hari Minggu…Em…ada sih! Tapi mau minta tolong apa dan jam berapa?”.
“Seharian!”.
“Wai, seharian? Mang ada apa?”.
“Ni HMJ ma Jurusan mau ngadakan Isra’ Mi’raj di Tohok dan kami minta tolong Ambar mau ya jadi mc nya?”.
“Di Tohohk? Em…boleh! Kapan, jam berape n pake ape kite perginya?”.
“Ya udah, kalau gitu, Ambar dimana ni? Iyan di kampus, kita ketemu di kampus ye! Kite bicarakan hal itu!”.
“Oke lah, bentar lagi Ambar ke kampus”.
“Makasih ya sebelumnya!”.
“Same-same”.
“Dah Iyan tunggu di kampus Assalamulaikum…”.
Begitu kira-kira pembicaraanku dengan salah seorang temanku yang menjabat sebagi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Dakwah Haryanto yang sering ku sapa Iyan. Saat Iyan menawarkan, aku langsung menyangupinya tanpa pikir panjang. Aku memang menginginkan perjalanan ini. Kata orang Tohok itu jauh, didaerah pelosok dan banyak orang nonmuslimnya. Dalam benakku, pasti saat aku kesana akan banyak tantangan dan hal-hal yang menantang! Berangkat dari rasa penasaran, akhirnya aku masuk kedalam salah satu daftar rombongan yang akan berangkat Minggu 27 Juli 2008.
Menurut info yang kudapatkan dari Iyan, kami akan berangkat menuju Tohok hari Minggu pagi menggunakan mobil STAIN. Aku mulai membayangkan, bagamana kondisi perkampungan yang akan kami tuju.
“Ca, kite telat ni. Kitekan disuroh kumpol di masjid jam 7”, kataku saat aku menyambangi Ica di kosnya.
”Iye ni, tak ape lah. Merekepun tak akan berangkat duluk bah, Ambarkan bagian dari rombongan, malah Ambar punya andil besar di acara nanti”, kata Ica.
”O ye lah. Tapi cobe Ica sms mereka udah di kampus belom’. Belum lama, aku mengatakan hal itu salah seorang dari rombongan menelpon Ica.
”Assalamualaikum....”, Ica menjawab pangilan itu.
”Walaikum slam, Ica sama Ambar dah dimana? Kami nunggu di masjid ni”. Ternyata Hamdi yang menelpon Ica.
”Iye bentar agik, kamek lagi di jalan”, jawab Ica dan pembicaraan itupun berakhir sampai disitu.
Kami menuju kampus dengan jalan kaki. Kami hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di kampus. Motorku tak bisa menghantarkan aku da Ica hingga kampus karena tak mungkin motor ditinggalkan di kampus seharian, sementara kampus sepi karena libur.
”Panjang umor die beduak tu’, kata Lilis yang ternyata ia s udah menunggu sejak jam 7.
”Sorry....tak pakek motor. Jadi agak lamak”, aku berkilah dengan nada bercanda. Ku lihat kekeslah teman-temanku melihat tingkahku seolah tak melakukan kesalahan.
”Mana mobilnya?”, Ica bertanya.
”Belom datang. Katenye si bentar agik, tadi dah di telpon Iyan”, Mursam menjawab.
Kami, tak langsung berangkat, karena kami masih harus menunggu kedatangan mobil yang akan membawa kami menuju Tohok. Ku mendapatkan informasi dari salah satu teman, jika keterlambantan mobil jemputan kami lantaran harus menjemput Drs. H. Dulhadi, M.Pd alias Abah, ketua jurusan kami.
Ketika mobil kijang avanza berwarna cream tiba, kami semua sumringah. Aku, dan keenam teman-temanku yang lainnya masuk kedalam mobil. Ada Ica, Lilis dan aku sendiri yang duduk di bangku tengah. Aku duduk dibagian tepi jendela. Di bagian belakang ada Ucu, Fitri, Vhona, dan Erni. Abah telah menduduki kursi bagian depan tepat di samping pengendara mobil. Aku tak tahu pasti siapa namanya, sebut saja bang Sarip.
