<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943</id><updated>2011-07-08T01:31:00.104-07:00</updated><category term='http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/Sh_tBcS13AI/AAAAAAAAAKw/8du0M4ZjpZY/s1600-h/DSCN2277.JPG'/><title type='text'>ambaryani</title><subtitle type='html'>Hidup memang merupakan perjalanan yang tak pernah usai, butuh semangat dan kerja keras untuk sukses mengarungi perjalanan itu!Tak ada kata menyerah untuk ku!!!Selalu dan tetap semangat, suksesss</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>76</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-885972999084463148</id><published>2009-06-27T04:27:00.000-07:00</published><updated>2009-06-27T04:30:47.607-07:00</updated><title type='text'>Peltihan Jurnalistik LPM STAIN Pontianak</title><content type='html'>Assalamualikum Wr. Wb&lt;br /&gt;Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STAIN Pontianak akan menyelenggarakan pelatihan jurnalistik dasar. Kami bekerja sama dengan beberapa media di Pontianak. Diantaranya adalah harian Pontianak Post, Borneo Tribune, Tribun Pontianak, Equator dan Radio Mujahidin FM. Kami juga akan akan menghadirkan pemateri yang berkompeten di bidangnya. Sesuai dengan rencana awal, pemateri yang akan kami daulat dalam gawe kami kali ini adalah, Alexander Mering yang akan menyampaikan materi “Penulisan Fiksi”. Alexander Mering adalah redaktur harian Borneo Tribune. Pimpinan redaksi borneo Tribune Nuriskandar, berbicara penulisan “Narative Reporting dan Feature”. “Kait Menulis Opini Aritek di Koran”, akan disampaikan oleh Uti Konsen. Uti Konsen adalah penulis tetap halaman opini jum’at di harian Pontianak Post. Selanjutnya, Jessica Wuisang (Maya) akan berbicara mengenai “Teknik Fotografi”. Jessica Wuisang (Maya) saat ini adalah fotografer Antara biro Kalimantan Barat. Pemateri selanjutnya adalah Muslim Minhad Toeng, dari harian Pontianak Post akanberbagi ilmu mengenai “Teknik Pembuatan ka”rikatur”. Terakhir, adalah praktisi media harian Equator, Rosadi berbicara mengenai “Straight News”. &lt;br /&gt;Pelatihan itu akan diselenggarakan 3 hari 10, 11 dan 12 Juli 2009 mendatang, di ruang Nadwah, gedung Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak. Kami mengundang seluruh kawan-kawan mahasiswa, remaja masjid Pontianak kota, kawan-kawan mahasiswa yang tergabung di Lembaga Pers Kampus, kawan-kawan di organisasi kampus di Potianak, dan kami juga mengundang siapa saja yang mau mengikuti pelatihan ini.  &lt;br /&gt;Pelatihan ini kami desai yang pada akhir pertemuan nanti akan ada kesepakatan antara panitia dan peserta untuk mengadakan pelatihan jurnalistik lanjutan “Desain Grafis”. Pada pelatihan lanjutan itu, beberapamatrei yang kami rancang nantinya adalah, photo shope dan page maker. &lt;br /&gt;Kontribusi untuk kegiatan selama 3 hari ini adalah Rp. 20.000. Peserta akan mendapatkan buku tulis dan pulpen, sarapan, makan siang, dan sertifikat. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buruan Daftar!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadwal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Tanggal Waktu Acara Pemateri Penanggung Jawab&lt;br /&gt;Jumat, 10 Juli 2009 07.00-07.30 Registrasi,  - Panitia acara&lt;br /&gt; 07.30-08.30 Pembukaan - Panitia acara &lt;br /&gt; 08.30-10.30 Straight news Rosai, S. Sos. I&lt;br /&gt; Zainuddin &lt;br /&gt; 10.30-11.30 Pratek  Bersama peateri Panitia&lt;br /&gt; 11.30-12.30 Istirahat, shalat, makan siang - Panitia&lt;br /&gt; 12.30-14.00 Teknik fotografi  Jessica Wuisang Ari Yunaldi&lt;br /&gt; 14.00-15.00 Praktek  Bersama pemateri Panitia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 11 Juli 2009 07.00-07.30 Registrasi  - Panitia acara&lt;br /&gt; 08.30-10.30 Kiat menulis opini dan artikel di Koran Uti Konsen  Erika Sulistia. M&lt;br /&gt; 10.30-11.30 Pratek  Bersama peateri Panitia&lt;br /&gt; 11.30-12.30 Istirahat, shalat, makan siang - Panitia&lt;br /&gt; 12.30-14.00 Penulisan fiksi  Alexander Mering Ambaryani&lt;br /&gt; 14.00-15.00 Praktek  Bersama pemateri Panitia&lt;br /&gt;Minggu, 12 Juli 2009 07.00-07.30 Registrasi  - Panitia acara&lt;br /&gt; 08.30-10.30 Narrative reporting dan feature  Nuriskandar Nurkholissotin&lt;br /&gt; 10.30-11.30 Pratek  Bersama peateri Panitia&lt;br /&gt; 11.30-12.30 Istirahat, shalat, makan siang - Panitia&lt;br /&gt; 12.30-14.00 Teknik pembuatan karikatur Muslim Minhad / Toeng Herianto &lt;br /&gt; 14.00-15.00 Praktek  Bersama pemateri Panitia&lt;br /&gt; 14.30-15.00 Merumuskan kesepakatan pelatihan lanjutan dan penutupan - -&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-885972999084463148?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/885972999084463148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=885972999084463148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/885972999084463148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/885972999084463148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/06/peltihan-jurnalistik-lpm-stain.html' title='Peltihan Jurnalistik LPM STAIN Pontianak'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8689744765377854940</id><published>2009-06-02T06:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T06:28:38.267-07:00</updated><title type='text'>Rasa Yang Tertahan</title><content type='html'>Oleh : Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa 12 April 2009. Suasana ruang redaksi WARTA STAIN riuh. Suara 13 pengurus dan 10 anggota baru Lembaga Pers Mahasiswa membuat suasana sedikit gaduh. 2 orang pengurus tak hadir saat itu. 23 orang berkumpul dalam satu ruangan yang hanya berukuran sekitar 4x4 meter. &lt;br /&gt;Posisinya berhimpit-himpitan. Jarak antara satu orang dengan yang lainnya hanya satu hingga 2 jengkal saja. Formasinya tak beraturan. Aku dan teman-temanku mengambil posisi sesuai dengan kondisi ruangan. Ada yang duduk di balik meja, ada yang duduk bersingungan, ada yangm membelakangi, bahkan ada yang duduk tepat di bibir pintu. &lt;br /&gt;Kepalaku berdenyut-denyut. Pusing melihat kondisi yang begitu sesak. Tapi, semuanya menjadi baik-baik saja saat menyaksikan rona bahagia dari wajah teman-temanku. Semuanya memegang kado masing-masing. &lt;br /&gt;Hari itu, kami tukar kado dalam rangka ulang tahun LPM yang ke 4. Semua orang yang tergabung di LPM harus membawa kado yang harganya tak boleh lebih Rp. 10.000. &lt;br /&gt;Semua anggota baru sudah kumpul. Hanya saja beberapa orang pengurus belum ada ditempat. &lt;br /&gt;”Ka, ayok lah! Ninda dah tak sabar lagi ni nak tukar kado”, kata Ninda tak sabar menunggu acar intinya. &lt;br /&gt;”Belum lok nong...bang kawan-kawan pengurus yang lain belum kumpol semue”, kata ketua umum LPM Hardianti. ”Dah lah, kite bukak duluk jak mbak ye?”, kata Hardianti sambil menoleh ke arahku dan ku amini dengan anggukan kepala. ”Bukak nong!”, kata Hardianti sambil melihat ke arah sekertaris umum LPM Ari Yunaldi yang sedang memegang hand phone Nokia tipe 1111, dengan kombinasi warna putih dan biru dongker. &lt;br /&gt;”Ya Bunda”, kata Ari singkat lalu ia membuka forum itu. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian, suasana sedikit tenang. Hardianti memberikan kata pengantarnya. Dia  mengugkapkan jika ini adalah sejarah pertama, memperingati ulang tahun LPM dengan tukar kado. Semua orang yang ada di dalam ruangan tertawa disertai tepuk tangan. Suasana riuh kembali. &lt;br /&gt;Lalu, Hardianti mempersialhkan kepada kami semua untuk berbicara apa saja tentang apa yang dirasakan. Katanya, saat itu adalah sesi curhat. &lt;br /&gt;Sabri yang duduk di sudut kanan angkat bicara. Ia mengaku jika ini adalah pertama kalinya ia akan memberikan dan menerima kado. Sepanjang usianya, ia belum pernah memberi atau menerima kado. Ada rasa lucu di sana. Sejak lahir hingga hampir seperempat abat belum pernah menerima hadiah sekalipun. Kawan-kawan menyambutnya dengan tawa. &lt;br /&gt;Menyusul Septian berikutnya. Dia mengatakan, jika ia merasa bangga ada di tengah-tengah keluarga besar LPM. Dia mengatakan jika ia merasa bangga dengan perembangan LPM sejak setahun terakhir. Dan terakhir, dia mengaku jika ia merasa bersalah karena ia tidak maksiaml selama setahun terakhir menjabat sekretaris devisi Pengembangan dan Pemberdayaan Anggota  (P2A). &lt;br /&gt;Selanjutnya giliranku. Sebelum aku berbicara, suaraku tertahan sejenak. Seperti ada yang  menahan suaraku. Aku sedih ingin mengatakan hal yang sebenarnya, jika aku benar-benar menyayangi kebersamaan ini. Begitu berat jika mengingat, tak lama lagi kami akan mengakhiri masa tugas kami. Tugas yang begitu membuat kami merasa nyaman berada di dalamnya. &lt;br /&gt;Aku merasa bersalah karena selama ini begitu sering berbuat kesalahan. Saat itu aku mengatakan, jika aku merasa bersalah telah menjadi tim yang begitu cerewet. Aku juga mengugkapkan rasa terimakasihku atas pengertian teman-temanku atas kebiasaan burukku itu. &lt;br /&gt;Butiran bening tertahan di pelupuk mataku. Mendadak aku sedih dan ingin menangis. &lt;br /&gt;Hardianti yang ada di sampingku menepuk-nepuk punggungku dan mencegahku agar butiran bening itu tak tumpah saat itu. Aku mencoba menahannya, tapi kurasakan air matak sudah menetes dengan sendirinya. Aku segera mengusapnya. &lt;br /&gt;Teman-temanku meledekku. ”Kalau Ambar tak ngomel, bukan Ambar namanya”, kata Ica yang duduk di depan pintu. &lt;br /&gt;Setelah aku yang mengungkapkan isi hatiku, Ica berikutnya. ”Saye benar-benar cinte dengan LPM. Saye tak merase diikat di LPM, tapi LPM benar-benar membuat saye nyaman dan merase harus kembali kalau saye jauh dari LPM. LPM bukan rumah pertame saye, tapi I Love You LPM”.  Suara Ica terdengar parau. Matanya sudah berkaca-kaca. Mungkin ia juga merasakan hal yang sama denganku. &lt;br /&gt;“Saye, mauk ucapkan ma’kaseh ke kawan-kawanyang banyak Bantu saye melaksanakan program-program saye, dalam hal perikrutan dan pengukuhan anggota. Awalnye, dulu saye same Ari dah ade ngomong-ngmong setelah tahun ini, akan megundurkan diri dari LPM. Tapi kayaknye, itu akan dipertimbangkan lagi”. Heri mengkahiri pembicaraanya dengan tawa kecilnya. &lt;br /&gt;Seketika itu juga, rasa haru menyelimuti ruang redaksi. Rasa sedih yang tertahan, dan tak bias terungkap saat itu. &lt;br /&gt;“Ninda ni, cinte…benar dengan LPM. Suke Ninda bergabong di LPM ni, besukor benar”, kata Ninda angoota baru kami. ”Tapi, Ninda mauk bilang, bile tukar kadonye ni? Ninda dah tak sabar dah”. &lt;br /&gt;Saat itu juga hampir semua orang yang ada di ruangan itu tertawa dibuatnya. Setalah itu,  kami melangsungkan acar tukar kado kami. Semua orang membuka kado yang didapatkannya dengan rasa penasaran dan suka cita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8689744765377854940?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8689744765377854940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8689744765377854940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8689744765377854940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8689744765377854940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/06/rasa-yang-tertahan.html' title='Rasa Yang Tertahan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8596747574614184642</id><published>2009-06-02T06:10:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T06:24:46.748-07:00</updated><title type='text'>Dag Dug</title><content type='html'>Oleh : Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dag, dug. Jantungku sempat berdetak kencang saat melangkahkan kakiku menuju suatu tempat. Ada kekhawatiran dalam hatiku. Pukul 19.30 WIB, Sabtu 9 Mei 2009 aku dan seorang teman kosku Eka meluncur ke sebuah tempat yang selalu ramai jika malam Minggu tiba. Korem, begitu orang-orang menyebut tempat itu. Aku sudah lama tahu keberadaan tempat itu. Bahkan sejak delapan setengah tahun yang lalu. Aku juga sudah beberapa kali ke sana. Tapi bukan pada malam hari. &lt;br /&gt;Mungkin, sebagian orang akan menertawaiku, saat aku menceritakan hal ini. Akan tetapi memang benar daanya. Inilah pengalaman pertamaku pergi ke Korem, terlebih momen malam Minggu. Kuno, katrok, udik, mungkin itu yang akan orang katakana padaku. &lt;br /&gt;Selama ini aku belum pernah menginjakkan kaki ke tempat itu, karena memang aku kurang suka dengan keramaian. Kepalaku akan pusing jika berada di tengah keramaian. Bingung apa yang akan dilakukan. Selain itu, aku terkukukung oleh strotipeku dan pola pikirku yang begitu konyol. &lt;br /&gt;Aku teraliniasi oleh ikiranku sendiri. Aku takut dengan pandangan orang. Sebagian orang akan mengangap tabu jika wanita berjilbab ada di tengah keramaian. Terlebih Korem sering diidentikkan sebagai tempat untuk bercinta (berpacaran), bagi banyak kalangan. Bahkan seseorang akan berpikiran negatif jika mendengar seorang gadis yang sering keluyuran tidak karuan di malam hari, terlebih di korem. &lt;br /&gt;Kebanyakan orang sekitar akan berpandangan ”miring”. Bahkan anak-anak muda atau siapapun yang ada di sana sering dikonotasikan sebagai wanita atau laki-laki ”nakal”. Kali ini, aku ingin membuktikan sendiri bagaimana kondisinya. Apa saja yang orang lakukan di sana. Aku tak lagi memikirkan apa pandangan orang terhadap diriku. &lt;br /&gt;Malma itu, akhirnya aku sampai di sana. Aku dan temanku Eka, pergi ke tempat itu dengan satu tujuan. Ingin mengetahui seperti apa pola pergaulan anak remaja. Lingkungan yang dipilih remaja. Aku ingin observasi perilaku remaja yang punya kecendrungan tidak betah di rumah. &lt;br /&gt;”Mbar nanti jangan tingalkan aku ya?”, kata Eka yang merasa khawatir malam itu. &lt;br /&gt;”Iya”, jawabku singkat. &lt;br /&gt;Begitu sampai di tempat tujuan, kepalaku mulai pusing. Tempat itu padat. Manusia lalu lalang tak karuan. Kendaraan roa dua tersusun rapi di tepi-tepi jalan raya. Prit-prit...suara peluit petugas parkir mengarahkan setiap orang yang datang untuk mengarahkan ke tempat parkir yang di maksudnya. Penjual jajanan dengan gerobak pun tak kalah banyaknya. &lt;br /&gt;Aku tengok kanan tengok kiri. Pandanganku tertuju pada deretan topi yang disusun rapi. Kukira itu adalah tempat temanku berjualan. Menurut ceritanya, setiap malam Minggu dia berjulan di Korem. Tapi setelah ku perhatikan, penjulanya bukan temanku. &lt;br /&gt;Aku dan Eka langsung melihat penjual-penjual lain. Ada yang menjual sandal, sepatu mainan anak-anak, baju kaos, yang di hamparkan begitu saja di atas tikar plastik. Ada juga beberapa permainan anak-anak. Komedi putar, bebek engkol, ada juga pengunjung yang nampak asik menungangi kuda malam itu. &lt;br /&gt;Hampir di sepanjang jalan menyusuri tempat itu, Eka tak melepaskan tanganku. ”Mbar, jangan tinggalkan aku”.&lt;br /&gt;”Iya...nyantai aja. Jangan bawa muka anehnya. Walaupun kita sebenarnya aneh dengan tempat ini”, kataku.&lt;br /&gt;”Aku takut kau Mbar”.&lt;br /&gt;”Ok, tenang aja. Kalau ada orang mau macem-macem, kita teriak. Banyak orang be di sini”.&lt;br /&gt;“iya ya? Kita ke arah laut yuk!”, Eka mengajakku ke tepi sungai Kapuas. Aku mengikutinya.&lt;br /&gt;Di tempat itu jauh lebih lengang. Walaupun disepanjang sungai di penuhi pasangan muda mudi yang sedang berdua-duaan. Tapi kondisinya tak seramai di bagian depan. Hanya saja, saat berjalan menuju sana, butuh perjuangan. Padat bukan main. &lt;br /&gt;Di beberapa sudut jalan, terdapat bandar judi. Entah apa nama permainannya. Yang biasa ku dengar adalah domino, kolok-kolok, atau apalah namanya aku tak bnayak tahu tentang hal itu. Selama ini aku hanya tahu beberapa penyebutannya saja. Tapi tak tahu seperti apa jenis permainannya. Yang ku tahu pasti, orang-orang yang menyukai permainan itu akan menggunakan uang sebagia taruhannya. Sehingga keseluruhan permainan itu diberi nama judi. &lt;br /&gt;Aku sempat mengamati permainan itu dari jarak jauh. Aku tak bisa mendekat, karena begitu banyak orang yang ada disekitarnya. Semua orang yang berada disekitarnya laki-laki. Ada satu bandar yang mengendalikan permainan itu. Pandanganku tertuju pada seorang wanita yang duduk di sisi kiri bandar. Ia nampak mencermati jalannya permainan itu. Hanya dia perempuan satu-satunya yang masuk dalam lingkaran orang-orang yang berpartisipasi dalam permainan itu. &lt;br /&gt;Aku mengingalkan kumpulan orang itu. Lalu menajutkan perjalanan menuju arah sungai. Aku prihatin dengan kondisi tempat itu. Tempat itu begitu digemari orang. Orang-orang berbondong-bondong untuk melepas lelah di kawasan itu. Tapi kondisi sungai Kapuas yang kemuidian menjadi daya tarik tersendiri tempat itu, kotor dan tidak terawat. &lt;br /&gt;Di bibir sungai yang dibatasi semen, banyak sampah. Bahkan jika pengunjung duduk di tepi sungai, sampah itu berada di jung kaki. Jarak antara satu pasangan muda-mudi dengan pasangan yang lainya hanya 1 atau ½ meter saja. Mereka duduk, berbincang-bincang.  &lt;br /&gt;Langkah kami terhenti di sana. 10 menit mekudian, kami berbalik arah. Aku dan Eka memutuska pulang. Lagi-lagi, perjalanan menuju arah jalan, begitu padat. Aku jadi ternginag betapa sulitnya warga yang berdesak-desakan demi mendaatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang pemerintah berikan pada warga dengan kemampang menengah ke bawah. Melelahkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8596747574614184642?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8596747574614184642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8596747574614184642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8596747574614184642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8596747574614184642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/06/dag-dug.html' title='Dag Dug'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5814668266198363492</id><published>2009-05-06T05:08:00.000-07:00</published><updated>2009-05-06T05:17:08.058-07:00</updated><title type='text'>Di Penghujung Kesempatan</title><content type='html'>Oleh : Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis 30 April 2008. Aku dan teman-temanku kembali memasarkan WARTA STAIN. Usai kuliah, teman-temanku berkumpul di ruang redaksi WARTA. WARTA harus dilipat dan lain sebagainya, sebelum akhirnya sampai di tangan pembaca. Kami melakukannya bersama-sama. Manual, tak ada dibantu mesin. &lt;br /&gt;Abah Press, hanya bisa cetak saja. Tidak dengan melipat. Mesin cetak Abah Press, kecil. Bahkan tak bisa untuk cetak dengan ukuran kertas besar A3. Hanya bisa kertas folio. Di Abah Press lah selama ini WARTA melaui proses cetak.  &lt;br /&gt;Teman-temanku menyepakati WARTA kali ini adalah WARTA edisi bulanan. Kami menyepakatinya. Halaman lebih tebal. 32 halaman. Liputan lebih panjang. Ada beberapa kolom khusus yang kami munculkan hanya pada edisi bulanan. Kolom riset misalnya. Tapi kedepan, kolom riset akan menjadi kolom mingguan. &lt;br /&gt;Proses peliputan, pengetikan berita, editing, layout berlangsung 2 minggu. Prosesnya agak sulit. Terlebih saat hendak riset berlangsung. Teman-temanku kualahan. Dosen-dosen yang hendak di konfirmasi sedang sibuk. Saat itu dosen-dosen STAIN sedang sertifikasi. Bahkan kolom opini umum yang harusnya diisi oleh dosen pun kosong. Dosen tak sempat dan benar-benar sibuk saat itu. Tapi alhamdulillah, semuanya bisa kami tangani. &lt;br /&gt;Ditengah-tengah proses pengeditan dan layout, Dian Kartika Sari, pimpinan redaksi dan Hardianti ketua umum Lembaga Pers Mahasiswa memberitahukan hal yang sangat mengejutkan.&lt;br /&gt;”WARTA ni, edisi terakhir masa pengurusan kite mbak”, kata mereka berdua.&lt;br /&gt;Aku terdiam saat mendengarnya. Tiba-tiba aku merasa akan ada sesuatu yang akan hilang. &lt;br /&gt;”Benarlah ka ni edisi terakhir kepengurusan kite?”.&lt;br /&gt;”Ye lah. Kite kan nak mubes bentar lagik”, kata Dian.&lt;br /&gt;Aku tak berkata apa-apa.&lt;br /&gt;Semua proses selesai. Walaupun ada beberapa yang terlewatkan. Kami lupa mencantumkan pemberitahuan kepada pembaca jika WARTA kali ini adalah WARTA terakhir periode kepungurusan Hardianti dan kawan-kawan. &lt;br /&gt;Siang itu aku dan Marisa yang mengurus pembuatan plat dan ke percetakan (Abah Press). &lt;br /&gt;Esoknya, semua teaman-teman harus kembali ke lapagan. Bukan untuk peliputan. Melainkan untuk penjualan WARTA. Teman-temanku nampak bersemangat menawarkan WARTA di hampir seluruh sudut kampus. Tak terkecuali aku.&lt;br /&gt;”Mbar, siape yang pegang WARTA hari ni? Kalau nak ambek banyak berape harge?”, tanya Bang Taqin, asisten Pembantu Ketua III.&lt;br /&gt;”Ambar ade pegang bang. Ngape? Harge tetaplah. Untuk dosen 2000, mahasiswa 1500”, kataku.&lt;br /&gt;Bang Taqin menawar harganya. Dia mau ambil 10 ex. Akhirnya setelah bernegoisasi, aku menyepakati WARTA di jual dengan haraga 1500 kepadanya dengan jumlah 10 ex yang akan dibeli.&lt;br /&gt;Awlanya, aku heran. Mengapa tiba-tiba, Bang Khairu Mutaqin memesan WARTA begitu banyak. Setelah bertemu dengannya di Cairu, baru aku tahu apa tujuannya membeli WARTA 10 ex sekaligus.&lt;br /&gt;”Ni, kasi MPM 1, BEM 1. Yang penting ni udah ku bayar”, kata bang Taqin. &lt;br /&gt;Aku mengiyakan permintaanya. &lt;br /&gt;Sehari kemudian setelah proses penjualan rampung, beberapa teman kampus yang pernah duduk di BEM STAIN Ponbtianak, menunjukkan rasa tidak senangnya terhadap pemberitan kami. &lt;br /&gt;”Wah-wah kitak ni. Mbar, mauk kenak serang ke ape? Buat tulisan macam tu”, kata bang Khairu Amru, saat aku dan teman-teman LPM makan di kantin. Bang Sugeng yang ada dibelakangnya memilih diam. &lt;br /&gt;”Nyantai bang. Tak ade maksod ape-ape kamek ni”, kata Dian menyela pembicaraan Khairu Amru.&lt;br /&gt;”Kitak ni sekarang macam silet pulak ye. Mengupas secara tajam, setajam silet”, kata Amru meniru jargon salah satu acara di stasiun telivisi.  &lt;br /&gt;”Ape pulak begituk bang?”. Kali ini Yanti yang angkat bicara.&lt;br /&gt;Setelah proses makan selesai, aku dan teman-temanku mebicarakan reaksi yang kami dapatkan hari itu. Akhirnya, dengan kesepakatan pengurus LPM plus kesepakatan UKM dan tiga HMJ, akmi mengadakan diskusi KBM, Sabtu 2 Mei lalu. Kami menghadirkan MPM dan BEM sebagai pembicara. LPM menjadi fasilitator.&lt;br /&gt;Sayang sekali aku tak bisa mengikuti jalannya diskusi. Aku harus kuliah. Dari beberapa cerita yang kudapatkan dari beberapa teman, disukusi yang dipandu oleh Hardianti itu berlangsung lancar. &lt;br /&gt;Ditengah-tengah proses berjalannya diskusi, suasana sempat memanas. Tapi akhirnya suasana bisa dikendalikan dan diskusi beakhir damai dan tertib. Tak ada lagi ganjalan yang ada. Aku dan teman-teman LPM pun tak lagi khawatir dengan kondisi yang tercipta dari pemberitan kami. Karena UKM dan HMJ sempat memanas saat mendapati fakta yang kami sajikan. &lt;br /&gt;Semuanya berakhir dengan indah. Aku dan teman-teman bisa tersenyum lega. Walaupun ada rasa khawatir akan kehilangan kebersamaan yang telah tercipta antara seluruh pengurus LPM periode ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5814668266198363492?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5814668266198363492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5814668266198363492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5814668266198363492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5814668266198363492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/05/di-penghujung-kesempatan.html' title='Di Penghujung Kesempatan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5849783334462538115</id><published>2009-05-01T05:12:00.001-07:00</published><updated>2009-05-29T07:12:08.230-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/Sh_tBcS13AI/AAAAAAAAAKw/8du0M4ZjpZY/s1600-h/DSCN2277.JPG'/><title type='text'>Kacang Hijau Setengah Matang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/Sh_tBcS13AI/AAAAAAAAAKw/8du0M4ZjpZY/s1600-h/DSCN2277.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/Sh_tBcS13AI/AAAAAAAAAKw/8du0M4ZjpZY/s400/DSCN2277.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341248292115569666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, udah masak ke kacang hijaunya? Udah kakak tegok”, tanya Erika padaku sambil berdiri. &lt;br /&gt;”Belum Rika. Tadi udah kakak tengok. Bentar lagi mungkin masak”, jawabku.&lt;br /&gt;Rika yang tadinya sudah berdiri untuk menghampiri dapur umum kami, kembali duduk. &lt;br /&gt;Aktifitas panitia dan anggota baru LPM masih terus berlanjut. Mereka masih sesi evaluasi kegiatan selama 2 hari. &lt;br /&gt;Erika adik tingkatku. Dia bergabung dalam satu organisasi yang sama denganku. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) STAIN Pontianak. &lt;br /&gt;Saat itu kami sedang berada di atas bukit Rill yang disekelilingnya tumbuh pohon-pohon besar berdiameter 30 hingga 60 cm. Bukit itu tidak begitu lebar. Kurang lebih hanya 10x10 meter saja. Kawasan bukit Rill terletak di hampir ujung gang Panaca Bakti, Siantan-Pontianak. Sebenarnya, bukit itu tidak berada di penghujung gang. Setelah belokan melewati hampir 4 kilo meter perjalanan, masih ada jalan setapak yang sulit dijagkau oleh kendaraan bermotor. &lt;br /&gt;Kami di sana untuk melaksanakan agenda pengukuhan  anggota baru LPM. Kegiatan itu berlangsung 25 hingga 26 April 2009. Aku, Erika, Hanisa Agustin dan dibantu teman-teman yang lain menyiapkan sarapan untuk peserta dan panitia selama 2 hari kegiatan. Entah apa alasan, kawan-kawan memposisikanku sebagai bagian logistik. Yang pasti selama 2 hari, bagian logistik merupakan tanggung jawab ku. Walaupun setelah berada di lapangan teman-temanku banyak membantu. &lt;br /&gt;Hingga pagi itu, aku yang bertanggung jawab menangani sarapan pagi teman-temanku. Aku yang dibantu Erika, mulai memasak. Menu  pagi itu, adalah bubur kacang hijau. &lt;br /&gt;”Rika, cemane ni ngidopkan gas nye?”. Aku mulai panik saat salah satu kompor gas kami tidak mau menyala. &lt;br /&gt;”Mang kenapa ka?”, tanya Rika. &lt;br /&gt;”Entahlah”, jawabku singkat sambil mencoba kompor yang satunya. &lt;br /&gt;”Tak, tek. Tak, tek”, berkali-kali aku mencoba menghidupkan kompor. Tapi tetap saja tidak berhasil. Awalnya, aku tak tahu apa masalah kompor itu. Aku cuek saja. &lt;br /&gt;Aku beralih ke kompor yang satunya. Hanya 3 kali mencoba, kompor itu sudah menyala sempurna. Dandang besar yang sudah ku siapkan segera ku letakkan diatas kompor. &lt;br /&gt;Aku kembali bergabung bersama panitia dan peserta. Sambil sesekali menuju dapur,mengecek kondisi kacang hijau yang kumasak. Rika, Lilis dan Syahbudinpun sesekali mengeceknya. &lt;br /&gt;Setelah sesi evaluasi selesai, kami memegang peranan masing-masing. Teman-temanku yang lainnya merobohkan tenda dan membersihkan ligkungan. Aku, Erika dan Syahbudin menuju dapur. &lt;br /&gt;Belum aku sampai di dapur, Erika mengejutkanku.&lt;br /&gt;”Ka, apinya mati”, kataya sertengah berteriak.&lt;br /&gt;”Udah, jangan-jangan habis gas”, kata kak Dian pemilik kompor gas tersebut. &lt;br /&gt;”Wah, kalau habis gas, cantek cerita. Kacang hijau belum masak”, gumamku dalam hati. &lt;br /&gt;Setelah diperiksa, ternyata benar. Gas habis. Kacang hijau belum begitu matang. Masih keras. Dalam sitilah melayu, ”kacangnye maseh celek”. Kacangnya baru pecah menjadi dua. Belum terlalu masak. &lt;br /&gt;”Udahlah Rika. Kite kasik jak susu same gulenye, walaupun kacangnye maseh keras, tapi nyaman gak rase kuahnye”, kataku mempermudah keadaan.&lt;br /&gt;”Tapi masih belum terlalu matang ka”, bantah Rika. &lt;br /&gt;”Lalu, anak-anak nak di kasi makan apa? Nak masak indomi gas dah tak ade”, kataku.&lt;br /&gt;”Iya ya ka?”, jawab Rika heran. &lt;br /&gt;Mungkin Rika heran dengan keputusanku, yang kemudian tangsung memasukkan susu ke dalam dandang yang berisi rebusan kacang hijau. Syahbudin emmbantu kami saat itu. &lt;br /&gt;Erikapun langsung membuka kantong gula merah dan mengirisnya, lalu di masukkan dalam dandang. &lt;br /&gt;Saat semuanya sudah beres, kami sarapan. Aku dan 21 teman-temanku anggota LPM duduk diatas tikar plasti berwarna biru. Piring dan mangkok peserta mulai ku isi dengan kacang hijaunya. &lt;br /&gt;”Kawan-kawan, harap maklom ye kalau sarapannya tidak memuaskan. Karena gas habis, jadi kacagnya masih keras”, kataku dihadapan peserta dan panitia dengan rasa bersalah. &lt;br /&gt;”Mbak-mbak. Dikasik kacang ijau maseh keras anak orang tu. Mang lah die ni?”, kata Yanti protes. &lt;br /&gt;”Cemane gak? Gas habes. Harap maklom lah”, jawabku. Teman-temanku tertawa melihat kondisi itu. Akhirnya, peserta dan panitia sarapan dengan menu kacang hijau setengah matang.&lt;br /&gt;Mengenai gas, teman-teman ku dari UKM Racana STAIN sempat meledek. “Baru ini tengok orang kemah pake kompor gas”. Kami, hanya tertawa mendengar ledekan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5849783334462538115?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5849783334462538115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5849783334462538115' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5849783334462538115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5849783334462538115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/05/kacang-hijau-setengah-matang.html' title='Kacang Hijau Setengah Matang'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/Sh_tBcS13AI/AAAAAAAAAKw/8du0M4ZjpZY/s72-c/DSCN2277.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-1860751600790146538</id><published>2009-05-01T04:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-01T04:31:08.571-07:00</updated><title type='text'>Sebuah tantangan di lapangan</title><content type='html'>Oleh : Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma khas pemilu masih merebak dimana-mana. Masih kurang lebih dua bulan mendatang negeri ini masih akan terus sibuk dengan aktifitas politik. Bahkan jauh-jauh hari sebelum saat pemilu tiba, banyak aktifitas yang menuju ke arah itu. Banyak lembaga survei yang tak ingin ketinggalan memprediksi siapa yang akan didaulat maju pada perhelatan akbar negeri ini. Lembaga survei politik nasional Center For Indonesian Regionla and Urban Studies (CIRUS) misalnya. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan Oktober 2008 penulis yang ditemani satu teman, bergabung didalamnya. Setelah beberapa bulan sebelum bergabung dalam lembaga survei politik lain.&lt;br /&gt;Sebenarnya sesuai jadwal formal, survei itu harusnya dilaksanakan pada bulan November. Tapi karena terbentur beberapa hal, maka bulan Oktober, tepatnya usai Idul Fitri baru bisa dilaksanakan. Dua kali tergabung dalam lembaga survei politik nasional CIRUS, menjadi suatu pengalaman yang berbeda. Pada survei sebelumnya, lokasinya adalah di keluarahan Sungai Jawi yang mayoritas etnis Melayu. Begitu juga dengan survei yang kedua, dan ketiga. Pada survei ke empat dan ketiga, lokasinya adalah Darat Skip dan Benua Melayu Laut. &lt;br /&gt;Sebelum langsung menuju ke lapangan, penulis menghimpun informasi awal mengenai lokasi tersebut. Dari beberapa kawan, penulis mendapatkan informasi jika kedua lokais tersebut mayoritas penduduknya adalah etnis Cina. Penulis sempat berniat mengundurkan diri. &lt;br /&gt;Begitu mendengar mayoritas penduduknya Cina, yang terlintas dalam benak penulis adalah pasti survei ini akan lama dan begitu banyak kendala. Penulis merasa harus maju atau mundur. Isu etnisitas bermain di sini, dan berpengaruh pada kesiapan penulis. Banyak orang beranggapan, memiliki strotipe etnis Cina adalah salah satu etnis yang memiliki tingkat apatis yang tinggi terhadap perkembangan dunia politik. &lt;br /&gt;Isu ini juga dikaitkan dengan tipologi etnis Cina yang pekerja keras, memiliki etos kerja yang tinggi dalam perbisnisan dan sektor ekonomi. Dan hal itulah yang sering menjadi landasan munculnya trotipe itu. ”Pembisnis jarang yang mau peduli terhadap hal politik”. &lt;br /&gt;Tapi, mau tidak mau tugas ini harus dijalankan dan penulis tuntaskan. Tahap awal survei adalah mencari data penduduk melalui kelurahan di wilayah yang telah di tentukan. Dari data yang penulis dapatkan, ternyata benar. Banyak penduduknya etnis Cina. Semangat berkuran dan melemah kembali. Lagi-lagi, penulis meyakinkan diri, ini sudah terlanjur basah. &lt;br /&gt;Proses-proses selanjutnya berjalan. Pengambilan data tingkat RT dan seterusnya. Hingga kami mendapatkan sebagian dari sampel yang harus kami wawancarai untuk kepentingan survei tersebut sebanyak 10 orang adalah etnis Cina. &lt;br /&gt;Strotipe-strotipe atau penilaian-penilaian awal masih sangat lekat. Dan ketika berhadapan langsung dengan kondisi rill dilanpangan, hal itu terbantahkan. Walaupun ada beberapa yang benar. Dalam prosedur survei, surveyor harus mengunjungi hingga 3 kali jika sampel yang didapatkan tidak bisa dijumpai dalam kunjungan pertama dan kedua. Penulis pun mengikuti prosedur tersebut. &lt;br /&gt;Saat penulis mendapatkan sampel dari etnis Cina, penulis 3 kali menyambangi rumah tersebut. Kunjungan pertama, yang  ada dirumah hanyalah sitrinya. Sedangkan sesuai prosedur dan cara yang telah ditentukan, yang harus diwawancarai adalah kepala keluarga. Sang istri menyarankan datang pada sore harinya. Sore harinya penulis datang kembali, hasilnya nihil. Pintu rumah terbuka lebar. Tapi saat pagar yang terbuat dari kayu setinggi 2 meter tertutup rapat. Penulis tidak langsung masuk dan mengetuk-ngetuk pintu pagar. Lebih dari 5 menit penulis menuggu. Tapi tak ada hasil. Pada kunjungan yang ke tiga, lagi-lagi orang yang sebenranya menjadi sampel tidak ada di tempat. Jika hal tersebut terjadi alternatifnya adalah, orang yang usianya istrinya atau orang yang usianya lebih muda dari sampel pertama. Dan prosedurnya memang begitu. Tak bisa sembarangan memilih sampel. &lt;br /&gt;Tapi, yang penulis dapatkan tidak sesuai dengan harapan. Kami harus pergi tanpa hasil. Ibu itu menolak ketika hendak penulis wawancarai, dengan alasan tidak mengetahui dan tidak mau mengenai hal politik. Kecewa, plus kesal rasanya. Tapi semua itu sudah menjadi konsekwensi saat penulis menyangupinya. &lt;br /&gt;Hal serupa terjadi lagi. Kesulitan itu terulang kembali, dan bukan pada keluarga etnis Cina. Tapi etnis Melayu. Penulis mendapatkan bantahan dari strotipe yang terbangun dalam pikiran penulis. Tidak hanya etnis Cina yang apatis terhadapa dunia politik. Etnis lain juga begitu. &lt;br /&gt;Hal itu juga ternbantahkan saat penulis melaksanakan survei di kawasan Darat Skip. Salah satu lokasi yang terpilih adalah kawasan pasar kapuas Indah dan pasar Tengah. Bisa di bayangkan, bagaimana survei bisa berjalan lancar jika sampelnya komunitas pedagang, pengusaha yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu. Lagi-lagi, nyali penulis ciut. &lt;br /&gt;Awal pencarian rumah RT terhambat. Sulit sekali mendeteksinya. Karena kebanyakan rumah-rumah dikawasan pasar, tertutup ruko atau toko. Hingga kami mendapatkan ketua RT nya yang juga etnis Cina. Sambutanya cukup hangat. Tidak ada raut penolakan, walaupun nampak ada keraguan di detik-detik awal kedatangan penulis. Tapi setelah penulis jelaskan apa maksud kedatangan penulis, semuanya berjalan lancar. Data kami dapatkan, bahan penulis mendapatkan gambaran lokasi sampel yang akan penulis datangi. Penulis sanggta lega saat itu. &lt;br /&gt;Perjalanan belum berakhir. Kedua sampel yang kami dapatkan dari RT tersebut adalah pengusaha. Masing-maisng memiliki toko yang cukup besar di kawasan Kapuas Indah. Saat kami datang, terjadi penolakan lantaran orang-orang yang peneliti datangi belum tahu tujuan kami datang. Entah apa sebabnya. Tapi satu jawaban yang penulis dapatkan adalah, mereka mengira jika penulis adalah sales atau orang-orang yang meminta sumbagan seperti yang sedang merebak saat ini. Banyak orang yang kurang nyaman jika orang yang dengan tujuan itu datang menghampiri. &lt;br /&gt;Penulis memaklumi hal tersebut. Mungkin saja penilaian itu muncul lantaran penulis datang dengan book note kecil dan pulpen ditangan. Kedua alat tulis itu tidak pernah penulis lepaskan dari tangan. Karena penulis harus mencatat nama gang, no rumah dan nama sampel yang harus penulis datangi. Setelah maksud kedatangan penulis jelas saat itu, lagi-lagi penulis menapatkan sambutan yang cukup baik.  &lt;br /&gt;Begitu banyak hal yang kadang mempengharuhi cara pandang dan pola pikir kita dalam sehari-hari. Terkadang, fakta-fakta yang ada, pendapat-pendapat orang-orang disekitar, perlu didengar dan dijadikan bahan pertimbangan. Akan tetapi jika hanya mengamati dari jauh, tanpa membuktikannya dan terlebih jika tidak ada data rill mengenai suatu hal atau pendapat, kadang juga sering menimbulkan keleiruan. Halitulah yang pernah terjadi pada penulis. &lt;br /&gt;Tapi setelah melakukan observasi langsung dan mendapatkan data itu sendiri, penilaian-penilaian dan pola pikir mengenai suatu hal akan lebih luas dan tidak bisa sekali pandang, sekali dengar langsung mendapatkan sesuatu yang benar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-1860751600790146538?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/1860751600790146538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=1860751600790146538' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1860751600790146538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1860751600790146538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/05/sebuah-tantangan-di-lapangan.html' title='Sebuah tantangan di lapangan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-4429815355134157013</id><published>2009-03-22T00:15:00.001-07:00</published><updated>2009-03-22T00:15:43.187-07:00</updated><title type='text'>Dia</title><content type='html'>Langkahnya tertatih. Kakinya tak bisa melangkah sempurna. Kakinya mengesek tanah ketika dia memaksa kakinya untuk berjalan. Sebelah kakinya yang beralas sandal jepit, dengan kain yang membungkus kakinya terseret setiap kali kaki itu menapaki jalan semen depan rumahku. Kaki kirinya selalu berbalut kain. Entah apa sebabnya. &lt;br /&gt;Badanya condong mengikuiti tongkat yang menopang badannya. Sebuah tongkat terbuat dari besi yang memiliki cabang empat pada bagian bawahnya yang membantunya untuk bisa berjalan. Ketika kakinya ia paksa melangkah, badanya agak bergoyang (bergetar). &lt;br /&gt;Laki-laki itu sudah tua. Mungkin aku akan memangilnya kakek jika aku bertemu langsung dan harus menyapanya. Matanya sudah tidak bisa melihat dengan sempurna. Dia harus menggunakan kaca mata setiap kali berjalan. Dia juga selalu mengenakan topi. Sebagian rambut yang tidak tertutup topi, sudah memutih. &lt;br /&gt;Entah apa yang terjadi padaya sehingga membuatnya kesulitan untuk berjalan. Aku tak pernah bertemu langsung dengannya. Aku tak pernah berbicara langsung denganya. Aku hanya mengamatinya dari jauh. &lt;br /&gt;Aku mengamatinya setiap pagi, sekitar pukul 07.00 sejak satu minggu terakhir. Saat aku berdiri di depan jendela kamarku, aku mendapatinya sedang berjalan. Lebih tepatnya belajar berjalan. Dari kamar lantai dua ini, aku bisa dengan leluasa memperhatikannya. Kadang aku khawatir melihat kondisinya yang gontai.&lt;br /&gt;Dia rutin berjalan di pagi dan sore hari selama 15 hingga 30 menit dalam sehari. Tak ada seorangpun yang membantunya untuk belajar berjalan. Dia berjalan sendiri dengan tongkatnya. Dia berjalan bolak-balik di dalam gang selama 30 menit. Dia rutin melakukannya. &lt;br /&gt;”Eka tahu ke bapak-bapak yang udah tua tu, yang bejalan-jalan pake tongkat”, kataku pada teman kosku.&lt;br /&gt;”Yang mana? Aku tak tahu”, tanya Eka sambil mengernyitkan keningnya.&lt;br /&gt;”Itu be Ka bapak-bapak yang suka jalan di gang kita tiap pagi dan sore”. Aku menjelaskan pada Eka.&lt;br /&gt;”O ya...aku tahu”, jawabnya.&lt;br /&gt;”Dia sakit apa ya ka? Kenak struk atau cuma kakinya yang sakit? Soalnya kaki sebelah kirinya di bungkus kain terus”.&lt;br /&gt;”O...yang kakinya dibungkus itu?”, tanya Eka yang saat itu sedang duduk diteras. &lt;br /&gt;”He’e ka”.