Hamdi, Ari, Mulyadi, Mursam, Namen, Sarwono, Septian dan bang Samsul memilih mengunakan sepeda motor. Karena memang mobil tidak akan muat menampung kami semua.
“Kitak jangan ngebut ya! Santai jak!”, teriak Abah dari dalam mobil berpesan kepada teman-temanku yang mulai memacu kendaraan roda dua mereka. Tak ada reaksi yang berarti dari teman-temanku yang waktu itu sudah siap untuk melaju.
Mobil mulai bergerak meningalkan gerbang kampus. Tepat pukul 9 kami meluncur. Aku berusaha duduk senyaman mungkin dan mencari suasana yang mampu membuat aku lupa bahwa aku……..(ust….sebenarnya ini adalah rahasia perusahaan, jadi siapapun yang membacanya harap tidak menertawakanku, karena hari gini masihh aja ada yang mabuk, mabuk kendaraan darat (mobil, bis dan teman-temannya).
Aku sudah mempersiapkan permen, pagoda pastiles, air minum hingga minyak kayu putih untuk mengantisipasi kelemahanku saat bepergian. Aku juga telah mempersiapkan beberapa kantong plastik didalam tasku. Aku hanya antisipasi, karena kadang aku tak tahan dan langsung muntah. Dari pada malu dua kali lebih baik aku mengantongi kantong plastik “sedia payung sebelum hujan, sedia kantong plastik sebelum muntah” he...hal itulah yang selalu kulakukan jika aku bepergian.
Ini bukan tahun pertama aku berada di Pontianak dan bukan kali pertama, kedua atau ketiga aku bepergian menggunakan mobil, bis atau kendaraan roda empat lainnya. Genap delapan tahun bahkan sudah hampir memasuki tahun ke-sembilan aku berada di kota ini. Aku selalu menggunakan kendaraan yang serupa jika aku pulang ke kampung halamanku. Tapi hingga saat ini kebiasaanku (mabuk kendaraan darat) belum juga hilang. Kondisi inilah yang membuatku berpikir 13 kali jika aku ingin pulang ke kampung halaman. Aku phobia bis. Bahkan hanya mendengar suara bis dan mencium aromanya saja bisa membuatku pusing dan mual-mual. Kondisi yang sangat mnenyiksa dan tidak nyaman. Sangat tersiksa menjadi orang pemabuk sepertiku.
Pernah aku berjuang keras tidak muntah (tidak mabuk) ketika berada didalam bis hingga sampai ditujuan. Al-hasil aku didera rasa pusing, mual, padahal naik bisnya sudah belalu 1 hari 1 malam, yang pasti kondisinya tidak nyaman. Karena itulah aku memilih muntah dari pada menahannya tapi pusingnya tak habis-habis. Biasanya setelah aku muntah, kondisiku lebih baik, tapi tak jarang pula kondisinya malah lebih parah.
Kembali ke topic awal dan inilah kondisi yang kualami saat meuju Tohok. Kepalaku sudah mulai pusing saat mobil yang kami tumpangi berada di daerah Siantan. Perutku mulai terasa mual. Ku keluarkan botol air putih dari tasku, lalu aku menegak isinya. Ku gapai pagoda pastiles yang ada di bagian samping tasku, ku buka dan ku keluarkan beberapa butir isinya dan kunikmati bersama teman-temanku. Harapanku dengan begitu aku bisa bertahan.
Temanku Lilis juga merasakan hal yang sama. Dia memilih menikmati permen relaksa yang sengaja dipersiapkanya dan menikmati aroma minyak angina cap kapak yang dibawanya. Aku mencoba hal yang sama. Ku oles perut, tengkung dan leherku dengan minyak angin itu. Sebisa mungkin aku mengusir rasa pusingku.
Aku juga mencoba menikmati perjalanan itu, aku mencoba mempraktekkan mandat dari salah satu rekanku sebelum keberangkatanku (menikmati perjalanan itu).
”Biar tak mabok, nikmati perjalanan itu”, begitu bunyi pesan temanku lewat sms.
Disepanjang perjalanan, teman-temanku tak henti-hentinya berbicara. Sesekali aku mengikuti pembicaraan mereka, tapi aku terdiam saat rasa mual mulai menyerang. Ketika memasuki wilayah Mandor, dan mulai masuk ke perkampungan, Jalanan berbukit, di kiri dan kanan tampak gunung-gunung begitu dekat dengan posisi kami.
Lilis sibuk dengan hand phone kameranya. Ia seolah tak mau melepaskan momen itu. Ia terus memotret dan merekam keindahan yang dilihatnya. Entah tepatnya di kampung apa saat itu. Yang pasti, disitu ada pintu gerbang yang cukup besar dan tertulis kata “Selamat datang di kecamatan Landak”. Dalam hatiku berkata, “O…mungkin in area kabupaten Landak. Itu artinya…pikiranku sejenak menerawang”.
Saat memasuki kecamatan Tohok, Lilis berbicara setengah teriak. “Mbar…cobe liat ta! Ade si imut lewat. Selo…yak die lewat tu!”, kata Lilis.
Aku langsung mlihat kearah jalan dari kaca jendela mobil. Ternyata Lilis mengomentari babi yang berkeliaran di jalanan. Lilis merasa aneh melihat hal itu, karena memang hal itu tak penah kami jumpai di Potianak.
Tidak hanya itu. Kami menjumpai hewan peliharaan (anjing dan ababi) dengan bebas keluar masuk irumah warga. Ada yang berbaring di teras rumah, ada yang berada di tepat didepan pintu. Seketika itu juga aku bergumam dalam hati “Ini artinya orang-orang disini minoritas muslim”.
Dugaanku diperkuat dengan banyaknya bagunan gereja disepanjang jalan perkampungan itu.
Tapi tak beberapa lama kemudian, kami menemukan perkampungan yang nampaknya adalah perkampunga yang terdapat penduduk yang beragama Islam. Kami melihat beberapa wanita yang mengunakan jlbab. Selain itu, banyak juga bangunan masjidnya dibandingkan perkampungan sebelumnya. Semakin mendekati desa yang kam tuju, kondsi jalannya semakin menyempit dan rusak. Jalanan tanah merah setapak. Hanya bisa satu arah. Maksudnya, tak bisa dua mobil berpapasan seklaigus.
Akhirnya tepat pukul 11.30 kami tiba dirumah salah satu rombongan yang memang berdomisili disana. Rumah Hamdi. Rombongan yang lain yang mengunakan kendaraan roda dua sudah terlebih dahulu sampai. Tuan rumah menyambut kami dengan begitu ramah. Kami rombongan yang baru tiba, mengambil posisi agak jauh dari rombongan yang lain.
Teman-temanku menikmati hidangan (keu-kue) yang telah dsediakan. Aku yang saat itu dalam kondisi mabuk, tak bisa lagi menahan rasa mual.
“Ham…boleh Ambar permisi kebelakang?”, Ke wc maksudku.
“O…boleh ayoklah”, Hamdi langsung mengantarku ke wc.
Begitu aku sampai di wc aku lansung mutah. Sebenarnya aku malu, tapi saat itu memang tak bisa ditahan lagi. Kepalaku pusing, badanku gemetar. “Ya Allah…gimana mau jadi mc kalau gini keadaanya?”, kataku dalam hati.
”Maaf buk, saya memang tak tahan naik mobil pasti mabok”, aku berbicara dengan beberapa orang (tuan rumah) yang sedang sibuk masak di dapur.
Lama aku berada di wc. Tak tahulah, mungkin tuan rumah heran melihatku saat itu. Setelah aku merasa benar-benar lega, aku menyusul teman-temanku yang lain.
“Ngape Mabar?”, Tanya Marisa padaku.
“Ambar muntah Ca!”.