&lt;br /&gt;”Aku tahu orangnya. Tapi tak tau dia sakit apa”. &lt;br /&gt;”O...ya udahlah”. Aku meninggalkan Eka duduk sendiri diteras dan masuk ke dalam kamarku. &lt;br /&gt;Teman-teman kosku tak ada yang memperhatikannya. Padahal aku sering melihatnya. Bahkan hampir setiap hari aku melihatnya. &lt;br /&gt;Pagi ini 21 Maret 2009 aku melihatnya kembali dengan celana selutut berwarna biru. Topi hitam dan baju kemeja lengan pendek cream kotak-kotak. Tangannya memegang tongkat itu dengan erat. Ada handuk kecil berwaerna putih yang dijadikannya alas untuk memegang tongkat. Pagi ini ia hanya berjalan 15 menit. &lt;br /&gt;Pernah suatu hari, aku memperhatikannya kembali. Dia berjalan saat matahari sudah redup. Sore hari. Saat dia sedang berjalan. Rintik hujan mulai turun. Dia nampak ingin berjalan secepat mungkin agar badanya tidak basah diguyur hujan. Tapi dia tak bisa. Kakinya tak bisa dilangkahkan dengan cepat. &lt;br /&gt;Dia terus berjalan. Bajunya sudah mulai basah. Semakin lama hujan semakin lebat. Tapi aku tak bisa melihanyan ketika hujan mulai lebat. Aku tak bisa melihatnya lagi saat dia berjalan dan ada pepohonan yang menghalangi pandangan mataku.  &lt;br /&gt;Diam-diam aku mengagumi kerja kerasnya. Hampir setiap hari dia belajar berjalan. Tapi, langkahnya masih saja seperti hari-hari biasanya, masih lamban, tertatih-tatih. Aku terus mengamatinya. Berharap bisa menemukan perubahan yang berarti padanya. Perubahan pada gerak langkahnya. Perubahan pada kondisi kakinya.  &lt;br /&gt;Hingga suatu hari nanti aku bisa menemuinya. Menanyakan apa yang terjadi padanya. Menanyakan mengapa tak ada seorangpun yang membantunya belajar berjalan. Semoga suatu hari nanti aku bisa kembali melihatnya dan ia sudah bisa berjalan sempurna. Semoga....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-4429815355134157013?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/4429815355134157013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=4429815355134157013' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4429815355134157013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4429815355134157013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/03/dia.html' title='Dia'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-7448725533644490292</id><published>2009-03-17T03:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T06:58:28.715-07:00</updated><title type='text'>Melepas Kerinduan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SiUv1MhoifI/AAAAAAAAAK4/MUVJOWi5eY4/s1600-h/AS.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SiUv1MhoifI/AAAAAAAAAK4/MUVJOWi5eY4/s400/AS.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342729123886828018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya jum’at 13 Maret pukul 19.45 keinginanku untuk mengunjungi salah satu tempat favoritku terpenuhi. Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat itu. Dua atau tiga bulan yang lalu, terakhir aku mengunjunginya. &lt;br /&gt;Aku merasa nyaman mengunjungi tempat itu sejak setahun terakhir. Aku mengetahui tempat itu karena  salah satu temanku, Hardianti yang mengajakku ke sana. Suatu hari di tahun 2008 dia mengajakku ke sana. &lt;br /&gt;”Mbak, Yanti mau ajak mbak ke suatu tempat favorit Yanti. Tempatnya sederhana, tapi Yanti suke”, kata Hardianti.&lt;br /&gt;”Bo...leh, ke mana?”, tanyaku dengan rasa penasaran. &lt;br /&gt;”Nanti Yanti bawak. Tapi bukan hari ini”.&lt;br /&gt;”Hari ni jak! Ambar dah tak sabar ni”.&lt;br /&gt;”Tak bise. Tempatnye bukak kalau malam jak. Dia bukaknya dari Magrib. Nantilah kalau kita pas ada kegiatan lalu pulang malam, kita mampir”.&lt;br /&gt;”Ok, Ambar tunggu. Awas bohong”.&lt;br /&gt;”Ye.....”.&lt;br /&gt;Akhirnya niat itupun kesampaian. Aku dan Hardianti pergi ke tempat itu saat suatu hari saat kami ada suatu kegiatan di kampus, dan mengharuskan aku dan Hardianti pulang malam. Tempatnya ada di Jalan Sultan Syahrir, tepatnya di depan warnet P3M tempat Hardianti bekerja dulu, yang kini tepat itu sudah beralih fungsi menjadi studio musik. Dulu nama studio musiknya adalah Fortosimo. Tapi kini sudah tidak menggunakan nama itu lagi setelah studio fortosimo fakum beberapa bulan, hingga akhirnya berubah menjadi ’Daun studio musik’.&lt;br /&gt;Sebuah tempat yang sanggat sederhana. Seorang wanita separuh baya yang menjadi penjualnya. Dengan gerobak kecil, atap terpal (bahan karung berukuran besar yang biasanya untuk dijadikan atap penjual  kaki lima) biru kecil sebagai atapnya, yang hanya ditopang dengan kayu di sebelah kiri dan kanan bagian belakang. Sedangkan di bagian depan tali pengikat terpal diikat erat pada gerobak. Hanya ada 4 meja berbahan plastik berukuran sedang, berwarna hijau disana. Dengan 4 kursi di masing-masing meja. Tempat itu sanggat sederhana. &lt;br /&gt;Tempat itu hanya diterangi oleh satu lampu neon yang berada di gerobak, dan dibantu dengan lampu-lampu studio musik yang berada di balik tembok yang memisahkan antara tempat itu dengan penjual sekoteng  tersebut. Sekoteng Warnet nama tempatnya. &lt;br /&gt;Dulu tempat itu tak memiliki nama. Hanya saja setelah Warnet P3M pindah dan tak lagi berada disana, sejak itulah tempat itu diberi nama sekoteng Warnet. Kata Hardianti, tempat itu diberi nama sekoteng Warnet lantaran penjalnya ingin mengenag masa-masa saat Warnet P3M masih berada di sana. Penjual sekoteng memiliki hubungan dekat dengan orang-orang yang bekerja di Warnet P3M. &lt;br /&gt;Sekoteng adalah nama salah satu hidangan dengan kombinasi air jahe yang mendominasi rasa, kacang hijau, mutiara, bulatan sebesar ujung ibu jari yang terasa kenyal yang terbuat dari bahan dasar tepung kanji, roti tawar, kacang tanah yang di goreng tanpa minyak (sangrai) lalu di tumbuk sekedarnya hanya untuk membuat kacang pecah-pecah saja. Kombinasi terakhir adalah susu kental manis. Semua kombinasi makanan itu dimasukkan dalam mangkok kecil. Diameter  mangkoknya sebesar dua tengadah telapak tangan orang dewasa. Mangkok itu diletakkan dalam piring seng kecil sebagai alasnya. &lt;br /&gt;Dulu aku sempat merasa aneh saat Hardianti mengatakan itu adalah salah satu tempat favoritnya. Lidahku juga juga belum terbiasa merasakan makanan itu. Rasanya sedikit aneh. Ada kombinasi rasa pedas yang dihasilkan dari air jahe, kacang tanah yang menimbulkan kesan seru saat mengigitnya ditambah susu yang membuat makanan itu lebih lezat. Tapi, setelah beberapa kali mencicipinya, aku ketagihan. &lt;br /&gt;Suasana tempat yang sederhana, ditepi jalan dengan atap langit tak ada atap permanen. Sedangkan atap yang ada hanya menutupi gerobak dan 1 bagian meja yang berada di depan, yang menjadi tempat penjual bernanug jika suatu sat hujan turun. Aku bisa menikmati makanan sembari berbincang-bincang dengan sahabat dan bisa juga menikmati bintang-bintang juga bulan. &lt;br /&gt;Setelah sekian lama tak mengunjunginya, sering aku berencana untuk menyambangi tempat itu. Pernah suatu hari aku mengajak Ica untuk ke sana. Tapi Ica tak bisa. Aku mengurungkan niatku. Keninginanku tak teecapai. Gagal. Hingga akhirnya tadi malam, aku dan Hardianti kembali mengunjungi tempat itu. Rumah kami berdekatan. Hanya berlainan gang saja. &lt;br /&gt;Malam itu, Hardianti mengenakan kaos pendek berwarna cream yang dikombinasikan dengan swater berwarna hitam dan abu-abu, dengan rok coklat, kerudung berwarna ungu, tas kain denga motif bola-bola hitam dan merah serta sandal jepit. &lt;br /&gt;Aku dan Hardianti langsung menuju tempat itu. Begitu sampai di sana, Hardianti berteriak, ”Mbak....Yanti kangen”.&lt;br /&gt;”Yanti...apa kabar? Lamak tak ke sinik”, kata penjual sekoteng yang sudah mengenal Hardianti. Aku tak tahu siapa nama penjualnya. Kami memanggilnya Mbak. &lt;br /&gt;Yanti juga berteriak saat ia bertemu temannya Puji yang sedang berada di sebuah tempat yang berada di samping Sekoteng Warnet. Tempat itu menjual sate. Puji adalah teman slah satu teman Hardianti saat ia masih bekerja di P3M dulu.&lt;br /&gt;Hampir 5 menit Hardianti berbincang-bicang dengan sahabatya. Mungkin sudah lama mereka tidak bersua. Aku menuggu Hardianti di atas motor. Tak lama kemudian, Hardianti langsung menyambangi penjual sekoteng, aku mengikutinya. &lt;br /&gt;Mereka tampak begitu akrab. Penjual sekoteng itupun bertanya pengalaman Hardianti selama belajar Bahasa Inggris di Oregon Amerika Serikat 2 bulan yang lalu. Saat mereka berbincang-bincang, penjual sekoteng itupun mempersilahkan kami duduk.&lt;br /&gt;”Dudoklah Yan!”, katanya. Aku dan Hardianti memilih kursi di sebelah kiri gerobak. &lt;br /&gt;”Duak ye mbak sekotengye! Punye Yanti kayak biase”, kata Hardianti. Penjual sekoteng itu sudah hafal selera Hardianti. Haridianti selalu memesan sekoteng tanpa bulatan (bola-bola) yang terbuat dari tepung kanji. Tak lama kemudian pesanan kami datang. Kami menikmati sekoteng yang sudah berada di hadapan kami. &lt;br /&gt;Saambil menikmati sekoteng pesanan kami, Hardianti bercerita banyak tentang pengalamannya selama 2 bulan berada di Oregon. Bagaimana pola belajarnya, hari-hari yang begitu banyak pr (pekerjaan rumah), teman-temanya. Ia juga bercerita mengenai kerinduannya pada keluarga dan teman-temanya di Pontianak.&lt;br /&gt;”Mbak, di sanak ade teman Yanti namanya Zaki, dia kuliah di ITB. Zaki itu ketua kelompok kami selama do Oregon. Die tu bahasanye bagus, pinter lagik. Yanti jak waktu awal-awal di sanak selalu dibantu kalau Yanti tak ngerti ape yang diomongkan bulek sanak. Dan die tu mbak kemaren diundang untuk ikut seminar di Harvad, mewakili daerahnye. Kebayang ndak Mabk pinternye die?”, kata Hardianti panjang lebar. Aku suka mendengarkan ceritaya. Aku tergoda untuk bisa mendapatkan kesempatan seperti yang di dapatkan Hardianti. &lt;br /&gt;Hardianti menceritakannya dengan semangat dan penuh ekspresi. Tangannya ikut bergerak-gerak ketika ia berbicara. Jarang Yanti begini. Sejak pulang dari Amrik, dia lebih dia lebih ekspresif. Dia bukan lagi orang yang sulit untuk difoto. Bahkan dia menunjukkan beberapa posenye saat berada dirumahnya malam itu. &lt;br /&gt;”Manis kan mbak?”, tanyanya padaku.&lt;br /&gt;”He’e manis....”, aku hampir tak punya jawaban saat melihat foto yang ditunjukkan Hardianti padaku. Aku setengah tak percaya. Hardianti yang kukenal selama ini, anti difoto. Dia tak suka jepretan kamera. Dia hanya mau dijepret kalau bersama teman-teman. Dia selalu melarang kami yang dengan sengaja ingin mengambil gambarnya saat sendniri.&lt;br /&gt;Tapi apa yang kulihat malam ini juah berbeda. Hardianti alias Yanti terlihat sangat ekspresif di saat difotonya. Dia tak malu-malu lagi bergaya didepan kamera. &lt;br /&gt;Kami terus bernincag-bincang hingga larut malam. Pengunjung yang tadinya ramai sudah tak ada di sana. Hanya ada satu pengunjung yang sedang duduk menikmati sekoteng. Saat kami melirik jam di hp kami, ternyata sudah hampir jam 10 malam. Kami langsung pulang setelah membayar makanan yang telah habis sejak 30 menit lalu. Akhirnya setlah sekian lama, kerinduanku pada tempat itu terobati sudah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-7448725533644490292?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/7448725533644490292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=7448725533644490292' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7448725533644490292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7448725533644490292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/03/melepas-kerinduan.html' title='Melepas Kerinduan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SiUv1MhoifI/AAAAAAAAAK4/MUVJOWi5eY4/s72-c/AS.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-6383520681036013717</id><published>2009-03-17T03:23:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T23:47:45.226-07:00</updated><title type='text'>Sepasang Spatu Plastik</title><content type='html'>Apa yang saat ini kutuliskan adalah kejadian pada Agustus 2008 yang lalu. Sudah lama memang. &lt;br /&gt;Saat itu, aku sedang libur akhir semester. 2 bulan lamanya. Saat itu aku berpikir ingin cari kegiatan untuk mengisi liburan yang begitu lama. ’Pucuk di cinta, ulampun tiba’,  temanku menawarkan kerja sama. &lt;br /&gt;”Mbak, ada kegiatan ni. Mau ngak?”, kata temanku Hardianti lewat pesan singkat satu harii.&lt;br /&gt;”Boleh, apa tu kegiatannya?”, aku langsung mengiyakan tawaran Hardianti, walau aku belum tahu apa kegiatan yang dimaksudnya. Pembicaraan kami berlanjut. Tak lama setelah kami berbincang-bincang lewat sms, Hardiyanti menelponku untuk menjelaskan kegiatan yang ditawarkannya.&lt;br /&gt;”Ginik be mbak...Yanti ditawarkan untuk survei, ya macam penelitian gitulah. Tempatnya di Pontianak be, di Sungai Jawi”, Hardianti menjelaskan panjang lebar. &lt;br /&gt;”O..gituk? Ok lah kalau gituk. Kite beduak ni?”, aku bertanya lagi.&lt;br /&gt;”Iye...”, jawabnya singkat. &lt;br /&gt;”Kapan mulainya?”.&lt;br /&gt;”Katanya si kalau bisa secepatnya”. &lt;br /&gt;”Ok, nanti kita bicarakan lagi”, pembicaraan kami berakhir.&lt;br /&gt;Esok harinya, kami bertemu di kampus STAIN Pontianak dan kembali membicarakan kegaiatan yang akan kami lakukan. &lt;br /&gt;Entah,  apa alasannya waktu itu, kegiatan tak bisa segera dilakukan dan harus ditunda seminggu. Yang kuingat, Hardianti saat itu mendapat musibah. Ibunya masuk rumah sakit. Kami cansel start kegiatan itu, menunggu hingga ibu Hardianti pulih. Satu minggu sudah berlalu. Hardianti masih harus mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan ibu dan keluarganya. Tak selang beberapa lama, Hardianti tumbang. Dia juga sakit. Kegiatan survei harus segera dilakuakn. Tak bisa ditunda atau menunggu lagi. Hampir 2 minggu sudah tertunda. Hardianti menelponku. &lt;br /&gt;”Mbak, udahlah. Mbak kerjekan jak same Ica ye! Yanti tak bise mbak kalau untuk minggu-minggu ni”, Yanti menjelaskan alasan mengapa ia mengudurkan diri dari survei itu.&lt;br /&gt;Aku tak bisa berbuat banyak selain menyetujuinya. Aku tahu kondisinya saat itu. Aku tak mau membuatnya serba salah. Dan akhirnya aku memulai kegiatan itu bersama temanku Ica. Ica teman sekampusku. Dia tak menolak saat kami (aku dan Hardianti) mengajaknya bergabung bersama kami. &lt;br /&gt;Kami (aku dan Ica) memuali survei itu dengan mendatangi kelurahan Sungai Jawi. Informasi awal yang kami dapatkan, kelurahan Sungai Jawi berada di kawasan Swignyoh. Tapi kami juga mendapatkan informasi jika kantor lurah Sungai Jawi itu terletak di Jl. Alianyang, tepatnya tak jauh dari simpang empat lampu merah menuju Jalan Pancasila. &lt;br /&gt;Kami mengikuti pentunjuk kedua yang kami dapatkan. Kami berdua, aku dan Ica sama-sama tidak mengetahui dimana letak kantor kelurahanya. Kami menoleh ke kiri dan ke kanan.&lt;br /&gt;”Ngah, perhatikan ke sebelah kanan ye! Ambar, perhatikan di sebelah kiri”, kataku pada Ica saat menyusuri Jalan Putri Candra Midi. Aku biasa memangil Ica dengan Angah. Angah adalah pangilan untuk anak tengah dalam bahasa Melayu. &lt;br /&gt;”Ye lah...”, Ica menjawab pasrah. &lt;br /&gt;”Ngah...ni dia lampu merahnya. Mana kantor kelurahannya? Dari tadi tak ada tanda-tanda  bangunan kantor kan?”, aku bertanya pada Ica.&lt;br /&gt;”Iya Mbar, sayepun tak ade nengok”, kata Ica.&lt;br /&gt;”Lalu kite kemane ni?”.&lt;br /&gt;”Terserah Ambarlah! Saye si ikut jak, saye pun  taktahu”. &lt;br /&gt;Melihat kepasrahan Ica  aku hanya mengikuti filling. &lt;br /&gt;”Ah...udahlah, kite belok kiri jak ye? Kalaupun tak ade, tadak be kite ni nyasar. Maseh kawasan Pontianak be”, kataku mengoda Ica.&lt;br /&gt;”Ha’a be”.&lt;br /&gt;”Mulai agik Ngah! Perhatikan sebelah kanan! Siapa tahu di dekat-dkat sinik kantornye”, aku kembali menyuruh Ica menebarkan pandangannya. &lt;br /&gt;”Iye...buk”.&lt;br /&gt;Dan tak lama kemudian setelah sesaat  kami saling diam, mencari-cari kantor kelurahan.&lt;br /&gt;”Ngah, Ngah, cobe tengok!”, aku menoleh kekanan sambil mebaca sebuah plang ’Kantor Kelurahan...’, itu die kantor kelurahannye. Alhamdulillah.....”, aku tak membaca plang itu lebih lanjut. Aku hanya membaca jika itu adalah kantor kelurahan. Aku juga tak tau itu kantor kelurahan wilayah mana. aku memberitahu kepada Ica dengan penuh rasa senang.&lt;br /&gt;”Iye Mbar, Alhamdulillah... akhirnya ketemu juga”, Ica juga tampak senang.&lt;br /&gt;Kami mulai masuk kawasan kantor keurahan itu. Aku memarkir motorku diantara motor yang lain yang sudah ada di halaman kantr kelurahan itu.&lt;br /&gt;”Ngah, masuk lah! Angah yang ngomong ye!”.&lt;br /&gt;”Ih...ndaklah, di kartu survior nye kan name Ambar. Ape pulak jadi saye”, Ica berkilah.&lt;br /&gt;“Hihh…die ni. Alasan jak”, aku geram melihat tingkah Ica dan akhirnya aku mengalah. Kami masuk dengan ragu dan dengan detak jantung yang tak tetratur. Bisa urasakan detak jantungku waktu itu. Dag, dug. Sangat terasa. &lt;br /&gt;Ini pengalaman pertama ku.  Aku belum terbiasa. Ada rasa grogi, sungkan dan rasa-rasa lain yang berkumpul jadi satu dan tak terdeteksi lagi rasa apa itu. &lt;br /&gt;”Bismillahirrahmanirrahim...., mudah-mudahan...lancar”, aku meyakinkan dan memberanikan diriku dengan lafaz Basmalah. Aku ragu. Tapi seketika itu juga, kutepis rasa ragu itu. Saat itu aku berpikir, orang lain tak akan mempercayaiku, jika aku tak memiliki rasa percaya diri pada diriku sendiri. Dan tugasku saat itu, meyakinkan pihak kelurahan agar aku bisa mendapatkan data-data yang ku perlukan. Aku kesal melihat ekspresi kemenagan Marisa alias Ica. &lt;br /&gt;Dia tersenyum melihat kegugupanku.&lt;br /&gt;”Masak survior gugup. Anak komunikasi harus bisa berkomunikasi dong..”, lagi-lagi dia membuatku geram.&lt;br /&gt;”I...emanglah die ni. Lain waktu, awas  jak”, aku membalas. &lt;br /&gt;Aku dan Ica tak langsung masuk. Kami terhenti di papan pengumuman kelurahan yang terletak di teras. Menurut informasi yang kami dapatkan, kadang-kadang data RT, RW bisa didapatkan dari papan pengumuman. Tapi saat itu, kami tak menemukan data yang kami maksud. &lt;br /&gt;Diruangan depan ada beberapa orang yang sedang duduk di bangku panjang yang terletak di ruangan depan kelurahan. Saat kami masuk, orang-orang disekitar memperhatiakan kami. &lt;br /&gt;Ada seorang wanita yang sedang sibuk dengan kertas-kertas yang ada dihadapannya. &lt;br /&gt;”Assalamualaikum, buk. Maaf buk, menggangu sebentar. Kami mau melakuakn survey di kelurahan Sungai Jawi dan kami membutuhkan data RT/RW di seluruh kelurahan ini. Boleh buk?”, aku berusaha meyakinkan pegawai yang sedang duduk  ruangan bagian depan dengan menunjukkan surat tugas yang kubawa. &lt;br /&gt;Ibu dengan pakaian seragam dinas itu, melihat dan membaca surat tugas yang kuberikan padanya. &lt;br /&gt;”O..., tapi data  apa yang mau diminta?”, ibu itu bertanya.&lt;br /&gt;”Kami minta data RT, RW di kelurahan Sungai Jawi buk”.&lt;br /&gt;”Ya udah. Masuk aja, temui bapak-bapak disana itu”.&lt;br /&gt;”Makasih buk”.&lt;br /&gt;Aku dan Ica lansgsung menghampiri seorang laki-laki terihat sibuk. Proses untuk mendapatkan data, tidak begitu lama. Hanya saja, kami harus menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang kami temui di kantor kelurahan itu. Pegawai kelurahan nampak ragu dengan kedatangan kami. Mereka curiga jika aku adalah salah satu tim sukses calon wlikota yang sedang mengumpulkan suara. Mereka curiga karena menurut mereka ada beberapa oknum yang tidak jujur dan menyalah gunakan data yang diberikan pihak kelurahan. Tapi syukur, aku dan Marisa berhasil meyakinkan jika kami berdua mencari data-data itu untuk kepentinagn survei, dan bukan untuk kepentingan lain.&lt;br /&gt;Proses itu terus berlanjut. Hingga saat data-data itu sudah berada di tangan kami, aku membacanya. Data RT, RW kelurahan Sungai Bangkong. Aku terkejut.&lt;br /&gt;”Pak, jadi ini bukan kelurahan Sungai Jawi Pak?”.&lt;br /&gt;”Bukan dek. Ini kelurahan Sungai Bangkong. Kalau kelurahan Sungai Jawi tu di daerah Suwignyoh”. &lt;br /&gt;’Aw...kenapa aku bisa jadi teledor begini....’, aku bergumam dalam hati. Aku kesal pada diriku sendiri yang tidak teliti. &lt;br /&gt;”Wah..kami salah ni pak. Harusnya kami mendatangi kelurahan Sungai Jawi, bukannya kelurahan sungai Bangkong. Maaflah pak kalau begitu. Maaf telah menggangu aktifitas bapak. Terimaksih pak atas informasinya. Kami pamit”, aku dan Marisa langsung pergi menuju Jalan HM. Swignyoh. &lt;br /&gt;Disepanjang jalan aku dan Marisa tertawa. Kami menertawai diri kami sendiri yang kurang teliti. &lt;br /&gt;”Ya ampun...hampir aja kita salah Ngah!”, kataku pada Ica.&lt;br /&gt;”Iya mbar ya? Kok kita bisa tak loding gini?”.&lt;br /&gt;”Entah lah. Habis ini kita harus lebih teliti lagi. Jangan sampai kecolongan lagi. &lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di persimangan jalan HM. Swignyoh, Jalan Natakusuma, Jalan Alianyang dan Jalan Uray Bawadi. &lt;br /&gt;”Kite dah masok Jalan Swignyoh ni. Mane...die kelurahannya?”, kataku pada Ica.&lt;br /&gt;”Saye mane tau Mbar”, Ica menjawab singkat. &lt;br /&gt;”Ya udahah kita cari aja. Kalau  memang letaknya di sini, pasti ketemu”. Aku dan Ica menyusuri Jalana HM. Swignyoh. Kantor kelurahan Sungai Jawi kami temukan. Hampir sampai di ujung jalan itu. &lt;br /&gt;Saat samapi di sana, aku melalui proses yang sama seperti yang kulakukan di kantor kelurahan sebelumnya. Lagi-lagi Ica tak menyerahkan tugas itu padaku. &lt;br /&gt;”Alhamdullah ye Ngah. Urusanye tak ribet. Lancar-lancar jak”. &lt;br /&gt;“He’e, syukurlah Mbar”. &lt;br /&gt;Aku dan Ica mencari tempat foto copy. Data yang kami dapatkan harus kami foto copy karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencatatnya ke dalam foam yang telah tersedia.  &lt;br /&gt;Setelah urusan foto copy selesai, kami lansgung mengembalikan data yang kami dapatkan. &lt;br /&gt;”Ngah, kite nak mindahkanye di mane ni? Kite harus carik tempat”.&lt;br /&gt;”Terserah Ambar mau bawak saye kemane. Saya si ikut jak”.&lt;br /&gt;”Ya udahlah, kite ke masjid Syakirin jak yuk!”. Marisa hanya mengangguk, tanda setuju. &lt;br /&gt;Kami memindahkan semua data yang kami dapatkan ke dalam foam yang sudah tersedia di teras samping masjid syakirin. Teras itu tepat menghadap ke arah Jl. HM. Swignyoh. Didepannya ada beberapa makam. Kondisi lantainya kotor. Mungkin karena tempias air hujan. Saat itu musim hujan. &lt;br /&gt;Kami menyelesaikan seluruh urusan traskip data. Urusan traskip selesai dan sampel yang akan kami datangi untuk mendapatkan data selanjutnyapun telah kami dapatkan.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, saat kami siap untuk pergi hujan turun. Sejak pagi, hari sudah mendung. &lt;br /&gt;’Ngah ujan”, kite betedoh dibelakang jak yuk! Kalau di sinik, kite basah kenak tempias”. &lt;br /&gt;”Ayok lah!”. &lt;br /&gt;Kami berteduh dibagian belakang masjid. Kami duduk di bangku panjang yang terletak di depan warung kecil. Di warung itu menjual jajanan atau makanan ringan, sosis, haikeng, es instan dan lain-lain. Warung itu terletak di sudut teras belakang. Lama kami menunggu di sana. Bahkan hingga adzan Dzuhur berkumandang. &lt;br /&gt;Setelah menunggu lama, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Gang Waspada 3 Jl. H. Rais A. Raachman. Target pertama kami adalah menemui ketua RT. Kami harus menemui ketua RT untuk mendapatkan seluruh data warganya. Setelah mendapatkan data warganya, barulah kami bisa mewawancarai 2 orang warga pada RT yang terpilih. Kami harus menemui 5 RT dalam satu kelurahan, 2 orang dalam satu RT. Total responden yang harus kami temui dalam 1 kelurahan adalah 10 orang. Begitulah yang harus kami lakukan seterusnya selama kurang lebih 1 minggu lamanya. &lt;br /&gt;Target menyelesaikan survei dalam seminggu hampir gagal. Aku dan Ica cemas. Khawatir, kami tak bisa menyelesaikannya tepat waktu. Kami khawatir, karena perjalanan kami terhambat lantaran saat itu musim hujan. Hampir setiap hari di pagi, sore hingga mala hari hujan. Itulah yang membuat kami sedikit kerepotan. &lt;br /&gt;Kmai keliling kelurahan Sungai Jawi untuk mendapatkan alamat responden sesuai dengan lembar acak yang kami gunaakan. Kami harus mendatangi Gg. Waspada 1, Gg. Nilam 5, Gg. Arafah, Gg. Bukit Seguntang. Masih ada 1 gang lagi yang tersisa, tapi aku lupa apa nama gangnya. Lokasinya tak jauh dari pusat perbelanjaan Garuda Mitra. &lt;br /&gt;Kami melaksanakan tugas ini dengan lancar. Hanya saja ada beberapa hambatan yang kami temui. Dari ke lima RT yang kami temui, kami tak bisa bertemu langsung. Hanya 1 RT yang berhasil kami temui, selebihnya kami hanya membuat janji untuk datang kembali. &lt;br /&gt;”Assalamualaikum...benar ini rumahnya Pak RT ya Buk?”, aku bertanya pada seorang ibu yangh sedang berada dihalaman rumahnya.&lt;br /&gt;”Ya, benar. Ada apa ya Mbak?”, ibu itu kembali bertanya. &lt;br /&gt;“Ini buk, kami mau menemui Pak RT. Kami mau minta data warga di RT ini buk. Pak RTnya ada buk?”.&lt;br /&gt;”Minta data warga untuk kepentingan apa ya?”. Mendapatkan pertanyaan itu aku memberikan isyarat kepada Ica untuk menjelaskannya. Akhirnya Ica menjelaskannya. &lt;br /&gt;Setelah beberapa menit Ica menjelaskan, sang ibu hanya menggangukkan kepala. &lt;br /&gt;“O….tapi Pak RT nya sedang ngak di rumah. Bapak lagi kerja”.&lt;br /&gt;”O...gitu ya buk. Kapan ya kami bisa menemui Pak RT?”.&lt;br /&gt;”Mbak bisa datang lagi nanti malam”.&lt;br /&gt;”O, ya makasih buk kalau begitu. Kami pamit. Mohon maaf sudah menggangu. Sampaikan salam kami kepada Bapak. Habis Magrib ya buk, kami kembali?”. Setelah temu janji aku dan Ica pamit dan meuju RT yang lainny. Tapi kamim mendapati hal yang sama. Kami tak berhasil menemui RT-nya. Kami hanya bisa temu janji. &lt;br /&gt;Sore harinya, hujan kembali menguyur kota Pontianak. Jalanan basah, bahkan dibeberapa ruas jalan tergenag air. Saat itu sudah sore. Aku dan Ica memutuskan untuk pulang. Kami baru akan menemui beberapa ketua RT pada malam harinya. &lt;br /&gt;”Ngah, mudah-mudahan nanti malam ngak hujan ya. Kalau hujan, cemane lah? Kite dah janji. Tak enak gak kalau kita tak datang”, kataku pada Ica saat kami diperjalanan. Hari masih hujan. &lt;br /&gt;”Mudah-mudahan jak hujannya reda. Payah gak....anak kambeng takut hujan”, Ica mengodaku.&lt;br /&gt;”Heh...nyaman jak ngatekan kite anak kambeng”.&lt;br /&gt;”He2....ape jak namenye kalau ade orang tak bise kenak ujan? Asal kenak ujan, lalu demam”.&lt;br /&gt;”Udah lah bising jak. Tengok jak, tulah nantik tu. Suke benar nak ngolok orang”. &lt;br /&gt;”Dah lah..., kite tengok jak perkembangananya habis Maghrib”.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian kami tiba dirumah. &lt;br /&gt;”Tak terse ye ngah, cepat pulak kite sampai rumah”.&lt;br /&gt;“Ye, tak terase. Ambar tak tengok alam sekitar, betapok dalam mantel”.&lt;br /&gt;Aku dan Ica harus menggunakan mantel waktu itu. Hujan tak bisa diajak kompromi, dan terus-terusan menguyur kota Pontianak.&lt;br /&gt;Sesuai dengna rencana, usai Maghrib aku dan Ica akan langsung menuju 2 RT sekaligus. Hujan belum juga berhenti. Aku keluar masuk kamar. Resah.&lt;br /&gt;”Ngah, cemane ni? Hujan belum berhenti. Kite nak nekat ke?”, tanyaku pada Ica yang baru saja usai shalat Maghrib. &lt;br /&gt;”Itulah. Saye si tak ape. Tapi yang saye khawatirkan tu...Ambar nantik demam pulak berujan. Maklumlah anak kambeng”. &lt;br /&gt;”Ngah.....Ambar cubit ye?”, aku memangil Ica setengah teriak. &lt;br /&gt;”Yee...emang gak. Anak kambeng tak bise kenak ujan”.&lt;br /&gt;”Tapi kalau kite tak turon tak nyaman gak. Kite dah buat janji dengan 2 RT. Nantik betungu pulak. Kalau kite besok buat janji lagi, takutnya mereke tak pecayak nantik”.&lt;br /&gt;”Ye sih...tapi...”, belum selesai Ica berbicra angsung ku potong.&lt;br /&gt;”Udah lah, tak pape. Nawaitu jak. Kalau emang demam, naseblah. Tu urusan dudi. Dah lah, angha tu siap-siap mang”, kataku sambil bersiap-siap.&lt;br /&gt;”Ye be...”, jawabnye singkat.&lt;br /&gt;Saat aku bersiap-siap, tiba-tiba Ica tertawa terpingkal-pingkal. Dia menertawaiku. &lt;br /&gt;”Hi...tukan ape saye bilang. Anak kambeng tak bise kenak ujan. Nak turon, abes...minyak kayu putih dipakainye”.&lt;br /&gt;”I...udah lah ngah...jadi-jadilah ngolok Ambar. Ni untuk keselamatan. Angah mau tangongjawab kalok Ambar kenapa-napa? Nantik angah panik, kalau Ambar saket”.&lt;br /&gt;”Huh...sempat-sempatnye narsis. Udah belom?”.&lt;br /&gt;”Udah, yok lah”. &lt;br /&gt;Aku sudah siap dengan perlengkapanku. Berkas-berkas yang dibutuhkan sudah ada didalam tas. Ku cek satu persatu, tak mau ada yang ketinggalan. &lt;br /&gt;”Udah belom ngah?”.&lt;br /&gt;”Udah ni. Ambar punye kantong pastik 2 ngak?”.&lt;br /&gt;”Kantong plastik untuk apa ngah?”, aku heran dengan pertanyaan Ica. &lt;br /&gt;Setelah ku berikan kantong palstik yang dimintanya, aku terkejut bukan kepalang. &lt;br /&gt;”Ya Allah Ngah...rupenye angah mintak kantong plastik untuk mbungkus kaki angah? Ambar kire untuk ape”, aku berbicara sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Ica.&lt;br /&gt;”He2...biar kaos kakinye tak basah be”.&lt;br /&gt;“Tapi, masah kite nak masok ke rumah Pak RT mcam tu. Dengan kaki plastik angah. Ndak ke heran nantik pak RT nye”.&lt;br /&gt;”Nantik kalau dah nak masok rumah dibukak lah Mbar”.&lt;br /&gt;”Cobe tengok angah tu. Macam orang nak perang. Pakai mantel, pakai helm standar, kakinye itam agik tu. Bebunyik-bunyik agik”, kami saling berpandangan, lalu tertawa. &lt;br /&gt;”Ngah, bawa paying!”.&lt;br /&gt;”Payung untuk apa lagi? Ndak ke kite pakek mantel?”.&lt;br /&gt;”Ya, kita pakek payungnya kalau perlu. Pokoknya bawak jak lah! Nanti kalau kita pelu, ngak repot-repot lagi. Ni lagi musim hujan. Sedia payung be...”.&lt;br /&gt;”Ye lah. Dah lah yuk berangkat!”.&lt;br /&gt;Aku dan Icapun langsung pergi. Aku tak bisa mengehantikan tawaku. Aku terus tertawa disepanjang jalan. Tingkah Ica malam ini benar-benar membuat seluruh isi perutku menari-nari. &lt;br /&gt;”Ngah jangan lupak, singah ke SPBU. Isik bensin lok”.&lt;br /&gt;”Mbar..janganlah singgah. Kaki plastik saye ni nantik ketahuan”.&lt;br /&gt;”Nanti angah mau dorong kalau motornye mogok?”.&lt;br /&gt;”Ih...die ni. Yelah2. tapi nanti Ambar jangan ketawak-ketawan ye, waktu di SPBU. Nantik orang-orang di SPBU curige”.&lt;br /&gt;”Tak janji ngah. Ambar tak bise nahan ketawak. Angah benar-benar gile malam ni”.&lt;br /&gt;”Udahlah diam!”.&lt;br /&gt;Selama berada di SPBU, aku tak bisa menghentikna tawaku. Tingkah Ica benar-benar gila. Dia berjalan dengan pelan agar orang-orang disekitar SPBU tak mengetahui keanehan yang ada pada kakinya. Dia berjalan, smabil menahan tawa. Dia memberikan isyarat agar aku berhenti tertawa. Tapi aku tak bisa.&lt;br /&gt;”Ade ape dek, ketawak dari tadik?”, tanya petugas SPBU yang merasa aneh melihat tingkah kami berdua.&lt;br /&gt;”Tadak bang. Tak ade ape-ape”, kataku sambil menahan tawa. &lt;br /&gt;Setelah mengantri beberapa menit, tiba giliran kami untuk mengisi bensin. Begitu tangki motorku penuh, aku membayar lalu cepat meningalkan SPBU dan melanjutkan perjalanan. &lt;br /&gt;Malam itu hujan belum juga reda. Kami menuju gang Bukit Seguntang. &lt;br /&gt;”Ya...ngah, motor kita tak bisa masuk. Jalanya baru diperbaiki. Tu, ada kayu penghalangnya”.&lt;br /&gt;”Ya udahlah motor, kita psrkir disini jak”. &lt;br /&gt;”Tak ape ke ngah?”, aku sempat ragu aat Ica memutuskan untuk memarkir motornya di depan gang. Padahal rumah RT yang kami tuju, berada di ujung gang.&lt;br /&gt;”Tak apa. Kita tawakal jaklah. Kita dah usaha dengan kunci stang. Jadi kita yakin  aja sama Allah”.&lt;br /&gt;”Ok. Sip”. Kami berdua langsung menuju rumah yang telah menjadi target  kami. Mantel kututupkan diatas motor. Kami masuk dengan menggunakan payung yang kami baawa. Hujan masih lebat malam itu. &lt;br /&gt;”Kapan angah nak buka tu sepatu plastik?”.&lt;br /&gt;”Nantiklah, waktu udah sampai depan rumah Pak RT. Tenag aja”, kata Ica.&lt;br /&gt;Ketika kami sampai dirumah tujuan, Ica langsung membuka plastik yang membalut kakinya yang berkaos kaki. Aku tak tertawa terpingkal-pingkal. &lt;br /&gt;Rumah yang kami datangi sepi. Tapi beberapa motor ada di depan rumah. Setelah Ica selesai melepaskan sepatu plastiknya, barulah kami mengucapkan salam. Setelah mengucapkan salam beberapa kali, ditambah mengetuk-ngetuk pintu, pintu terbuka. Seorang ibu dengan yang sedang mengendong bayi yang menyambut kami malam itu.&lt;br /&gt;Ku ketahui itu adalah istri Pak RT. Setelah mendapatkan data yang kami perlukan, kami langsung pamit.&lt;br /&gt;Kami maish melajutkan perjalanan kami meunuju gang Arafah di Jalan Swignyoh. Tapi Ica tak lagi bersepatu plastik. Itulah, sepasang sepatu plastik yang hingga kini saat aku dan Ica bersama akan membuat kami berdua tertawa terpingkal-pingkal jika mengingatnya. &lt;br /&gt;**Spatu platik: Kakinya dibungkus plastik, baru pakai sendalnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-6383520681036013717?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/6383520681036013717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=6383520681036013717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/6383520681036013717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/6383520681036013717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/03/sepasang-spatu-plastik.html' title='Sepasang Spatu Plastik'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-3375218339054503868</id><published>2009-03-07T01:06:00.000-08:00</published><updated>2009-03-07T01:08:38.520-08:00</updated><title type='text'>AADH??</title><content type='html'>Ada Apa Dengan Hati?&lt;br /&gt;Ternyata benar. Apa yang sering ku dengar. Menjaga hati tak semudah menjaga diri. Hati sangat sensitif. Diam-diam hati mampu menjadi komentator handal dalam diriku. Sejauh ini, hal inilah yang kuraskan dalam diriku. &lt;br /&gt;Rasanya, ingin....sekali menjaga hati agar hati mampu menjadi cermin yang bisa jadi cerminan diri. Bukan hati yang kotor, ibarat cermin yang usang penuh debu dan tak bisa terlihat lagi bayangan apapun yang ada didepannya. Sedih rasanya jika itu yang terjadi. Tanpa di sadari hati akan mengeras seiring dengan perubahan hari. &lt;br /&gt;Begitu banyak debu-debu kesombongan yang akan menutupi kejernihan suara hati. Begitu juga dengan keluh kesah dan kurangnya syukur dengna begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan. &lt;br /&gt;Tulisan ini lahir dari apa yang kualami sendiri. Bukan siapa-siapa yang memotivasiku untuk menuliskan ini. Aku hanya  ingin menuangkan apa yang kuraskan. Aku terlalu sering berkeluh kesah. Terlalu sering lalai untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang begitu banyak. Terlalu sombong dengan diri yang sebenarnya hina. Terlalu angkuh untuk bisa mengakui kekurangan dan kesalahan diri. Terlalu merasa hebat dengan apa yang telah didapatkan. Padahal apaun yang ku dapat dan ku miliki bukan karena kehebatanku, bukan karena kecerdasanku. Bukan hanya itu. Banyak orang-orang disekitarku, keluarga, guru-guru, sahabat-sahabatku yang berperan untuk mendapatkan apa yang kutuju. Dan yang pasti Tuhan Yang Maha Baiklah yang telah menganugrahkan banyak nikmat itu. &lt;br /&gt;Semoga saja debu-debu di hatiku bisa cepat ku bersihkan. Siapapun yang baca, mohon do’anya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-3375218339054503868?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/3375218339054503868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=3375218339054503868' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3375218339054503868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3375218339054503868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/03/aadh.html' title='AADH??'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-1159342284499254691</id><published>2009-02-25T20:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T20:09:37.014-08:00</updated><title type='text'>Potongan "Coklat"</title><content type='html'>"Kasih sayang harusnya selalu ada disetiap detik yang kita lewati. Dengan begitu anda akan merasa lebih nyaman memiliki orang-orang disekeliling anda. Terlebih jika kita mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang begitu kita sayangi". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang menjelang sore, aku dan teman-temanku duduk berjejer didepan televisi. Itulah yang biasanya kami lakukan jika kami jenuh dengan aktifitas kami masing-masing. Hari itu, tak semua teman-temanku ada dirumah. Teman-temanku yang lain entah kemana. Eka yang sejak tadi berada di kamarnya, keluar dan menghampiri kami. &lt;br /&gt;”Besok, Ambar kasi aku coklat ya!”, kata Eka 13 Februari lalu, saat moment yang dianggap sebagai hari kasih sayang (valentine) menjelang. &lt;br /&gt;”Coklat apa Ka?”, aku bertanya padanya. &lt;br /&gt;”Coklat valetine”, jawabnya singkat”. &lt;br /&gt;Sebagian teman-temanku menantikan datangnya hari valetine. Valentine yang dianggap sebagai hari kasih sayang, memang identik dengan coklat. Saat aku dan Eka berbincang-bincang, kemudian kudengar Agus ikut berbicara. &lt;br /&gt;”Agus juga ya Mbar!”.&lt;br /&gt;”Ye...kitak semue mintak coklat. Macamlah. Ambar  jak tak dapat coklat. Kitak pulak yang nak Ambar kasik. Sesama tak dapat coklat tu jangan saling meminta”, kataku sambil tertawa. &lt;br /&gt;”Kau mau coklat  apa In?”, tanya Eka pada Agus. In, begitu Eka biasa memanggil Agus.&lt;br /&gt;”Coklat batangan ya!”, kata Agus  dengan nada ringan. &lt;br /&gt;”Yalah. Besok ku kasi kitak coklat. Tapi tak tau coklat apa, he, he...”, kata Eka sambil tertawa dan lansung ’ngacir’ (pergi). &lt;br /&gt;Pembicaraan itu berlanjut hingga akhirnya mereka bubar. Tapi pembicaraan itu berakhir begitu saja, tanpa ending. Tak ada keputusan apapun. Akhirnya kami bubar dan kembali beraktifitas. &lt;br /&gt;Eka dan Agus adalah teman kosku. Mereka berasal dari daerah yang sama, Sanggau. Teman-teman kosku yang lain entah sedang berada dimana saat itu. Hanya ada aku, Eka, Agus dan adikku Siti. &lt;br /&gt;Keesokan harinya, saat momen 14 Februari menjelang, Agus sibuk dengan aktifitasnya. Entah apa yang dilakukannya. Emi dan Ema tak ada lagi di kos. Mereka pulang kampung. Kuliah sedang liburan. Sedangkan aku, Siti, Awek, Eka, Ririn dan Neni ada di rumah malam itu.&lt;br /&gt;”Mbar, kemarinkan aku bilang mau kasi kalian coklat. Aku kasi malam ini”, Eka berbicara di depan pintu. Hanya kepala dan sebagian badannya yang tampak. Sedangkan anggota badannya yang lain, tertutup dinding kamarnya. Dia setengah mengintip malam itu. Entah apa yang disembunyikannya dari kami.&lt;br /&gt;Mendengar apa yang dikatakan Eka, aku sempat tersenyum. Dalam hatiku berkata, ’Apa yang mau Eka kasi? Coklatkah?’. Belum sempat aku berpikir lebih jauh, Eka keluar dari kamar dengan memegang pisau, piring dan bungkusan berwarna kecoklatan. &lt;br /&gt;”Aku mau kasi kalian coklat. Kemarenkan aku bilang mau kasi coklat. Nah...malam ini aku kasi”, dia berbicara sambil tertawa. &lt;br /&gt;”Coklat apa Ka?”, aku bertanya. &lt;br /&gt;”Coklat...”, Eka keluar dari kamarnya dengan membawa sesuatu. Tak lama kemudian dia duduk tepat dihadapanku. Tangganya sibuk mengiris makanan yang disebutnya sebagai coklat. &lt;br /&gt;Aku tertawa melihat tingkah Eka. ’Ya Tuhan...Eka...ade-ade jak’, aku beegumam dalam hati. Aku mengenal betul  makanan yang sedang dipotong-potong Eka. Dodol rebus. Begitu kami sering menyebutnya. Warnya kecoklatan. &lt;br /&gt;Dodol rebus terbuat dari tepung ketan, yang dicampur dengan gula. Setelah menjadi adonan, dimasukkan kedalam kantong plastik ukuran ½ kg. Kemudian direbus selama 10 jam. Rasa dodol rebus tak jauh berbeda dengan rasa kue keranjang. Hanya berbeda pada bentuknya saja. Bentuk dodol, rebus mengikuti panjang plastik yang digunakan. Kalau kue keranjang bentuknya bulat dan relatif lebih kecil. &lt;br /&gt;”Ini coklat...coklat dari kampung. Nenek aku yang buat. Dia lagi panen. Awek yang bawak. Inilah dia coklatnya”, kata Eka sambil terus memotong tipis-tpis dodol itu. Awek adalah adik Eka.&lt;br /&gt;”Kak Eka ni, sangke coklat benar-benar. Semangat dah kite. E...dodol rupenye”, celetuk siti.&lt;br /&gt;”Sama Sit, inikan warnanya juga kecoklat. Anggap jak ini coklat batangan. Makanlah!”, kata Eka, kemudian mempersilahkan kami memakannya. &lt;br /&gt;”Ye...coklat lah kate die tu....”, Siti menggoda Eka. Eka tersipu mendengar kata-kata Siti. &lt;br /&gt;”Kitak makan ya! In, kata kau mintak coklat. Ni dia coklatnya”, Eka memanggil Agus yang saat itu sedang berada di teras. &lt;br /&gt;”Mana dia? Coklat apa?”, Agus tampak bersemangat. Tapi setelah ia mendekat dan tahu apa yang disebut-sebut dengan coklat oleh Eka, terdengar kata-kata yang sedikit aneh. ’Acek kau Ka’. Agus langsung kembali ke teras. Dia tak menghiraukan dodol yang Eka hidangkan.&lt;br /&gt;”Hi...hi...”, Eka tertawa melihat temannya kesal padanya. &lt;br /&gt;Kami berkumpul di depan televisi sambil menikmati coklat batangan alias dodol. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-1159342284499254691?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/1159342284499254691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=1159342284499254691' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1159342284499254691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1159342284499254691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/02/potongan-coklat.html' title='Potongan &quot;Coklat&quot;'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-40061686041037079</id><published>2009-02-13T21:56:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T21:58:57.011-08:00</updated><title type='text'>Minggu, dan Penjual Manisan</title><content type='html'>“Ambar, Rohmah udah mau berangkat ke rumah Ambar”, begitu kira-kira pesan singkat dari temanku seminggu yang lalu. Minggu 8 Februari 2009, aku melakukan rutinitas mingguanku, bersama ke lima temanku yang tergabung dalam satu kelompok. Rohmah adalah salah satunya. &lt;br /&gt;Rohmah baru ku kenal beberapa sebulan yang lalu. Rohmah teman yang cukup baik, walaupun belum beberapa lama aku mengenalnya. Dia ramah. Kami tergabung dalam satu kelompok setelah semua kelompok kegiatan kami mengalami perombakan di akhir Desember 2008. Aku dan keempat temanku membuat satu forum kajian rutin setiap hari minggu pukul 13.00 yang bertenpat di Gg. Era Baru Jl. H. Rais A. Rachman Sui. Jawi.&lt;br /&gt;Biasanya aku pergi sendiri. Tapi minggu ini Rohmah mengajakku pergi bersama, walaupun rumah kami tidak berdekatan. Hanya saja, lokasinya tidak terlalu jauh. Kami sama-sama di kawasan Kota Baru. Entah apa alasan Rohmah mengajakku pergi bersaama. Bahkan ia menawarkan untuk menjemputku. Padahal sebenarnya aku bisa pergi sendiri. &lt;br /&gt;Awalnya aku menolak, karena tak ingin merepotkannya. Tapi, aku juga sungkan untuk menolak ajakannya kali ini. Dia sudah beberapa kali mengajakku hunting buku, tapi aku selalu menolak, karena aku masih kuliah dan belum libur. Kali ini, aku tak kuasa menolaknnya. Kuterima tawarnnya. &lt;br /&gt;Dia menelponku beberapa kali untuk memastikannya. Terakhir dia menelponku untuk meminta alamat kediamanku. Hingga akhirnya, Minggu siang dia datang ke rumahku untuk menjemputku.&lt;br /&gt;Kami menyusuri jalan Prof. M. Yamin, lalu kemudian Rohmah membelokkan stir motornya ke  Jalan Sutomo. Dia memacu motor grand yang tampak bersih itu dengan lamban. Awalnya aku aneh menyaksikannya, tapi akhirnya aku mengetahui mengapa ia memacu motrnya dengan sangat lamban. &lt;br /&gt;”Mbar, Mbak Ais katanya telat. Jadi kita lambat-lambat aja ya? Biar mbak Ais sempat duduk-duduk dulu. Kasian dia pasti capek”, kata Rohmah.&lt;br /&gt;”Oh...iye lah. Tak ape, kasian juga Mbak Ais. Pastilah dia capek”, pertanyaan dibenaku terjawab sudah. Mbak Ais adalah salah satu teman di kelompokku dan kegiatan mingguan bertempat dirumahnya.&lt;br /&gt;Rohmah, tampak begitu mengenal kawasan Sungai Jawi. Dia keluar masuk dari satu gang ke gang yang lain dengan mudah tanpa hambatan. Jalan yang dipilihnyapun relatif jauh, berbelit-belit dan belum kukenal. Awalnya aku bingung, kenapa dia memilih jalan yang justru lebih jauh. Padahal kebanyakan orang meninginkan jalan yang bisa ditempuh dengan waktu yang lebih cepat. &lt;br /&gt;”Jam berapa Mbar?”.&lt;br /&gt;”Jam 12. 50 Rohmah”, aku segera melihat jam di hp ku. &lt;br /&gt;”O...belum. Kita pelan-pelan jak ya? Biar kawan-kawan yang datang duluan”. Rohmah memperlambat motornya yang sedari tadi berjalan pelan. 10 menit kemudian, aku dan Rohmah sampai ke tempat tujuan. Penduduk setempat nampak sepi, gang demi gang yang kami laluipun tampak lengang siang itu. &lt;br /&gt;”Mbak Ais udah nyampai ke belum ya Mbar?”, Rohmah bertanya padaku beberapa saat sebelum akhirnya kami sampai di rumah berpagar hijau No. 64 itu. Rumah Mbak Ais. &lt;br /&gt;”Entahlah”, aku menjawab singkat.&lt;br /&gt;”Tapi garasinya udah bukak tu! Coba Ambar liat, ada ngak motornya”, Rohmah menyurhku membuka pagar dan melihat kondisi garasi.&lt;br /&gt;Aku membuka pagar dengan pelan dan hati-hati. Aku takut menggangu tuan rumah, yang mungkin saat  itu sedang istirahat. Aku berjalan dengan langkah ragu. Ku tebarkan pandangangku pada bagian dalam garasi. ’Kosong, ngak ada motor, apa Mabk Ais belum pulang ya?’, aku bertanya-tanya dalam hati.&lt;br /&gt;”Gimana Mbar? Ada ngak motor Mbak Ais?”, Rohmah bertanya dengan suara pelan, setenagh berbisik.&lt;br /&gt;”Tak ada Rohmah, kosong. Tak ada motor satupun”, kataku menjelaskan kondisi yang kulihat. &lt;br /&gt;”Gimana? Kita tunggu atau?”, kata-katanya sempat terhenti, kemudian dilanjutkannya lagi. ”Mbak Ais si nyuruh kita nunggu”.&lt;br /&gt;”Ya udah kita tunggu aja”, kataku.&lt;br /&gt;”Kita duduk disanak jak yuk!”, Rohmah berbicara sambil menunjuk ke arah kursi yang berada di halaman rumah salah satu warga. Posisinya tepat didepan kami. &lt;br /&gt;”Eh...tak enak lah Romah. Itu kursi orang. Orangnya juga ngak ada”, kataku.&lt;br /&gt;”Lalu, kita mau kemana??”. &lt;br /&gt;”Entahlah, kalau nunggu disinipun ngak enak juga”, aku menjawab singkat. &lt;br /&gt;”Iya, gimana?”, dia kembali bertanya  padaku.&lt;br /&gt;Kami berdiri berhadapan. Dengan wajah bingung, tak tahu apa yang mau dilakukan saat itu. Kami mulai tak tahan berlama-lama dengan kebingungan kami, ditambah dengan sinar matahari yang menyenagat kulit. Akhirnya, aku mengambil suatu keputusan.&lt;br /&gt;”Udahlah Rohmah, kita nunggu Mbak Ais di warung depan aja yuk! Kalau disini ngak enak. Gimana, mau ngak?”. &lt;br /&gt;”Ayok lah”, Rohmah setuju dan langsung memutar arah motornya. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian kami sampai di depan gang. Sampai disana kami kembali binggung. &lt;br /&gt;”Wah, warung itu juga tutup Rohmah. Atau kita nongkrong aja disitu”.&lt;br /&gt;”Terserah Ambarlah. Rohmah ikut aja”.&lt;br /&gt;”Atau kalau Rohmah mau kita beli manisan dulu yuk! Sambil nunggu mbak Ais, kita makan manisan. Gimana?”.&lt;br /&gt;”Ok”, Rohmah menjawab singkat.&lt;br /&gt;Kami langsung mnghampiri penjual manisan keliling yang saat itu sedang berhenti dibawah pohon rindang diseberang jalan. Gerobaknya kecil, ada toples berukuran besar yang didalamnya berisi manisan pepaya, asam aram, nanas, sengkuang, kedondong, dan mangga. Manisannya hanya sisa sedikit, mungkin sudah banyak pembeli. &lt;br /&gt;Di sana ada seorang laki-laki yang sedang sibuk memasukkan manisan ke dalam kantong plastik sesuai dengan takaran yang telah ditentukannya. Rohmah memarkir motor tepat disamping gerobak manisan itu. &lt;br /&gt;”Ada manisan apa aja pak?”, aku bertanya pada laki-laki itu (penjual manisan). &lt;br /&gt;”Ade kedondong, mangge, nanas, asam aram, pepayak same sengkuang dek”, laki-laki itu menjawab. Pertanyaanku tak membuatnya menyudahi aktifitasnya. Ia terus memasukkan manisan-manisan itu. &lt;br /&gt;Laki-laki itu tak lagi muda. Rambutnya yang tertutup topi itu sudah memutih. Badannya sudah tidak tegap. Saat ia berdiri, badanya mulai condong kedepan. Giginyapun sudah tidak lengkap lagi. Ia memakai kaos lengan pendek berwarna putih bergaris hitam dan biru. Ia mengenakan celana berwarna hitam dan sandal jepit yang sudah menipis. Wajahnya tampak lelah. Tapi ia terus memasukkan manisan-manisannya  kedalam kantong plastik dan melayani pembeli yang datang dan pergi. &lt;br /&gt;Aku lalu berjalan ke melewatinya yang sedang asik dengan pekerjaanya dan memilih-milih manisan. Akhirnya aku memilih manisan nanas. &lt;br /&gt;”Mau manisan apa Rohmah?”.&lt;br /&gt;”Rohmah mau pepaya aja Mbar”, kata Rohmah.&lt;br /&gt;”Berapa harganya pak?”.&lt;br /&gt;”Dua ribu jak”, katanya. &lt;br /&gt;Setelah kami memilih manisan dan membayarnya, kami tak  langsung pergi. Aku melihat ada kursi bulat berwarna hijau di sebelah kanan gerobak manisan itu. Pasti itu kursi yang digunakan laki-laki itu saat ia menunggu pelangan untuk membeli manisaannya. Aku membuka pembicaraan. &lt;br /&gt;”Boleh numpang duduk pak?”.&lt;br /&gt;”O ya..duduk aja dek”.&lt;br /&gt;Aku duduk di kursi bulat itu, sedangkan Rohmah duduk diatas motornya.&lt;br /&gt;”Rohmah ngak apa-apa duduk disitu?”.&lt;br /&gt;”Ngak apa-apa Mbar. Ambar duduk  aja disitu”. &lt;br /&gt;Kami menikmati manisan kami masing-masing. Beberapa menit aku duduk disana, ada beberapa pembeli yang datang dan pergi untuk membeli manisan. Aku memperhatikannya. Aku dan Rohmah tak banyak bicara, kami hanya diam.&lt;br /&gt;Selang beberapa menit, datang seorang laki-laki dan perempuan dan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 3 atau 4 tahun. Kukira ia adalah suami istri.&lt;br /&gt;”Alah.... e, cucuk datok ni”, hanya  kata-kata itu yang kudengar jelas diucapkan oleh laki-laki penjual manisan itu. Ia mengendong dan menciumi cucunya. Ia tampak begitu menyayangi cucunya. Laki-laki itu berbincang-bincang dengan anaknya. Aku tak tahu apa yang mereka bincangkan. &lt;br /&gt;Aku dan Rohmah masih menunggu Mbak Ais sambil memakan manisan kami. 5 menit kemudian pasangan suami istri itu pulang. Tiba-tiba laki-laki itu berbicra denganku. &lt;br /&gt;”Itu cucuk aku, die tinggal di Jongkat. Bapaknye tak ade, kerje ke Malaysia. Itu sepupunye. Die nak pegi ke rumah keluargenye di sinik”. &lt;br /&gt;”O...itu anak Bapak?”, aku bertanya  padanya.&lt;br /&gt;”Bukan, die anak kemanaan. Duluk si tinggal dengan  aku di sinik. Tapi karene makney tinggal sorang di Jungkat sanak, jadi die tinggal di sanak sekarang, ngawankan mamaknye”. &lt;br /&gt;”O....”, aku mengangguk-angguk. &lt;br /&gt;Aku kagum dengan kasih sayangnya pada anak kecil yang disebutnya sebagai cucu itu. Percakapan kami terus berlanjut. Pembeli sedang sepi waktu itu. &lt;br /&gt;”Bapak tinggal dimana?”, aku melanjutkan pertanyaanku. &lt;br /&gt;”Di samping SMP 13, di Parit Tenggah”.&lt;br /&gt;”Bapak memang mangkal di sini kalau jualan?”.&lt;br /&gt;”Iya. Dari pagi jam 8 mangkal di sinik. Nantik sekitar jam 4 keliling ke gang-gang”.&lt;br /&gt;”Untuk ngabiskan yang belum terjual ya pak?”.&lt;br /&gt;”Iya”, laki-laki itu menjawab singkat.&lt;br /&gt;”Bapak buat sendirik manisannya pak?”, aku bertanya lagi.&lt;br /&gt;”Buat sendirik”.&lt;br /&gt;”Lalu kapan Bapak buatnya?”.&lt;br /&gt;”Kalau subuh-subuh tu, pegi ke Plamboyan belik buah-buahnye. Nantik sebelum pegi ngupasnye duluk. Kalau belum selesai dilanjutkan orang-orang yang ade  dirumah. Duluk si tadak buat sendirik. Njualkan punye orang jak. Tapi njualkan punye orang tu susah, beresiko”.&lt;br /&gt;”Ngape pulak pak?”.&lt;br /&gt;”Ye, pegi pagi balek magreb. Nak balek awal, kenak omel, kalau balek magreb kite yang leteh. Barang tak abes, kite kenaknye. Kalau punye sendirik kan nyaman. Kite bise nakar sorang seberape banyak harus njual hari ini, kalau kite leteh nak balek tak ade yang marahkan”. &lt;br /&gt;”Gituk ye pak? Lalu berapelah bapak dapat sehari dari jual manisan pak?”.&lt;br /&gt;”Tak seberape si dek. Tapi ya....cukoplah untuk makan. Sehari dapat empat puloh”.&lt;br /&gt;”Itu pendapatan bersih pak?”.&lt;br /&gt;”Ya. Ya, cukoplah untok makan, cukupi kebutuhan sehari-hari”. &lt;br /&gt;”Ye lah pak”. &lt;br /&gt;Saat aku berbincang-bincang dengan penjual manisan itu, tiba-tiba Rohmah memanggilku.&lt;br /&gt;”Ambar...itu Mbak Ais sama Wiwin. Ayoklah!”, Rohmah mengajakku pergi saat ia melihat Mbak Ais dan seorang temaku melintas dihadapan kami.&lt;br /&gt;“Pak, kami pamit ye pak! Makkaseh kursinye. Pamit pak...Assalamualaikum”, aku segera menagkhiri pembicaraan kami  dan pamit kepada laki-laki itu.&lt;br /&gt;”O.. yelah. Same-same”.&lt;br /&gt;Aku dan Rohmah lansung pergi menuju rumah Mbak Ais. Aku memandangi laki-laki itu. Aku bergumam dalam hati. ”Ya Allah, murahkan rezkinya. Semoga hari tuanya akan membawa banyak berkah”. Seketika itu juga, bayangan kedua orang tuaku melintas. Aku teringat kedua orang tuaku dirumah. Aku masih memandanginya. Dia masih bersemnagat untuk bekerja menjemput rezeki hingga  akhirnya aku tak bisa melihatnya saat aku masuk salah satu gang yang tak jauh dari lokasi penjual manisan itu. Dan kami memulai kegiatan kami hari itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-40061686041037079?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/40061686041037079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=40061686041037079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/40061686041037079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/40061686041037079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/02/minggu-dan-penjual-manisan.html' title='Minggu, dan Penjual Manisan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-7300664516700189647</id><published>2009-01-14T01:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-14T01:29:43.552-08:00</updated><title type='text'>Saat kami di tinggal pergi</title><content type='html'>Di balik dapur redaksi&lt;br /&gt;Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buk…Ape kabar? Warta dah terbit? Ari ape gak kbarnye? Peneng, stres  ke die?  Mak Nyah (begitu biasanya Hardianti memanggil Heriyanto) buat tugas gak? Atau ketika Yanti pulang nanti, Yanti bakalan kenak hukum?”, begitu kira-kira email Hardianti padaku seminggu setelah kebrangakatnnya ke Oregon Amerika.  &lt;br /&gt;Sejak tanggal 2 Januari kami resmi ditinggal ketua umum kami. Tak selang beberapa lama kami kembali kehilangan antek penting kami. Dian Kartika Sari pimpinan redaksi kamipun terbang ke Negara yang sama, hanya berbeda wilayah saja. Dian di Arizona. &lt;br /&gt;“Kak, ngapa harus Ari? Tak bise bah Ari tu…”, Ariyunaldi yang didaulat untuk menjadi ketua umum sementara selama kepergian Hardianti sempat kebingungan dan protes . &lt;br /&gt;“Tadak be Ri…duak bulan jek be…tadak lamak”, kata Hardianti menghibur.&lt;br /&gt;“Tapi  tetap jak tak bise”, kali ini muka Ari memerah, menandakan kekhawatiran yang luar biasa.&lt;br /&gt;Tak hanya Ari yang merasa kebingungan. Teman-teman pengurus LPM yang lain pun merasakan kekhawatiran itu. Aku, sebenarnya merasakan kekhawatiran yang sama. Bahkan mungkin lebih  dari apa yang Ari rasakan.  Aku takut, aku tak bisa mengemban tugas menjadi pimpinan redaksi selama kepergian Dian Kartika Sari. &lt;br /&gt;Suhu di kantor redaksi sempat beku, tak ada reaksi dari penghuninya. Aku bisa melihat kebimbangan teman-temanku yang lain. Terlebih masih  ada beberapa Pr (pekerjaan rumah) yang belum selesai ketika mereka berdua, Yanti dan Dian pergi. &lt;br /&gt;“Apa yang akan terjadi dengan LPM selama dua bulan ini?”. Hah…aku menghela nafas panjang, melepas sedikit beban yang kurasakan. &lt;br /&gt;“Mbak….apa yang mau kita angkat untuk penerbitan edisi ini?”, Ari menanyakan perihal penerbitan padaku. Saat itu, aku, Ica, Lilis, Ari, Heri dan Syahbudin sedang menikmati gorengan di kantin Buk Karim. &lt;br /&gt;“O…ye, apa ya yang mau kita ambil untuk penerbitan kita ni?”, aku balik bertanya pada Ari dan yang lainnya. &lt;br /&gt;Pembicaran itu pun akhirnya mengalir begitu saja, hingga  kami mendapatkan beberapa keputusan untuk penerbitan dan untuk kembali menjalankan roda kepengurusan LPM. Aku bisa merasakan semangat yang dimiliki teman-temnku. &lt;br /&gt;Pembicaraan itu akhirnya kami lanjutkan dengan rapat umum dan rapat redaksi di kantor resaksi sekaligus penugasan (untuk liputan).&lt;br /&gt;Wartawan mulai melakukan liputan. Anggota barupun sudah kami arahkan untuk penugasan. Sesuai dengan mandat yang telah diberikan oleh Hardianti. Semangat itu mulai muncul kembali. &lt;br /&gt;Tapi, lagi-lagi kekhawatiran kembali muncul. &lt;br /&gt;“Cemane ni lay outnye? Ambar belum bisa benar. Heri udah bisa ya? Heri kan kemaren udah belajar sebelum kak Yanti pergi”.  &lt;br /&gt;“Belom tau benar”, jawab Heri singkat. &lt;br /&gt;“Ya Tuhan…apa yang akan terjadi dengan terbitan kami kali ini?”, kekhawatiranku  semakin bertambah. &lt;br /&gt;Aku dan teman-teman sudah telanjur berjanji tak akan mengecewakan dua orang teman kami. Kami juga sudah terlanjur bertekad, apapun yang yang akan terjadi dan apapun hasilnya, kami akan tetap beruasaha sebisa mungkin agar Warta bisa terbit. Itu komitmen kami. Tapi tetap saja, kami ingin memberikan yang terbaik. Tapi jika yang kami hasilkan tak seindah yang kami harapkan, itulah kemampuan yang kami miliki. &lt;br /&gt;Proses peliputan sudah berjalan. &lt;br /&gt;“Mbar, cemane ni? Ade narasumber yang tak mau di wawancarai”, Lilis wartawan kami, sekaligus ketua devisi peruasahaan tergopoh-gopoh menghampiriku. Dia tampak panik, karena tugasnya belum juga selesai. Date line pengumpulan berita sudah dekat. &lt;br /&gt;“Emang kenapa Lis sampai tak mau di wawancarai? Katanya dia sibuk, banyak agenda. Dia bilang bisa di wawancrai haru Jum’at. Padahal kite kan nak ngeja date line. Dia tak mau tahu tentang itu. Mbar…Lilis diomelnya”, Lilis berbicara dengan wajah yang nampak lelah. &lt;br /&gt;“Ya udah, nanti Lilis temui lagi. Siapa tahu beliau udah mau di wawancarai”, kataku.&lt;br /&gt;“Ye lah…”, Lilis pasrah.&lt;br /&gt;Marisa, Erika, Syahbudin, Septian, Zainuddin, Sabri tampak sibuk mencari sumber berita masing-masing. Hanya Heriyanto dan Ari Yunaldi yang tak begitu sibuk. Mereka hanya mendapat tugas untuk menghandle opini atau artikel, surat pembaca, foto dan karikatur. Aku sendiri harus mengkoordinir tulisan dari tiga Himpunan Mahasiswa Jurusan, Tarbiyah, Syariah dan Dakwah. Aku juga harus menangani kolom prasasti dan resensi. &lt;br /&gt;Kamis, proses pengeditan sudah dimulai. Proses lay out serabutan. Dan belum tahu seperti apa hasilnya. Kita tunggu aja…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-7300664516700189647?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/7300664516700189647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=7300664516700189647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7300664516700189647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7300664516700189647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/01/saat-kami-di-tinggal-pergi.html' title='Saat kami di tinggal pergi'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-3395040427727794104</id><published>2009-01-11T01:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T01:29:28.415-08:00</updated><title type='text'>Awal 1429 H Dalam kenangan</title><content type='html'>Ambaryani...&lt;br /&gt;“Assalamulaikum, Mbar ni Iyan ni! Lagi di mana? Hari Minggu ada kegiatan gak? Kalau ngak ada Iya mau minta tolong ni!”.&lt;br /&gt;“Hari Minggu…Em…ada sih! Tapi mau minta tolong apa dan jam berapa?”.&lt;br /&gt;“Seharian!”.&lt;br /&gt;“Wai, seharian? Mang ada apa?”.&lt;br /&gt;“Ni HMJ ma Jurusan mau ngadakan Isra’ Mi’raj di Tohok dan kami minta tolong Ambar mau ya jadi mc nya?”.&lt;br /&gt;“Di Tohohk? Em…boleh! Kapan, jam berape n pake ape kite perginya?”.&lt;br /&gt;“Ya udah, kalau gitu, Ambar dimana ni? Iyan di kampus, kita ketemu di kampus ye! Kite bicarakan hal itu!”.&lt;br /&gt;“Oke lah, bentar lagi Ambar ke kampus”.&lt;br /&gt;“Makasih ya sebelumnya!”.&lt;br /&gt;“Same-same”.&lt;br /&gt;“Dah Iyan tunggu di kampus Assalamulaikum…”. &lt;br /&gt;Begitu kira-kira pembicaraanku dengan salah seorang temanku yang menjabat sebagi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Dakwah Haryanto yang sering ku sapa Iyan. Saat Iyan menawarkan, aku langsung menyangupinya tanpa pikir panjang. Aku memang menginginkan perjalanan ini. Kata orang Tohok itu jauh, didaerah pelosok dan banyak orang nonmuslimnya. Dalam benakku, pasti saat aku kesana akan banyak tantangan dan hal-hal yang menantang! Berangkat dari rasa penasaran, akhirnya aku masuk kedalam salah satu daftar rombongan yang akan berangkat Minggu 27 Juli 2008. &lt;br /&gt;Menurut info yang kudapatkan dari Iyan, kami akan berangkat menuju Tohok hari Minggu pagi menggunakan mobil STAIN. Aku mulai membayangkan, bagamana kondisi perkampungan yang akan kami tuju. &lt;br /&gt;“Ca, kite telat ni. Kitekan disuroh kumpol di masjid jam 7”, kataku saat aku menyambangi Ica di kosnya.&lt;br /&gt;”Iye ni, tak ape lah. Merekepun tak akan berangkat duluk bah, Ambarkan bagian dari rombongan, malah Ambar punya andil besar di acara nanti”, kata Ica.&lt;br /&gt;”O ye lah. Tapi cobe Ica sms mereka udah di kampus belom’. Belum lama, aku mengatakan hal itu salah seorang dari rombongan menelpon Ica. &lt;br /&gt;”Assalamualaikum....”, Ica menjawab pangilan itu.&lt;br /&gt;”Walaikum slam, Ica sama Ambar dah dimana? Kami nunggu di masjid ni”. Ternyata Hamdi yang menelpon Ica.&lt;br /&gt;”Iye bentar agik, kamek lagi di jalan”, jawab Ica dan pembicaraan itupun berakhir sampai disitu.&lt;br /&gt; Kami menuju kampus dengan jalan kaki. Kami hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di kampus. Motorku tak bisa menghantarkan aku da Ica hingga kampus karena tak mungkin motor ditinggalkan di kampus seharian, sementara kampus sepi karena libur. &lt;br /&gt;”Panjang umor die beduak tu’, kata Lilis yang ternyata ia s udah menunggu sejak jam 7.&lt;br /&gt;”Sorry....tak pakek motor. Jadi agak lamak”, aku berkilah dengan nada bercanda. Ku lihat kekeslah teman-temanku melihat tingkahku seolah tak melakukan kesalahan. &lt;br /&gt;”Mana mobilnya?”, Ica bertanya.&lt;br /&gt;”Belom datang. Katenye si bentar agik, tadi dah di telpon Iyan”, Mursam menjawab. &lt;br /&gt; Kami, tak langsung berangkat, karena kami masih harus menunggu kedatangan mobil yang akan membawa kami menuju Tohok. Ku mendapatkan informasi dari salah satu teman, jika keterlambantan mobil jemputan kami lantaran harus menjemput Drs. H. Dulhadi, M.Pd alias Abah, ketua jurusan kami. &lt;br /&gt;Ketika mobil kijang avanza berwarna cream tiba, kami semua sumringah. Aku, dan keenam teman-temanku yang lainnya masuk kedalam mobil. Ada Ica, Lilis dan aku sendiri yang duduk di bangku tengah. Aku duduk dibagian tepi jendela. Di bagian belakang ada Ucu, Fitri, Vhona, dan Erni. Abah telah menduduki kursi bagian depan tepat di samping pengendara mobil. Aku tak tahu pasti siapa namanya, sebut saja bang Sarip.&lt;br /&gt;Hamdi, Ari, Mulyadi, Mursam, Namen, Sarwono, Septian dan bang Samsul memilih mengunakan sepeda motor. Karena memang mobil tidak akan muat menampung kami semua. &lt;br /&gt;“Kitak jangan ngebut ya! Santai jak!”, teriak Abah dari dalam mobil berpesan kepada teman-temanku yang mulai memacu kendaraan roda dua mereka. Tak ada reaksi yang berarti dari teman-temanku yang waktu itu sudah siap untuk melaju. &lt;br /&gt;Mobil mulai bergerak meningalkan gerbang kampus. Tepat pukul 9 kami meluncur. Aku berusaha duduk senyaman mungkin dan mencari suasana yang mampu membuat aku lupa bahwa aku……..(ust….sebenarnya ini adalah rahasia perusahaan, jadi siapapun yang membacanya harap tidak menertawakanku, karena hari gini masihh aja ada yang mabuk, mabuk kendaraan darat (mobil, bis dan teman-temannya). &lt;br /&gt;Aku sudah mempersiapkan permen, pagoda pastiles, air minum hingga minyak kayu putih untuk mengantisipasi kelemahanku saat bepergian. Aku juga telah mempersiapkan beberapa kantong plastik didalam tasku. Aku hanya antisipasi, karena kadang aku tak tahan dan langsung muntah. Dari pada malu dua kali lebih baik aku mengantongi kantong plastik “sedia payung sebelum hujan, sedia kantong plastik sebelum muntah” he...hal itulah yang selalu kulakukan jika aku bepergian. &lt;br /&gt;Ini bukan tahun pertama aku berada di Pontianak dan bukan kali pertama, kedua atau ketiga aku bepergian menggunakan mobil, bis atau kendaraan roda empat lainnya. Genap delapan tahun bahkan sudah hampir memasuki tahun ke-sembilan aku berada di kota ini. Aku selalu menggunakan kendaraan yang serupa jika aku pulang ke kampung halamanku. Tapi hingga saat ini kebiasaanku (mabuk kendaraan darat) belum juga hilang. Kondisi inilah yang membuatku berpikir 13 kali jika aku ingin pulang ke kampung halaman. Aku phobia bis. Bahkan hanya mendengar suara bis dan mencium aromanya saja bisa membuatku pusing dan mual-mual. Kondisi yang sangat mnenyiksa dan tidak nyaman. Sangat tersiksa menjadi orang pemabuk sepertiku. &lt;br /&gt;Pernah aku berjuang keras tidak muntah (tidak mabuk) ketika berada didalam bis hingga sampai ditujuan. Al-hasil aku didera rasa pusing, mual, padahal naik bisnya sudah belalu 1 hari 1 malam, yang pasti kondisinya tidak nyaman. Karena itulah aku memilih muntah dari pada menahannya tapi pusingnya tak habis-habis. Biasanya setelah aku muntah, kondisiku lebih baik, tapi tak jarang pula kondisinya malah lebih parah. &lt;br /&gt;Kembali ke topic awal dan inilah kondisi yang kualami saat meuju Tohok. Kepalaku sudah mulai pusing saat mobil yang kami tumpangi berada di daerah Siantan. Perutku mulai terasa mual. Ku keluarkan botol air putih dari tasku, lalu aku menegak isinya. Ku gapai pagoda pastiles yang ada di bagian samping tasku, ku buka dan ku keluarkan beberapa butir isinya dan kunikmati bersama teman-temanku. Harapanku dengan begitu aku bisa bertahan. &lt;br /&gt;Temanku Lilis juga merasakan hal yang sama. Dia memilih menikmati permen relaksa yang sengaja dipersiapkanya dan menikmati aroma minyak angina cap kapak yang dibawanya. Aku mencoba hal yang sama. Ku oles perut, tengkung dan leherku dengan minyak angin itu. Sebisa mungkin aku mengusir rasa pusingku.  &lt;br /&gt;Aku juga mencoba menikmati perjalanan itu, aku mencoba mempraktekkan mandat dari salah satu rekanku sebelum keberangkatanku (menikmati perjalanan itu). &lt;br /&gt;”Biar tak mabok, nikmati perjalanan itu”, begitu bunyi pesan  temanku lewat sms.&lt;br /&gt;Disepanjang perjalanan, teman-temanku tak henti-hentinya berbicara. Sesekali aku mengikuti pembicaraan mereka, tapi aku terdiam saat rasa mual mulai menyerang. Ketika memasuki wilayah Mandor, dan mulai masuk ke perkampungan, Jalanan berbukit, di kiri dan kanan tampak gunung-gunung begitu dekat dengan posisi kami.  &lt;br /&gt;Lilis sibuk dengan hand phone kameranya. Ia seolah tak mau melepaskan momen itu. Ia terus memotret dan merekam keindahan yang dilihatnya. Entah tepatnya di kampung apa saat itu. Yang pasti, disitu ada pintu gerbang yang cukup besar dan tertulis kata “Selamat datang di kecamatan Landak”. Dalam hatiku berkata, “O…mungkin in area kabupaten Landak. Itu artinya…pikiranku sejenak menerawang”. &lt;br /&gt;Saat memasuki kecamatan Tohok, Lilis berbicara setengah teriak. “Mbar…cobe liat ta! Ade si imut lewat. Selo…yak die lewat tu!”, kata Lilis.&lt;br /&gt;Aku langsung mlihat kearah jalan dari kaca jendela mobil. Ternyata Lilis mengomentari babi yang berkeliaran di jalanan. Lilis merasa aneh melihat hal itu, karena memang hal itu tak penah kami jumpai di Potianak. &lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Kami menjumpai hewan peliharaan (anjing dan ababi) dengan bebas keluar masuk irumah warga. Ada yang berbaring di teras rumah, ada yang berada di tepat didepan pintu. Seketika itu juga aku bergumam dalam hati “Ini artinya orang-orang disini minoritas muslim”. &lt;br /&gt;Dugaanku diperkuat dengan banyaknya bagunan gereja disepanjang jalan perkampungan itu. &lt;br /&gt;Tapi tak beberapa lama kemudian, kami menemukan perkampungan yang nampaknya adalah perkampunga yang terdapat penduduk yang beragama Islam. Kami melihat beberapa wanita yang mengunakan jlbab. Selain itu, banyak juga bangunan masjidnya dibandingkan perkampungan sebelumnya. Semakin mendekati desa yang kam tuju, kondsi jalannya semakin menyempit dan rusak. Jalanan tanah merah setapak. Hanya bisa satu  arah. Maksudnya, tak bisa dua mobil berpapasan seklaigus.&lt;br /&gt;Akhirnya tepat pukul 11.30 kami tiba dirumah salah satu rombongan yang memang berdomisili disana. Rumah Hamdi. Rombongan yang lain yang mengunakan kendaraan roda dua sudah terlebih dahulu sampai. Tuan rumah menyambut kami dengan begitu ramah. Kami rombongan yang baru tiba, mengambil posisi agak jauh dari rombongan yang lain. &lt;br /&gt;Teman-temanku menikmati hidangan (keu-kue) yang telah dsediakan. Aku yang saat itu dalam kondisi mabuk, tak bisa lagi menahan rasa mual. &lt;br /&gt;“Ham…boleh Ambar permisi kebelakang?”, Ke wc maksudku.&lt;br /&gt;“O…boleh ayoklah”, Hamdi langsung mengantarku ke wc.&lt;br /&gt;Begitu aku sampai di wc aku lansung mutah. Sebenarnya aku malu, tapi saat itu memang tak bisa ditahan lagi. Kepalaku pusing, badanku gemetar. “Ya Allah…gimana mau jadi mc kalau gini keadaanya?”, kataku dalam hati.&lt;br /&gt;”Maaf buk, saya memang tak tahan naik mobil pasti mabok”, aku berbicara dengan beberapa orang (tuan rumah) yang sedang sibuk masak di  dapur. &lt;br /&gt;Lama aku berada di wc. Tak tahulah, mungkin tuan rumah heran melihatku saat itu. Setelah aku merasa  benar-benar lega, aku menyusul teman-temanku yang lain.&lt;br /&gt;“Ngape Mabar?”, Tanya Marisa padaku.&lt;br /&gt;“Ambar muntah Ca!”.&lt;br /&gt;“Ha…muntah? Dah lah minum lok!”. Ica memberiku segelas es teh, lalu aku meminumnya.&lt;br /&gt;“Agik ca aeknye…masih terasa mualnya”, aku menyodorkan gelasku kearah Ica.&lt;br /&gt;“E…orang mabok tu, tak boleh banyak-banyak minum as! Dah Ambar makan kue jak”, Ica protes padaku.&lt;br /&gt;“Iye nanti Ambar makan kuenya, tapi Ambar mintak aek lok!”. Ica menyerah dan memenuhi permintaanku. Kepalaku masih pusing, rasanya aku mau rebahan dan sitirahat. Ya…tapi apa boleh dikata, ini dinegeri orang dan baru kali pertama kami berkunjung. Aku menyandarkan kepalaku dibahu Ica saat itu. &lt;br /&gt;“Duh kepalaku benar-benar pusing”. &lt;br /&gt;“Ayo mbak makan dulu dirumah kakanya Hamdi!”, ibu Hamdi mempersilahkan kami meuju rumah yang tak jauh dari rumah itu.&lt;br /&gt;“Ya Tuhan, kemana lagi ni?”. Rasanya aku sudah tak sanggup untuk berjalan jauh. Tapi, aku punya pilihan lain, selain harus mengikuti teman-temanku yang lainnya. Aku berusaha tampl fit, seolah-olah aku baik-baik saja. Padahal kalau boleh meminta, aku minta diberikan waktu 15 menit saja untuk rebahan. &lt;br /&gt;”Syukurlah....” aku bergumam. Ternyata rumah kaka Hamdi posisinya tidak jauh. Hanya dipisahkan oleh satu buah rumah saja. &lt;br /&gt;Menu makan siang kami waktu itu, ada sayur nangka, tumisan kacang, udang plus tahu, daging ayam, lalap daun singkong juga mentimun. Yang terakhir sambal belacan. Menunya cukup mengugah selera, dan tase nya pas sekali dengan seleraku, yang suka pedes  dan asin. Usai makan siang, kami lalu shalat dzuhur. Tak beberapa lama setelah dzuhur, acara dimulai. &lt;br /&gt;Aku mulai membaca kembali susunan acara yang telah disapkan oleh panitia pelaksana. Beberapa saat kemudian, kami menuju masjid Miftahul Jannah. &lt;br /&gt;Luar biasa, aku kagum dengan cara mereka bersosialisasi dan menghormati tamu. Kami disambut dengan sambutan yang luar biasa. Antusiasme warga juga cukup luar biasa. Sungguh pola komunikasi yang sagat hangat. Mereka menyambut baik kedatangan kami. &lt;br /&gt;Warga sudah memenuhi bagian dalam hingga bagian luar masjid siang itu. Kurang lebih 10 orang remaja berbaris dihalaman, untuk menyambut kami. Disebelah kanan berdiri remaja putri sedangkan sebelah kanan remaja putra. Mereka tergabung di remaja masjid Miftahul Jannah. &lt;br /&gt;Kegiatan itu berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Hanya saja suara hujan membuat suasana sedikit riuh. Tepat pukul 15.30 acar itu usai, dan kami langsung shalat Ashar. Usai shalat, satu persatu warga yang hadir mulai pulang kerumah masing-masing. Kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Pontianak. &lt;br /&gt;Sebelum pulang kami harus makan lagi. Menu yang sama hanya ada satu menu tambahan, yaitu tempe goreng. Ibu Hamdi dan kakak-kakaknya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.&lt;br /&gt;“Mbak, ini kuehnya nanti mbak bagi-bagi dengan pak ustadnya ya! Ini selebihnya untuk mbak dan teman-teman, nanti di makan di mobil”, ibu Hamdi memberikan tiga kantong kue padaku. &lt;br /&gt;“Ya ampun buk,  kok repot-repot? Ndak usah, mobil udah penuh buk”, kataku.&lt;br /&gt;“Ndak ini sudah ada, tinggal dibawa, ambil! Jangan ditolak mbak”.&lt;br /&gt;“Makasih banyak ya buk!”.&lt;br /&gt;“Ya sama-sama. Jangan kapok main kesini ya!”.&lt;br /&gt;“Ya buk Insyaallah lain waktu kami kesini lagi. Makasih sekali lagi ya buk! Kami pamitan dulu, soalnya udah sore takut kemalaman”. Kami semua berpamitan dengan tuan rumah dan warga setempat.&lt;br /&gt;Pukul 16.15 kami meninggalkan perkampungan itu. Jalanan licin lantaran terguyur hujan. Kami pulang diiringi hujan  gerimis. Saat pulang, Alhamdulillah kondisiku tak separah saat keberangkatan. &lt;br /&gt;Diperjalanan, kami harus berhenti di salah  satu masjid di kawasan Pinyuh. Kami kemalaman dan harus shalat terlebih dahulu. Usai shalat, kami melanjutkan perjalanan kami. &lt;br /&gt;Aku bisa menikmati perjalanan pulang waktu itu. Hanya saja sesekali rasa mual datang, tapi aku berhasil mengusir rasa itu. Tapi belum lama kami meningalkan masjid di Sui Pinyuh, kepalaku mendadak pusing. Aku ingin memejamkan mata (tidur maksudku), tapi tak bisa. Kondisi saat itu tak memungkinkan. Ku  ambil hp ku, mengirimkan beberapa pesan singkat kepada teman-temanku. Berharap agar aku lupa kalau aku sedang mabuk. Rasa pusing itu sedikit hilang. &lt;br /&gt;Tapi ketika berada didaerah Siantan, lagi-lagi terjadi. Aku tak tahan lagi menahan rasa mual. Ku ambil kantong plastik hitam dari tasku. &lt;br /&gt;Perutku tersa mula tak karuan saat teman disebelahku membukan kantong yang berisi kerupuk dan dia menawarkan padaku. Aku belum sempat menolaknya tapi aromanya sudah membiusku, dan akhirnya muntahlah aku. Sungguh menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi? Pukul 20.00 aku tiba di rumah kos Ica.&lt;br /&gt;“Ca, Ambar langsung ye!”.&lt;br /&gt;“Nginap jak, udahlah mabok, gerimis lagi ni! Anak kambeng mane tahan kenak ujan. Dah ngiap jak! Tak usah balek. Awas kalau balek”, Ica melarangku pulang dengan nada sedikit.&lt;br /&gt;“I…Ica ni! Ambar tu mauk cepat sampai rumah be…”.&lt;br /&gt;“Emang kos Ica bukan rumah?”.&lt;br /&gt;“Ye…maksud Ambar rumah Ambar”.&lt;br /&gt;“Besok jak”.&lt;br /&gt;Begitu sampai di kos Ica, aku langusng mandi dan istirahat. Bahkan aku tak menghiraukan Ica yang sedang sibuk didapur. &lt;br /&gt;“Mbar susunya diminum lok! Habistu makan. Ica dah masakkan mie, ade gak nasiknye. Ambar tu mabok, jadi harus makan” kata Ica panjang lebar, dengan nada sewot, karena ia takut aku tak berselera untuk makan. Dia tampak khawatir dengan kondisiku. &lt;br /&gt;“Hem…Ica bisa juga ya ngomel?”. Aku tertawa didalam hati. Selama ini Ica selalu komentar kalau aku banyak bawel. Katanya aku bawel alias suka ngomel. Tapi akhirnya dia ketularan juga. He….&lt;br /&gt;Aku taksegera menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh Ica. Aku masih rebahan. &lt;br /&gt;”Ambar cepatlah makan tu...pucat dah muke tu. Jangan nak bandel. Nanti saye bilangkan abi ni kalau anak kambeng bandel”.&lt;br /&gt;”I...Ica ni, suke ngancam. Sikit-sikit dibilangkan abinye lah tu...suke nengok kite kenak omel abinye tu”.&lt;br /&gt;”Iye lah, kalau bandel dan tak bise dibilang. Biar abi  yang nangani”. &lt;br /&gt; Aku menyerah, tak bisa berbuat banyak dan mengikuti kemauan Ica. Begitu habis makan dan shalat, kami istirahat melepas lelah hingga subuh. &lt;br /&gt;Itulah perjalananku hari itu. Perjalanan yang mengesankan walaupun kondisiku tak tak mengasyikkan. Perjalanan yang mengesankan, asik, melelahkan tapi aku tak jera mengikuti kegiatan-kegiatan serupa. Menjelajah ke satu daerah ke daerah lain….Ambar akan menunggu kesempatan lain. Tak ape lah mabok-mabok lah. Bantai jak….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi siapapun yang baca tulisan ini dan punya solusi terhadap masalah utama yang Ambar hadapi, yaitu mabok kendaraan, sudilah kiranya memberikan solusi!! Terima kasih sebelum dan sesudahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-3395040427727794104?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/3395040427727794104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=3395040427727794104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3395040427727794104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3395040427727794104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/01/awal-1429-h-dalam-kenangan.html' title='Awal 1429 H Dalam kenangan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8059966916715094841</id><published>2009-01-07T04:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-07T04:11:15.478-08:00</updated><title type='text'>Berusaha Meberikan Yang Terbaik Untuk Buah CInta Anda.</title><content type='html'>Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah amanah yang diberikan Allah kepada hambanya. Karena anak adalah amanah, maka dari itu siapapun yang dianugrahkan amanah tersebut, hendaknya bisa menjaganya dengan sebaik-baiknya. Anak yang baru lahir bak ibarat sebuah kanvas yang masih putih bersih, orang tuanyalah yang akan menjadikan kanvas itu berwarna warni. Begitu pentingnya peran orang tua terhadap anak, hingga baik dan buruk anak tersebut tergantung pola didik kedua orang tuanya. Jika orang tuanya mendidik dengan pola kehidupan yang baik, bahkan bila itu dilakukan sejak masih dalam kandungan, itu artinya anak itu akan tumbuh menjadi anak yang baik pula. Ada beberapa langkah yang tidak  ada salahnya jika anda coba, diantaranya:&lt;br /&gt;Beri anak Tugas atau Tanggung Jawab&lt;br /&gt;Tahap awal yang bisa anda lakukan adalah, biarkan anak anda memiliki peran atau merasa memilki tanggung jawab dalam kesehariannya. Cara mudah  agar anak bisa merasa tanggung jawab diantaranya adalah, ajarkan si kecil untuk bisa merapikan tempat tidurnya, merpikan mainannya  atau merapikan, merapikan sandal milik keluarga yang &lt;br /&gt;berserakan. &lt;br /&gt;Sanksi &lt;br /&gt;Dengan adanya sanksi, akan mempermudah anda sebagai orang tua untuk membangun komitmen pada diri anak anda. Karena dengan begitu, mereka akan merasa benar-benar menghargai tugas yang telah diembannya, dan sanksi itu harus benar-benar dilaksanakan dan bukan hanya menjadi simbol saja. Jangan sekali-kali tidak melaksanakan sanksi yang telah anda sepakati dengan anak-anak  anda. Karena tindakan itu akan membuat anak anda tidak repek lagi terhadap sanksi atau kesepakatan yang telah diambil. Misalnya, sanksi ajkan berlaku jika anak anda tidak melaksanakan tanggung  jawab yang telah diamanahkan kepada mereka. &lt;br /&gt;Reward atau Penghargaan&lt;br /&gt;Ketika anda menyepakati adanya sanksi jika buah hati anda tidak melaksanakan tugasnya, maka anda juga perlu memberikan reward atau penghargaan jika mereka mampu melaksanakan tugasnya. Reward juga bisa menjadi suatu motifsi bagi sang nak, karena bisaanya anak-anak akan lebih respec ketika anda sebagai orang tua bisa memberikan penghargaan walaupun hanya sekedar pujian.&lt;br /&gt;Musyawarah&lt;br /&gt;Biasakan anak anda untuk dilibatkan dalam mengambil keputusan dalam keluarga. Dalam mengambil kesepkatan tugas dan tanggung jawab masing-masing misalnya. Begitu juga dalam menentukan sanksi dan penghargaan bagi buah hati anda. Musyawarah baik dilakukan, karena dengan begitu akan menumbuhkan rasa kebersamaan dalam keluarga. &lt;br /&gt;Didik Anak Dengan Gaya Hidup Mandiri&lt;br /&gt;Memberikan tugas dan tanggung jawab kepada anak, juga akan mendidik mereka untuk mandiri. Selain itu, ajaklah anak anda untuk bisa menyelesaikan tugas atau masalahnya sendiri. Karena dengan begitu anak anda akan terlatih untuk bisa mencari solusi sendiri dari masalah yang mereka hadapi dan tidak terbiasa mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Akan tetapi tetap dibawah pengawasan kedua orang tua. Orang tua harus tetap mengawasi, agar ketika mereka menemukan kesulitan yang tidak bisa dipecahkan sendiri, akan bisa membicarakannya pada anda.   &lt;br /&gt;Ciptakan Nunansa Disiplin di Rumah &lt;br /&gt;Kedisiplinan sangat perlu untuk diajarkan pada seluruh anggota  keluarga anda, terutama anak-anak anda. Biasakan untuk memnanamkan pola hidup disiplin pada anak anda sejak dini. Setelah adanya pembagian tugas,  adanya sanksi dan reward itu artinya anda sudah menerapkan adanya kedisiplinan dirumah anda. Hal itu bisa didukung dengan hal lain, misalnya dengan adanya jadwal kegiatan masing-masing anggota keluarga. Dengan menyediakan waktu khusus untuk beajar dan berkumpul dengan keluarga, juga akan bisa membangun kedisiplinan pada buah hati anda. &lt;br /&gt;Bangun Keterbukaan &lt;br /&gt;Jalin komunikasi yang efektif dengan anak. Bisa dengan mendengarkan cerita kegiatann anak anda ketika berada di sekolah, ataupun dengan mendengarkan cerita-cerita menarik dari anak anda. Biarakan mereka bercerita apa saja yang mereka inginkan. Jika anda menemukan masalah yang dihadapi buah hati anda, buatlah forum kecil dalam keluarga untuk memcahakan masalah itu secara bersama-sama. Posisikan diri anda sebagai sahabat bagi anak-anak anda. Karena dengan begitu, anak akan merasa lebih mudah untuk berbicara apa saja yang mereka alami. &lt;br /&gt;Jangan Biasakan dengan sesuatu yang instant&lt;br /&gt;Kebiasaan menuruti segala kemauan anak harus anda hindari. Karena dengan begitu akan mendidik anak anda untuk tidak bekerja keras dan cenderung untuk bergantung kepada orang lain. Ajarkan kepada si kecil untuk berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Anda bisa membiasakan mereka dengan kebiasaan menyisihkan uang jajan untuk menabung jika anak anda menginginkan sesuatu dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. &lt;br /&gt;Semoga anak-anak anda akan menjadi investasi dunia terutama akhirat anda. So angan salah didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Walaupun saya belum berpengalaman punya anak, tapi saya lihat dan saya analisis orang-oran disekitar saya dalam mendidik ank-anak mereka, hal ini menjadi bagian yang mreka terapkan. Tentu masih banyak lagi dan ini hanya bagian keci dari proses itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8059966916715094841?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8059966916715094841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8059966916715094841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8059966916715094841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8059966916715094841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/01/berusaha-meberikan-yang-terbaik-untuk.html' title='Berusaha Meberikan Yang Terbaik Untuk Buah CInta Anda.'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-6735306735256211078</id><published>2009-01-04T01:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T01:41:28.431-08:00</updated><title type='text'>Hari itu saat di lapangan</title><content type='html'>Hari ke-4 pelatiha Participatory Action Research (PAR). Seluruh peserta kembali melanjutkan aktifitasnya di ruangan Kedai Beringin hari itu. Hanya saja hari ini sedikit berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Pukul 8.30 panitia memberikan pengarahan kepada seluruh peserta sebelum akhirnya kami berpencar ke tempat masing-masing. ”Nanti bapak-bapak ibuk-ibuk kelapangan sampai jam 3 sore, kemudian kembali lagi ke sini. Terserah mau dimana tempat untuk mendiskusikan hasil dari lapangan, yang pasti nanti itu dibuat power pointnya, kemudian dipersentasikan dan catatan lapangan juga harus dibuat oleh masing-masing individu”, kata Pak Ibrahim. Itu salah satu yang disampaikan dalam pengarahakn pagi itu. Setelah pengarahan berjalan beberapa menit, kemudian waktunya cabut undi lokasi dimulai dan kami (kelompok satu) mendapatkan lokasi praktek penelitian di Parit Wak Gatak Pal IX. &lt;br /&gt;Mungkin lokasi praktek yang tidak asing lagi bagi para dosen peserta pelatihan yang tergabung dikelompok satu. Pasalnya, begitu Pak Saiful yang waktu itu mengambil kertas undianya mengatakan ”Parit Wak Gatak boy...” dan semua yang tergabung dikelompok satupun tampak sumringah ketika mendengarnya. &lt;br /&gt;Setelah seluruh peserta mendapatkan lokasi praktek penelitian, panitia juga memberikan gambaran singkat mengenai lokasi masing-masing yang sudah mereka tentukan. Setelah melalui beberapa fase di ruangan, seluruh kelompok bergabung dengan kelompok masing-masing dan mendiskusikan apa dan bagaimana cara kerja di lapangan nantinya. &lt;br /&gt;”Ok, sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya, hal yang penting diatas segala-galanya adalah kita memilih terlebih dahulu siapa ketua dan sekertaris kita”, seperti itulah kira-kira perkataan Dr. Yusriadi  salah satu anggota kelompok satu pagi itu. Seluruh peserta kelompok satu yang hanya terdiri dari enam orang sebenarnya, Pak Ismail Ruslan, Pak Yusriadi, Pak Lukman, Pak Saiful, Bu Fatmawati dan Bu Yusdiana, dan aku sendiri hanya peserta tambahan. Seluruh anggota kelompok menunjukkan reaksi setuju dengan kediaman. Tak lama kemudian terdengar komentar dari peserta kelompok satu yang lainnya. &lt;br /&gt;”Bang Yus ketua, saya boleh jadi pendampingnya”, kata Pak Ismail Ruslan.&lt;br /&gt;”Jangan saya. Saya siang harus kerja lagi di Tribune, mana bisa ketua hanya ikut separo-separo”, Pak Yus mengemukakan ketidak siapannya kepada dihadapan peserta lainnya. &lt;br /&gt;”Itu alasan jak”, kata Pak Saiful tanda tidak setuju dengan a lasan yang dikemukakan oleh Pak Yusriadi.&lt;br /&gt;”Heh...kenyataan tu, harus kerja dulu”, kata Pak Yus. &lt;br /&gt;Pada awalnya, alasan yang dikemukakan oleh Pak Yusriadi tak diterima begitu saja oleh anggota kelompok satu. Tapi akhirnya mereka mengalah juga, karena Pak Yusriadi pun tak kunjung menyangupi untuk didaulat menjadi ketua kelompok. &lt;br /&gt;”Ketua Ma’il (begitu biasanya Pak Yusriadi menyapa Pak Ismail Ruslan) dan untuk sekertarisnya terserah Ma’il mau pilih siapa. Tergantung Ma’il nyaman kerja dengan sipa”, kata Pak Yusriadi akhirnya yang lainpun menyetujui keputusan itu. &lt;br /&gt;”Sekertarisnye Lukman, diekan yang punya laptop. Kalau aku yang jadi sekertaris, aku tak punye laptopnye”, kata Pak Saiful. Dan disepakatilah ketua kelompok satu dalah Pak Ismail Ruslan dan sekertarisnya adalah Pak Lukman.&lt;br /&gt;Setalah melakukan pemilihan siapa yang harus menjadi ketua dan sekertaris kelompok, dilanjutkan dengan dialog startegi yang harus dilakukan. Secara otomatis pembicaraan di ambil oleh ketua kelompok.  &lt;br /&gt;”Ok, jadi nanti tekhnisnya ketika dilapangan kita berpencar menjadi dua. Kita disini mencari pasangan masing-masing, berdua-dua dan kemudian mencari data yang diperlukan”, kata Pak Ismail Ruslan lalu anggota kelompok yang lainnya menganggukkan kepala dan ada juga yang hanya diam tanda setuju. Setelah perundingan selesai dan setelah melalui waktu istirahat untuk break (srapan), satu persatu dari kelompok peserta PAR menuju ke lokasi masing-masing. Sekitar pukul 9.20 kami, kelompok satu menuju lokasi, yaitu Parit Wak Gatak Pal IX.&lt;br /&gt;Perjalanan kami tempuh dengan memakan waktu kurang lebih 20 menit, dengan mengendari sepeda motor. Bu Yus yang mengomandani perjalanan waktu itu dan diikuti beberapa orang yang lainnya. Parit Wak Gatak sendiri terletak di ujung Kota Baru. Beberapa meter sebelum sampai dilokasi, disepanjang jalan tampak hijau dengan pohon kelapa yang tinggi-tinggi, pohon kopi yang sedang tidak musim berbuah, pohon tebu, pohon pisang ada  beberapa tumbuhan lain. Dalam pikiranku, mungkin penduduk Parit Wak Gatak bergelut dengan alam (pertanian) dalam kesehariannya. &lt;br /&gt;Rombongan terecah menjadi dua, Bu Yusdiana, Bu Fatma, Pak Lukman dan Pak Saiful telah mendahului kami (aku, Pak Ismail dan Pak Yusriadi). Tak lama kemudian, kami sampai dipersimpangan dan disebelah kanan persimpangan terdapat plang yang bertuliskan Parit Wak Gatak. Pak Ismail yang berada didepan kami (aku dan Pak Yus), hampir salah arah dan masuk ke sebelah kanan persimpangan. Tetapi itu, tidak terjadi karena Pak Yus yang menyadari jika Pak Ismail salah arah lansung memangilnya. &lt;br /&gt;”Il, sebelah sinik”, Pak Yus berteriak setelah melihat keempat orang yang mendahului kami masuk ke sebelah kiri jalan yang kami lalui.  &lt;br /&gt;Dua jalan yang baru saja kulihat jauh berbeda. Jalan disebelah kananku, tampak sudah bagus (aspal). Tapi berbeda dengan jalan disebelah kiri yang saat itu kulewati. Jalannya masih tanah, biasanya disebut dengan jombo . Ditepi kiri jalan tanah itu ditanami jeruk sambal dan serai oleh warga. Hanya beberapa menit saja, kami sudah sampai ditempat tujuan, yaitu rumah kepala desa Parit Wak Gatak, yaitu Pak Nurdin. Sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. &lt;br /&gt;Di sana tamak Pak Hariansyah ketua pantia dan Pak Ibrahim sekertaris panitia yang mendampingi kami dan sudah berada dihalaman rumah Pak Nurdin yang datang dengan mengendarai mobil. Setiap kelompok didampingi oleh satu atau dua panitia. &lt;br /&gt;Begitu sampai dilokasi ada seorang wanita muda yang mempersilahkan kami masuk ke rumah. Belakangan kuketahui jika perempuan muda itu adalah adik dari kepala desa. Tak satupun dari kami yang masuk ke rumah, kami mengambil posisi masing-masing. &lt;br /&gt;Pak Yus langsung duduk di bangku yang terdapat disebuah toko kecil di samping rumah kepala desa, Pak Ismail Ruslan langsung menuju ke suatu bangunan pengilingan padi warga desa setempat. Sedangkan Aku, Bu Fatma, Bu Yusdiana sempat mematung beberapa saat di halaman rumah kepala desa dan akhirnya kami mengikuti  jejak Pak Yus dan mengambil alih kursi yang didudukinya saat Pak Yus beranjak dari kursi dan menghampiri seorang perempuan yang sedang memetik jeruk sambal yang ditanam ditepi jalan yang lokasinya tepat didepan warung tempat kami duduk. &lt;br /&gt;Warug itu sangat sederhana. Terdapat dua kursi dan meja yang terbuat dari papan didepannya. Barang-barang dagangan yang ada didalamnyapun tidak begitu banyak, hanya barang-barang kebutuhan sehari-hari yang dijual diasana, diantaranya adalah sabun mandi, sabun cuci, sampo, indomi, beberapa jenis kue dan es instan (es segar sari, pop drink dan lain-lain). Aku, Bu Fatma dan Bu Yus hanya duduk dan mengamati kondisi sekitar. Kemudian bu Fatma membuka pembicaraan. &lt;br /&gt;”Ini kue apa namanya? Kalau  kata kami orang Bugis, namanya kue Ponto-Ponto. Kue Ponto-Ponto, karena kuenya mirip dengan gelang dan Ponto-Ponto itu artinya gelang”, Bu Fatma membuka pembicaraan. &lt;br /&gt;”Kalau kami nyebutnya kue Gelang-Gelang atau Donat”, jawab seorang lelaki muda yang duduk dihadapan kami. &lt;br /&gt;”Bantu buat lah Pat!”, kata Pak Yusriadi mengoda Bu Fatma. Tak lama kemudia Bu Fatma beranjak dari tempat duduknya berpindah ke kursi yang ada diseberangku lalu ikut serta membuat kue tersebut. &lt;br /&gt;”Ajarin mabk ya! Saya ngak bisa ini”, kata Bu Fatma kepada gadis yang sedari tadi asik dengan adonan yang mulai dibauatnya menjadi bentuk gelang, bulat-bulat dan gadis itu hanya memberikan senyuman tanda setuju. &lt;br /&gt;”Ini donat ubi kah?”, tanya Bu Yusdiana. &lt;br /&gt;”Ya, ini ubinya dikukus, dihaluskan lalu dicampur dengan tepung sedikit”, jawab seorang perempuan yang duduk berdampingan dengan lelaki muda tadi. &lt;br /&gt;”Selain dibuat donat, biasanya ubinya diapakan lagi mbak?”, Bu Yusdiana menyambung lagi.&lt;br /&gt;”Ya kadang-kadang ubinya kami jual”, jawab wanita pemilik toko (adik kepala desa). &lt;br /&gt;”Kalau ubinya dijual, biasanya berapa harganya?”, Bu Yusdiana kembali bertanya.&lt;br /&gt;”Cuma Rp. 700,-00 perkilonya”, jawab seorang lelaki yang duduk dihadapan Bu Fatma.&lt;br /&gt;”Murah sekali ya? Padahal kalau di pasar itu harganya mahal, bisa sampai Rp. 2000,-00 atau Rp. 2.500,-00 perkilonya”, aku sepontan menjawab. &lt;br /&gt;”Ya ndak tahulah, kami kan ndak jual langsung ke pasar. Tapi kami melalui peraih ”, lelaki muda itu kembali menjawab. &lt;br /&gt;”Semuanya begitu dan ngak dijual langsung ke pasar?”, tanyaku lagi.&lt;br /&gt;”Ya, hampir rata-rata orang disni begitu dan ndak dijual langsung ke pasar. Ada juga yang dijual langsung, tapi itupun yang sudah punya pelangan dan biasnya pelanggannya di rumah makan”, jawab lelaki itu.&lt;br /&gt;”Selain ubi, apa lagi yang biasanya dijual?”, Bu Yus kembali bertanya.&lt;br /&gt;”Kalau lagi musim buah, kami jual langsat, rambutan, kalau ngak ada buah kami biasanya jual sayuran. Biasanya daun ubi, keladi, ya apa yang kami tanam di kebun dan bisa dijual itulah yang kami jual”, jawab seorang wanita yang sedang mengoreng kue donat yang terbuat dari ubi.&lt;br /&gt;Lama kami berdiskusi di warung itu. Kami menanyakan bagaimana mereka menanam padi. Meurut keterangan yang mereka berikan, mereka menanam padi dengan cara yang masih sederhana dan tidak menggunakan pupuk. Ketika mereka menanam padi, mereka juga menanam ubi, keladi di lahan yang sama. Menurut mereka hal itu mereka lakukan karena dirasa lebih efektif. Padi, ubi dan keladi ditanam bersamaan. Ketika padi habis dipanen, dikebun yang sama, mereka masih bisa memanen ubi dan keladi, karena waktu pemanenan yang tidak serempak.&lt;br /&gt;Kemudian aku, Bu Fatma dan Bu Yusdiana sepakat untuk berkeliling di daerah tersebut. Kami menuju jalan yang berada disebelah kanan jalan utama. Lama kami berjalan menyusuri jalanan yang sepi siang itu. Kami menggunakan dua motor yang berbeda. Kami terus menyusuri jalannan itu. Aku tak tahu, kemana tunjuan perjalanan itu. Aku mengikuti arah gerak motor yang dikemudi oleh Bu yusdiana. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kulihat Bu Yus menghentian laju motornya, lalu berbalik arah dan aku mengikutinya. &lt;br /&gt;Kami berbalik arah karena jalanan sepi yang nampak hanya pohon-pohon pisang, kelapa yang mendomonasi tepian jalan Parit Wak Gatak. Tak tampak ada rumah penduduk di sana dan jalan pun sudah menyerupai jalan setapak yang jarang dilewati. Setelah kami mendapatkan informasi dari warga setempat, ternyata memang diujung jalan itu hanya jalan setapak yang jarang dilewati dan agak sulit jika ditempuh menggunakan sepeda motor, terlebih bagi yang belum terbiasa. &lt;br /&gt;Pelan kami mengendarai motor kami waktu itu. Sambil mengamati kondisi sekitar. Perjalanan kami terhenti didepan bangunan yang mirip dengan model bangunan sekolah, tapi bangunan itu tampak sudah tua. Diseberang bangunan tua itu, berdiri masjid yang dari warna dan bangunannya tampak lebih mentereng. Posisinya berada diseberang parit. Masjid itu nampak mencolok dengan warna hijau yang mendominasi. Terdapat dua kubah diatasnya. Satu kubah besar pas ditengah-tengah bangunan, dan satu kubah kecil yang berada diatas atap yang persis berada diatas posisi imam. &lt;br /&gt;Masjid itu memiliki teras disisi kanan dan kirinya, dan teras depannya memanjang hingga ke parit dan dibagian ujung dari teras tersebut terdapat tangga yang tertancap ke dasar parit yang berfungsi untuk mengambil air wudhu. Masjid itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Disebelah kanan teras masjid, terdapat satu tong berukuran sedang berwarna biru yang berfungsi sebagai penampung air hujan yang digunakan untuk wudhu dan tong itu bertuliskan Bantuan Dana PBL PT. PNM Cab Ptk dan keranda mayat yang nampak masih mengkilat. Disebelah tong itupun terdapat dua WC yang pintunya tertutup rapat dan tergembok. Dibagian dalam masjid, terdapat tiga kipas angin, dua speaker yang diletakkan begitu saja di lantai dan satu salon. Itulah masjid Nurul Islam Parit Wak Gatak.&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang tampak kontras diseberang jika dibandingkan dengan bangunan masjid, tempat aku berdiri saat itu. Itu adalah sebuah bangunan tua yang kuketahui sebagai bangunan sekolah, aku mengetahuinya dari papan plang yang tertancap ditepi jalan dan bertuliskan Madrasah Ibtidaiyah Al-Raudahtul Islamiah II Parit Wak Gatak Desa Pal IX Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Pontianak. &lt;br /&gt;Awalnya kukira, bangunan itu tak difungsikan lagi. Aku bisa berpikiran seperti itu karena kondisi bangunan yang sudah begitu memprihatinkan. Tapi perkiraanku terbantah  saat kumencoba mengintip sebuah ruangan yang terdapat di ujung sebelah kanan bangunan tersebut. Dari jendela  kaca yang ada dibagian depan runagna tersebut, aku bisa melihat bagian dalam ruangan tersebut. Didalam ruangan itu terdapat meja dan kursi yang disusun memanjang dan diatas meja itu terdapat beberapa tumpukan buku paket dan buku tulis. Didalamnya terdapat juga dua lemari dan satu rak buku, dua white board yang bertuliskan data siswa Madrasah Ibtidaiyah Parit Wak Gatak. Kondisi ruangan itu dan dari isi ruangan tersebut menegaskan bahwa dan membautku yakin jika bangunan usang itu masih digunakan. &lt;br /&gt;Bangunan itu terdiri dari 5 ruangan. Tiga ruangan yang digunakan sebagai ruangan belajar mengajar, satu ruangan kecil disudut kanan difungsikan sebagai kantor, sedangkan satu ruangan  yang ukuranya lebih besar jika dibandingkan dengan ruangan yang lainnya tampak tak digunakan lagi, dan didalam ruangan itu terdapat beberapa kursi, meja, dan meja tenis yang sudah rusak dan tak bisa digunakan lagi. Di depan pintu masuknya terdapat sebuah tulisan Arab yang berbunyyi Ashaduallailahaillallah dan tulisan itupun hanya sepotong, karena dibagian ujungnya sudah rusak. &lt;br /&gt;Kondisi ruangan kelas tak bisa kulihat dengan jelas waktu itu. Aku tak bisa masuk kedalam ruangan, karena kelas terkunci. Maklumlah, saat itu musim liburan sekolah telah tiba, jadi tak ada aktifitas belajar mengajar. Aku tak menyerah begitu saja, aku ingin sekali melihat kondisi dalam ruangan tersebut. Akhirnya aku mencoba mendorong sedikit pintu yang tergembok itu. Dapat kulihat disana ada beberapa kursi dan meja yang aku sendiri tak tahu pasti berapa jumlahnya. Tertempel gambar pakaian adat dan gambara anggota tubuh mansia dibagian dinding dalamnya. Langit-langit kelaspun jebol disana sini. &lt;br /&gt;Di depan salah satu ruangan kelas tertuliskan ”ruangan kelas V/VI”, dan setelah ku lihat disemua ruangan kelas ternyata sama halnya dengan yang kujumpai di ruangan kelas yang pertama. Itu artinya, satu kelas disekolah ini digunakan untuk dua kelas sekaligus. &lt;br /&gt;Didepan kelas terdapat tiga papan pengumuman yang sudah usang dan yang satunya bahkan sudah rusak pada bagian bawahnya. Diantara dua papan pengumuman besar itu, terdapat satu papan pengumuman kecil yang disana tertempel jadwal ulangan umum semester ganjil untuk kelas IV, V dan VI yang ditulis tangan diatas kertas buku tulis. &lt;br /&gt;Dari keterangan seorang warga yang berdomosli disebelah bangunan sekolah itu, jumlah seluruh sisiwa yang belajar disekolah itu berjumlah kurang lebih 100 orang. Menurutnya lagi, sekolah itu dulunya dibangun oleh penduduk setempat. Guru-guru yang mengajarpun guru-guru setempat, akan tetapi setelah beberapa tahun kemudian terdapat satu orang guru yang berasal dari Pontianak. &lt;br /&gt;”Dulu memeang ada orang yang meninjau sekolah ini, diambil beberapa gambar gedungnya. Akan tetapi, tidak ada tindak lanjutnya. Gedung sekolah ini sebenarnya menjadi gedung serbaguna, karena hampir setiap ada pertemuan di lakukan dihalaman sekolah ini dan ketika ada rapat desapun sering dilakukan dihalaman sekolah ini”, kata seorang lelaki yang duduk berhadapan dengan kami bertiga itu. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian, pemibicaraan antara kami bertiga dan seorang laki-laki itupun berakhir. Aku, Bu Yus dan Bu Fatma melanjutkan perjalanan kembali. Saat itu kami bertiga menghampiri rumah warga yang disamping rumahnya berdiri bangunan yang bisa dikatakan sebagai gubuk. Di gubuk itu biasanya dilakukan pemangnaggan kelapa yang akan dijadikan kopra dan tempat itu basa disebut langkau . &lt;br /&gt;Ketika kami menuju langkau, kami tak menemukan seorangpun disana. Akan tetapi pintu rumah yang berdiri tepat disebelah langkau tersebut terbuka, dan diterasnya terdapat sebuah teko  dan beberapa gelas. Sebelum sampai di langkau, langkah kami bertiga tertahan ketika mendapati ada beberapa tambak ikan lele milik warga yang terdapat diparit tak jauh dari posisi langkau yang kami tuju. &lt;br /&gt;”Ada orangnya tidak ya Kak Yus?”, Bu Fatma bertanya pada Bu Yusdiana. &lt;br /&gt;”Kayaknya si ada Pat, tu teko dengna gelasnye jak ade di depan rumah”, jawab Bu Yusdiana. &lt;br /&gt;”Ayoklah kak, kita tengok langkaunya. Ini langkau satu-satunya katanya”, Bu Fatma terlihat bersemangat untuk melihat langkau. &lt;br /&gt;Tak lama setelah kami bertiga berada disekitar langkau, keluar seorang wanita dari rumah yang sepertinya ia adalah pemilik dari langkau tersebut.&lt;br /&gt;”Mbak kami lihat-lihat ya?”, kata Bu Fatma kepada wanita itu. Awalnya wanita itu menatap kami dengan tatapan curiga. &lt;br /&gt;”Ada apa mbak?”, wanita itu kembali bertanya.&lt;br /&gt;”Tidak ada apa-apa, kami mau lihat-lihat saja”, jawab Bu Fatma enteng.&lt;br /&gt;Setelah aku dan Bu Fatma melihat bagian atas langaku, kami berduapun menuju bagian bawah alngkau. Setelah merasa puas, aku dan Bu Fatma menghampiri wanita itu. &lt;br /&gt;”Ini langkau punya embak?”, tanya Bu Fatma pada wanita yang berdiri diteras rumahnya itu. &lt;br /&gt;”Ya, ini  langkau saye. Baru...kamek buatnya”, jawab wanita itu.&lt;br /&gt;”Katanya ini langkau satu-satunya ya mbak disini?”, Bu Fatma bertanya lagi.&lt;br /&gt;”Ndak, ada satu lagi langkau punya orang Cina di ujung jalan ini, tapi itu bukan lagi masuk wilayah Parit Wak Gatak. Langkau dia udah besak dah, kalau langkau dia tu dah punya bos memang, jadi tak payah agik nak masarkannya. Langkaunye jak ade limak. Mobil pick up untuk ngangkotnye ade tige. Tulah makenye kamek cobe gak, lagian disinikkan tadak ade. Tapi kamek si ngambek yang kelapak turon seribu, duak ribu. Kalau di langkau mereke tu  dah maen ngambek kelapak yang turon duakpuloh ribu”, wanita itu memberi penjelasan. &lt;br /&gt;”Kelapak-kelapak ini, yang dibuat kopra bukan punya embak”, aku mengajukan pertanyaan.&lt;br /&gt;”O..bukan mbak. Kamek tadak ade kebon. Jadi kamek ngambek kelapak oranglah, tupon kadang-kadang susah”, jawabnya.&lt;br /&gt;”Knapa tidak buat banyak-banyak langakunya mbak”, bu Fatma kembali bertanya.&lt;br /&gt;”Modalnye besak mbak nak buat langkau banyak-banyak. Mbuatnye ni jak mau makan biaya dua jutaan. Ape adenye lah lok”, kata wanita itu pasrah.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan pemilik langkau tunggal di Parit Wak Gatak Pal IX, kami melanjutkan kembali perjalanan kami menuju ke rumah kepala desa, tempat yang telah kami sepakati untuk kembali berkumpul dengan anggota kelompok kami.&lt;br /&gt;Ketika sampai di sana, kami istirahat sejenak di warung yang kami jadikan tempat berkumpul saat kami baru datang pagi tagi. Kami bertiga, aku, Bu Fatma dan Bu Yusdiana, setelah menikmati kue donat (gelang-gelang) yang dibuat oleh Bu Fatma pagi tadi. Tak lama kemudian, datang panitia dengan membawa jatah makan siang kelompok kami. Entah apa yang dibicarakan Pak Yan dengan Bu Yusdiana. Aku dan Bu Fatma langsung menuju parit yang letakknya tak jauh dari warung tersebut untuk berwudhu, lalu shalat Dzuhur di masjid yang haya terpisah satu rumah dari warung dimana kami berkumpul tadi. &lt;br /&gt;Tak jauh berbeda dengan masjid Nurul Islam, bahkan masjid itu tampak lebih megah. Setelah shalat Dzuhur hujan mualai turun aku dan Bu Fatmapun langsung menuju rumah kepala Desa, Pak Nurdin. Disana sudah ada pak Nurdin, Pak Yusriadi yang duduk disebelah kiri Pak Nurdin, Pak Ismail Ruslan dan Pak Saiful yang duduk berdampingan di sebelah kanannya. Sedangkan Bu Yusdiana duduk tepat disamping pintu.&lt;br /&gt;Posisi dudukku dan Bu Fatma, awalnya agak jauh dari posisi duduk beberapa orang yang lain. Tapi tak lama kemudian, Bu Fatma mengeser kursinya mendekati Pak Ismail dan yang lainnya, dan akupun mengikutinya. Disitulah kami menyantap makan siang yang telah diberikan oleh panitia, dan berbincang-bincang dengan kepala desa Parit Wak Gatak. &lt;br /&gt;Dari pembicaraan itu, ku ketahui jika ada beberapa kearifan lokal yang masih dilestarikan oleh warga Parit Wak Gatak. ”Kalau disini untuk menjaga keamanan, agarvtidak terjadinya kecurian diberlakukan sistem denda jika ada orang yang mencuri. Misalnya jika terjadi kecurian kelapa dan keyahuan siapa orangnya maka pencurinya itu akan didenda Rp. 100.000,-00 perbuahnya, sedangkan buah durian, akan dikenakan denda Rp. 500.000,-00 perbuahnya. Itu kalau pencurinya sudah membawa hasil bumi itu sejauh 100 m dari pohonnya. Tapi kalau pencuri itu tidak membawa pulang barang curiannya dan memakan buah yang dicurinya dibawah atau disekitar pohonnya, hal itu tidak dianggap mencuri”, kata kepala desa Pak Nurdin. Kearifan yang diciptakan oleh masyarakat setempat itu mulai diterapkan sejak tahun 1997 dan masih berlaku hingga kini. &lt;br /&gt;Pak Nurdin juga mengungkapkan jika kini beberapa lahan yang ada di Parit Wak Gatak yang sudah beralih kepemilikan. Warga setempat kehilangan lahan mereka, salah satu sebabnya adalah karena lahan mereka dijual untuk kepentingan menunaikan ibadah haji, membangun rumah, membeli kendaraan bermotor atau alat-alat elektronik. &lt;br /&gt;Hal ini pulalah yang menyebabkan banyaknya remaja atau sebagian warga Parit Wak Gatak memilih merantau hingga ke Malaysia, selain faktor adanya gengsi berprofesi sebagai seorang petani, itulah yang diungkapkan oleh Pak Nurdin. Menurut Pak Nurdin pula, hampir 20% warga setempat mengarap lahan milik orang lain, karena mereka sudah tidak memiliki lahan lagi. &lt;br /&gt;Warga yang terpaksa mengarap lahan milik orang lain, menggunakan sistem bagi hasil. Akan tetapi sisitem bagi hasil itu hanya berlaku pada tanaman padi saja, akan tetapi jika hasil bumi yang lainnya tidak dikenakan sisitem bagi hasil, ubi, keladi dan tanaman lain selain padi misalnya. &lt;br /&gt;Akan tetapi warga yang masih memilki lahanpun tak bisa sepenuhnya menggarap lahan yang dimilikinya sendiri. Untuk mengarap lahan, tak jarang warga harus meminta bantuan warga setempat dengan sistem upah. Upah yang diberikan untuk petani yang membantu mengarap lahan adalah Rp. 13.000,-00 untuk wanita dengan jam kerja sekitar 5 hingga 6 jam, dan Rp. 15.000,-00 untuk pria dengan jam kereja yang sama. &lt;br /&gt;Setelah berdiskusi beberapa jam dengan kepala desa dan setelah hujan reda, sekitar pukul 14.50 WIB kami, rombongan kelompk satu bersiap-siap menuju kantin Borneo Tribune di Jalan Purnama. Karena sesuai dengan kesepakatan, kami akan mendiskusikan apa yang kami dapatkan di lapangan di sana, sebelum akhirnya mempresentasikannya dihadapan peserta yang lainnya. &lt;br /&gt;Kondisi jalan Parit Wak Gatak becek dan licin sore itu. Bu Fatma, Bu Yusdiana dan aku sendiri memilih berjalan kaki hingga mencapai jalan utama dan menunggu yang lainnya disana. Jalan utama yang menghubungkan Parit Wak Gatak dengan Ampera Kota Baru sudah diaspal, berbeda dengan jalan Parit Wak Gatak yang masih tanah dan becek saat musim  penghujan tiba.   &lt;br /&gt;Pukul 15.15 menit, kami tiba di Borneo Tribune. “Saya tinggal beberapa menit, diskusikan aja dulu sambil pesan minuman”, Pak Yus langsung menuju ke lantai dua kantor redaksi harian Borneo Tribune sedangkan aku dan yang lainnya langsung membentangkan apa saja yang didpatkan di lapangan. &lt;br /&gt;Pak Lukman bertugas menginfentarisir pendapat seluruh anggota. Satu perastu dari tim kami mengungkapkan semua fenomena yang terjadi di Parit Wak Gatak, kemudian pendapat-pendapat ditulis didalam laptopnya sebelum akhirnya akan dilakukan proses identifikasi masalah, indentifikasi kekuatan lokal atau potensi yang dimiliki oleh wilayah tersebut, masalah praktis yang dihadapi dan tokoh yang potensial, kira-kira itulah yang tugas yang harus kami laksanakan dari praktek penelitian yang kami lakukan ini. &lt;br /&gt;“Ape lok ni yang nak ditulis?” tanya Pak Lukman pada kami semua.&lt;br /&gt;”Ya sesuai dengan tugas yang harus kita lakukan”, jawab Pak Ismail sambil membuka laptopnya dan mencari-cari materi yang didapatkan dihari sebelumnya mengenai apa saja yang harus dilakukan ketika berada dilapangan. “Nah kayak yang di sampaikan oleh Pak Mahmudi kita harus identifikasi dulu apa saja yang terjadi disana. Jadi semacam sebab dan akibatnya”, sambung Pak Ismail.&lt;br /&gt;“O..ye lah, kalaok gituk akibatnya dulu yang kite tulis baru kite tengok ape sebabnye”, sahut Pak Lukman.&lt;br /&gt;Diskusi itu berjalan alot, karena masing-msing orang mendapatkan fenomena yang berbeda-beda. Selang beberapa menit kemudian, Pak Yus yang tadi absent dari diskusi tersebut hadir dengan membawa flasdisk. &lt;br /&gt;”Foto-fotonya ada di flasdisk itu semua”, kata Pak Yus sambil meletakkan flasdisk berwarna hitam dihadapan kami. &lt;br /&gt;”Kalau bisa kita buat macam punya Pak Mahmudi tu, yang kasus di Timor Leste”, Pak Ismail mengungkapkan aspirasinya.&lt;br /&gt;”Itu ada programnya sendirik pak, nama programnya proshow”, aku yang dari tadi diam, tiba-tiba ikut angkat bicara. &lt;br /&gt;”Ha..cobe di carik Luk, ade ke tdak programnye tu di laptopmu”, kata Pak Ismail spontan.&lt;br /&gt;”Tak ade pak, lau mang kite tak nyimpannya. Itu ade programnya tersendiri. Pak Ibrahim yang punya. Ambar juga punya tapi di rumah”, kataku.&lt;br /&gt;”A...ya udah nanti biar Ambar yang buatnya, kalau Ambar bisa”, kata Pak Ismail lagi.&lt;br /&gt;”Ambar bisa buatnya? Kalau bisa, kita buat” tanya Pak Yus. &lt;br /&gt;”Ambar punya programnya, tapi Ambar belom bise buatnye. Belom pernah cobe. Kalau mau, Ambar ambil dulu”, jawabku.&lt;br /&gt;Akhirnya Pak Ismail dan dosen-dosen yang lain yang tergabung dikelompom satu setuju dan berniat membuat film dokumenternya dengan menggunakan program proshow. Akhirnya aku pulang untuk mengambil programnya. Rumahku tak jauh dari markas yang kami jadikan tempat untuk berdiskusi. Hanya butuh waktu 5 atau 7 menit untuk sampai dirumahku.&lt;br /&gt;”Lih hidupkan komputer”, di perjalanan ku sms adikku yang ada di rumah. Aku tak mau dosen-dosenku menunggu lama. Begitu sampai dirumah, lagsung ku copy di ke flasdisk ku. Proses pengopiannya memakan waktu sangat lama, padahal aku tahu tim kelompok satu menungguku. Aku gelisah. Hampir 15 menit proses pengopian berjalan, tapi belum juga selesai. Maklumlah komputer tua dan hardisk nyapun full. &lt;br /&gt;”Proses pengopyannya lama”, ku beri kabar kepada Pak Yus melalui pesan singkat. Tak lama kemudian, pak Yus menelponku. &lt;br /&gt;”Cobe Ambar pindahkan dulu data yang ada di flasdisk ke hardisk, ndak kepenuhan ke flasdisknya?”, kata Pak Yus.&lt;br /&gt;”Ngak pak, memang lamak kayaknya prosesnya”, jawabku. Ku rasa data di flasdisku tak banyak, karena banyak data-data yang musnah terserang virus beberapa minggu lalu. &lt;br /&gt;”Ya udah kopi aja dulu! Kami tunggu”, Pak Yus mengakhiri pembicaraan. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian handphone ku berdering. Kulihat ada sms dari Pak Yus dan tim. ”Kalau proses pengopyannya berhasil atau gagal beri kabar!”, begitu kira-kira bunyi smsnya.&lt;br /&gt;”Atau ngak usah pake program ini, lamak sekali. Kasian kalau lama nunggunya”, ku balas sms Pak Yus. &lt;br /&gt;”Udah kopy aja dulu. Ibarhim ngak ada programnya, jadi kami tergantung pada kamu yang punya program itu. Tim pulang dulu, nanti malam kita lanjutkan di rumah Pak Ibrahim buatnya. Kita mintak ajarkan ke Pak Ibrahim”, kata Pak Yus lewat pesan singkatnya. &lt;br /&gt;Aku sedikit lega. Karena aku akan merasa bersalah kalau tim menungguku dengan membawa program itu sedangkan proses pengopiannya tak kunjung usai. Baru ketika menjelang maghrib proses pengopiannya selesai. &lt;br /&gt;Tepat usai Isya, Pak Yus menghubungiku. ”Udah siap? Kita ke rumah Pak Ibrahim, Pak Ismail udah ada”. &lt;br /&gt;Aku lansung menuju Borneo Tribune. Disana sudah ada Pak Ismail dan Pak Yus yang duduk tepi halaman Borneo Tribune. Aku, Pak Ismail dan Pak Yus lansgung menuju ke rumah Pak Ibrahim. &lt;br /&gt;Kami membuat film dokumenter itu dengan bantuan Pak Ibrahim, karena kami menang belum bisa menggunakan program itu. Kami mengerjakannya bergantian. Bahkan Pak Yus sempat kembali ke Borneo Tribune untuk mengambil foto yang menurutnya masih belum ter save  di flasdidk nya. &lt;br /&gt;Pukul 11.10 menit aku pulang dari rumah Pak Ibrahim dan proses pengerjaanya belum juga selesai. Menurut keterangan yang kudpatkan dari Pak Yusriadi prosesnya baru selesai ketika menjelang subuh, yaitu pukul 1.20. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tulisan ini adalah catatan lapangan praktek penelitian di lapangan bersama dosen-dosen STAIN Pontianak. Kegiatan itu merupakan rangkaian kegiatan pelatihan participatory action research (PAR) yang diselenggarakan oleh STAIN Pontianak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-6735306735256211078?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/6735306735256211078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=6735306735256211078' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/6735306735256211078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/6735306735256211078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2009/01/hari-itu-saat-di-lapangan.html' title='Hari itu saat di lapangan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-4247923423455266442</id><published>2008-12-29T17:50:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T17:52:31.009-08:00</updated><title type='text'>Beasiswa Karya Ilmiah (Absen Tahun Ini)</title><content type='html'>Jalanan kota Pontianak masih basah. 30 menit yang lalu hujan turun sanggat  lebat. Aktifitasku sempat tertahan beberapa saat. Siang itu, aku baru selesai mengikuti suatu kegiatan di Jl. H. Rais A. Rahman. Usai mengantarkan salah satu temanku yang lokasinya masih di Sui. Jawi, aku langsung menuju ke kampus. Aku tahu, aktifitas kampus hari itu belum dimulai, alias masih libur bersama pasca Natal dan tahun baru Islam. &lt;br /&gt;Siang itu, aku sengaja menyempatkan diri untuk singah ke kampus. Dengan menggunakan mantel aku menyusuri jalanan kota Pontianak. Hujan belum benar-benar reda. Walaupun tak selebat 1 jam yang lalu. Aku sengaja ke kampus karena aku penasaran ingin meilihat dengan langsung pengumuman beasiswa dari STAIN Pontianak untuk tahun ini. Aku memang sudah mendapatkan informasi dari temanku, Ica. Tapi, aku tak bisa menanyakan semua informasinya. Hanya informasi yang penting-penting saja yang disampaikannya. Maka  dari itulah aku nekat ke kampus walaupun hari masih hujan. Sebenarnya aku berniat berkunjung ke kampus sejak 2 hari yang lalu. Tapi entah apa sebabnya, yang pasti ada saja halangan yang membuat niatku itu tak kesampaian. &lt;br /&gt;Sebelum libur bersama, aku memang absen ke kamus. Aku mengikuti kegiatan di luar yang membutaku tak bisa ngampus untuk beberapa hari. Selain informasi dari Ica, aku juga mendapatkan informasi dari temanku yang lain, Kak Yanti. Bahkan sebelumnya, saat aku masih mengikuti kegiatan di Kedai Beringin, Pak Jais sempat memberitahuku jika pengumuman beasiswa telah ditempel. Saat aku mendapatkan info dari Pak Jais, aku merasakan bahwa aku sudah terlalu lama meninggalkan kampus, bahkan informasi sepenting itupun sampai terlewatkan.  &lt;br /&gt;’Pengumuman beasiswa sudah ada tu mbar”, kata Pak Jais waktu itu.&lt;br /&gt;”Benar lah Pak? Udah ditempel pak?”, aku sempat tak percaya.&lt;br /&gt;”Iya”, jawab Pak Jais singkat. Diam-diam aku kesal pada diriku sendiri saat mengetahu inrmasi itu.  &lt;br /&gt;Tepat pukul 13.00 WIB aku tiba di kampus. Kampus tampak lengang. Aku langsung menuju ke Jurusan Dakwah, berharap pengumuman itu tertempel disana. Pengumuman di akademik, aku  tak mungkin bisa melihatnya. Tak mungkin akademik buka di hari libur begini. &lt;br /&gt;Ku parkir motorku di halaman jurusan. Ada motor bang Habibi disana. Tapi aku tak menemukan satu orangpun disekitar jurusan, bahkan pintu ruangan jurusanpun tertutup, terkunci maksudku. &lt;br /&gt;Aku bergegas mencari pengumuman itu di mading jurusan. ”Hah...bersih dah mading”, gumamku dalam hati. Aku mendapati mading dengan sedikit tempelan. Beberapa hari yang lalu kondisi mading masih seperti biasanya. Penuh dengan pengumuman dan beberapa tulisan milik mahasiswa serta dosen Dakwah yang terbit di koran. Hal itu memang menjadi budaya di STAIN. Siapaun yang punya tulisan dan terbit di koran berhak menjadi peramai mading. Itu dilakukan dengan tujuan memberi motifasi kepada teman-teman yang belum menyempatkan diri untuk menulis. &lt;br /&gt;”Mana ya pengumunanya? Tak mungkin disini tak ada pengumuannya”, aku mulai curiga karena tak ku temukan pengumuman itu di mading yang berada tepat dihadapanku. Aku lalu menoleh ke arah yang berlawanan. Mading yang satunya. Tapi hasilnya nihil...aku tak juga menemukannya. Hanya pengumuman nilai semester yang lalu yang ada disana. &lt;br /&gt;”Aneh...kenapa ngak ada?”, lagi-lagi aku heran. Padahal untuk pengumuman sepenting itu, harusnya mading jurusan menjadi salah satu target utama dan tahun-tahun sebelumnyapun pengumuman itu ada disini. &lt;br /&gt;”Mudah-mudahan...di mading kelas, ada”, aku memupuk harapan dan langsung menuju mading yang berada di depan kelas Dakwah. Ku tebar pandangan di mading yang lebarnya kurang lebih dua meter, tingginya melebihi tinggi badanku, dan bagian depannya berdaun pintu kaca transparan. &lt;br /&gt;”Alahamdulillah...ini dia pengumuman yang ku cari-cari”, aku merasa lega saat menemukan pengumuman itu. &lt;br /&gt;”Mana dia???”, aku bertanya-tanya dalam hati. Saat ku baca, kategori beasiswa: Beasiswa prestasi akademik, Beasiswa kurang mampu dan beasiswa skripsi. &lt;br /&gt;”Hanya  ada tiga kategori? Mana kategori yang lain??”. aku tak percaya dengan pengumuman yang sedang kubaca. Ku ulangi hingga tiga atau empat kali saat membacanya. Aku ingin meyakinkan diriku sendiri kalau tahun ini tak ada lagi beasiswa  karya tulis ilmiah. Padahal tahun yang lalu ada lebih dari 3 kategori beasiswa. &lt;br /&gt;”Ya Tuhan...kenapa kategori beasiswa karya tulis ilmiah tak ada lagi? Apakah penulis tak layak mendapat pernghargaan lagi? Apakah STAIN tak lagi peduli dengan penulis??”, aku tertunduk tak bersemangan saat itu. Aku kecewa. Aku kecewa bukan karena apa-apa. Perhatian special yang di berikan oleh STAIN kepada penulis mulai ditunjukkan tahun lalu. ”Tapi mengapa hanya satu kali saja? Setelah itu tak ada lagi??” itu pertanyaan dalam benakku. Padahal penduduk kampus STAIN semangatnya sudah mulai terbakar saat melihat apresisasi yang ditunjukkan oleh STAIN. Tahun ini, STAIN tak memberikan perhatiannya kepada penulis. &lt;br /&gt;Terlepas dari apapun kendala yang dihadapi STAIN Pontianak hingga tak lagi memberikan apresisasi itu. Tapi entah mengapa terbersit rasa kecewa dalam hatiku. Semoga ini tak lagi terjadi ditahun-tahun berikutnya dan penulis tetap mendapatkan tempat tersendiri di kamupus yang mulai ingin menobatkan diri menjadi kampus riset sejak 19 Desember lalu dalam pelatihan penelitian Participatory Action Research (PAR) yang dilaksanakan oleh STAIN dan diikuti oleh dosen-dosen STAIN juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-4247923423455266442?