“Ha…muntah? Dah lah minum lok!”. Ica memberiku segelas es teh, lalu aku meminumnya.
“Agik ca aeknye…masih terasa mualnya”, aku menyodorkan gelasku kearah Ica.
“E…orang mabok tu, tak boleh banyak-banyak minum as! Dah Ambar makan kue jak”, Ica protes padaku.
“Iye nanti Ambar makan kuenya, tapi Ambar mintak aek lok!”. Ica menyerah dan memenuhi permintaanku. Kepalaku masih pusing, rasanya aku mau rebahan dan sitirahat. Ya…tapi apa boleh dikata, ini dinegeri orang dan baru kali pertama kami berkunjung. Aku menyandarkan kepalaku dibahu Ica saat itu.
“Duh kepalaku benar-benar pusing”.
“Ayo mbak makan dulu dirumah kakanya Hamdi!”, ibu Hamdi mempersilahkan kami meuju rumah yang tak jauh dari rumah itu.
“Ya Tuhan, kemana lagi ni?”. Rasanya aku sudah tak sanggup untuk berjalan jauh. Tapi, aku punya pilihan lain, selain harus mengikuti teman-temanku yang lainnya. Aku berusaha tampl fit, seolah-olah aku baik-baik saja. Padahal kalau boleh meminta, aku minta diberikan waktu 15 menit saja untuk rebahan.
”Syukurlah....” aku bergumam. Ternyata rumah kaka Hamdi posisinya tidak jauh. Hanya dipisahkan oleh satu buah rumah saja.
Menu makan siang kami waktu itu, ada sayur nangka, tumisan kacang, udang plus tahu, daging ayam, lalap daun singkong juga mentimun. Yang terakhir sambal belacan. Menunya cukup mengugah selera, dan tase nya pas sekali dengan seleraku, yang suka pedes dan asin. Usai makan siang, kami lalu shalat dzuhur. Tak beberapa lama setelah dzuhur, acara dimulai.
Aku mulai membaca kembali susunan acara yang telah disapkan oleh panitia pelaksana. Beberapa saat kemudian, kami menuju masjid Miftahul Jannah.
Luar biasa, aku kagum dengan cara mereka bersosialisasi dan menghormati tamu. Kami disambut dengan sambutan yang luar biasa. Antusiasme warga juga cukup luar biasa. Sungguh pola komunikasi yang sagat hangat. Mereka menyambut baik kedatangan kami.
Warga sudah memenuhi bagian dalam hingga bagian luar masjid siang itu. Kurang lebih 10 orang remaja berbaris dihalaman, untuk menyambut kami. Disebelah kanan berdiri remaja putri sedangkan sebelah kanan remaja putra. Mereka tergabung di remaja masjid Miftahul Jannah.
Kegiatan itu berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Hanya saja suara hujan membuat suasana sedikit riuh. Tepat pukul 15.30 acar itu usai, dan kami langsung shalat Ashar. Usai shalat, satu persatu warga yang hadir mulai pulang kerumah masing-masing. Kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Pontianak.
Sebelum pulang kami harus makan lagi. Menu yang sama hanya ada satu menu tambahan, yaitu tempe goreng. Ibu Hamdi dan kakak-kakaknya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.
“Mbak, ini kuehnya nanti mbak bagi-bagi dengan pak ustadnya ya! Ini selebihnya untuk mbak dan teman-teman, nanti di makan di mobil”, ibu Hamdi memberikan tiga kantong kue padaku.
“Ya ampun buk, kok repot-repot? Ndak usah, mobil udah penuh buk”, kataku.
“Ndak ini sudah ada, tinggal dibawa, ambil! Jangan ditolak mbak”.
“Makasih banyak ya buk!”.
“Ya sama-sama. Jangan kapok main kesini ya!”.
“Ya buk Insyaallah lain waktu kami kesini lagi. Makasih sekali lagi ya buk! Kami pamitan dulu, soalnya udah sore takut kemalaman”. Kami semua berpamitan dengan tuan rumah dan warga setempat.