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/4247923423455266442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=4247923423455266442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4247923423455266442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4247923423455266442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/12/beasiswa-karya-ilmiah-absen-tahun-ini.html' title='Beasiswa Karya Ilmiah (Absen Tahun Ini)'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8239243391447078925</id><published>2008-12-29T17:29:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T17:30:35.141-08:00</updated><title type='text'>Guru Baru Di PAR</title><content type='html'>Penampilannya sangat sederhana, bahkan jauh dari kata mewah. Dengan baju lengan panjang berwarna putih yang mirip dengan baju koko (baju yang biasanya digunakan untuk shalat oleh orang Islam), celana hijau lumut, kaca mata yang tergantung dileher yang hanya ia kenakan saat ia memelototi laptopnya. Ia mulai memutar tali kaca matanya, mengenakan tangkainya pada telinganya dan mengayunkan tali kacamata ke bagian belakang lehernya, begitulah cara ia mengenkan kaca mata yang selalu tergantung dilehernya hari itu. Kaca mata itu tak selalu ia kenakan. Satu-atunya asisoris yang mengesankan suasana formal, itu adalah sepatu hitam yang dikenakannya. &lt;br /&gt;Ia juga mengenakan jam tangan, tapi tak sekalipun aku melihatnya melirik pada jam tangan yang dikenakannya dan aku juga tak tahu pasti apa merek jam tangan yang dikenakannya. Ups, aku hampir terlupa. Ia sempat melirik jam tanganya ketika waktu istirahat pada hari ke-4 pelatihan PAR. &lt;br /&gt;“Udah jam berapa ini? Bentar lagi kita istirahat”, katanya hari itu. Hanya pada sesi terakhir di hari yang ke empat, jam tangan yang dikenakannya jelas terlihat. Hal itu terjadi lantaran ia menyingsing kedua lengan bajunya. &lt;br /&gt;Bahasa yang digunakan dalam menyampaikan materi sangat sederhana. Bahkan tak jarang logat Kejawennya terdengar sepanjang ia berbicara didepan dosen-dosen STAIN Pontianak yang mengikuti kegiatan pelatihan ini. Suaranya pelan, tapi apa yang dibicarakannya bisa dengan jelas kutangkap dan kufahami. Ia hanya sesekali memandangi tulisan yang ada dilaptopnya, selebihnya sepanjang ia berbicara menyampaikan materi, ia tak pernah membaca satu tulisanpun dan membaca teks apapun dan tak merujuk pada bahan apapun. Tapi, apa yang disampaikannya begitu runtun dan mudah difahami dan yang pasti berisi. Itu jugalah yang menambah nuansa kental pada sosok yang sedang berdiri dan menyampaikan materi pelatihan penelitian berbasis Participatory Action Research (PAR) yang kuikuti waktu itu. &lt;br /&gt;Ilmunya, pengalamannya sangat luar biasa. Dari ciri-ciri fisik yang nampak darinya, yang hampir semua rambutnya mulai memutih, bahkan kumisnya pun ikut memutih. Pasti usianya tak lagi muda. Tapi daya ingatnya, kemampuanya dalam menyampaikan ilmunya, beberapa pengalamanya bisa membuatku bahkan peserta lainnya iri. Semakin lama aku duduk dan menyimak apa yang disampaikannya, kekagumanku semakin bertambah padanya. &lt;br /&gt;Logat kejawennya yang selalu muncul tak mengeser kefasihannya dalam melafaskan beberapa istilah Bahasa Inggris yang berkaitan dengan materi yang disampaikannya. Kesederhanaan baik dalam penampilan maupun dalam perkataanya, nilai-nilai kemanusiaan yang ia terapkan dalam kehidupannya tampak dari kata-kata yang ia ungkapkan sepanjang forum. Hal-hal tersebut menambah deret panjang nilai positif yang kuberikan padanya. &lt;br /&gt;Beberapa hari berada di ruangan ini (Kedai Beringin), selalu ada sesuatu yang mearik dari guru baruku. Kesan awal yang kutemukan padanya, sejak beberapa hari terakhir hampir hilang. Tapi tak hilang semuanya. Dua hari terakhir, guruku tampak rapi dengan kemeja lengan pendek bergaris dengan dominasi warna putih. Kesan formal yang disusungnya dalam 2 hari terakhir dalam forum pelatihan, tak membuatnya kaku dalam bertutur. Kata-katanya tetap saja mengambarkan kesederhanaan yang  ada pada dirinya. &lt;br /&gt;Sejauh ini itulah sosok pendidik baru yang kudapatkan hari ini, dia adalah seorang peneliti yang tampak sederhana dimataku yang telah dan sedang aktif di dilembaga pengembangan teknologi pedesaan dan Indonesian Sociely For Social Trasformation dan sosok itu bernama Ahmad Mahmudi.&lt;br /&gt;Satu hal yang selalu diingatkannya pada kami “Segala sesuatu tidak akan terasa sulit kalau kita menikmati semua kondisi yang ada dilapangan”. Sampai jumpa guruku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8239243391447078925?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8239243391447078925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8239243391447078925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8239243391447078925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8239243391447078925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/12/guru-baru-di-par.html' title='Guru Baru Di PAR'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5977721132540461472</id><published>2008-12-29T17:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T17:28:51.427-08:00</updated><title type='text'>PAR: Penelitian Yang Terfokus Pada Masyarakat</title><content type='html'>Participatory Action Research (PAR) adalah suatu basis penelitian yang tidak hanya mengedepankan tujuan dari suatu institusi atau tujuan yang dimiliki oleh seorang peneliti. Akan tetapi PAR adalah suatu basis penelitian yang mulai diterapkan dikalangan peneliti karena penelitian berbasis PAR tidak hanya memetingkan hasil keilmuwan, akan tetapi juga menitik beratkan pada perubahan dan pemberdayaan masyarakat secara partisipatif. &lt;br /&gt;Hal inilah yang sedang dibahas dalam pelatihan penelitian yang diselenggarakan dan diikuti oleh dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak. “Proses dalam penelitian berbasis PAR adalah proses sebuah proses social yang kritis”, kata Ahmad Mahmudi dalam pelatihan tersebut. Selain itu, diungkapkan juga oleh pemateri yang didatangkan langsung dari Jakarta yang aktif dilembaga pengembangan teknologi pedesaan dan Indonesian Sociely For Social Trasformation dalam pelatihan tersebut, bahwa dalam penelitian berbasis PAR, menerapkan metodologi penelitain yang focus pada perubahan masyarakat, proses pembelajaran, pencerahan dan pengorganisasian serta tindakan perubahan dalam berbagai hal social yang sering terjadi di lingkungan masyarakat. &lt;br /&gt;Seorang peneliti yang menerapkan PAR berperan sebagai fasilitator bagi masyarakat. Berbagai masalah yang ada dilapangan tidak hanya diidentifikasi oleh peneliti akan tetapi melibatkan masyarakat secara langsung, dan disinilah hal yang membedakan antara penelitian yang berbasis PAR dan penelitian yang lainnya. Tidak seperti penelitian yang sering dilakukan, penelitian dengan mnerapkan PAR menuntut seorang peneliti untuk lebih kritis dalam menangapi data yang didapatka di lapangan.&lt;br /&gt;PAR tidak hanya penting untuk diterapkan dalam hal penelitian, karena jika semua orang bisa merefleksikan PAR dalam kehidupan sehari-hari, proses social akan berjalan dengan baik. “Prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam PAR diantaranya adalah mementingkan kedekatan pikiran maupun emosional dan mengedepankan kedekatan antara seorang peneliti atau tim penelitian dengan masyarakat yang dihadapinya” inilah yang diungkapkan oleh seorang peneliti yang telah memiliki banyak pengalaman dalam hal penelitian. Karena jika seorang peneliti sudah berada di lapangan,maka semua status social sudah harus ditangalkan dan status social seorang peneliti sudah tidak lagi berlaku, dan itulah yang akan mempermudah seorang peneliti dalam membangun kedekatan dengan masyarakat. &lt;br /&gt;Selain itu, suasana santai dan keterbukaan juga harus senantiasa diciptakan oleh seorang peneliti saat melangsungkan proses penelitian dan peneliti juga dituntut untuk senantiasa flasibel dan tidak bersifat kaku saat melakukan proses penelitian.&lt;br /&gt;Ada juga beberapa dasar penelitian yang diungkapkan oleh Ahmad Mahmudi, diantaranya adalah seorang peneliti harus sungguh-sungguh memperhatikan gagasan yang datang dari masyarakat yang kadang-kadang gagasaan tersebut masih terpenggal-penggal dan belum sistematis. Setelah mengamati gagasan tersebut dengan seksama, selanjutnya seorang peneliti harus mempelajari gagasan yang ada sehingga menjadi gagasan yang lebih sistemstis, kemudian gagasan tersebut diterjemahkan hingga menjadi aksi dan uji kebenaran gagasan yang akhirnya gagasan tersebut menjadi ilmu pengetahuan masyarakat. &lt;br /&gt;Dalam penelitian dengan basis PAR, proses analisis yang digunakan adalah analisis trasformatif. Analisis trasformatif disini adalah analisis perubahan, dan tidak mengunakan dasar analisis yang selalu menyalahkan masyarakat dalam permasalahan yang ditemukan di lapangan, dan tidak mengkambing hitamkan masyarakat dari masalah yang doitemukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Telah Terbit Di Harian Borneo Tribune, Edisi Minggu 28 Desember 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5977721132540461472?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5977721132540461472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5977721132540461472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5977721132540461472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5977721132540461472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/12/par-penelitian-yang-terfokus-pada_29.html' title='PAR: Penelitian Yang Terfokus Pada Masyarakat'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8262122572729913303</id><published>2008-12-29T02:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T02:46:50.928-08:00</updated><title type='text'>Tingalkan Dzulhijah dan Desember dengan Introspeksi Diri</title><content type='html'>1429 H baru saja berganti dengan 1430 H, bahkan tahun 2008 M hampir kita tinggalkan beberapa hari lagi. Momen pergantian tahun Hijriyah dan Masehi yang jeda waktunya hanya beberapa hari itu, harusnya mampu menyadarkan kita bahwa kita akan memasuki babak baru dalam masa kehidupan kita. Bergulirnya waktu dalam hitungan tahun dalam mengukir sejarah hidup, kadang tidak terasa. 12 bulan yang sudah berlalu hanya seperti pergantian malam dan siang yang masa berlalunya begitu cepat. &lt;br /&gt;Apa-apa saja yang kita lakukan dalam setahun terakhir ini, akan menjadi masa lalu yang menjadi dasar masa yang akan datang dalam kehidupan kita. Jika setahun yang lalu, kesuksesan yang kita tuai, itu harus menjadi sesuatu yang kita syukuri, dipertahankan dan bagaimana caranya agar kita bisa menjadi yang lebih baik lagi. &lt;br /&gt;Akan tetapi jika yang sebaliknya yang kita dapatkan, maka salah satu jalan yang mesti kita tempuh adalah mengevaluasi apa saja yang telah kita lakukan hingga kita menuai kegagalan. Begitu banyak faktor yang menyebabkan kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita harapkan. Boleh jadi karena memang hal itu bukanlah hal yang terbaik untuk kehidupan kita, ataupun karena memang usaha kita yang tidak maksimal untuk menjemput harapan itu. &lt;br /&gt;Sejatinya apapun yang kita dpatkan haruslah kita renungkan kembali apa hikmah dibaliknya. Karena belum tentu kebaikan yang kita dapatkan akan membawa kebaikan pula bagi kita atau bahkan sebaliknya belum tentu sesuatu yang buruk itu adalah sesuatu yang tidak baik untuk kita. Karena itulah apapun yang kita dapatkan, sudah selayaknya mampu kita jadikan pelajaran berharga. &lt;br /&gt;Karena itu pula sesuatu hal yang mendekati kata wajib untuk kita laukan ketika berada dipenghujung tahun dan menyongsong tahun baru adalah evaluasi atau introspeksi diri. Karena dengan begitu, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lakukan. Jika ditahun sebelumnya kita belum bisa menjadi pribadi yang bisa membawa kebikan pada orang-orang disekitar kita, bagaimana cara  atau solusinya  agar kita mampu memperbaiki kekurangan yang ada dalam diri kita pribadi. Dan jika kita mendapati kebikan pada diri kita, bagaimana caranya agar kita tidak menjadi orang yang cepat puas dengan diri kita dan menjadikan itu sebagai motifasi untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.&lt;br /&gt;Jika di dunia perkantoran ada istilah tutup buku dipenghujung tahun, maka alangkah lebih bainya jika kita juga bisa menutup buku catatan kehidupan kita ditahun ini dengan sesuatu yang bermanfaat untuk masa mendatang. Sesuatu yang baik kita ambil untuk dijadikan pelajaran berharga, dan sesuatu yang buruk tidak lantas harus kita buang. Tapi bagimana caranya sesuatu yang uruk itu, bisa kita daur ulang hingga menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi bahkan sesuatu yang luar biasa bila perlu. Kata pepatah, ”Walau nasi sudah menjadi bubur, tapi bagaimana caranya kita menjadikannya bubur itu menjadi bubur yang spesial”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambaryani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8262122572729913303?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8262122572729913303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8262122572729913303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8262122572729913303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8262122572729913303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/12/tinggalkan-dzulhijah-dan-desember.html' title='Tingalkan Dzulhijah dan Desember dengan Introspeksi Diri'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-4863644612448519917</id><published>2008-12-08T21:13:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T19:34:05.091-08:00</updated><title type='text'>Hari Raya Kurban &amp; Pengorbanan Seorang pemimpin</title><content type='html'>Segala sesuatunya sudah harus disiapkan oleh semua umat Muslim mejelang hari raya kurban yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijah 1429 H dan bertepatan tanggal 8 Desember 2008 mendatang. Persiapan-persiapan itu tampak dari mempersiapkan hewan kurban, mempersiapkan petugas-petugas yang akan bertugas saat shalat idul adha nanti. Bahkan ada beberapa masjid yang telah memasang pengumuman jadwal shalat ied dan penceramahnya. Semua persiapan itu terkait dengan persiapan fisik, tapi sesungguhnya tidak hanya persiapan fisik saja yang harus disiapkan, akan tetapi mempersiapkan jiwa kita juga tak kalah pentingnya. Mengapa demikian? &lt;br /&gt;Karena makna hari raya kurban tidak hanya prosesi shalat ied dan penyembelihan binatang kurban saja. Akan tetapi nilai-nilai yang harusnya kita dapatkan adalah keikhlasan kita dalam mengorbankan dan menyembelih nafsu kita yang terkadang lebih cenderung dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Seperti apa yang sering disampaikan oleh khotib saat khutbah Idul Adha mengenai pengorbanan nabi Ibrahim yang harus merelakan buah hatinya (Ismail) disembelih demi menjalankan perintah Allah.&lt;br /&gt;Binatang kurban sebenarnya hanyalah symbol saja. Binatang kurban tersebut sebagai symbol bahwa kita berusaha berkorban, merelakan dan menyisihkan sebagian rezeki untuk disedekahkan kepada orang lain yang membautuhkannya. Jika kita resapi makna dari sebuah pengorbanan, pasti kita akan mendapatkan hal yang sangat luar biasa dibandingkan jika kita hanya memaknai hari raya Idul Adha sebagai moment penyembelihan binatang kurban saja. &lt;br /&gt;Akan tetapi sesungguhnya fenomena-fenomena yang berkaitan dengan pengorbanan sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Tengok saja, pengorbanan seorang ibu saat hendak melahirkan buah hatinya. Sebenarnya itu adalah contoh rill pengorbanan yang sangat tulus. Pengorbanan seorang ibu yang merelakan nyawa sebagai taruhanya demi melahiran buah hatinya. Selain itu ada juga pengorbanan seseorang yang tidak jarang harus merelakan hidup dalam kesederhanaan, bahkan kekurangan demi meraih cita-citanya mengisi hidup dengan menuntut ilmu (sekolah). Kondisi yang seperti itu jarang kita perhatikan dan kita renungi maknanya. Padahal itulah proses pembelajaran yang benar-benar rill dan seluruh pengorbanan-pengorbanan yang sering tidak diperhatikan itu, secara sakral diperingati dalam bentuk hari raya kurban.&lt;br /&gt;Andai saja nilai penting dalam hari raya kurban ini benar-benar bisa didapatkan dan diamalkan oleh kita semua terlebih jika para pemimpin yang baru menduduki kursi jabatanya dan para calon anggota legislatif yang sedang berlomba-lomba mendapatkan kursi masing-masing tersebut mampu mengamalkannya, pasti tidak akan ada lagi demo mahasiswa karena mahasiswa benar-benar merasa diperlakukan secara adil oleh pemimpin, tak akan ada lagi masyarakat yang merasa dimarginalkan, dan tak ada lagi pemimpin yang tega mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya.&lt;br /&gt;Tidak akan dijumpai pula kasus korupsi jika pemimpin mampu merealisasikan nilai penting yang terdapat dalam hari raya kurban dan nilai yang terdapat dalam sebuah pengorbanan. Pemimpin kita akan menekan dalam-dalam keinginan pribadinya jika pilihanya adalah kepentingan pribadi atau rakyat. Terjadinya kasus penyalah gunaan jabatan, salah satu sebabnya karena pemimpin kita tidak berani berkorban demi kepentingan rakyat atau bahkan lebih naasnya jika pemimpin berbalik ingin mendapatkan laba dari jabatan yang sedang diembannya. &lt;br /&gt;Tidak hanya itu, jika semua orang dimuka bumi ini bisa memetik hikmah dibalik moment Idul Adha (hari raya kurban), tidak akan lagi ditemukan tindakan-tindakan kriminal, mencuri, merampok, membunuh, mutilasi misalnya. Orang tidak akan sangup melakukan hal itu jika ia memiliki jiwa yang tulus untuk bisa berkorban, bukan sebaliknya mengorbankan orang lain. Jika tindakan kriminal terjadi, itu artinya pelaku mengorbanan hati nuraninya yang sebenarnya tidak membenarkan tindakan tersebut, dan malah menjadikan orang lain korban dari tindakan tersebut. &lt;br /&gt;Begitu banyak manfaat yang dapat diambil dari moment hari raya kurban. Jika kita tak bisa menjadi salah satu orang yang mampu menyisihkan sebagian harta untuk mendatangi rumah Allah (Baitullah) demi menyempurnaan rukun Islam yang ke lima, dan kita salah satu orang yang belum mampu mempersembahkan binatang kurban, alangkah berutungnya kita jika kita mampu mengambil nilai penting yang terkandung dalam hari raya Idul Adha (hari raya kurban) yaitu belajar untuk bisa menjadi orang yang mampu berkorban dan belajar tulus dengan apa yang telah kita korbankan.&lt;br /&gt; Akan tetapi alangkah meruginya kita jika kita menjadi orang yang hanya bisa menikmati daging kurban tapi tidak mampu merasakan betapa nikmatnya menjadi manusia yang mampu berkorban demi sesama dan mampu berkorban demi sesuatu yang lebih baik lagi. Walaupun tak dipungkiri jika usaha untuk bisa mendapatkan, meresapi dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu kejadian (hari raya kurban) itu bukanlah hal yang mudah, dan tak semudah layaknya kita membalikkan telapak tangan. Tapi alangkah beruntungnya jika kita mau belajar dan mengambil hikmah dari semua kejadian. Salah satu ciri orang yang beruntung adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari apa-apa yang telah terjadi dan dilewatinya. Searang semua pilihan ada ditangan kita, apakah kita akan menjdai salah satu orang yang beruntung atau bahkan akan menjadi orang yang merugi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-4863644612448519917?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/4863644612448519917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=4863644612448519917' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4863644612448519917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4863644612448519917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/12/hari-raya-kurban-pengorbanan-seorang.html' title='Hari Raya Kurban &amp; Pengorbanan Seorang pemimpin'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-2111000969002867374</id><published>2008-12-08T21:03:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T19:35:56.364-08:00</updated><title type='text'>Sekerat Kue &amp; Secarik Kertas Tanpa Nama</title><content type='html'>Oktober 2008&lt;br /&gt;Lalu, aku mendapatkan sebuah parsel dari orang yang tak kukenal. Entah siapa gerangan yang mengirimkannya. Bungkusan biru itu berisi sekerat black forest dan terdapat secarik kertas yang bertuliskan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga engkau mendapatkan apa yang kau cita-citakan. Semoga Tuhan akan meberikan yang terbaik untuk mu. Panjang umur untuk mu, berkah di setiap detik yang kau lalui, kebahagiaan selalu menyertaimu, kesabaran selalu ada dalam dirimu. Ku percaya  Tuhan akan selau menjagamu. Selamat ulang tahun, semoga hari ini dan hari-hari yang kau lalui akan menjadi hari terbaik untukmu. Sukses selalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Some one” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku penasaran, siapa yang mengirimkan parsel itu. Teman-temanku tak ada yang mengetahui perihal kotak berisi kue dan secarik kertas tersebut. Aku semakin penasaran setelah membaca tulisa di kertas tersebut. Aku hanya ingin berterimakasih dan itulah alasannya mengapa ku abadikan kejadian itu dalam blogku ini, karena hingga kini, aku tak kunjung mengetahui siapakah dirimu yang telah menyiapkan semua ini untukku. Semoga orang yang telah mengirimkan bungkusan itu membaca tulisan ini dan ku tak ingin ini terjadi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih ku ucapkan untuk siapapun kamu yang telah mengirimkan bungkusan itu. Terlrlepas dari siapapun kamu dan dimanapun kamu berada. Aku juga berterima kasih karena kau menjadi salah satu orang yang ingat hari yang bersejarah bagiku. Terima kasih atas semua ini. Tapi satu hal, aku tak faham mengapa kau menyembunyikan indentitasmu dariku. Teriakasih dan maaf kalau aku tak suka dengan caramu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-2111000969002867374?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/2111000969002867374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=2111000969002867374' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/2111000969002867374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/2111000969002867374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/12/sekerat-kue-secarik-kertas-tanpa-nama.html' title='Sekerat Kue &amp; Secarik Kertas Tanpa Nama'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-345513246464782562</id><published>2008-12-02T22:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T19:37:08.012-08:00</updated><title type='text'>St....</title><content type='html'>4 ½ tahun yang lalu, aku begitu menginginkan menjadi seorang psikolog yang professional. Entah dari mana datangnya cita-cita itu. Tapi yang pasti keinginanku itu muncul saat aku masih duduk di bangku SMA. Aku memang tidak berkesempatan untuk belajar disekolah2 faforit di kota ini. Tapi aku tak menyesali hal itu. Karena aku yakin Tuhan memilki rencana-Nya sendiri. Tuhan tak akan mengarahkan langakah kakiku ke sekolah ini jika tak ada sesuatu yang luar biasa disana. Ternyata semuanya terbukti. Memamng sekolah itu bukanlah sekolah faforit, tapi disitulah aku mulai menemukan jati diriku. Disitu pula ujung tombakku saat itu. Aku mensyukuri apa yang telah Tuhan beri padaku dan apa yang telah ku dapatkan saat ini. &lt;br /&gt;Tak banyak memang jumlah teman sekelasku. Hanya 21 orang saat itu. Dengan jumlah teman yang tak banyak itulah aku teerbiasa dekat dengan teman-temanku. Awalnya aku tak menyadari akan keinginanku. Tapi lama kelamaan aku menikmati kondsi itu. Aku merasakan kepuasan tersendiri ketika  aku bisa mendengar cerita, keluhan, kesedihan hingga hal yang menggembirakan dari teman-temanku. Aku juga merasakan kepuasan yang luar biasa jika aku bisa memberikan solusi dari masalah yang dihadapi oleh teman-temanku. &lt;br /&gt;Sejak saat itulah aku sesumbar dengan teman-temanku, jika suatu saat nanti aku ingin menjadi seorang sikolog handal dan professional. Tapi entah sejak kapan aku mulai melirik dan jatuh hati pada dunia kepenulisan. Meninggalkan bangku SMA ternyata membuat aku lupa dengan cita-cita besarku saat itu. Aku asyik dan menikmati dunia baruku. Aku sempat merunut dari awal mengenai apa cita-citaku. Saat itu, aku mengumpulkan semua dairy ku dan buku-buku yang menjadi teman dalam mengisi hari-hariku beberapa tahun yang lalu. &lt;br /&gt;Aku mulai menyukai dairy sejak SMP. Ku buka satu persatu dairyku, saat itu aku hanya berhasil mengumpulkan 3 dairy yang pernah ku milki. Aku tak tau persis dimana letak dairy-daryku yang lainnya. Dari situlah aku mulai membangkitkan semangat menulis yang pernah ku tumbuhkan sejak aku berusia 12 tahun itu. Semangat menulis yang pernah ada dan dairy itulah salah satu saksi bisu dari cita-citaku.&lt;br /&gt;Memang sejauh ini belum ada bukti yang berarti kalau aku benar-benar loyal dengan dunia baruku (menulis). Tapi paling tidak aku masih menyimpan keoptimisan suatu saat nanti aku akan membuktikan bahwa aku bisa menekuni bidang ini dengan karya-karyaku). &lt;br /&gt;Menjadi seorang penulis memang salah satu cita-cita besarku. Tapi aku juga tak mau mengubur cita-citaku untuk menjadi seorang sikolog. Suatu saat nanti aku ingin menjadi sikolong untuk orang-orang terdekatku dan aku ingin menjadi sikolog semua orang yang ada di dalam gubuk indahku yang akan kubangun nanti. Semoga…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-345513246464782562?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/345513246464782562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=345513246464782562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/345513246464782562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/345513246464782562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/12/st.html' title='St....'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-7282704854576209304</id><published>2008-10-28T05:14:00.000-07:00</published><updated>2008-10-28T05:21:54.525-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Seorang Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SQcDoVk_OuI/AAAAAAAAAJ0/jWPHQTtqHZE/s1600-h/toga.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 238px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SQcDoVk_OuI/AAAAAAAAAJ0/jWPHQTtqHZE/s400/toga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262178681127647970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Menjadi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seorang Mahasiswa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ambaryani&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Menyandang predikat baru sebagai seorang mahasiswa bukanlah hal yang mudah dan bukan pula hal yang sulit seperti yang sering dibayangkan. Terlalu banyak orang yang phobia dengan predikat mahasiswa. Tugas yang menumpuk, membuat makalah, persentasi, belum lagi ditambah dengan aktifitas kampus yang sangat padat serta jadwal demo yang hendak diikuti. Itulah setidaknya yang sering terlintas dibenak setiap orang ketika mendengar kata-kata mahasiswa. Hal itu pulalah yang banyak mematahkan semangat seseorang ketika hendak memasuki gerbang kampus.&lt;br /&gt;       Awal memasuki tahun ajaran baru khususnya bagi mahasiswa baru, sebenarnya menjadi tongak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;awal kelanjutan kehidupannya di lingkungan kampus. Dimasa-masa awal itulah, semangat harus terus ditumbuhkan dan dijaga. Karena tidak sedikit mahasiswa yang salah langkah saat awal perkuliahan berlangsung dan hal itu menjadi batu sandungan yang menghambatnya memasuki tahun ajaran berikutnya. Jika awal perkuliahan mahasiswa mampu meraih prestasi yang baik, prestasi akademik terutama, setidaknya prestasi tersebut akan menjadi bekal semangat perjalanan selanjutnya. Dimasa-masa awal itu pulalah seorang mahasiswa hendaknya mampu menemukan jati diri barunya.&lt;br /&gt;       Menjadi seorang mahasiswa menjadi sebuah keharusan (lazim) bergelut dengan hal-hal yang ilmiah dan bersifat akademik, baik dari bidang kepenulisan mulai dari pemembuatan makalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau tuisan-tulisan lainnya. Hal lainnya yang perlu terus diminati adalah banyak membaca, mengikuti diskusi-diskusi maupun seminar yang dengan aktifitas tersebut mampu membuka serta menambah pengetahuan. Dengan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan positif yang berkaitan dengan disiplin ilmu atau kompetensi masing-masing akan menumbuhkan rasa percaya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diri dengan predikat baru yang disandang.&lt;br /&gt;       Ketika rasa percaya diri telah muncul, semangat untuk bergelut dengan dunianya dengan sendirinya akan tumbuh. Selain itu, dengan mengetahui apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa, ketika menemui kendala ditengah perjalanan tidak akan membuat patah semangat. Hal yang sering membuat mahasiswa merasa malas kuliah, tidak sungguh-sungguh adalah karena ia belum mengetahui sesungguhnya apa tugas utamanya sebagai seorang mahasiswa dan tugas utama mahasiswa adalah belajar, sedangkan aktifitas yang lainnya adalah kegiatan tambahan yang diharapkan mampu menunjang kemapuannya.&lt;br /&gt;       Hal yang diangap berat bagi mahasiswa dalam aktifitasnya sehari-hari adalah banyaknya tugas-tugas kuliah menjadi menu utama seorang mahasiswa. Hampir seluruh dosen pengampu mata kuliah memberikan tugas disetiap pertemuan. Nah hal inilah yang banyak membuat mahasiswa terbebani dengan predikat mahasiswa. Ada pengakuan seorang mahasiswa Tarbiyah semester satu yang mengatakan, “O…ternyate macam ni ye jadi mahasiswa! Malas aku jadinya”. Hal yang membuat rasa malas timbul dari mahasiswa tersebut adalah lantaran rugas yang begitu banyak. Pengakuan salah satu mahasiswa baru ini, merupakan salah satu bukti sebenarnya ada proses peralihan dari predikat siswa menuju predikat mahasiswa dan disitulah perlunya proses adaptasi.&lt;br /&gt;       Tugas yang menumpuk tidak akan menjadi hambatan atau beban jika tidak ditunda-tunda. Bahkan dengan banyaknya tugas tersebut, mampu membuat mahasiswa lebuih kreatif. Betapa tidak, jika salam satu minggu terdiri dari delapan mata kuliah dengan bobot SKS komulatif 24 SKS, dan setiap dosen membarikan satu atau bahkan lebih dari satu tugas, itu artinya mahasiswa dituntut untuk disiplin pada diri sendiri. Dengan banyaknya tugas mahasiswa akan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang positif dan sedikit waktu yang terbuang sia-sia. Mulai dari proses pencarian buku yang dijadikan referensi, data-data diinternet, mengolahnya menjadi makalah, resume, revieu dan jenis-jenis tugas yang lainnya. Dengan aktifitas yang sudah jelas dan selalu menunggu sentuhan tangan, serta fikian mahasiswa akan lebih piawai membagi waktu.&lt;br /&gt;       Hal ini akan menjadi ajang latihan yang sangat efektif, bahkan hal ini menjadi pelatihan bagi setiap individu. Tapi tidak sedikit mahasiswa yang tidak memanfaatkan kondisi yang ada dengan sebaik-baiknya, bahkan ada juga yang stress lantaran begitu banyaknya aktifitas. Tugas yang seabreg, jangan hanya menjadi beban pikiran, tapi dilakukan atau dikerjakan. Jika setiap tugas mampu diselesaikan tepat waktu, tidak akan ada cerita tugas yang terbengkalai lantaran kekurangan waktu dalam proses pengerjaannya. So, mulai sekarang sudah siapkah anda menjadi mahasiswa denga tugas dan tanggung jawab utamanya? &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-7282704854576209304?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/7282704854576209304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=7282704854576209304' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7282704854576209304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7282704854576209304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/10/menjadi-seorang-mahasiswa.html' title='Menjadi Seorang Mahasiswa'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SQcDoVk_OuI/AAAAAAAAAJ0/jWPHQTtqHZE/s72-c/toga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-3004659382248246867</id><published>2008-08-04T22:36:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T22:38:46.275-07:00</updated><title type='text'>Pentingnmya melestarikan budaya serta tradisi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="IN"&gt;Pentingnya Mengenal dan Melestarikan Budaya serta Tradisi Masyarakat Kalbar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Oleh : Ambaryani&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Budaya dan tradisi yang ada dilingkungan masyarakat Kalbar sanggatlah beragam. Ada tradisi serta budaya masyarakat Bugis, Madura, Dayak, Jawa, Cina dan masih banyak lagi tradisi dan budaya yang ada dilingkungan masyarakat Kalbar. Masyarakat Dayak memiliki suatu tradisi yang disebut gawai Dayak, masyarakat Bugis dengan Robok-Roboknya dan masih banyak tradisi serta budaya lain. Ritual adat yang telah disebutkan tadi, merupakan riual yang cukup populer dikalangan masyarakat. Hampir semua masyarakat Kalbar diluar suku tersebut mengtetahui adanya ritual sakral suku lain. Tapi yang harus dipertanyakan sekarang adalah apakah kesemua budaya juga tradisi yang ada bisa diketahui oleh semua masyarakat Kalbar. Atau paling tidak masyarakat yang ada dalam komunitas suku tersebut mengetahui akan semua budaya serta tradisi nenek moyangnya? Ironisnya, jawaban yang tak bisa dielakkan pastinya adalah tidak semua masyarakat megetahui tradisi serta budayanya sendiri.&lt;br /&gt;    Dari waktu kewaktu budaya, tradisi atau kebiasaan masyarakat yang tergabung dalam satu suku semakin hilang dan punah. Sedikit sekali generasi muda serta penerus yang mampu menyerap budaya serta tradisinya. Seperti apa yang terjadi pada kisah yang dituturkan oleh Yana dalam tulisanya Conekng jika kita semua mau &lt;i style=""&gt;flash back &lt;/i&gt;atau mempelajari lagi. Kisah yang dituturkanya mengambarkan kurangnya pengetahuan generasi penerus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap tradisinya sendiri. Sehingga saat seorang gadis yang bernama De terkena pelet sehingga ia sendiri kebingungan bagaimana cara untuk mengatasi apa yang sedang dialaminya.&lt;br /&gt;    Conekng adalah sebutan pelet dalam bahasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dayak. Conekng atau sebutan untuk pelet tersebut bisa diketahui dan digali dari berbagai sumber, baik dari masyarakat Dayak sendiri atau orang mengetahui atau konsen dalam kajian tradisi serta budaya masyarakat Dayak. Itu artinya hal tesebut lahir dari kebiasaan atau tradisi masyarakat Dayak.&lt;br /&gt;    Tidak hanya tradisi serta budaya itu saja. Masyaakat Kalbar dengan berbagai suku yang ada dialamnya, pastilah memliki tingkat keragaman yang cukup tinggi. Hal-hal yang berkaitan dengan tradisi dan budaya akan selalu menarik untuk dkaji. Karena apa? Karena tradisi dan budaya akan selalu dijumpai disetiap sendi kehidupan masyarakat. Semoderen apapun manusia saat ini, pasti masih ada unsur-unsur budaya dan tradisi yang melekat kan menyertai aktifitasnya sehari-hari.&lt;br /&gt;    Keterbatasan pengetahuan tentang tradisi serta budaya akan berakibat punahnya tradisi serta budaya itu sendiri. Berapa banyak tradisi serta budaya masyarakat setempat yang tidak diketahui dan tidak terdokumentasikan? Tidak sedikit tradisi yang terlupakan tersebut diketahui dengan detail oleh peneliti luar yang melakukan penelitian mengenai budaya dan tradisi baik lisan maupun tulisan masyarakat Kalbar.&lt;br /&gt;    Itu baru satu hal yang tampak. Jika hal ini ditelusuri lebih jauh, pasti masih banyak budaya serta tradisi yang tidak diketahui. Jika demikian yang tengah terjadi, tidaklah salah jika dikatakan mengetahui dan melestarikan budaya serta tradisi baik itu tradisi lisan maupun tulisan itu dianggap pentig. Bukanlah hal yang mustahil jika tidak adanya usaha untuk mengcover seluruh budaya serta tradisi yang ada, kepunahan itu akan melanda masyarakat Kalbar yang sesungguhnya memiliki kebudayaan yang sangat beragam.&lt;br /&gt;    Perlu adanya kerja keras untuk melestarikan budaya dan tradisi yang kita miliki. Terlebih jika dikaitkan dengan isu moderenitas yang sedang menjadi trand generasi muda yang seharusnya memiliki jiwa nasionalisme. Jiwa nasionalisme memang harus dimiliki bagi seluruh bayi yang terlahir didunia ini yang nantinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan menajadi genarasi penerus bangsa. Karena jiwa nasionalisme itulah yang akan membuat seseorang mencintai tradisi serta budaya sendiri dan akan tumbuh rasa ingin melestarikanya.&lt;br /&gt;    Melestarikan tradisi dan budaya, tidak berarti membuat seseorang tresebut tidak mengikuti perkembangan zaman serta perkembangan tekhnologi. Usaha untuk melestarikan budaya serta tradisi harus terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Keduanya harus balance (seimbang).&lt;br /&gt;    Melestarikan dalam hal ini menjaga agar tradisi itu sendiri tidak punah, akan menambah daftar tugas orang tua serta orang-orang ynang mengetahui tradisi serta budaya yang ada. Karena tak mungkin generasi selanjutnya akan mengetahui apa yang ada dan terjadi sebelumnya jika ia tidak mengetahui dari orang tuanya serta orang lain yang terlebih mengetahui tentang hal-hal yang tidak diketahuinya.&lt;br /&gt;    Melestaikan tadisi dan budaya pun ternyata berimbas dalam hal pendidikan. Dalam hal ini yang terkait eret adalah pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya dalam lingkungan keluarga. Bagaimana usaha orang tua untuk mengenalkan tradisi serta budayanya sendiri pada anak-anaknya. Ternyata memang benar, tidak ada satu hal pun yang mampu berdiri sendiri. Untuk melestarikan tradisi serta budaya saja memerlukan banyak aspek lain. Hal ini jugalah yang memperkuat teor yang diungkapkan oleh Aristoteles bahwa manusia itu adalah mahluk sosial yang tidak akan pernah mampu hidup seniri dan akan selalu membutuhkan orang lain dalam kelangsungan hidupnya.&lt;br /&gt;    Begitu juga halnya dengan usaha melestarikan tadisi serta budaya kita. Dibutuhkan orang tua atau tokoh masyarakat yang lebih mengetahui tentang tadisi serta budaya itu. Paling tidak ada objek yang bisa kita jadikan sumber untuk mengali pengetahuan tentang budaya dan tradisi itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-3004659382248246867?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/3004659382248246867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=3004659382248246867' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3004659382248246867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3004659382248246867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/08/pentingnmya-melestarikan-budaya-serta.html' title='Pentingnmya melestarikan budaya serta tradisi'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-1572049393711340303</id><published>2008-08-04T22:32:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T22:34:22.125-07:00</updated><title type='text'>Menyambut Detik Pilwako</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Menyambut Detik Pemilihan Walikota&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ambaryani&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kibar bendera politik dan aktifitasnya tak akan ada habisnya. Kota ini baru saja melepas lelah setelah disibukkan dengan pemilihan gubernur dan wakil gubernur beberapa bulan yang lalu. Tak lama lagi pemilihan wali kota plus wakil wali kota dan pemilihan presiden dan wakil presiden 2009 mendatang. Kesibukan seluruh tim sukses, simpatisan sekaligus calon walikota maupun wakil wali kota semakin tinggi menjelang detik-detik pemilihan wali kota beberapa bulan mendatang. Segala usaha dilakukan demi suksesnya kubu masing-masing. Baik itu pemasangan baligho, stiker-stiker balon ataupun pendekatan personal. Semua usaha dilakukan demi terpilihnya masing-masing pasangan untuk menduduki dua kursi tersebut.&lt;br /&gt;    Kesibukan itu tampak jelas. Kesibukan untuk menyambut datangnya detik pemilihan itu, hendaknya tidak hanya dialami oleh para pragtisi politik saja. Warga atau pun seluruh elemen masyarakat seharusnya juga pro aktif demi tercapainya keputusan yang benar-benar tepat. Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi demokrasi, sudah selayaknya mendukung. Tapi bentuk dukungan tersebut tidak hanya seperti dukungan yang diberikan oleh sang raja yang semena-mena kepada prajurit yang hanya bisa menganggukkan kepala dan berkata iya.&lt;br /&gt;    Warga harus mengantongi pengetahuan menegani apa yang akan dihadapinya. Jangan mengulangi kesalahan turunan yang sering terjadi. Memilih tanpa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tahu siapa yang dipilih lantaran dia orang terdekat kita tanpa melihat kualitas. Istilah memilih kucing dalam karung memang sudah lama tak ada. Tapi nyatanya banyak warga yang berada dalam posisi sebagai pembeli kucing dalam karung. Apa namanya bagi warga yang memilih calon pemimpin tapi tak tahu siapa yang dipilihnya kalau bukan memilih kucing dalam karung? Calon pemimpin kita memang tidak menutup diri. Tapi jika sebagai warga tidak pro aktif, mungkinkah warga bisa mengetahui banyak hal?&lt;br /&gt;    Mengetahui latar belakang calon tidak hanya bisa kita ketahui dari visi misi yang disampaikanya dalam pemilu batau seluruh rangkaian dan sederet aktifitas menjelang pemilu. Jika menginginkan keputusan yang valid, sibak seluruh tabir calon, ketahui secara keseluruhan alias jangan setengah-setenagh. Ketahui seperti apa prestasinya, didikasinya, kinerjanya sebelum mencalonkan diri, dan masih banyak lagi hal yang perlu diketahui.&lt;br /&gt;    Setiap individu memiliki ruang gerak yang berbeda dan beragam. Manusia tidak hanya memiliki satu tabir dalam kehidupan. Ibaratnya, jika ingin tahu seperti apa kondisi rumah, jangan hanya melihat dari bagian depan saja. Tapi lihat dari semua sudut, depan, belakang, samping kiri, kanan, dalam atas dan bawah. Jika hanya sebagian yang kita ketahui, tidak menutup kemungkinan adanya lobang pada bagian dinding atau atap rumah tersebut. Sebelum timbulnya penyesalan, lebih baik ketahui secara detil siapa yang akan kita pilih.&lt;br /&gt;    Jabatan itu adalah amanah. Jadi jika ingin tahu seperti apa kelak calon kita menjalankan amanahnya, evaluasi bagaimana ia menjalankan amanah yang pernah diembannya. Kita tidak sedang mencari kelemahan masing-masing. Kita sebagai warga hanya ingin mengetahui dari seluruh aspek siapa yang akan kita pilih. Hal ini kita lakukan agar tidak adanya penyesalan dan saling tuding jika kita menemukan tindakan yang seharusnya tidsk dilakukan oleh pemimpin kita.&lt;br /&gt;    Misalnya jika terjadi korupsi. Masyarakat, warga hanaya bisa menyaksikan, dan jikapun ia berbicara, tanpa disertai dengan kapasitas apapun yang mendukung, pembicaraan itu jarang sekali memberikan pengaruh yang segnifikan. Jadi sebelum melakukan kesalahan dengan memilih orang yang salah, alangkah baiknya jika kita juga mulai mengenal kesemua calon yang telah mencalonkan diri.&lt;br /&gt;    Konsep memilih pemimpin yang Rasulullah anjurkan, cari yang terbaik diantara yang baik, jikapun tidak pilih yang membawa sedikit mudharat dari pada yang membawa banyak mudharat. So, apa yang akan kita lakukan? Berdiam diri dengan ketidak tahuan atau berusaha mencari tahu sehingga diri kita menajadi tahu? Keputusan akhir ada pada tangan kita semua. Tidak terjun di dunia politik, tidak lantas membuat kita tidak mmengetahui perhelatan apa yang sedang terjadi. Tapi kita berusaha tahu hingga kita tidak menjadi manusia yang hanya mengikuti kata-kata orang yang mengetahui banyak hal. Karena belum tentu orang yang tahu mampu membuat kita tahu mana yang benar-benar harus kita ketahui. (&lt;i&gt;Ambaryani, mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Jurusan Dakwah dan anggota LPM STAIN Pontianak).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-1572049393711340303?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/1572049393711340303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=1572049393711340303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1572049393711340303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1572049393711340303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/08/menyambut-detik-pilwako.html' title='Menyambut Detik Pilwako'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5235446061085528086</id><published>2008-08-04T22:28:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T22:32:00.431-07:00</updated><title type='text'>Komunikasi Antar Budaya Masyarakat Jawa Desa Sidodadi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;MENINJAU KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MASYARAKT JAWA DI DESA SIDODADI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                                          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Negara &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memiliki suku serta budaya yang cukup beragam. Begitu juga halnya dengan keadaan yang ada di desa Sidodadi kecamatan Sejangkung Sambas. Mengapa hal ini bisa terwujud? Tak lain salah satu faktornya adalah karena semua pihak menyadari adanya perbedaan itu dan memahami konsep &lt;i&gt;tepo seliro&lt;/i&gt; yang sering kita dengar.&lt;br /&gt;    Di Desa Sidodadi kecamatan Sejangkung, banyak suku yang ada didalamnya, diantaranya adalah suku Jawa yang terbagi menjadi dua yaitu Jawa Barat dan Jawa Tenggah. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga suku Jawa yang kita kenal dari daerah Kebumen (bagian dari daerah Jawa juga). Di desa tersebut ada julukan-julukan tersendiri pada daerah masing-masing. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; yang diberi nama dengan daerah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Mengapa diberi julukan daerah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;? Julukan itu mereka populerkan karena didaerah tersebut yang mendominasi adalah suku Jawa yang bertransmigrasi dari pulau Jawa yakni daerah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; juga yang diberi julukan daerah ngapak, julukan itu bisa mereka berikan karena didaerah Kebumen bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa Ngapak (bahasa Jawa dengan ciri khas tersendiri). Sedangkan julukan bagi daerah yang didominasi oleh orang sunda akrab dengan sebutan Jawa Barat.&lt;br /&gt;    Dalam keseharian mereka dalam berkomunikasi mengunakan jenis bahasa yang beragam. Hal itu terjadai karena heterogenitas lingkungan sekitar. Ketika mereka berada dalam komunitas mereka, etnis Jawa Tenggah berkumpul dengan sesama mereka, mereka akan berbicara dengan mengunakan bahasa Jawa Tenggah. Begitu juga dengan etnis yang lain, ketika mereka berkumpul dengan sesama mereka, mereka akan mengunakan bahasa mereka masing-masing. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; hal yang unik disini, mereka memang tidak pernah mengetahui apa itu teori dari komunikasi yang efektif jika menghadapi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang sangat heterohen. Akan tetapi mereka bisa menciptakan kehidupan yang harmonis, walaupun memang terkadang komunikasi yang terjalin kurang efektif.&lt;br /&gt;    Disadari atau tidak hal-hal yang selama ini mereka lakukan sesungguhnya merupakan praktek dari teori yang saat ini dipelajari oleh sebagian orang. Akan tetapi apa yang sedang berlangsung dalam kehidupan mereka merupakan ilmu yang tidak pernah mereka dapatkan dibangku formal, akan tetapi hal itu sangat tepat jika memang mereka mengetahuinya. Proses komunikasi yang memang terkadang terdengar agak aneh, karena banyak unsur bahasa dan kebiasaan budaya lain yang masuk didalamnya. Latar belakang kebudayaan yang cukup beragam tidak membuat adanya perpecahan, walaupun memang terkadang perselisihan juga tidak bisa dihindari. Akan tetapi perselisihan itu tidak berlangsung lama dan bisa mereka redam dengan perdamaian. Komunikasi antar budaya itu sendiri adalah pertukaran informasi atau pesan dari satu indifidu kepada indifidu atau kelompok lain yang berbeda latar belakang budaya serta sukunya.&lt;br /&gt;    Proses komunikasi antar budaya yang terjadi dibagi kedalam dua tahap, yaitu proses yang terjadi secara primer dan sekunder. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan mengunakan lambang (symbol) sebagai media. Dalam konteks ini komunikasi ini yang terjadi masih dalam tahap awal. Karena dalam komunikasi ada tahap awal yang lebih sederhana dari komunikasi sekunder. Dalam proses komunikasi sekunder hal-hal yang sering terlihat, adalah ketika komunikasi itu berlangsung adalah dari mimik wajah timbul ketika ia berbicara dengan orang lain, sehingga orang yang berbicara dengan kita bisa memahami apa maksud yang ingin kita sampaikan. Mengapa yang lebih identik dalam proses komunikasi antar budaya adalah bahasa? karena bahasa merupakan hal yang sering diambil dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;    Tahap yang kedua ialah proses komunikasi secara sekunder. Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang terhadap orang lain dengan mengunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Dalam menyampaikan pesan ada beberapa hal yang harus ada, dan diantaranya adalah media untuk menyampaikan maksud yang hendak kita sampaikan kepada lawan bicara kita. Pasti semua orang akan sepakat jika bahasa diangap hal yang urgen dalam proses komunikasi.&lt;br /&gt;    Banyak sekali orang yang memiliki pendapat yang berbeda mengenai komunikasi efektif yang tejadi antar budaya yang bebeda. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang berargumen bahwa komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang tejadi hanya dengan cara bertatap muka langsung dengan lawan bicara kita. Hal itu memang tidak bisa dielakkan lagi, apabila komunikasi kita lakukan dengan bertatap muka langsung dengan lawan bicara kita, maka komunikasi yang kita lakukan bisa sesuai dengan apa yang kita inginkan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga keadaan yang seperti itu bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Terkadang komunikasi yang efektif bisa dipengaruhi oleh status. Terkadang orang yang memiliki status, memiliki hal yang sangat mereka jaga (menjaga status), sehingga komunikasi yang berlangsung tidak bisa nyaman.&lt;br /&gt;    Komunikasi antar budaya yang berlangsung di desa Sidodadi yang mayoritas didalamnya adalah orang Jawa juga berlangsung dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Dalam berlangsungnya komunikasi yang mereka lakukan, penyesuaian diri dengan lingkungan mereka dapat dilihat dalam proses sosialisasi mereka. Mereka dengan budaya yang berbeda, akan tetapi mereka dalam kehidupan bisa menyatukan perbedaan itu. Semua orang pasti sepakat jika dikatakan bahwa bahasa merupakan elemen penting pada proses komunikasi yang berlangsung sehari-hari.&lt;br /&gt;    Dalam bukunya Ibrahim MS, efektifitas komunikasi anatar budaya dapat dicapai dengan adanya saling menghargai dan memahami perbedaan yang ada dilingkungan yang beragam. Masih dalam buku yang sama diungkapkan bahwa komunikasi antar budaya yang efektif adalah yang sejalan dengan kongnisi (apa yang dipikirkan)dari tiga tau tiga individu yang berkomunikasi (William Powers dan David Lawrey: 1984). Diakui atau tidak memang latar belakang yang berbeda biasanya membuat kita sangat kaku dalam aktifitas kita dalam berkomunikasi dengan lingkungan kita. Bila kita tidak bisa menyikapi perbedaan itu dengan bijak maka kemungkinan untuk tercapainya komunikasi yang efektif sangatlah kecil. Ruang lingkup komunikasi sangat luas, tidak hanya apa yang kita hadapi saja akan tetapi banyak aspek yang harus kita ketahui.&lt;br /&gt;    Dalam komunikasi masyarakat Jawa yang bermacam ragam jenis Jawa disana, banyak menimbulkan rasa kagum jika benar-benar mecermatinya. Walaupun mereka serumpun yaitu Jawa, akan tetapi mereka terpisah dengan identitas kebudayaan mereka masing-masing. Akan tetapi tanpa mengedepankan rasa etnosentrisme yang ada, mereka bisa mengangap mereka adalah memiliki satu lebel yang sama yaitu rumpun Jawa. Maka dari itu ketika diantara mereka mengedepankan ego masing-masing diantara mereka maka itu artinya mereka menciptakan aib pada komunitas mereka sendiri. Terkadang jika ada hal yang tidak dinginkan terjadi, dan jika hal itu kita tinjau secara ilmu komunikasi, bisa saja itu terjadi karena mereka tidak memenuhi prinsip-prinsip komunikasi yang ada.&lt;br /&gt;    Dalam prinsip-prinsip komunikasi ada hal yang dikenal dengan interaksi awal dan perbedaan antar budaya. Dalam berinteraksi jika pada awal kita berinteraksi dengan orang lain saja sudah tidak baik atau tidak berjalan dengan normal, bagaimana mungkin komunikasi atau interaksi yang kita lakukan selanjutnya akan berjalan dan berakhir dengan baik. Bahkan mungkin jika komunikasi awal sudah tidak baik atau nyaman, maka interaksi akan putus ditengah jalan. Terkadang jika interaksi awal tidak maksimal, hal itu timbul karena adanya rasa ketidaknyamanan karena perbedaan yang ada.&lt;br /&gt;    Dalam bahasa Jawa yang sering kita gunakan sebagai yang lazim kita gunakan sebagai pengambaran kehidupan yang penuh tengang rasa yaitu &lt;i style=""&gt;tepo seliro&lt;/i&gt;. Walaupun mereka tidak pernah mendapatkan materi mengenai tenggang rasa akan tetapi mereka mengenal dan mengamalkan &lt;i style=""&gt;tepo seliro&lt;/i&gt; yang mereka kenal selam ini. &lt;i style=""&gt;Tepo seliro&lt;/i&gt; yaitu istilah yang mengambarkan bahwa dalam kehidupan yang heterogen adanya sikap saling meghargai diantara mereka. Kebudayaan mereka yang berbeda (masyarakat Jawa desa Sidodadi) tidak membuat mereka terpepecah belah. Malahan dari perbedaan budaya tersebut menimbulkan rasa kekeluargaan yang semakin erat.&lt;br /&gt;    Hal ini benar adanya, budaya yang berbeda tidak mereka jadikan hal yang harus selalu mereka perdebatkan. Mereka merasa dengan adanya perbedaan itu mereka lebih banyak tahu kebudayaan yang ada walaupun memang mereka bernotabene sama yaitu Jawa. Walupun sesekali terjadi gesekan-gesekan dengan adanya perbedaan itu. Dalam kehidupan nyata, jika dari etnis Jawa Sunda menyelengarakan acara dengan adat mereka, mereka juga melibatkan etnis Jawa Tenggah untuk berpartisipasi. Dari situ mecerminkan bahwa komunikasi yang mereka jalani selama ini bisa berlangsung dengan baik walaupun memang sesekali ada konflik dan akhirnya bisa mereka akhiri dengan cara yang cukup arif.&lt;br /&gt;    Untuk mewujudkan komunikasi yang baik atau efektif dengan latar belakang budaya yang berbeda, tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Akan tetapi juga tidak semudah angapan banyak orang. Karena memang masing-masing hal memiliki tingkat kesulitan dak memiliki titik kemudahan yang berbeda. Tidaklah asing lagi jika dalam segala hal atau bidang akan ditemui kecocokan dan ketidakcocokan. Dalam berkomunikasi banyak hal yang harus diperhatikan dan banyak juga kemungkinan terjadinya kesalah pahaman disana. Karakter masing-masing individu mewarnai komunikasi yang dijalin oleh manusia itu sendiri. Karakter yang keras harus bisa menyesuaikan dengan orang lain yang berkarakter lemah lembut. Orang yang memiliki karakter lemah lembut juga harus bisa memahami dan mengerti mereka yang berkarakter keras.&lt;br /&gt;    Begitu pulalah komunikasi yang berlangsung disana. Mereka yang berasal dari suku Jawa Tenggah yang dengan intonasi bicara yang lembut akan tetapi bisa juga dengan nada kasar jika dalam hal-hal tertentu, bisa menyesuaikan dengan mereka dari etnis Sunda yang mayoritas berlogat sangat lembut. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hambatan yang mereka jumpai jika dari etnis Jawa Kebumen bertemu dengan etnis Sunda. Mengapa demikian? Karena orang dari etnsi Jawa Kebumen mereka terbiasa dengan nada bicara tinggi dan melengking agak susah untuk bisa beradaptasi dengan etnis Sunda. Apabila mereka berkomunikasi ada hal-hal kecil yang mencuat yang akan membuat suasana sedikit keruh.&lt;br /&gt;    Dari sinilah tercermin bahwa karakteristik masing-masing budaya mempengaruhi proses berlangsungnya interaksi atau komunikasi. Karakter masing-masing budaya yang berbeda yang akan hidup berdampingan akan memberikan &lt;i style=""&gt;out put&lt;/i&gt; yang berbeda pula. Ketika komunikasi antar budaya berlangsung, persepsi masing-masing individu yang memiliki berbeda pemikiran, menimbulkan respon balik yang beragam. Ketika satu orang memberi stimulus atau informasi, belum tentu semua orang bisa memahami maksudnya yang ingin disampaikannya sama dengan apa yang ia pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;    Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; stimulus yang disampaikan dengan hal-hal yang unik yaitu dengan bahasa-bahasa nonverbal, hal ini bisa disampaikan dengan adanya reaksi yang nampak dari mimik wajah seseorang yang sedang berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Jika seseorang berbicara walaupun dengan nada bercanda, akan tetapi kita bisa mlihat apa yang ingin ia sampaikan apah haanya senda gurau semata taukah serius, kita bisa mengetahuinya dengan ekspresi wajah yang ditampilkannya. Kadang bahasa nonverbal sesorang adalah hal yang sebenarnya ingin disampaikannya. Karena seseorang bisa saja mereka yansa pembicaraan, akan tetapi ia tidak akan bisa mereka yasa bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh atau (&lt;i style=""&gt;body language&lt;/i&gt;) itu bisa timbul dengan sedirinya jika seseorang itu merasakan ada hal yang nyaman (akan timbul ekspresi wajah senag) dan hal-hal yang tidak nyaman (dengan ekspresi wajah kecewa atau sedih).&lt;br /&gt;    Dalam berkomunikasi banyak hal yang mungkin kita angap remeh,akan tetapi sebenarnya hal-hal yang mungkin kita angap sepele akan mengakibatkan hal yang mungkin tidak kita sangka. Seperti halnya ketika orang dari suku Jawa di daerah Satai khususnya yang relatif masih muda, ketika mereka berdialong dengan mereka yang lebih tua (senior), banyak diantara mereka tidak bisa mengunakan bahasa yang selayaknya mereka gunakan ketika berbicara dengan para senior. Karena latar belakang budaya yang berbeda mereka, dan walaupun mereka mengetahui bahasa dari suku yang lain, akan tetapi mereka tidak mengetahui bahasa yang lazim atau selayak digunakan. Maka ketika mereka berdialong, kesanya mereka meremehkan senior, sehingga kadang hal tersebut mengundang datangnya konflik antar personal.   &lt;br /&gt;    Karena kurangnya pemahaman mereka terhadap bahasa dan budaya diantara suku yang berbeda, tidak heranlah jika riak-riak dalam berinteraksi sesekali akan timbul. Berdasarkan banyak pengalaman yang sering mereka temukan adanya selisih faham diantara mereka adalah karena generasi muda saat ini banyak tidak mengenal budaya, bahasa, dan kebiasaan dari etnis mereka maupun etnis yang berbeda.&lt;br /&gt;    Dari satu generasi ke generasi yang lain, pemahaman generasi penerus akan budaya mereka semakin berkurang. Hal ini terjadi karena banyaknya pergeseran dan juga gesekan-gesekan dari budaya luar yang saat ini relatif kurang penyaringnya (&lt;i style=""&gt;filter&lt;/i&gt;). Jika dari setiap generasi mengetahui akan hal-hal yang seharusnaya mereka ketahui, atau jika mereka mengetahui urgensitas dari pengetahuan akan budaya sendiri, maka konflik sedikit demi sedikit akan bisa dihindari. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;    Karena seperti yang telah diungkapkan diatas, seringnya konflik timbul, diakibatkan kurangnya pemahaman terhadap budaya. Bagi seluruh masyarakat rumpun Jawa, menyadari bahwasanya sesungguhnya mereka memang beragam. Hingga banyak hal yang harus diketahui dari semua perbedaan yang ada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5235446061085528086?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5235446061085528086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5235446061085528086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5235446061085528086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5235446061085528086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/08/komunikasi-antar-budaya-masyarakat-jawa.html' title='Komunikasi Antar Budaya Masyarakat Jawa Desa Sidodadi'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-4584869419900946678</id><published>2008-08-04T22:13:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T22:17:20.483-07:00</updated><title type='text'>Renungan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Renungan Dari Seseorang, Yang Tak Kuketahui Siapa Dia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata renungan ini ku dapatkan tepat di hari Minggu 3 Agustus 2008. Aku tak tau siapa pemilik dari goresan ini. Aku mendapatkan saat aku mengikuti suatu agenda dan pada kesempatan itu ada agenda tukar kado. Setiap peserta yang hadir dianjurkan untuk membawa kado ala kadarnya dan didalmnya harus ada kata-kata motivasi atau renungannya. Aku mendapatkan kado yang didalamnya terdapat kertas buku bergaris biru. Kata-katanya cukup membuatku terkejut saat membaca baris pertamanya. Baru beberapa baris aku membacanya, tapi rasa penasaran mulai tak tertahankan lagi. Lalu ku buka lembaran terakhirnya. Ternyata dalam kertas itu tak tertera nama atau identitas penulisnya. Siapapun yang menuliskannya, terimakasih. Semua ini akan ku jadikan bahan renungan. Semua ini tak ada yang kebetulan. Diantara sekian banyak kado, mengapa aku yang mendapatkan kado dengan isi taujih yang sedemikian rupa? Pasti Allah ingin mengajarkan hal baru padaku. Terimakasih saudaraku…semoga kita akan selalu dipersatukan dalam satu ikatan yaitu Islam. Semoga juga ukhuwah kita takkan pernah terputus oleh apapun. Akan kujaga dan kupupuk ukhuwah ini, hingga akhir hayat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan aku memohon pada Allah ukhuwah ini akan kekal dan mengantarkan kita pada kebersamaan di surga kelak. Kita bisa bertemu di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; diantara barisan-barisan Rasulullah dan orang-orang yang mendapatkan safaat dari kekasih Allah. &lt;/p&gt;                                          &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b&gt;Kota&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;b&gt; Hantu , Khu_azwar020808&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku @ Teroris&lt;br /&gt;Kata mereka…&lt;br /&gt;Aku jahat dan tak punya perasaan&lt;br /&gt;Menginginkan kehancuran dunia atas nama Islam&lt;br /&gt;Kata saudaraku…&lt;br /&gt;Aku pendusta dan ahli bid’ah&lt;br /&gt;Mengadakan usaha-usaha yang dilarang oleh agama&lt;br /&gt;Ya robbi…,&lt;br /&gt;Orang-orang kafir melaknatiku dan menggelarku teroris&lt;br /&gt;Lantas saudara-saudaraku ikut mengecamku demikian&lt;br /&gt;Dengarkanlah hai manusia…&lt;br /&gt;Dengarkan bantahanku terhadap tuduhanmu&lt;br /&gt;Yang kuinginkan pada dunia bukanlah kehancuran&lt;br /&gt;Melainkan tegaknya keadilan dan nama Allah&lt;br /&gt;Justru karena mengikuti kalian aku tak berperasaan&lt;br /&gt;Robbiku memberi hati dan akal sejak aku mengenal Islam&lt;br /&gt;Mungkin kalian takkan pernah tahu&lt;br /&gt;Tangisanku pecah saat menyaksikan pembantaian terhadap saudara-saudaraku&lt;br /&gt;Yup sebab kalian berpesta pora atas pembantaian itu&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;KALIANLAH PELAKUNYA &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;KALIANLAH YANG TAK BERPERASAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                                                                                                                  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lalu dengan bangga kalian berdalih&lt;br /&gt;‘Inilah keadilan wahai dunia…’&lt;br /&gt;Dan orang-orang yang tertipu oleh kalian riuh rendah&lt;br /&gt;Memberikan applaush atas ‘kepahlawanan’ ini&lt;br /&gt;Lantas saudaraku…&lt;br /&gt;Dustaku…, bi’dahku…&lt;br /&gt;Aku memohon ampun kepada Allah&lt;br /&gt;Jika dosa-dosa ini membatalkan syahadatku&lt;br /&gt;Yang kulakukan bukanlah yang lahir dari omong kosong belaka yang kutakutkan&lt;br /&gt;Apa yang kubaca dan kusaksikan&lt;br /&gt;Salahkah aku mengajak saudara-saudara muslimku&lt;br /&gt;Untuk bersama menuju syurga dengan caraku?&lt;br /&gt;Mereka yang hatinya beku menerima tuntunan&lt;br /&gt;Haruskah dengan kekerasan dan paksaan?&lt;br /&gt;Mereka yang dalam kecurangan meuju kekuasaan&lt;br /&gt;Yang menzalimi jutaan rakyat haruskah kubiarkan?&lt;br /&gt;Untuk menghentikannya dengan tanganku,&lt;br /&gt;Aku tak kuasa, sebab lemah imanku&lt;br /&gt;Maka beginilah cara jihadku&lt;br /&gt;“Teroros”, kata mereka…&lt;br /&gt;Lantaran aksi-aksi jihadku dengan nyawa&lt;br /&gt;Yup…aku “Teroris”&lt;br /&gt;Bahkan seringkali aku ‘meneror’ diriku sendiri dan orang-orang yang dekat denganku&lt;br /&gt;Aku “meneror” mereka dengan senjata Allah&lt;br /&gt;Dengan berita duka akan azab neraka&lt;br /&gt;Aku intimidasi mereka atas nama Allah&lt;br /&gt;Yang Maha keras siksan-Nya&lt;br /&gt;Yang dengan mudah memutuskan segala yang tersambung&lt;br /&gt;Mengakhiri setiap yang awal&lt;br /&gt;Melemahkan setiap yang kuat&lt;br /&gt;Mematikan setiap yang hidup&lt;br /&gt;Senjataku adalah Al-Qur’an dan sunnah&lt;br /&gt;Serta keyakinanku akan hari pembalasan&lt;br /&gt;Tahukah kalian dimana aku menyimpan persediaan senjataku?&lt;br /&gt;Aku menyimpannya dihati!&lt;br /&gt;Tempat paling seteril&lt;br /&gt;Setiap hari kurawat&lt;br /&gt;Mata pedang senjataku semakin tajam&lt;br /&gt;Kuasah terus dengan &lt;i&gt;thalabul ilmi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dengan tilawah dan dzikrullah&lt;br /&gt;Dengan shaum dan shalat sunnah&lt;br /&gt;Maka senjata itu tidak berkarat dan tumpul&lt;br /&gt;Tahukah kalian mengapa kulakukan hal itu?&lt;br /&gt;Kenapa kau senang menjadi “teroris” Allah&lt;br /&gt;Walau sekedar untuk diriku dan orang-orang disekitarku?&lt;br /&gt;Seorang said Hawa dalam bukunya Jundullah memotivasiku&lt;br /&gt;Untuk bergabung dan menjadi “teroris”&lt;br /&gt;Mereka yang merindukan kekhalifahan&lt;br /&gt;Mereka yang tersayat hatinya karena dominasi kaum kafir&lt;br /&gt;Mereka menginginkan kemerdekaan kaum muslim&lt;br /&gt;Mereka yang merindukan syurga&lt;br /&gt;Mereka yang memimpikan satu bahasa tegak dibumi&lt;br /&gt;Untuk itulah aku menjadi “teroris”&lt;br /&gt;Inilah kemarahanku&lt;br /&gt;Allah cinta para mujahid&lt;br /&gt;Maka jadillah kita orang-orang yang bid’ah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-4584869419900946678?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/4584869419900946678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=4584869419900946678' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4584869419900946678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4584869419900946678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/08/renungan.html' title='Renungan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-162142355851893620</id><published>2008-06-21T00:24:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T00:29:37.840-07:00</updated><title type='text'>Get One Motifation</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Get One Motivation&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Oleh : Ambaryani&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata motifasi  ada dimana-mana dan datang kapan saja, tanpa diduga-duga.&lt;br /&gt;Hari ni, aku mendapatkan lagi satu orang yang bisa membuat aku lebih semangat dan lebih keras lagi dalam berusaha. Aku tak menyangka aku bisa mendapat motifasi yang luar biasa hari ini dari seorang dosen&lt;br /&gt;Yang selama ini hanya kuanggap bisa memberiku motifasi di dalam kelas saja. Maklumlah, dosen yang satu ini agak tertutup dan jarang mahasiswa bisa berbicara mengenai hal-hal yang ringan. Soalnya kalau berurusan dengan dosen yag satu ni, identik dengan bahasa Inggris. Padahal ngak juga. Mungkin itu hanya perasaanku saja.&lt;br /&gt;Ya, Mr. Segu hari ini benar-benar bisa memberiku motifasi kali ini. Motifasi untuk terus bersungguh-sungguh mendalami bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Secara kebetulan kami berjalan bersama-sama. Senin 19 Mei, aku berniat mengikuti kuliah umum yang diselenggarakan di ruang sidang gedung akademik STAIN Pontianak. Ada Dr. Timo Kimimaki dari Swedia yang memberikan materi kali ini.&lt;br /&gt;Aku melongok ke aula. Pintu tertutup, tak ada tanda-tanda keramaian yang menunjukkan akan berlangsungnya satu acara disana. Semula kuliah umum itu akan dilaksaakan di aula. Tapi entah mengapa panitia langsung megalihkannya di ruang sidang gedung akademik lantai 2. Tapi bagus juga si! Agak bergengsi dikit.&lt;br /&gt;Tak lama Dr. Hermansyah, salah satu panitia, memeri tahu.&lt;br /&gt;“Ayolah ikut kuliah umum, di ruang sidang tak jadi di aula”, kata Pak Herman aku pun langsung mengikutinya dari belakang.&lt;br /&gt;Tak lama aku berjalan saat menuju gedung akademik, ada Pak Segu, dosen bahasa Inggris ku yang hari itu akan menjadi translater Dr. Timo. Pak Segu berjalan dengan sangat cepat. Bahkan aku tak sempat tertinggal. Aku berusaha berjalan mengikuti Mr. Segu, begitu aku bisa menyapanya.&lt;br /&gt;Aku berjalan bersama Mr. Segu dan Mr. Segu pun berjalan agak lambat, walaupun bagiku sudah sangat cepat. Tiba-tiba Mr. Segu bilang padaku.&lt;br /&gt;“Ambar kamu gantikan saya jadi transleter hari ini ya?, saya ada kegiatan,” Mr. Segu berbicara dengan nada agak serius.&lt;br /&gt;Aku tak lantas percaya, karena memang tak mungkin Mr. Segu bersungguh-sungguih dengan peekataanya. Aku lantas menimpal.&lt;br /&gt;“Ah, Bapak tak mungkin lah pak! Ambar Bahasa Inggris tak bisa pak!”, aku tetap saja dengan logat Melayuku walaupun aku tahu pak Segu tak akan menggunakan logat Melayu.&lt;br /&gt;“Ndak bah, saya ndak kemana-mana!, tapi kamu bisa lo menjadi transleter suatu saat nanti. Kamu punya modal yang bisa kamu kembangkan”, pak segu memberikan motifasinya.&lt;br /&gt;“Ya pak, saya memang pengen seperti bapak, pandai bahasa Inggris bahkan jadi transleter. Semoga ajak suatau saat nanti aku benar-benar akan menjadi seorag trasleter seperti Mr. Segu. Paling ngak untuk tahap awal hanya mengantikan Mr. Segu aja, jaduilah!”, aku berkelana dengan khayalanku.&lt;br /&gt;“Bahasa Inggris itu tidak sulit. Kamu hanya perlu banyak mencoba, mempraktekkan. Tidak perlu kursus mahal-mahal. Kuncinya kamu haris banyak mencoba”, tambah pak segu.&lt;br /&gt;“Makaya pak! Saya mau belajar sama bapak!. Boleh kan pak?”, aku meminta pada pak Segu dengan nada sedikit mendesak agar Mr. Segu bilang ya.&lt;br /&gt;“Ya yang  pasti kamu banyak-banyak berlatih”, jawab Mr. Segu.&lt;br /&gt;Ah.... aku mulai bermimpi. Suatau saat nanti aku tidak hanya pasif berbahasa Inggris, tapi aku bisa aktif dan puncaknya bisa menjadi trasleter dan bisa dibawa kemana-mana, ketemu orang-orang pnting. Pasti banyak pengelaman. Aku mau..............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Waktu diruangan kuliah umum.&lt;br /&gt;Aku diam tak banyak bicara saat Dr. Timo menyampaikan penjelasanya dengan bahasa Inggris. Aku berusaha tidak menghiaraukan pak Segu dan berusaha mengartikan sendiri apa yang dikatakan tu bulek berbdan tinggi, denagn rambut pirang, mata butek dan yang pasti hidung muancung banget.&lt;br /&gt;Berkali-kali aku mencoba dan mencoba. Tapi hasilnya nihill. Aku hanya bisa mengartikan pada bagian kata-kata tertentu. Itupun hanya kata, bukan kalimat. Wih parah benar gak bahasa Inggris ku ni! Aku berbisik daalam hati.&lt;br /&gt;Tapi aku tak bisa membiarkan semangat ini hilang begitu saja. Aku harus cepat mencari solusi bagaimana agar aku bisa memperdalami bahasa inggris. Chayo 4 U....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-162142355851893620?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/162142355851893620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=162142355851893620' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/162142355851893620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/162142355851893620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/06/get-one-motifation.html' title='Get One Motifation'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-50581741054298219</id><published>2008-06-21T00:09:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T00:18:28.989-07:00</updated><title type='text'>Sang Dhuafa' Itu Ternhyata Kita!</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Sang Dhuafa’ Itu Ternyata Kita!&lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ketika mendengar kata dhuafa’, pasti yang terlintas dibenak kita masing-masing adalah kaum yang lemah dari segi materil, tidak mampu mencukupi kebutuhanya sehari-hari yang sering didengar dengan istilah fakir miskin. Banyak orang yang mengangap  bahwa kaum dhuafa’ itu hanya dikarenakan oleh lemah  dalam hal materi. Ternyata hal itu adalah konsep berpikir yang salah.&lt;br /&gt;Jika dirunut dari arti katanya, dhuafa’ diartikan sebagai kaum yang lemah. Memang istilah itu sering dipakai untuk mengistilahkan  atau menyebut individu, golongan atau kelompok yang lemah dalam hala material. Akan tetapi sebenarnya kata dhuafa’ itu sediri memiliki makna yang cukup luas. Dhuafa’ diartikan dengan lemah. Itu artinya, kata lemah itu masih bisa merambah dan menyentuh ranah yang cukup luas.&lt;br /&gt;Dhuafa’ (lemah), kata lemah itu tidak hanya ditinjau atau ditilik dari segi material saja. Akan tetapi harus juga ditinjau dari segi yang lain. Bisa saja, orang terkaya didunia atau bahkan pegawai atau pekerja dengan gaji termahal bisa dikategorikan sebagai dhuafa’. Karena ternyata orang-orang yang memiliki keterbatasan pengetahuan baik pengetahuan umum maupun agama, termasuk kedalam golongan dhuafa’. Maka tak heranlah banyak duafa’ dilingkungan kaum intelak.&lt;br /&gt;Siapa kaum intelek? Kaum intelek  adalah manusia yang terpelajar, memiliki pengetahuan yang segudang tapi aplikasi dari ilmu yang milikinya tak bisa tereksplor. Banyak orang yang berilmu tapi tak tahu bagaimana cara mengamalkanya. Memang seseorang itu kuat dalam hal pengetahuan, tapi ternyata ia termasuk kedalam kaum dhuafa’ karena ia tak mampu mencapai ilmu bagaimana cara mempergunakan ilmu yang dimilkinya.&lt;br /&gt;Tak hanya itu, banyak dijumpai kaum intelek atau warga kampus yang sering menyalurkan aspirasi rakyat yang diangapnya tak mampu menyampaikan aspirasinya karena keterbatasan, kelemahan rakyat dan membawa simbol kepedulian, yang sebenarnya disitulah titik kunci yang menunjukkan bahwa kaum intelek juga dhuafa’.&lt;br /&gt;Bukan hal yang dilarang menyalurkan aspirasi rakyat, tapi dengan cara yang tepat. Menyalurkan aspirasi dengan cara yang tepat, prosedur yang benar, mengusung asas ketimuran yakni sopan atau tepo seliro tanpa menimbulkan hal-hal yang egatif dari aksi yang dilakukanya. Menyalurkan aspirasi tak akan kehilangan ruhnya atau esensialnya jika mengunakan kata-kata yang santun dan tanpa adanya kata-kata culas dan menyingung orang lain.&lt;br /&gt;Semua orang pasti akan lebih menghargai, menghormati orang yang menyalurkan aspirasi atau keinginan dengan cara yang santun, jika dibandingkan dengan cara yang diluar  batas kewajaran hingga menimbulkan aksi anarkis. Apresiasi yang diberikan orang akan sangat berbeda jika orang mampu menunjukkan etika atau sopan santunya saat menyampaikan aspirasi jika dibandingkan dengan orang yang tak peduli dengan etika ketimuran yang selama ini dianut oleh warga Indonesia.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Tak jarang kaum intelek yang hobi membela kepentingan rakyat, tapi tak mampu membela kepentinganya sendiri. Karena, tak jarang pula sang dhuafa’ dikalangan intelek tak begitu peduli dengan prestasi akademiknya. Itulah hal yang terparah jika memang hal itu terjadi.&lt;br /&gt;Tidak hanya kaum intelek kampus. Orang-orang yang mengatas namakan dirinya manusia terpelajar juga memiliki mental dhuafa’. Fenomena yang sering dijumpai ketika pengumuman hasil ujian tiba. Berapa banyak pelajar yang melakukan aksi konfoi dan coret-coret baju dijlananan umum? Hal itu merupakan salah satu bukti, tak lemahnya kepedulian seorang pelajar terhadap orang-orang yang ada disekitar.&lt;br /&gt;Konfoi dan aksi coret-coret baju yang mereka namakan sebagai ekspresi kegembiraan mereka, menjadi bukti pelajar tak peduli dengan orang lain. Misalnya saja, aksi konfoi yang mereka lakukan menimbulkan kemacetan dan akan menghambat kelancaran, kenyamana  penguna jalan yang lainya. Selain itu, aksi tersebut juga bisa membahayakan dirinya  sendiri bahkan orang lain.&lt;br /&gt;Baju seragam yang masih layak pakai, mereka gunakan sebagai ajang coret mencoret. Padahal di bumi yang sama, ada anak-anak bangsa yang menjalani masa pendidikan (sekolah) tanpa mengunakan baju seragam. Kemana kepedulian, jiwa sosial manusia sebagai manusia terpelajar? Kemana ilmu yang selama ini telah didapatkan? Apakah ilmu itu hanya sebatas Atau lebih parahnya ilmu itu hanya sebatas tulisan diatas kertas putih yang disebut buku? Atau lebih parahnya ilmu itu hanya sebatas pengetahuan yang numpang mangkir diotak, setelah itu pergi lagi, tanpa meningalkan bekas sedikitpun?&lt;br /&gt;Tak hanya cukup sampai disitu. Kaum dhuafa’ juga datang dari kalangan pejabat. Pejabat yang seperti apa yang termasuk kedalam salah satu golongan dhuafa’. Pejabat yang tak tahu akan apa yang sedang dialami oleh rakyat yang dipimpinya. Ironisnya lagi, pejabat tega menghianati kepercayaan rakyat, menyalah gunakan jabatan dengan mengunakan jabatan itu sebagai ajang mencari laba dan investasi pribadi melalui jalan korupsi. Jangan sampai kita yang megaku kaum intelek, kaum terpelajar dan para pejabat termasuk kedalam kaum dhuafa’ yang harus disantui. Jika terlalu banyak kaum dhuafa’ dikalangan intelektual, apa kata dunia? (Ambaryani Lembaga Pers Mahasiswa STAIN Pontianak)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-50581741054298219?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/50581741054298219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=50581741054298219' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/50581741054298219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/50581741054298219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/06/sang-dhuafa-itu-ternhyata-kita.html' title='Sang Dhuafa&apos; Itu Ternhyata Kita!'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-1443851680998879641</id><published>2008-06-16T02:29:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T01:06:30.210-08:00</updated><title type='text'>Duh Televisi!!!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFYzCBqxOXI/AAAAAAAAAGs/mwXdCjJ9WrQ/s1600-h/tv.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFYzCBqxOXI/AAAAAAAAAGs/mwXdCjJ9WrQ/s400/tv.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212409728628504946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Duh Televisi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh: Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Media masa adalah salah satu sarana atau alat yang dapat digunakan dalam proses komunikasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Televisi misalnya. Televisi dapat dijadikan alat (media) yang efektif dalam proses komunikasi. Akan tapi saat ini, apakah televisi sudah benar-benar menjadi media yang efektif untuk dijadikan media komunikasi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Media atau alat komunikasi memiliki fungsi dasar dalam bidang komunikasi. Menurut Onong Uchjana yang menulis tentang komunikasi, fungsi dari media adalah untuk menyiarkan informasi (&lt;i&gt;to inform), &lt;/i&gt;mendidik (&lt;i&gt;to educate)&lt;/i&gt;, menghibur (&lt;i&gt;to entertain), &lt;/i&gt;dan untuk mempengaruhi (&lt;i&gt;to influence). &lt;/i&gt;Begitu juga dengan televisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran televisi di tengah-tengah masyarakat, harusnya mampu menjadi alat untuk menyiarkan informasi yang benar-benar masyarakat butuhkan. Informasi yang berkaitan dengan banyak aspek. Bisa saja aspek sosial, ekonomi, pendidikan, agama dan bidang yang lainya. Aspek pendidikan yang diinformasikan oleh media, televisi khususnya merupakan fungsi media yang kedua, yaitu mendidik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Media pada esensialnya harus berjalan sesuai dengan fungsi keberadaanya. Akan tetapi kenyataanya apa yang terjadi saat ini? Coba analisis seberapa besar televisi mampu menjadi sarana untuk menyiarkan informasi yang benar-benar masyarakat butuhkan? Berapa persen media mampu mengcover semua informasi yang sangat vital bagi masyarakat? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berbicara masalah informasi, apakah isi informasi tersebut mampu menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat yang mengkonsumsinya. Hal ini sesuai dengan fungsi televisi yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kedua media yang mampu memberikan aspek pendidikan pada masyarakat. Seberapa besar &lt;i&gt;space &lt;/i&gt;(tempat atau ruang) yang disediakan untuk program tayangan pendidikan jika dibandingkan dengan ruang &lt;i&gt;infotaimen&lt;/i&gt; atau hiburan? Bergesernya fungsi televisi, menjadi sebuah tanda bahwa sesungguhnya pada media tersebut ada istilah yang dikenal dengan &lt;i&gt;noice &lt;/i&gt;(ganguan). Ganguan yang terjadi tersebut &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berkaitan langsung dengan proses komunikasi yang sedang dan terus berlangsung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebenarnya harus menjadi perhatian bagi para pakar atau pengamat komunikasi. Dan hal ini sebenarnya harus senantiasa diwaspadai bagi masyarakat yang selalu dan senantiasa mengkonsumsi tayangan-tayangan televisi. Sudah saatnya pula masyarakat tidak hanya tinggal diam dan mennikmati tayangan yang disajikan, akan tetapi mampu menganalisis isi pesan yang disampaikan. Apakah yang disajikan oleh suatu media (televisi) sudah sesuai dengan fungsi dasar media atau bahkan bertolak belakang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dan saat ini pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menjadikan media sebagai alat yang benar-benar berperan penting bagi masyarakat, bukan hanya berorientasi pada segi pendapatan atau keuntungan saja. Jika tidak bisa mengfokuskan pada program yang benar-benar sesuai dengan masyarakat, paling tidak kalau harus ada istilah &lt;i&gt;balance &lt;/i&gt;(keseimbangan) antara informasi dan provit oriented, tidaklah menjadikan masyarakat korban secara tidak langsung dari apa yang mereka konsumsi dari media itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit tayangan yang disajikan ditelivisi menjadi hal yang menghawatirkan bagi orang tua, jika memang mengutamakan masyarakat sebagai konsumernya. Mengapa tidak, tayangan yang disajikan sehari-hari jauh dari aspek yang bisa membina moral anak yang mengkonsumsi tayangan tersebut, malah sebaliknya memberikan pengaruh negativ. Tayangan televisi berdampak sangat besar bagi anak-anak, remaja yang belum bisa menyaring informasi atau tayangan yang mereka konsumsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mungkin saat ini, ada unsur-unsur pendidikan, moral serta unsur keagamaan, tetapi persentase yang terbanyak dalam tayangan tersebut adalah hal yang bisa memberikan paradigma atau pemikiran negativ pada anak. Tidak jarang tayangan sinetron yang menampilkan aktor-aktor cilik, akan tetapi adegan-adegan yang ada didalamnya sudah mengarah pada adegan orang dewasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit pula tayangan yang menyajikan romansa percintaan ditingkat sekolah dasar. Apakah yang seperti itu tayangan yang bersifat mendidik? Hal tersebut, menjadi sajian yang jauh dari nilai positif pada konsumen terutama anak. Tema-tema atau menjadikan sekolah sebagai setting dalam suatau sinetron, belum bisa menjamin tayangan tersebut dikatakan sebagai tayangan yang mendidik. Hal tersebut hanya menjadi latar belakang yang semu agar tayangan tersebut berbau pendidikan akan tetapi kata sesuai antara latar dan alur cerita jauh dari harapan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berapa banyak stasitun televisi yang memiliki program khusus religi (keagamaan) atau tayangan yang bernafaskan Islami. Tayangan yang benar-benar bernafaskan Islam bukan memanifestasi nilai-nilai Islam. Yang sering dijumpai selama ini adalah tema besar tayang adalah tema-tema Islam akan tetapi isinya bernilai mistik, dan Islam hanya sebagai simbolik saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jika hal ini terus menerus terjadi, dibiarkan tanpa adanya tindakan tegas, apa yang akan terjadi pada bagsa Indonesia? Secara tidak langsung pemikiranya masyarakat sedang dijajah oleh tayangan-tayangan televisi yang jauh dari kata mendidik. Sudah terlalau banyak pergeseran nilai yanh terjadi pada media televisi. Siapakan yang bertanggung jawab terhadap hal ini? Siapa yang memegang andil? Apakah kita sebagai masyarakat awam hanya bisa tinggal diam?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sudah saatnya masyarakat peduli dengan masa depanya sendiri. Apa yang harus dilakukan. Masyarakat bisa dengan melakukan tinjauan terhadap apa saja yang hendak dikonsumsi dari media, televisi khususnya. Apa yang memberikan banyak dampak negativ, hendaknya sudah mulai&lt;/span&gt; dihindari. Jika tidak mamapu memberikan perubahan pada masyarakat luas, paling tidak ada usaha untuk menyelamatkan diri sendiri. (Ambaryani, LPM STAIN Pontianak). &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-1443851680998879641?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/1443851680998879641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=1443851680998879641' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1443851680998879641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1443851680998879641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/06/duh-televisi.html' title='Duh Televisi!!!'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFYzCBqxOXI/AAAAAAAAAGs/mwXdCjJ9WrQ/s72-c/tv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-1508361904146876882</id><published>2008-06-13T23:14:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T01:06:30.366-08:00</updated><title type='text'>Tak Tahu Mengapa???</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFN3imNB4PI/AAAAAAAAAGc/qjekEBO8jhg/s1600-h/DSCN1720.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 170px; height: 224px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFN3imNB4PI/AAAAAAAAAGc/qjekEBO8jhg/s400/DSCN1720.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211640630052249842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Tak tahu mengapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;              &lt;p class="MsoNormal"&gt;Duh ternyata benar apa yang sering dikatakan kebanyakan teman-teman seniorku yang sudah terlebih dahulu menginjakkan kaki di kampus.&lt;br /&gt;“Ambar semangat ya?”, kakak tingkatku pernah berujar padaku saat aku semester satu dulu.&lt;br /&gt;“Tapi, ketika dalam perjalanan di kampus, pasti akan menemui titik jenuh. Titik jenuh menjadi mahasiswa dengan seluruh aktifitasnya”, tambahnya lagi.&lt;br /&gt;Awalnya aku tak begitu peduli. Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aku brangapan walaupun aku akan menemui titik jenuh, aku tak akan menyerah pada kejenuhanku.&lt;br /&gt;Tapi ternyata memang benar. Jenuh dengan aktifitas itu sangat menyakitkan. Apa yang sedang dijalani tak terasa dimana nikmatnya. Itu yang sedang ku alami. Semuanya masih ku jalani seperti biasa. Tapi aku tak melakukanya sepenuh hati. Aku melakukanya tanpa adanya kesungguhan. Walau tak semuanya demikian adanya.&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sungguh ini benar-benar sesuatu yang tak nyaman. Aku seperti orang yang begok, yang tak memiliki semangat untuk melanjutkan perjuangan yang sudah alang kepalang ini. Ibarat computer, aku sedang mengalami masa eror, lodingnya lama. Apa yang bisa membuat aku semangat lagi? Ah virus-virus malas yang sedang mengerogoti semangatku harus segera dibasmi. Obat apa yang mujarap? Bak computer perlu di &lt;i&gt;refresh &lt;/i&gt;biar normal kembali kali ya? Tapi computer pun tak hanya cukup direfresh. Computer perlu &lt;i&gt;discan&lt;/i&gt;, agar virus-virusnya almarhum. Butuh diformat ulang kembali, dan masih ada tetek bengek yang lainya.&lt;br /&gt;Duh benar-benar menyakitkan. Ini bukan aku, diaman aku yang dulu? Dimana semangatku? Tuhan…..kembalikan semangatku. Aku tak mau berlama-lama seperti ini.&lt;br /&gt;Malas……kau harus cepat pergi dariku&lt;br /&gt;Aku tak mau lagi menghampirimu&lt;br /&gt;Cepat enyah dariku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-1508361904146876882?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/1508361904146876882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=1508361904146876882' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1508361904146876882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1508361904146876882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/06/tak-tahu-mengapa.html' title='Tak Tahu Mengapa???'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFN3imNB4PI/AAAAAAAAAGc/qjekEBO8jhg/s72-c/DSCN1720.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8512813755906228709</id><published>2008-06-13T23:05:00.000-07:00</published><updated>2008-06-13T23:11:05.277-07:00</updated><title type='text'>Sang Raja</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Sang Raja &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                                                      &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saat raja menurunkan perintahnya&lt;br /&gt;Prajurit segera melaksanakanya&lt;br /&gt;Hati adalah raja dalam diri kita&lt;br /&gt;Ketika hati berkata tidak&lt;br /&gt;Jangan buat pikiran menentangnya&lt;br /&gt;Hati adalah raja&lt;br /&gt;Pikiran adalah tangan kanan sang raja&lt;br /&gt;Pikiran harus taat pada sang raja&lt;br /&gt;Sudah barang mutlak Tangan kanan sang raja bisa mendaulatkan hati sebanagi raja&lt;br /&gt;Jangan biarkan pikiran menjadi sang penghianat wibawa raja&lt;br /&gt;Jangan biarkan sang raja menjadi tak lagi bersahabat&lt;br /&gt;Dengan pikiran sang tangan kanan raja&lt;br /&gt;Tanyakan hatimu&lt;br /&gt;Apa yang diinginkanya?&lt;br /&gt;Prajurit harus tahu jika raja tak akan rela prajuritnya celaka&lt;br /&gt;Jangan sekali-kali menghianati&lt;br /&gt;Raja yang ada pada dirimu sendiri&lt;br /&gt;Sang raja itu adalah HATI&lt;br /&gt;Tapi terkadang raja harus mengambil keputusan yang tak sesuai dengan kehendaknya&lt;br /&gt;Jika memang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apa yang diinginkanya akan merugikan laskar perang yang lainya&lt;br /&gt;Tak akan pernah ku biarkan sang raja&lt;br /&gt;Tak lagi memiliki wibawanya&lt;br /&gt;Jangan hilangkan kepekaan sang raja&lt;br /&gt;Jagan biarkan raja hidup dengan keapatisan&lt;br /&gt;Jangan biarkan hati tak lagi peka&lt;br /&gt;Karena dosa………yang dilakukan manusia yang dititipi hati sebagai raja dalam dirinya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8512813755906228709?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8512813755906228709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8512813755906228709' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8512813755906228709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8512813755906228709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/06/sang-raja.html' title='Sang Raja'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8575616814332776792</id><published>2008-05-14T02:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T01:06:30.530-08:00</updated><title type='text'>Sabtu Minggu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SCqvIeZqvzI/AAAAAAAAAGU/vgwVHy7BlUc/s1600-h/21795289520585l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 176px; height: 211px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SCqvIeZqvzI/AAAAAAAAAGU/vgwVHy7BlUc/s400/21795289520585l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5200161279887195954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sabtu Minggu....&lt;br /&gt;Oleh : Ambaryanni    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Awalnya aku pesimis untuk hadir diacara pelatihan bahasa Inggris yang diadakan oleh Genta Course yang berlangsung di Jl. &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt; sabtu 12 April kemaren. Pesimis karena teman-temanku telah berada disana sedangkan aku telat. Walaupun posisiku diasan bukanlah peserta tapi panitia yang direkomendasikan langsung oleh K Amalia Irfani dosenku sekaligus istri dari Iswardani pemimpin Genta Course. Tapi tak disangka hari itu ada rona lain dari kepesimisanku. Hari itu aku harus masuk kuliah terlebih dahulu, karena sesuai dengan perjanjian hari sebelumnya kami akan mengikuti ujian tengah semester (UTS) mata kuliah &lt;i&gt;Public relation.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Malam harinya kau baca semua bahan yang kumiliki. Tak cukup sampai disiutu, aku juga membuka kembali &lt;i&gt;file-file&lt;/i&gt; tugasku. “Aku harus membaca kembali tugas-tugasku, aku yakin banyak yang bisa kudapat dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;”, aku berbicara dalam hati malam itu. Membaca semuanya dan mencoba menyimpan dalam memoriku agar besok aku tidak menemui kesulitan saat UTS. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Esok harinya saat tiba di kampus, kulihat teman-temanku masih santai dipendopo (bagunan yang mirip pondok ditepi kolam, yang sekelilingnya ditanam bunga-bunga dikampus yang sering dijadikan tempat santai dan tidak jarang juga untuk tempat kuliah). Artinya belum masuk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Usai ku parkirkan motorku, langsung ku sambangi mereka yang tampak asik berbicara. “Eh belom masok ke? Jam berape kite masok ni?” tanyaku pada mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kata ibuk bentar lagi”, temanku lilis dengan suaranya yag lembut menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“O bentar lagi!” aku menyambut kata-kata Lilis dalam hati. Akhirnya aku berkumpul bersama mereka sambi membaca-baca kembali materi yang akan diujikan. Teman-temanku yang lain juga tampak mengisi waktu dengan membaca buku yang dipegangnya masing-masing. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ah lama sekali, kenapa belum masuk? Padahal aku harus cepat biar bisa langsung ke tempat pelatihan biar ngak terlalu lama telatnya”, pikiranku berkecamuk. “Duh ibuk cepetan masuk dong!, aku lagi-lagi bergumam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tak lama kemudian Bu Yaya (maksudku Ria Hayatunnur Taqwa tapi kami sering menyapanya dengan nama Yaya) dosen yang mengampu mata kuliah &lt;i&gt;Public Relation &lt;/i&gt;menghampiri kami. “Kita masuk dimana? Di bawah atau diatas? Tapi kalau bisa dibawah jak ya!”, ia menan yakan pada kami.&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Dibawah juga boleh buk!”, salah satu dari kami menjawab, tapi aku tak tau pasti siapa itu.&lt;br /&gt;“Di sinik jak Buk!”, temanku memberikan pilihan.&lt;br /&gt;“Disini juga boleh, cuma untuk menjelaskan ini bah!”, bu Yaya menegaskan sambil menunjukkan kertas yang sudah dipotong kecil-kecil ditanganya.&lt;br /&gt;Kami semua berkumpul di pendopo. Setelah semuanya mendapatkan tempat duduk, lalu bu Yaya mulai membuka kelas itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Assalamualaikum Wr. Wb. Jadi untuk UTS nya ini ada pertanyaan-pertanyaan saya mau kalian mengerjakanya sendiri, saya harap kalian tidak &lt;i&gt;copy paste &lt;/i&gt;punya teman, saya juga maunya kalian menjawab tidak hanya ya atau tidak, tapi dijelaskan”, bu Yaya berbicara dengan suara yang tidak begitu lantang. &lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“O jadi kita kerjakan di rumah ni bu UTS nya? Diketik? Tanya Zainuddin ketika mendengar penjelasan bu Yaya.&lt;br /&gt;“Ngak Zai, ditulis tangan!, ya iyalah diketik gimana she”, bu Yaya dengan nada santai tapi pasti, menagkis pertanyaan Zai dan Zai pun menganguk.&lt;br /&gt;“Udah paham semua?”, Bu Yaya kembali bertanya pada kami.&lt;br /&gt;“Udah ginik jak ni UTS kita bu?”, Sabri bertanya.&lt;br /&gt;“Ya udah maunya gimana?”, bu Yaya kembali bertanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;“Habis ini kite balek ni bu?” lagi-lagi Sabri bertanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya yang mau pulang, pulanglah! Yang mau cari bahan ya carilah!” tukas bu Yaya.&lt;br /&gt;“Saya harap kalian sunguh-sunguh mengerjakanya, dan kelas kita selesai Bilataufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Wr. Wb”. Bu Yaya mengakhiri perkuliahan hari itu lantas pergi, dan kami pun bubar melakukan aktifitas masing-masing. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku langsung pergi menuju Jl. Sumatara. Setibanya di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, aku lalu menelfon salah satu temaku. ‘Ka! Keluarlah Ambar di depanni!”.&lt;br /&gt;“Masuk jak, Yanti lagi jaga registrasi ni!”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku langsung masuk. Ketika memasuki ruangan itu, kulihat beberapa orang mondar-mandir diruangan bagain dalam. Semoga saja ini tempatnya. Aku terus berjalan dengan langkah yang ragu. Dari kejauhan, terlihat pak Haitami ketua STAIN &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Pontianak&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sedang duduk dimeja kehormatan bersama Iswardai pemilik bimbingan belajar ini yang telah kukenal sebelumnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ternyata ruangan pelaksanaanya tidak sulit untuk dilacak”, aku mendesah lega. Dibagian luar ruangan, sisi kiri dan kanan tampak beberapa orang berseragam kuning. Mereka tampak sibuk mempersiapkan banyak hal. Tak berfikir lebih lama, aku lantas masuk keruangan. &lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dimeja registrasi yang terletak di sebelah kanan pintu bagian dalam ruangan tampak ketiga teman-teman ku yang terlebih dahulu sampai ditempat itu, mereka Hardianti, Ira Humaira dan Badliana.&lt;br /&gt;“Hei sibuk ya?”, aku menyapa untuk menghilangkan &lt;i&gt;nerfous&lt;/i&gt; ku.&lt;br /&gt;“Ndak ga!”, sahut mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hampir serentak.&lt;br /&gt;“Ikutan lah! Tak nyaman ni Ambar &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; datang belakangan”, aku mendesak mereka untuk berbagi tugas dengan ku. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ambeklah kursi sanak!”, kata Badliana agak berbisik.&lt;br /&gt;Aku tak lantas mengambil kursi seperti yang Badliana perinntahkan. Ku amati hampir setiap sudut ruangan yang hampir tak berdekorasi tapi tetap tampak kesan eleganya, dengan ukiran-ukiran disekeliling dibagian tepi atas ruangan, meja yang tersusun rapi didepan sisi kiri dan kananya untuk pemateri serta panitia dan kursi yang tersusun rapi untuk peserta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kusapukan pandangan, dan kutemui sosok yang tak asing dipenglihatanku. Wanita itu mengenakan pakaian dan jilbab berwarna biru dongker yang dipadukan dengan celana panjang berwarna coklat susu. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ka! Maaf ye Ambar telat”, aku menyapa wanita itu sambil berjabat tangan.&lt;br /&gt;“Tak ape-ape, dudok lah!”, wanita yang bernama Amalia Irfani itu membalas sapaanku dengan hangat. Amalia Irfani memang sosok dosen yang hangat, bisa diajak bersahabat bahkan tak sedikit mahasiswanya yang menyapanya dengan sapaan kakak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tak beberapa lama setelah berbincang-bincang dengan ku, K Fani lantas berpamitan denganku. “Kakak kedepan lok ye! Bang Dani nyuruh kakak jadi operator”, ia pun langsung menuju bangku yang telah tersusun rapi di depan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku masih bertahan ditempatku, tapi itu tak lama. Aku merasa tak nyaman duduk sendiri lantas menuju bangku dibelakang dimana ketiga temanku duduk disana. Hanya ada tiga kursi disana, tapi dasar aku yang keras kepala tak mau mengalah walaupun posisiku lebih rendah dikampus (adik tingkat).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tak peduli dengan komplen ketiga temanku, yang sedari tadi menyuruhku mengambil kursi, tapi aku tak mengubrisnya dan aku pun langsung duduk diantara mereka bertiga. Kami bertiga ikut menyimak dengan seksama meteri yang disampaikan oleh Iswardani hari itu. Banyak sekali hal yang didapatkan dalam pelatihan itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kami bertiga sempat menemui titik kejenuhan hari itu. Tapi hal itu tak lagi kami rasakan ketika kami mendapatkan cara baru untuk mengasah kemampuan dalam menguasai kosa kata. Sore itu peserta diajak untuk bermain &lt;i&gt;key words &lt;/i&gt;(kata berantai). Peserta di bagi-bagi menjadi beberapa kelompok dan dipimpin oleh instruktur yang bertugas mengarahkan peserta dalam memainkan permainan itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kami memang tak bergabung diantara peserta lainya. Tapi kami juga melakukan game tersebut ditempat duduk kami. Keasiyikan kami dapatkan saat itu dan keasikan tersebut kami rasakan hingga hari terakhir pelatihan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8575616814332776792?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8575616814332776792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8575616814332776792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8575616814332776792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8575616814332776792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/05/sabtu-minggu.html' title='Sabtu Minggu'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SCqvIeZqvzI/AAAAAAAAAGU/vgwVHy7BlUc/s72-c/21795289520585l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-7049750501864690064</id><published>2008-05-14T02:08:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T02:16:34.282-07:00</updated><title type='text'>Hari ni......</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Kami Hari Ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ambaryani &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;Berawal dari rencana mengunjungai salah satu rekan yang baru saja berubah statusnya menjadi seorang ayah dari anak pertamanya. Akhirnya kami Erni, Ira, Badliana, Yanti dan aku (Ambaryani) juga dosen kami Yusriadi rabu 2 April 2008, usai mengikuti kelas &lt;i&gt;feature&lt;/i&gt; di smester VI kami mahasiswa sekaligus dosen kami berangkat menuju rumah Baharudin Isa, itu nama rekan kami. Rencana itu sudah ada beberapa hari sebelum hari H. Kami berangkat dari kampus kurang lebih pukul 14.15. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hal yang membuat kami tertawa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;geli. Kami mahasiswa berjumlah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; orang dan hanya ada dua motor. Itu artinya ada satu orang yang tidak bisa ikut lantaran kendaraan yang tidak cukup. Badliana pada awalnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan akhirnya &lt;i&gt;tanjal&lt;/i&gt; tiga, maksudku Badliana membawa dua orang sekaligus di motonya. &lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami Yanti, Erni dan Badliana berseloroh.&lt;br /&gt;“Te (pangilan akrab Ira), kayaknya Tante dengan pak Yus lah”.&lt;br /&gt;“A… ndak lah masak Ira sih yang harus degan pak Yus?”, Ira membela diri.&lt;br /&gt;“Tadak ape-ape bah Te!” Tapi tetap saja Ira menolak pergi bersama pak Yus.&lt;br /&gt;Sesampainya di depan p3m, salah satu bagian dari akademik, akhirnya benar dugaan kami. Pak Yus yang menyaksikan ulah Badliana dkk, lantas berkata.&lt;br /&gt;“Siniklah satu dengan saya, masak kalian tanjal tiga (mengendarai sepeda motor dengan tida orang sekaligus)?”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Awalnya Ira menolak, tapi Ira tak bisa berbuat banyak selain pasrah pergi bersama pak Yus. Kami faham mungkin Ira yang berstatus mahasiswa merasa sungkan pergi bersama dosennya. Hampir disepanjang jalan kami menangkap singnyal-singyal tidak nyaman dari Ira yang duduk dibelakang pak Yus. Sesekali kami mengodanya dengan isyarat agar kecangungan itu bisa mencair, tapi tetap saja Ira tampak tidak nyaman. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami tidak langsung menuju ke tempat tujuan melainkan mampir terlebih dahulu di es teller yang letaknya disamping masjid Mujahidin, menikamti es teller terlebih dahulu. Disitu kami duduk di dua meja yang telah disatukan oleh dosen kami Yusriadi yang sama-sama pergi karena memang kunjungan ini pada dasarnya ide dari beliau. &lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku yang terlebih dahulu memarkirkan motor, langsung mengambil posisi yang ku angap nyaman. Aku ambil posisi diujung bersebrangan dengan pak Yus. Seperti yang ku duga, kawan-kawan tidak ada yang berani duduk disamping pak Yus. Mereka duduk merapat dari posisiku duduk waktu itu. Mereka tidak takut pada pak Yus, akan tetapi ada kecangungan dari mereka yang sangat tampak, biasanya pak Yus bersama-sama mereka dalam situasi yang formal didalam kelas, dan kini tiba-tiba duduk di satu meja dan minum es sama-sama. Diluar kebiasaan dan itu hal yang luar biasa.&lt;br /&gt;Aku berbisik pada keempat temanku saat pak Yus memesan es pada penjual, “Eh kitak ni! Ngape pulak dempet-dempet Ambar ni?” Sanaklah sikit”. Apa jawaban mereka, “ndak lah sinik jak”.&lt;br /&gt;Pada awalnya pak Yus hanya memesan es teller saja, tapi akhirnya pak Yus juga memesan makanan “haikeng” namanya. Makanan sejenis sosis, tapi bentuknya tidakm mirip, tapi dari bahan dasar dan rasanya mirip sekali dengan sosis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menikmati es teller di siang hari, pastilah memiliki kemikmatan tersendiri. Saat kami menikmati es kami masing-masing Ira yang selalu menjadi bulan-bulanan kami, maksudnya menjadi bahan pembicaraan. Ya Ira memang memiliki kebiasaan yang unik dan berbeda dari kami, dan itu lah yang sesekali membuatnya salting (salah tingkah). Disitu kami membicarakan banyak hal yang pasti bukan berbicara mengenai hal yang berhubungan dengan mata kuliah. Dari membicarakan mengenai cidera mata yang kami bawa yang menurut Yanti, cara membungkusnya menyalahi nilai estetika. Yanti yang memang sedang tergila-gila dengan sastra, perbuatanya dan apa yang dikatakanya sarat dengan nuansa sastrawi, walau kadang hal itu membuat aku khususnya jengkel. Mengapa tidak? sedikit-sdikit menyalahi nilai estetika, padahal Yanti sendiri tidak begitu akrab dengan nilai estetika itu, terlebih jika melihatnya ekspresi wajah tidak berdosa Yanti saat melontarkan kata-kata estetikanya. &lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami mulai melanjutkan perjalanan pukul 14.45 dan langsung menuju tempat tujuan utama. Rumah Baharudin berada di kawasan Kota Baru tepatnya Jl. Soetomo Komplek Batara Indah 4. Aku yang awalnya berada didepan saat memasuki komplek Batara Indah mulai memperlambat laju kendaraan bermotorku.&lt;br /&gt;“Ka! Kayaknya Pak Yus lah yang harus duluan, kali ini bapak yang jadi penunjuk jalan”, aku bertutur pada Yanti yang duduk manis dibelakangku.&lt;br /&gt;“Iya kita ikutin aja”, ujar Yanti.&lt;br /&gt;Tak berapa lama memasuki komplek Batar Indah 4 pak Yus berbelok kesalah satu blok. “No berapa ya ka rumah bang Bahar?”, tanyaku pada Yanti.&lt;br /&gt;“Yanti tengok lok ye! O…no 35C”. Tak berapa lama setelah Yanti berbicara, pak Yus sudah mulai memperlambat laju kendaraanya.&lt;br /&gt;“O….ni dia, dah sampai Ka!”, aku berkomentar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Assalamualaikum!” pak Yus mengucapkan salam didepan pintu dan kami pun menyusul dibelakang beliau. Tak begitu lama, Bang Baharudin muncul dari dalam rumah dengan raut wajah terkejut melihat kedatangan kami.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Ayok…ayok masuk! Silahkan”, Bang Baharudin mempersilahkan kami masuk kerumahnya, rumah yang meningalkan kesan sangat sederhana itu. Aku suka dengan situasi rumah bang Baharudin. Meskipun rumah itu jauh dari kata wah, tapi dengan beberapa tanaman bunga maupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sayuran yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada didepan dan samping rumahnya menimbulkan nuansa asri. Ya halaman rumah Bang Baharudin rapi dan bersih, pasti salah satu dari mereka pasangan sumi istri atau keduanya rajin berbenah rumah dan halamanya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami masuk kedalam rumah dan duduk dilantai karena tidak muat kalau duduk dikursi yang ada dan tepatnya kami berkumpul diruang tengah.&lt;br /&gt;Disana tampak istri bang Baharudin yang duduk disamping anak mereka dan menyambut kedatangan kami dengan jabatan tangan dan senyuman. Masih tampak rasa lelah yang tersisa pasca melahirkan anak pertama dari wajah ibu dari anak bang Baharudin yang diberi nama “Barita Lailatul Qadri Firdausi Nuzula”. Tapi raut wajahnya yang tampak lelah terhapus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan kebahagiaan atas kehadiran anak pertamanya yang lahir dalam kondisi normal. Kebahagiaan pasangan suami istri ini sangat ketara.&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Minum lah!”. Bang Baharudin mempersilahkan kami meminum aqua gelas yang diambilnya dari kotak yang berada dibelakngnya.&lt;br /&gt;Mbar ambil piptnya”. Bang Baharudin memintaku mengambil pipit yang ada diatas meja dan meja itu tepat berada disebelah kiriku. Aku sempat salah tafsir, aku hampir menggapaikan Hp yang juga berada diatas meja, tidak tahu jelas mereknya apa,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tapi yang pasti Hp itu berwarna putih. Aku sempat bingung, apa yang dikatakan bang Baharudin karena kau saat itu sedang asik mengawasi bayi kecil yang tidur dipangkuan ibunya.&lt;br /&gt;“Apa bang?” Aku bertanya meyakinkan apa yang bang Bahar tanyakan pada ku.&lt;br /&gt;“Ambilkan pipt diatas meja tu!”.&lt;br /&gt;“O…..pipit aqua!” aku menghela lega. Duh kenapa jadi ngak nyambung gini ya?” aku menyembunyikan kebingunganku.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian pak Yus mulai membuka pembicaraan, bertanya seputar bagaimana pengalaman mendampingi istri melahirkan dan bagaimana melalui saat-saat mendebarkan itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bang Bahar kemudian menceritakan dengan detail dan penuh ekspresi. Mulai dari beberapa hari menjelang kelahiran sang jabang bayi. Bang Bahar menceritakan kondisi yang dialaminya, kekhawatiran stadium awal hingga kekhawatiran stadium akhir. Tapi sayang pak Yus, bang Bahar maupun kak Ita mengunakan bahasa Kapuas Hulu, hingga kami yang ada disitu aku khususnya menjadi pendengar setia, hanya beberapa topik pembicaraan saja yang dapat aku fahami maknanay. Kalaupun aku tahu, tapi apa yang aku ketahui pasti rumpang maknanya karena ketidak fahaman ku dengan dialek yang mereka gunakan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Itu lah bang! Beberapa hari sebelum istri melahirkan tu, hp saya tak bisa dihubungi, ya memang sudah rusak, saya coba-coba perbaiki sendiri, tapi al-hasil hp nya meledak dan tambah rusak, Hp yang satunya pun begitu juga, tak bisa digunakan, padahal diwaktu-waktu genting seperti itu Hp kami perlukan untuk menghubungi orang-orang terdekat” bang Bahar memulai pemaparanya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kami yang ada disitu tertawa mendengar apa yang dituturkan oleh bang Bahar.&lt;br /&gt;Bang Bahar juga bercerita bagaimana tentang kondisi istrinya yang saat itu tensi darahnya tidak stabil 150/90, dan kondisi itu tidak baik untuk ibu yang akan melahirkan. Aku tak bisa memaparkan apa yang dikatakan bang Bahar dengan sempurna karena aku tak mendengar dan mengerti dengan jelas apa yang bang Bahar katakan. Yang pasti saat itu kepanikan mulai meningkat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bang Bahar juga memaparkan bagaimana saat-saat menegangkan detik-detik kelahiran buah hatinya. Rumah sakit Bayangkara meruakan alternatif terakhir dimana Zula (pangilan anak bang Bahar) dilahikan, dengan mlalui banyak pilihan. Setelah melewati serentetan aktifitas lain yang dilakukan sang ayah ini, akhirnya sesampainya bang Bahar di rumah sakit tersebut, putrinya telah lahir dengan selamat. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Benarkah ini anak ku? Aku sekarang sudah jadi bapak?” Bang Bahar mengaku saat itu ia sedikit tidak percaya saat melihat bayi kecil, mungil dan lucu yang ada dihadapanya dan itu adalah anaknya.&lt;br /&gt;Ternyata kepanikan bang Bahar belum usai. Bang Bahar lanbtas menanyakan pada petugas rumah sakit yang mengendong bayinya, “Bayi saya normal &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; dokter? Lengkap semua anggota badanya?”. Maklumlah bang Bahar selama ini mengaku sangat mendambakan kehadiran momongan dalam rumahtangganya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tak terlalu lama, kemudian kak Ita istri bang Bahar menawarkan kepada kami, siapa yang ingin memapah anaknya? Aku langsung berkata “Saya lah Ka!” aku langsung bersuara, sedangkan kawan-kawan yang lain terdiam melihat tingkahku, saat aku hendak mengendong bayi yang baru berusia 15 hari itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saat bayi itu ada dipangkuan ku, aku tak lagi fokus dengan apa yang dibicarakan oleh pak Yus, bang bahar dan istrinya. Malah aku ansyik mengamati bayi itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Kawan-kawanku yang lainya hanya menyaksikan aku yang asyik dengan bayi mungil itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sesekali aku coba menyimak apa yang sedang dibicarakan, tapi lagi-lagi aku tak nyambung. Hingga akhirnya tak lama setelah adzan ashar usai berkumandang, pak Yus mengajak kami pamit melanjutkan perjalana kami menuju rumah kami masing-masing alias pulang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ku lepaskan bayi itu dari pangkuanku dan bayi itu kemudian menempati tempat yang telah disiapkan khusus untuknya. Setelah kami berpamitan dengan bang Bahar serta istrinya satu persatu dari kami menciumi pipi bayi yang masih merah itu dan setelah itu kami pulang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;****************************&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-7049750501864690064?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/7049750501864690064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=7049750501864690064' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7049750501864690064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7049750501864690064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/05/hari-ni.html' title='Hari ni......'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-6444712633924452025</id><published>2008-05-13T06:39:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T01:06:30.689-08:00</updated><title type='text'>One Day</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SCmb1OZqvyI/AAAAAAAAAGM/W4SABOlyDJQ/s1600-h/Donald_duck_stor_121201c.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SCmb1OZqvyI/AAAAAAAAAGM/W4SABOlyDJQ/s400/Donald_duck_stor_121201c.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199858583477075746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;One day &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;One day &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;selasa 26 feb 2008&lt;br /&gt;Ternyata benar, kebersamaan bisa menanmbah sesuatu yang beda dalam ukhuwah. Lama tak kunikmati kebersaan bersama sahabat-sahabatku, yah sahabat yang tergabung dalam lembaga perss mahasiswa. Mungkin karena kami disibukkan dengan aktifitas dan rutinitas masing-masing. Maklumlah minggu-minggu ini adalah momentum liburan dikampus Stain Pontianak. Banyak juga sih teman lain yang tak bisa menikmati kebersamaan hari ini. Ada yang sedang menikmati liburan dikampung halaman masing-masing ada juga yang jadwalnya masih padat (artis kali ye???). Tapi liburan kali ini memang berbeda. Aku yang biasanya mengisi liburan dengan menambah daftar kerjaan ku untuk menambah unag saku (mumpung liburan, jadi habiskan waktu cari sesuatu he....), tidak ada lagi aktifitas itu di liburan kali ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kami di LPM begitu sapaan akrab lembaga perss mahasiswa, sedang sibuk mempersiapkan gawean yang telah kami rencanakan untuk menutup hari libur kali ini.hampir setiap hari hadir di kampus, walaupun sesekali rasa malas mengelayuti, (coz kampus sepi semua pada liburan). 07.30 sekretariat kami LPM yang sembari tadi sepi yang ada hanya aku sendiri yang sedang merampungkan tulisan artikelku didepan komputer dan diiringi lagu yang ku putar lewat winamp di komputer antik kami. Tak lama kemudian mulai muncul satu persatu. Awalnya Zainudin ketua panitia dalam kegiatan kami kali ini. Aku tetap asik melanjutkan kegiatanku dan sesekali ku sapa Jai (sapaan Zainudin). Begitu juga Jai ia sesekali melontarkan pertanyaan pada ku. Beberapa waktu kemudian Iyan, K Erni dan Septian muncul didepan pintu. &lt;i&gt;Assalamualikum &lt;/i&gt;mereka mengucapkan salam. Kami menjawab dengan nada datar (biasa aja). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                                                      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka tak terlalu mengambil pusing respon kami, langsung mereka bergabung di depan komputer yang telah aku dan Jai kuasai (kawasan jajahan kali dikuasai!). bincang-bincang lepas sebelum akhirnya kami membicarakan kegiatan pelatihan jurnalistik untuk remaja masjid se-kota Pontianak. Yang terakhir muncul dari balik pintu adalah satu ssok yang tak asing lagi bagi kami.&lt;br /&gt;“&lt;span style=""&gt;Assalamualaikum sambil berseloroh”, K &lt;/span&gt;Yanti yang datang, Pimred kami.&lt;br /&gt;“Wih emang beda ya kalau orang yang hobinya ngander n lelet tu”,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;aku mengoda K’ Yanti yang saat itu belum sempat melepaskan sandalnya dan masuk keruangan.&lt;br /&gt;“E sembarangan, enak aja! Dasar ni adek tingkat tak sopan&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Masak KK tingkat di gitukkanya!”,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;begitu biasanya K Yanti membalas godaanku, gak ada fariasai! Whe... he...he....jangan ngamok ye kalau baca ni!).&lt;br /&gt;“Biarin, emang iya kan KK paling hobi telat, kamek dah dari tadik pagi datang, E die nyaman jak dateng siang! Taip hari lagi’ tu!”&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;lanjutku.&lt;br /&gt;“&lt;span style=""&gt;Dasar emak-emak cerewet, laen gak kan?”. &lt;/span&gt;timpalnya.&lt;br /&gt;“&lt;span style=""&gt;Ah biasa aza semua orang juga tahu kalau Ambar tu.......E......!!!”,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;belum sempat aku melanjutkan K Yanti langsung menyerang.&lt;br /&gt;“&lt;span style=""&gt;Cerewet maksudnya!”.&lt;i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gak tahu juga KK tingkat yang satu tu lebih arab mengenal Ambar sebagai adek tingkat yang cerewet, mungkin karena Ambar sering beleter sama dia kali ya? &lt;span style=""&gt;Tapi mane duli, emang die tak genah&lt;/span&gt; (dalam hal-hal tertentu) &lt;span style=""&gt;maunya kenak leter melulu, udah tau punya adek tingkat yang bawel abiz&lt;/span&gt;, aku mencoba tak hirau dengan semua itu. Tapi K Yanti walaupun kelihatan agak sangsot, Aku nyaman dekat dengannya, kerena menurutku dia punya seseuatu yang lauar biasa yang tak bisa kudapatkan dari teman atau KK tingkat yang lain.&lt;br /&gt;“Dah...dah kitakni asal ketemu pasti tak akor, tapi kalau tak ade becarik! Kite ni nak genahkan proposal jugak surat-surat yang laen, tinggal berape hari agik kegiatan kami ni?”,&lt;i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;K Erni yang sering disapa mak Erot oleh teman-teman LPM.&lt;br /&gt;Habis debat ngalor ngidul kami langsung fokus ngurus semua yang harus diselesaikan hari ini. Jai dan K Erni pergi ke Kopma untuk foto copy proposal dan kami melanjutkan perbincangan.&lt;br /&gt;“&lt;span style=""&gt;Dah ni, proposal dah kamek foto copy”,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;teriak mak Erot.&lt;i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah cepetan masok&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;” aku menyuruh mereka segera masuk.&lt;br /&gt;Yang lain sibuk melipat surat dan menulis nama-nama masjid yang akan kami berikan undangn, sedangkan aku masih asik didepan komputer. Tak lama kemudian aku turun tangan juga (he....he....). Sampai pada sesi bagi tugas mengantar undangan. Jai sudah terlebih dahulu memilih undangan yang ia rasa bisa dijangkaunya.&lt;br /&gt;“ &lt;span style=""&gt;E yang laen cepetlah kite bagi tugas”,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;K Erni menyuruh kami membagi tugas sambil memegang undangan yang telah selesai ia tulis satu persatu.&lt;br /&gt;“E tak bise ni pembagiannya, masak Ambar dapat tugas yang paling banyak? Dari ujung keujung lagi tu! Proposal pun Ambar dapat gak”,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;protesku pada teman-teman yang membagikan tugas.&lt;br /&gt;“E kan satu arah!”&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Iyan dan Septian meledekku sambil tertawa. Tiba-tiba muncul Suwadi didepan pintu. Aku langsung mendatanginya.&lt;br /&gt;“Su! Usu bagi tugas dengan Ambar ye! Amabar terlalu banyak ni tugasnya takut kewalahan”, kataku tanpa basa basi.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Suwadi yang tak tahu apa-apa menerima tugas itu tanpa komentar satu pun kecuali angukan kepala.&lt;br /&gt;“Dah selesai?”, &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;tanya Iyan.&lt;br /&gt;“&lt;span style=""&gt;makan yok kite!&lt;i&gt;”, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;kata Iyan menyambung pembicaraan.&lt;br /&gt;“Makan dimane n siape yang nak jamin? Iyan ke?”,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;tanya teman-teman hampir serentak. “&lt;span style=""&gt;Makan bareng tapi bayar sorang-sorang lah!&lt;i&gt;” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;Iyan kembali membela.&lt;br /&gt;“Kalau maok kite makan di rumah Iyan, ade mi sedap, milo dll”&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Iyan promosi.&lt;br /&gt;“Jaoh ndak rumahmu tu?&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;” tanyaku dan teman-teman.