Pukul 16.15 kami meninggalkan perkampungan itu. Jalanan licin lantaran terguyur hujan. Kami pulang diiringi hujan gerimis. Saat pulang, Alhamdulillah kondisiku tak separah saat keberangkatan.
Diperjalanan, kami harus berhenti di salah satu masjid di kawasan Pinyuh. Kami kemalaman dan harus shalat terlebih dahulu. Usai shalat, kami melanjutkan perjalanan kami.
Aku bisa menikmati perjalanan pulang waktu itu. Hanya saja sesekali rasa mual datang, tapi aku berhasil mengusir rasa itu. Tapi belum lama kami meningalkan masjid di Sui Pinyuh, kepalaku mendadak pusing. Aku ingin memejamkan mata (tidur maksudku), tapi tak bisa. Kondisi saat itu tak memungkinkan. Ku ambil hp ku, mengirimkan beberapa pesan singkat kepada teman-temanku. Berharap agar aku lupa kalau aku sedang mabuk. Rasa pusing itu sedikit hilang.
Tapi ketika berada didaerah Siantan, lagi-lagi terjadi. Aku tak tahan lagi menahan rasa mual. Ku ambil kantong plastik hitam dari tasku.
Perutku tersa mula tak karuan saat teman disebelahku membukan kantong yang berisi kerupuk dan dia menawarkan padaku. Aku belum sempat menolaknya tapi aromanya sudah membiusku, dan akhirnya muntahlah aku. Sungguh menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi? Pukul 20.00 aku tiba di rumah kos Ica.
“Ca, Ambar langsung ye!”.
“Nginap jak, udahlah mabok, gerimis lagi ni! Anak kambeng mane tahan kenak ujan. Dah ngiap jak! Tak usah balek. Awas kalau balek”, Ica melarangku pulang dengan nada sedikit.
“I…Ica ni! Ambar tu mauk cepat sampai rumah be…”.
“Emang kos Ica bukan rumah?”.
“Ye…maksud Ambar rumah Ambar”.
“Besok jak”.
Begitu sampai di kos Ica, aku langusng mandi dan istirahat. Bahkan aku tak menghiraukan Ica yang sedang sibuk didapur.
“Mbar susunya diminum lok! Habistu makan. Ica dah masakkan mie, ade gak nasiknye. Ambar tu mabok, jadi harus makan” kata Ica panjang lebar, dengan nada sewot, karena ia takut aku tak berselera untuk makan. Dia tampak khawatir dengan kondisiku.
“Hem…Ica bisa juga ya ngomel?”. Aku tertawa didalam hati. Selama ini Ica selalu komentar kalau aku banyak bawel. Katanya aku bawel alias suka ngomel. Tapi akhirnya dia ketularan juga. He….
Aku taksegera menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh Ica. Aku masih rebahan.
”Ambar cepatlah makan tu...pucat dah muke tu. Jangan nak bandel. Nanti saye bilangkan abi ni kalau anak kambeng bandel”.
”I...Ica ni, suke ngancam. Sikit-sikit dibilangkan abinye lah tu...suke nengok kite kenak omel abinye tu”.
”Iye lah, kalau bandel dan tak bise dibilang. Biar abi yang nangani”.
Aku menyerah, tak bisa berbuat banyak dan mengikuti kemauan Ica. Begitu habis makan dan shalat, kami istirahat melepas lelah hingga subuh.
Itulah perjalananku hari itu. Perjalanan yang mengesankan walaupun kondisiku tak tak mengasyikkan. Perjalanan yang mengesankan, asik, melelahkan tapi aku tak jera mengikuti kegiatan-kegiatan serupa. Menjelajah ke satu daerah ke daerah lain….Ambar akan menunggu kesempatan lain. Tak ape lah mabok-mabok lah. Bantai jak….

Bagi siapapun yang baca tulisan ini dan punya solusi terhadap masalah utama yang Ambar hadapi, yaitu mabok kendaraan, sudilah kiranya memberikan solusi!! Terima kasih sebelum dan sesudahnya.