&lt;br /&gt;“Tadak dekat bah di Tajnjung Raya II&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;” Iyan meyakinkan. Awalnya Jai n septian menolak ajakan Iyan, tapi setelah di intimidasi oleh K Erni &amp;amp; K Yanti akhirnya mereka kalah dan pasrah tak berkutik. Kami akhirnya langsung memacu kendaraan roda dua kami menju Jl. Tanjung Raya. Kali ini bukan Iyan yang menjadi pemandu Jl, melainkan aku. Ada hal yang luar biasa, salah satu teman kami (Septian), tak terseteksi alias kehilangan jejak. “&lt;span style=""&gt;Mane Septian?”&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;tanya Iyan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;span style=""&gt;Tak tahu kemane ilangnye”,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; kataku.&lt;br /&gt;Rupanya dia hilang, hampir sampai ke toll 2. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Teman kemi yang satu itu memang agak beda. Tapi tak begitu lama dia muncul juga.&lt;br /&gt;Kami melanjutkan lagi pejalann kami menuju rumah yang belum kami ketahui dimana letaknya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sambung lagi entar!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-6444712633924452025?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/6444712633924452025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=6444712633924452025' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/6444712633924452025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/6444712633924452025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/05/one-day.html' title='One Day'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SCmb1OZqvyI/AAAAAAAAAGM/W4SABOlyDJQ/s72-c/Donald_duck_stor_121201c.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-3683511644811242366</id><published>2008-05-13T06:13:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T06:23:19.323-07:00</updated><title type='text'>?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                                                  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Tuhan engkau ciptakan aku &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Engkau hadirkan aku diduina ini &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ditengah orang-orang yang begitu menyayangiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih Tuhan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kau izinkan mereka begitu menyangiku &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Iziznkan juga akau untuk menyayangi mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tuhan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kau izinkan mereka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Memberikan apapun yang bisa mereka berikan untukku &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Izinkan pula aku bisa mempersembahkan yang terbaik untuk mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tuhan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bantu aku untuk bisa menjadi yang terbaik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Untuk orang-orang yang telah memberikan kasih tulusnya untukku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku mereka anggap bagaikan sebatang pohon &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka menamaiku pohon harapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mereka senantiasa menjagaku agar aku tumbuh subur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga berharap agar aku memiliki batang yang kokoh untuk Menopang ranting-rantingnya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku harus memiliki akar yang kuat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Agar aku tak tumbang jika sewaktu-waktu angin menerpaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ku tau Tuhan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mereka menaruh harapan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pohon harapannya akan menjadi pohon yang memiliki daun yang rindang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dan semua orang bisa merasakan teduh saat berada dibawahnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Izinkan aku bisa sertai aku dalam perjuanganku Tuhan...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-3683511644811242366?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/3683511644811242366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=3683511644811242366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3683511644811242366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3683511644811242366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/05/blog-post.html' title='?'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-443936460923317879</id><published>2008-04-03T19:21:00.000-07:00</published><updated>2008-04-03T19:26:03.447-07:00</updated><title type='text'>Kekaguman</title><content type='html'>KEKAGUMAN&lt;br /&gt;Oleh : Ambaryani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah lagi-lagi aku terkecoh dengan perasaanku&lt;br /&gt;Aku begitu menginginkanya&lt;br /&gt;Aku begitu menyanjung kehebatanya&lt;br /&gt;Aku begitu takluk dan tunduk pada pesonanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi beberapa malam terakhir aku tak karuan&lt;br /&gt;Karena aku tak menjumpainya saat malam menjelang &lt;br /&gt;Aku juga tak melihat ia berbinar &lt;br /&gt;Dan yang pasti aku tak bisa bercerita tentang hidup denganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam ku nanti kehadiranya&lt;br /&gt;Aku tak bosan terus menantinya&lt;br /&gt;Aku tak henti berdoa &lt;br /&gt;Agar Tuhan senantiasa mengizinkanya &lt;br /&gt;Untuk menemaniku dan menghabiskan malam bersamaku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bercerita denganya saat ia mulai menghiburku dengan pesonanya&lt;br /&gt;Saat aku bisa menyaksikan kehadirannya dihadapanku,&lt;br /&gt;Aku ingin berbagi kabar gembira ini pada semua orang&lt;br /&gt;Aku juga ingin orang lain bisa merasakan kebahagiaan seperti yang sedang ku rasakan ini&lt;br /&gt;Aku ingin berteriak dan mengatakan jika aku begitu beruntung dan bahagian bisa terus Mengagumi, menikmati indahnya BINTANG yang mampu memberikan keindahan pada Gelapnya malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG ku letakkan kau pada posisi yang sepesial di hatiku&lt;br /&gt;BINTANG jika kau tahu aku adalah salah satu insan yang akan selalu mengagumi mu&lt;br /&gt;TUHAN betapa maha agungnya Kau yang mampu menciptakan &lt;br /&gt;BINTANG dengan segala pesona yang dimilikinya&lt;br /&gt;TUHAN tak salah jika aku meletakkan Mu pada posisi yang teristimewa dihatiku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-443936460923317879?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/443936460923317879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=443936460923317879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/443936460923317879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/443936460923317879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/04/kekaguman.html' title='Kekaguman'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-2794139988643206664</id><published>2008-03-28T18:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-28T18:52:17.773-07:00</updated><title type='text'>Young Generation</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Young Generation&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;            Membangun suatu daerah tidaklah cukup hanya dengan membangun sarana prasarana atau membangun infrastrukturnya, ataupun adanya gagasan atau ide cemerlang yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan suatu daerah. Jika berbicara mengenai pemenbangunan daerah ataupun bangsa erat kaitanya dengan pemuda  yang ada didalamnya. Pemuda merupakan aset yang sangat penting untuk mewujudkan pembangunan. Selain itu pemuda atau generasi penerus meupakan elemen yang perlu mendapatkan perhatian khusus dan perlu adanya usaha yang optimal agar pemuda bisa menjadi generasi yang tepat guna. Tepat guna, dalam artian bisa menjadi pemuda yang memberikan peran positif bagi lingkungannya baik dalam ruang lingkup yang sempit maupun luas.&lt;br /&gt;            Sudah saatnya pemuda mampu memberikan dan menciptakan citra positif bagi dirinya dan lingkungan. Jika yang sering dilihat dan dikenal selama ini, pemuda memiliki citra negative dengan maraknya kasus narkoba dan sex bebas dikalangan remaja. Kasus-kasus seperti itu pastinya akan memberikan citra buruk pada individu pemuda atau remaja itu sendiri dan akan mempengaruhi perkembangan diri serta menghambat perkembangan daerah (Kalimantan Barat). Perkembangan Kalimantan Barat akan terhambat jika pemuda yang ada didalamnya mendekati kata punah dan tidak adanya regenerasi.&lt;br /&gt;Dalam suatu sistem organisasi atau pemerintahan sangat penting dilakukan regenerasi atau pergantian kepengurusan. Inilah kondisi rill yang ada dilapangan. Masa kepemimpinan atau jabatan yang diduduki oleh seseorang dibatasi oleh masa jabatan. Setelah itu siapa lagi yang akan mampu memberikan perubahan kalau bukan pemuda, terlebih jika generasi penerusnya tidak memilki masa depan yang jelas. Remaja merupakan embrio yang potensial sekaligus bibit kehancuran yang membahayakan. Pemuda bisa menjadi embrio atau bibit yang potensial jika peran pemuda bisa dioptimalkan dan tidak menutup kemungkinan pemuda menjadi bibit yang tak mapu menyumbangkan jasanya untuk perkembangan  daerahnya sendiri atau bahkan menjadi faktor utama terpuruknya suatu daerah.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan pemuda yang potensial terdapat banyak cara dan jalan agar pemuda dapat menjalankan tanggung jawab dan fungsinya secara optimal. yang mungkin belum dioptimalkan. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah membudidayakan membaca dan menulis dikalangan pemuda itu sendiri.&lt;br /&gt;Budaya membaca dan Budaya menulis&lt;br /&gt;            Tidak jarang budaya membaca yang memiliki nilai positif bergeser retingnya dibandingkan dengan budaya lain yang sedang digandrugi oleh pemuda, salah satunya adalah musik. Pemuda berlomba-lomba menekuni dunia musik. Menekuni ataupun mengemari budaya lain bukanlah hal yang salah selama budaya tersebut tidak mengurangi minat pemuda untuk membaca. Seperti slogan yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari menegenai membaca adalah “dengan membaca kita membuka jendela dunia”.&lt;br /&gt;            Membaca menjadi suatu alternative yang ampuh untuk menyiasati kedangkalan pengetahuan yang dimiliki. Karena dengan membaca tidak hanya wawasan yang didapatkan, tetapi informasi-informasi yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Kegiatan membaca tidak hanya dibatasi pada buku, ataupun literature yang formal. Tetapi bahan bacaan sangatlah berfariasi, mulai dari koran yang memuat hal-hal yang up to date, majalah yang menyediakan ragam informasi yang beragam, buku yang juga memiliki jenis atau focus yang sangat banyak baik itu buku mengenai kehidupan politik, sosial, pendidikan ekonomi dan lain sebagiainya.&lt;br /&gt;Menumbuhkan minat baca dikalangan pemuda bukanlah hal yang terlalu rumit. Tahap awal mulai tumbuhkan minat baca dengan membaca buku-buku yang diminati. Setelah minat baca itu tumbuh, setelah itu alihkan minat baca tersebut pada jenis dan ragam buku yang berfariasi.&lt;br /&gt;Usaha untuk menumbuhkan minat baca juga bisa lakukan dengan banyak cara. Tidak sedikit sekolah atau perguruan tinggi yang menerapkan sistem diskusii dalam pembelajarnya. Dengan pola pendidikan yang seperti itu, menuntut peserta didik untuk mengetahui banyak hal dari buku-buku atau sumber lain mengenai permasalahan yang sedang dibicarakan. Selain itu sarana dan prasarana perpustakaan yang mampu memenuhi kebutuhan buku yang diperlukan untuk dijadikan bahan bacaan.&lt;br /&gt;            Minat baca seseorang bahkan bisa terlihat dari perkataan yang digunakan untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Katakana saja pemuda atau seseorang yang memiliki minat baca, dalam mengungkapkan argumen, selalu ada landasan keilmuan yang digunakan untuk memperkuat argumenya, minimal menmbandingkan apa yang orang lain bicarakan dengan apa yang pernah dibacanya. Jika budaya membaca sudah mampu ditumbuh suburkan, maka tidak akan ada lagi tindakan pembodohan atau penindasan pola pikir, karena banyak hal yang bisa memberikan beck up secara tidak langsung.&lt;br /&gt;            Kalimantan Barat memang sedang tidak dalam masa penjajahan, akan tetapi unsur-unsur penjajahan masih ada. Tidak hanya di Kalimantan Barat, akan tetapi didaerah lain hal ini juga terjadi. Penjajahan atau penindasan yang dimaksud disini adalah dalam hal pemikiran atau pola pikir. Pola pikir yang dipakai oleh pemuda Kalimantan Barat, banyak dipengaruhi oleh pemikiran kapitalis. Hal ini terjadi karena dari segi pengetahuan mengenai hal itu, tidak dimiliki dan jika terjadi hal-hal serupa tidak mengetahuinya dan akan terus berjatuhan korban dalam perang pemikiran dan suramlah masa depan Kalimantan Barat jika itu terjadi pada kalangan pemuda mayoritas.&lt;br /&gt;            Jika budaya membaca merupakan back up diri pemuda, menulis merupakan bukti dari ilmu yang dimilki atau memperkuat argument yang hanya perkataan kepada tulisan. Pemuda tidak hanya dituntut bisa berbicara untuk menyampaikan aspirasi yang luar biasa brilian, tapi ada cara lain yang lebih relative lebih efektif yaitu dengan menulis. Jika dengan berbicara pemuda hanya mampu menjangkau seratus audien, dengan menulis target yang didapatkan bisa lebih dari itu karena dengan menulis jagkauannya cukup luas. Selain itu dengan menulis pemuda dididik untuk bisa mempertangung jawabkan apa yang dituliskannya, bukanlah “lempar batu sembunyi tangan”, dalam artian berbicara tanpa brani mempertangung jawabkannya.&lt;br /&gt;Tidak hanya cukup dengan membaca saja untuk memberikan perubahan yang berarti bagi daerah ini. Selain itu dengan menulis pemuda juga bisa memberikan peran dalam mengembangkan daerah ini. Menulis di kalangan pemuda bukanlah hal yang tabu lagi dan dunia menulis tidak dibatasi oleh usia serta pangkat. Bahkan jika dalam usia yang relative muda sudah mampu menkuni dunia tulis menulis, itu artinya Kalimantan Barat memiliki tunas baru yang akan menghasilkan ranting yang kuat dan akan memperkokoh berdirinya pohon yang semakin tinggi. Jika membaca dan menulis sudah bisa menjadi hal yang biasa dan akrap dikalangan pemuda khususnya dan masyarakat umumnya itu suatu pertanda masyarakat yang memiliki budaya yang tinggi.&lt;br /&gt;Budaya membaca dan menulis dikalangan pemuda umumnya dan pemuda intelektual (mahasiswa) khususnya selayaknya menjadi hal yang dikedepankan. Sebagai kaum pemuda intelektual atau mahasiswa dunia membaca adalah hal yang selalu digelutinya, akan tetapi tidak sedikit pula mahasiswa yang hanya belum menumbuhkan kesadaran akan pentingnya budaya membaca dan menulis. Dengan budaya menulis mahasswa bisa menuangkan aspirasinya dalam tulisan dan kemudian dipublikasikan. Jika ini bisa dilakukan, kemungkinan budaya demo dikalangan mahasiswa tidak akan ada lagi, karena ada cara lain yang lebih efektif untuk menyalurkan aspirasi dengan menulis. Tidak akan ada lagi kegiatan demo yang tidak jarang berujung pada perkelahian atau identik dengan tindakan anarkis dan kurangnya mengedepankan etika atau sopan santun. Menyampaikan aspirasi dengan menulis adalah tindakan yang bisa dilakukan dan lebih efesien. Budaya inilah yang mulai saat ini sudah harus kita tumbuh kembangkan kemudian lestarikan dan dengan cara itu pula kita sebagai pemuda bisa memberikan peran kita untuk membangun Kalimantan Barat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-2794139988643206664?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/2794139988643206664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=2794139988643206664' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/2794139988643206664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/2794139988643206664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/03/young-generation.html' title='Young Generation'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-4584796751046042435</id><published>2008-03-19T23:40:00.000-07:00</published><updated>2008-12-10T01:06:30.914-08:00</updated><title type='text'>Lagi - Lagi Terjadi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Selasa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;dan Rabu Malam ……&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lagi-lagi kali ini, malam ini aku bingung sendiri. Bener kata guruku “&lt;i&gt;kalau keseringan sks dalam melakukan aktifitas, siap-siap jadi oarng stress”. &lt;/i&gt;Hal itu lagi-lagi terjhadi. Aku sebenarnya males baget mengerjakan sesuatu sks. Karena memang capek sendiri. Bukan hanya badan yang terasa capek karena harus lembur, optak juga cuapek banget karena dipaksa-paksa untuk mikir. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Entah kenapa ya! Kok kali ini jadi sks. Padahal untuk membuat karya tulis ilmiah (KTI) untuk lomba di HMJ Tarbiah ini, aku udah mulai dari sejak aku mencatat persyaratan untuk mengikuti lomba ini, ya beberapa hari yang lalu, karena memang baru itu aku baca pengumumannya, aku tau pengumuman itupun lagi-lagi dari guruku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Referensi baik buku maupun data-data dari internet sudah aku kumpulkan, tapi untuk merangkainay menjadi sautu karya tulis ilmiah belum juaga ku lakukan. Aku hanya baru membuat kerangkanya saja. Apa-apa yang akan ku bahas dalam makalah itu, secara garis besar udah ku plaining dan sudah ter save&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa hari lalu. Hari senin aku udah muali menyentuh kerangkan KTI itu. Tapi lagi-lagi kutingalkan lembaran paper itu sampai pada pendahuluan, itupun gak selesai. Ya masih ada beberapa hari, mungkin aku ga usah terlalu maksa dulu. Aku kembali tenag dan santai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hingga puncaknya pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hari selasa, aku ke kampus agak siang coz paginya hujan lebat n menurut informasi dari sahabatku (Lilis) yang rajin n udah ada dikampus, dosennya absent hari ini. Saat aku tahu dosennya ga masuk aku lega, karena kau berfikir “&lt;i&gt;sempet ni ngarap KTI ku”. &lt;/i&gt;Aku muali membuka lagi file2 yang ada. E ntah kenapa akhirnya aku melanjutkan pekerjaan ku yang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ku pegang selularku, &lt;i&gt;aw, uadah jam 8.45, kau gak sempat lagi ni,&lt;/i&gt; kau bergegas siap-siap menuju kampus coz jam 10.00 aku masuk mata kuliah berita n aku gak mau telat. Aku mengerutu dalam hati, &lt;i&gt;kenapa aku gak jadi ngelanjutkan garapan KTI ku ya? Uh memang dasar akunya yang gak disiplin. Tapi gak papa kan masih ada waktu 2 hari lagi, &lt;/i&gt;aku terus mencari alas an untuk menutupi kekeliruanku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;10.10 aku sampai di kampus, &lt;i&gt;wih aku telat. &lt;/i&gt;Tapi teman-teman sekelasku masih ngobrol di teras lantai bawah kelas kami. “&lt;i&gt;lhamdulillah aku selamat, belum telat”&lt;/i&gt;aku mendesah lega. Aku langsung menghampiri mereka. Disana aku ketemu sama kakak tingkatku Erni yang aku tau dia juga akan mengikuti lomba karya tulis ilmiah 19 maret ini. &lt;i&gt;Kak dah sampai mane makalahnye? &lt;/i&gt;Aku bertanya. &lt;i&gt;Tingal sikit agik! &lt;/i&gt;Ia mnjawab tak begitu yakin. &lt;i&gt;Belom selesai de’, padahal besok sore harus udah dikumpulkan, &lt;/i&gt;kak Erni menambahkan. Aku langsung panik karna makalahku belum apa-apaan. &lt;i&gt;A besok ka? &lt;/i&gt;Aku bertanya dengan nada terkejut. &lt;i&gt;Iyelah besok ka tgl 19, &lt;/i&gt;K Erni menjawab pertanyaanku. Seingatku makalah itu harus ku serahkan ke panitia hari kamis mendatang, tapi ternyata hari rabu ini! &lt;i&gt;Au aku harus sks malam ni! &lt;/i&gt;Aku mulai bertekad.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pak yus tak begitu lama masuk kekelas kami, hanya membrikan beberapa wejangan, maklumlah baru pertemuan pertama. Aku langsung bergegas menuju perpustakaan, berharap mendapatkan referensi yang lebih akurat mengenai tema makalahku. Tak begitu lama aku di perpustaakaan, Marisa adik tingkatku muncul dengan tujuan yang sama, ya kami berdua mengikuti kegiatan yang sama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lama kami memilih dan memilah buku yang ada diperpustakaan, tapi hasilnya hampir tak ada yang sesuai dengan keinginan. Malah kami sempat ngobrol2 mengenai perpustakaan yang sudah jauh dari kesan rapi. Bayangkan aja buku yang seabreg2 itu letaknya sudah tak beraturan, ada yang tegap, tumbang ada juga yang melintang. &lt;i&gt;Ca! Ambar males nengok kondisi perpus kite ni! &lt;/i&gt;Aku berkomentar. &lt;i&gt;Ye mang benar mbar, kondisi ini bunag-buang waktu kite, seharusnya cepat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cari bukunya jadi berjam-&lt;/i&gt;&lt;i&gt;jam pulak ada di perpus ni, &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ica&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; berkomentar dan cukup panjang juga komentarnya. &lt;i&gt;Dah lah CA kite ke PW jak yok!&lt;/i&gt; Ajak ku. &lt;i&gt;Ayoklah, &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ica&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; setuju dan kami pun bergegas menuju perpustakaan wilayah. Hampir satu jam kami di Pw. Membaca dan mencatat beberapa hal yang kami angap penting. &lt;i&gt;Ca dah yuk kite belek. &lt;/i&gt;Sebelum pulang kami menuju lantai 3 gedung itu dan menuju mushola. Kami shalat ashar terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang k&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFN5kTBDvoI/AAAAAAAAAGk/1rVcZCt-eqQ/s1600-h/DSCN1930.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 199px; height: 265px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFN5kTBDvoI/AAAAAAAAAGk/1rVcZCt-eqQ/s400/DSCN1930.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211642858284760706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;eruamah masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ni lagi bace-bace n mau pahamin buku ni!!!!!!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-4584796751046042435?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/4584796751046042435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=4584796751046042435' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4584796751046042435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4584796751046042435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/03/lagi-lagi-terjadi.html' title='Lagi - Lagi Terjadi'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/SFN5kTBDvoI/AAAAAAAAAGk/1rVcZCt-eqQ/s72-c/DSCN1930.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5265120017555996933</id><published>2008-03-19T23:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T23:40:10.030-07:00</updated><title type='text'>Kepemimpinan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-ID"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepemimpinan Rasulullah dan Kepemimpinan Masa Kini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-ID"&gt;Muhammad datang ke dunia sebagai Rasul Allah yang terakhir, dan tidak ada Rasul lagi yang diutus. Rasulullah yang dinobatkan langsung oleh Allah SWT. Sebagai manusia maksum yang dijamin masuk surga, sekaligus menjadi nabi dan rasul yang membawa kitab Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam. &lt;/span&gt;Nabi Muhammad SAW. yang turun membawa Al-Qur’an merupakan nabi dan rasul penyempurna nabi-nabi sesudahnya. Begitu juga dengan kitab Al-Qur’an yang dibawa oleh beliau. Saat Rasulullah berusia 25 tahun beliau mengemban tugas menyebarkan agama Islam sekaligus bertindak sebagai pemimpin pada masa-Nya. Masa kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat, yang memiliki model yang jauh berbeda dengan model kepemimpinan yang ada saat ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Saat berbicara mengenai kepemimpinan dan hal ini dikaitkan langsung dengan kepemimpinan Rasulullah, pastilah sangat jauh berbeda. Konsep yang ada pun memiliki ruang yang tidak sama. Pada zaman Rasulullah, beliau memimpin langsung dan menggunakan aturan yang memiliki acuan pada sumber Al-Qur’an dan Hadits. Maka sangat wajarlah jika umat terdahulu atau rakyat yang dipimpin oleh beliau memiliki karakter yang cukup kuat atau proses imitasi yang cukup baik antara karakter pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya. Hal ini merupakan hal yang seimbang dengan akhlak serta keteladanan Rasulullah saat beliau menjabat sebagai pemimpin pada masanya. Tapi jika kita tengok saat ini konsep apa yang sedang diusung oleh para pemimpin kita? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Jika yang sedang terjadi di kursi kepemimpinan saat ini adalah hal-hal yang jauh dari nilai kewajaran, bagaimana mungkin apa yang sedang pemimpin kita lakukan bisa memberikan tauladan. Dengan rresiko yang harus kita hadapi adalah memiliki pemimpipn yang tidak memperhatikan rakyatnya. Secara tidak langsung pemimpin yang tidak bisa memberikan tauladan, dalam masa kepemimpinanya pemimpin tersebut mampukah membentuk karakter rakyat yang berada dibawah naungannya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Banyak prestasi yang Rasulullah raih saat menjadi pemimpin. Hal ini dilatar belakngi oleh banyak factor. Baik itu faktor internal maupun esternal. Seperti pemaparan di atas, factor-faktor internal yang mempengaruhi kesuksesan Rasulullah dalam memimpin, adalah aspek dari diri sendiri (yaitu pribadi seorang pemimpin itu sediri). Setelah pribadi dari seorang pemimpin tidak diragukan lagi. Faktor eksternalnya adalah para sahabat yang begitu setia mendampingi beliau pada masa pemerintahan nabi Muhammad SAW. kesetiaan para sahabat itupun atas landasan kecintaan pada sang Rasul yang memiliki pribadi yang sudah selayaknya mendapat acungan jempol.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Pola kepemimpinan Rasulullah dan pola kepemimpinan yang ada saat ini tentulah jauh berbeda. Dengan mengetahui fenomena yang sedang terjadi saat ini, bisa dipelajari betapa fantastiknya Rasulullah dalam begitu banyak bidang, maka patutlah jika Rasulullah sebagi Nabi dan Rasul yang menyempurnakan Nabi serta Rasul sebelumnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan mengetahui pola kepemimpinan Rasulullah, umat Islam umumnya dan para pemimpin khususnya bisa menjadikannya tolak ukur ataupun bahan evaluasi diri mengenai apa yang telah disumbangkan dengan jabatan yang dimilikinya. Terlebih saat-saat menjelang pemilihan pejabat daerah (wali &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;). Paling tidak menjatuhkan pilihan pada salah satu calon dengan pertimbangan yang cukup matang dan diperhitungkan serta diprediksikan mana calon pemimpin yang siap menjadi pelayan publik. Karena pada hakikatnya seorang pemimpin adalah sebagai pelayan dan tauladan rakyat. Jika kita mengambil pelajaran (&lt;i&gt;ibroh) &lt;/i&gt;dari kepemimpinan Rasulullah, maka apa yang sudah kita dapatkan dari ketauladanan para pemimpin pada saat ini. Hal ini bisa saja menjadi suatu tugas bagi kita semua untuk mendukung para pemimpin agar bisa menjadi pemimpin yang menjalankan peranya sebagai pelayan dan tauladan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5265120017555996933?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5265120017555996933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5265120017555996933' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5265120017555996933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5265120017555996933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/03/kepemimpinan.html' title='Kepemimpinan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5919238477763470139</id><published>2008-03-14T22:10:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T22:13:10.349-07:00</updated><title type='text'>Perekonomian VS Pendidikan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perekonomian VS Pendidikan&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Oleh : Ambaryani&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sejauh ini kesadaran rakyat Indonesia umumnya dan Pontianak khususnya masih sangat rendah. Kenyataan ini bukanlah isapan jempol semata. Sering dijumpai kejadian dimana anak yang seharusnya duduk dibangku sekolah, akan tetapi pada jam-jam wajib belajar mereka berkeliaran melakukan aktifitas yang seharusnya belum layak mereka lakukan. Aktifitas tersebut, mencari nafkah misalnya. Tidak sedikit anak-anak bangsa yang harus rela menimbun dalam-dalam keinginannya untuk mengenyam dunia pendidikan lantaran perekonomian yang tidak memungkinkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kasus ataupun realita ini seharusnya menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus bagi para pragtisi pendidikan dan hal ini menjadi pekerjaan rumah (pr) bagi pemerintah yang memegang kendali jalannya proses kepemimpinan. Jika pemerintah tidak memiliki sidtem yang jelas serta transparan bagiamana mungkin pengelolaan angaran APBD yang didalamnya terdapat 20% untuk alokasi biaya pendidikan dapat dioptimalkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perekonomian dan pndidikan memang memiliki skandal hubungan yang cukup erat dan keduanya tidak bisa dipisahkan. Pendidikan geratis, memang sudah ada di Indonesia. Tapi apakah hal tersebut merupakan solusi yang sangat absolut untuk mengatasi permasalahan dalam dunia pendidikan? Tentunya pendidikan geratis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sudah mulai dirintis dan belum lama itu, belum bisa mengatasi kesulitan anak bangsa yang begitu banyak jumlahnya, yang memerlukan bantuan mendapatkan haknya di bidang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pendidikan. Jangankan mereka yang hidup di pedesaan, mereka yang berdomisili di kota puan masih ada yang memiliki kesulitan dan tidak terjamah oleh tangan-tangan yang dermawan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam suatu keluarga misalnya. Jika ada orang yang sangup mendatangi mereka dan menanyakan apa factor utama mereka yang membuat orang-orang yang ada didalamnya tidak mengenal dunia pendidikan, pastilah jaabanya adalah “karena kami tidak mampu membayar uang sekolah”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika perekopnomian menjadi faktor yang tidak boleh diremehkan, maka sudah selayaknyalah ada suatu tindakan khusus untuk mengatasi kesulitan dalam bidang perekjonomian, ataupun adanya solusi lain untuk memecahkan permasalahan yang telah ada entah dari tahun dan abad berapa munculnya. Dari waktu ke waktu, jumlah pengemis atau peminta-minta yang mewarnai kota Pontianak semakin bertambah jumlahnya dan makin berfariasai pula cara serta tingkatan usianya. Jika bisa diberi suatu istilah terlalu komplit dinamika yang sedang terjadi di Indonesia dan itu adalah kenyataan bukanlah mimpi yang hanya ada saat tidur setelah itu hilang dengan sendirinya. Tapi permasalahan ini benar adanya dan sedang dialami oleh Indonesia termasuk pulalah Pontianak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemimpin yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada di suatu daerah, merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah pusat atau presiden. Jika orang-orang yang menduduki jabatan di daerah tidak mampu menghandel tugasnya masing-masing kapan permasalahan yang dialami bisa diselesaikan? Permasalahan yang sedang ada bukanlah tontonan yang layaknya sinetron yang ada di televisi, walaupun adeganya tidak kalah reting dengan rekayasa para pekerja seni yang menekui bidangnya tapi yang adegan yang sedang dialami di kehidupan nyata ini, bukalah ajang tontonan tapi bagaimana kita setelah melihatnya memberikan andil untuk memberikan solusi terhadap apa yang sedang dialami negeri ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi factor ekonomi pun bukanlah solusi paten. Karena walaupun taraf ekonomi diatas rata-rata dan jauh dari kata kekurangan, tapi jika motifasi dari diri sendiri tidak ada dunia pendidikan pun akan sepi dan tidak banyak diminati. Bila itu yang sedang terjadi, Indonesia yang sudah mengantongi bekal permasalahan yang cukup banyak, akan bertambah lagi permasalahannya. Karena generasi penerusnya tidak memiliki semangat yang tingi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang pasti ibarat sebuah tikar pandan, tikar terbuat dari sekian banyak daun pandan yang terpisah, dianyam oleh orang yang mengerti bagiamana cara menganyamnya berulah didapatkan tikar pandan yang siap dibentang. Begitu pula dengan dunia pendidikan dan hal lainya. Banyak faktor yang akan mengsukseskannya dan banyak pula factor yang bisa mengagalkannya. Dari semua factor atau elemen itu harus disatukan, kemudian diolah oleh tenaga yang berkompeten dan hasilnya akan luar biasa. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5919238477763470139?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5919238477763470139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5919238477763470139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5919238477763470139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5919238477763470139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/03/perekonomian-vs-pendidikan.html' title='Perekonomian VS Pendidikan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-7559482891901446745</id><published>2008-03-04T22:22:00.000-08:00</published><updated>2008-03-04T22:47:24.050-08:00</updated><title type='text'>Yang Q rasakan hari ini</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sesuatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Untuk yang tak pernah terduga yang telah trjadi dalam keseharian Q. Buat sahabat-sahabat Q, nice to meet U’are. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Buat sahabat Q yang aneh, slebor but I like u, coz u is brilian. Makasih atas semuanya, sahabatan dengan orang slebor kayak u, kadang-kadang nyeblin juga, tapi ternyata ketika bertukar isi kepala (pikiran) I suka banggets ama &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; u.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Buat sahabat Q yang smart, tertutup, penyabar tapi sanggat-sanggat sering membuat Q sebel: jangan terus-terusan diam. Q khawatir jika kau terus diam dan menutup diri dari orang-orang yang ada di sekliling U, U akan menjadi orang yang tak bias cepat berkembang. Sahabat, jangan sampai salah memilih teman. Q meindukan sosok sahabat yang penyabar dan G’ nyebelin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ayah Q: Tq so much……..nice have father like U. Don’t forget, give me semangat. Kadang-kadang sebel juga sih ama ayah yang satu ini he….. Tapi sebelnya dikit, ketimbang hal-hal lain yang luar biasa. Yang pasti I akan terus berusaha membahagiakan ayah dan semua orang yang mnaruh harapan pada Q.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Untuk sahabat yang pernah Q sakiti: I’m so sorry. Maaf karena Q tak bias menjadi sahabat yang menyenagkan. Tapi yang Q ingin menjadi sahabat yang kehadiran Q bias membawa suatu perubahan yang baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Nih Q lagi pengen bagi2 taujih yang Q dapat dari sahabat2 Q.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Musibah selalu ada untuk seorang muslim. Baikpada dirinya, anaknya atau hartanya, hingga ia brtemu dengan Allah dalam kondisi tidak ada kesalahan pada dirinya. (HR. Tirmidzi, By. Indah 5 maret ’08, &lt;sub&gt;05:43:48&lt;/sub&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Didalam iman dan tauhidmu, satukanlah hatimu dan jiwamu, ukhuwah (prsaudaraan) itu indah, sejukkan mata dalam memandang, lembutkan lisan dalam bertutur. (By. Indah 4 Maret ’08, &lt;sub&gt;04:40:29&lt;/sub&gt;)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Indah pelngi karena warna, indah taman karenabunga, indah dunia karena cinta, indah cinta karena serita, indah hati karena kejujuran, indah hidup Karena ankhlak. (By. Indah 2 Maret ’08, &lt;sub&gt;03: 27: &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;53&lt;/sub&gt;). &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-7559482891901446745?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/7559482891901446745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=7559482891901446745' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7559482891901446745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7559482891901446745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/03/yang-q-rasakan-hari-ini.html' title='Yang Q rasakan hari ini'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8494971215266948810</id><published>2008-03-03T22:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:31.175-08:00</updated><title type='text'>Be The Best</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8zpaxP5SbI/AAAAAAAAAF8/ZWdlELsCyrE/s1600-h/tulip.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8zpaxP5SbI/AAAAAAAAAF8/ZWdlELsCyrE/s400/tulip.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173766718047734194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="IN"&gt;Sulitkah menjadi yang terbaik?&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semua orang tak akan memungkiri, jika didalam hatinya selalu ada keinginan untuk menjadi yang terbaik. Menjadi yang terbaik, pasti tidak mudah.terlebih jika menjadi yang terbaik dalam segala hal. Kadang sedikit kerepotan juga ingin mendapatkan yang sempurna dalam semua hal yang sedang kita lakukan. Tapi, itulah manusia, ingin selalu mendapatkan yang terbaik, walaupun dalam beberapa hal, belum tentu bisa memberikan yang terbaik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Manusia dituntut untuk melakukan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai banyak hal tersebut dikombinasikan maka lahirlah istilah akitifitas yang seabreg-abreg. Melakukan aktifitas pastinya dibutuhkan konsentrasi penuh, terlebih jika kegiatan yang membutuhkan kerja otak yang maksimal. Jika manusia selalu harus memilih dan dihadapkan dalam banyak pilihan dalam khidupan, salahkah jika manusia itu menginginkan ia menjadi yang terbaik dalam banyak hal. Tapi mengapa harus ada suatu kenyataan bahwa, kita harus rela mengorbankan salah satu diantaranya jika kita menginginkan yang terbaik. Atau terlalu serakahkah seserang tersebut jika menginbginkan semuanya. Jika bisa melakukannya semuanya mengapa tidak? Bukankah itu prinsipnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mencoba untuk konsentrasi pada satu hal memang benar, itu pilihan yang tidak salah. Tapi jika dalam segala kondisi kita hanya bisamelakukan satu hal saja, itu artinya kita bisa ketingalan jauh dari orang lain. Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apa? Orang lain mampu melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Jika kita tidak bisa, kita pasti tertinggal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melakukan banyak aktftas sekaligus, merupakan sarana latihan bagi yang mlakukannya. Mengapa itu menjadi sarana latihan? Melakukan banyak hal, pasti menguras tenaga dan pikiran. Jika kita tidak bisa melatih diri untuk bisa mngatur waktu yang dimiliki, maka apa yang akan terjadi? Keduanya tidak akan didapatkan ataupun ia akan menadapatkan sedikit dari keduanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menjadi manusia sempurna, memang tidak bisa. Tapi berusaha untuk menjadi dan memberikan yang terbaik itu yang harus dilakukan. Dan kebanyakan dari kita bukanlah memberikan yang terbaik, tapi mendapatkan yang terbaik. Padahal Tuhan telah berjanji, siapapun yang menginginkan mendapatkan yang terbaik dalam segala hal, maka rumusnya adalah menjadikan diri yang terbaik untuk orang-orang yang ada disekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pepatah yang mengatakan “jangan kau tanyakan apa yang telah kau dapatkan dari orang lain, melainkan tanyaklan apa yang telah kau lakukan untuk orang lain”, hendaknya hal itu selalu kita pertahankan. Jika menginginkan orang lain memberikan yang terbaik kepada kita itulah yang harus kita lakukan. Jika kita sudah berusaha menjadi yang terbaik, dengan sendirinya semua yang ada disekeliling kita akan melayani kita dengan baik. Terlebih jika kita berusaha melakukan satu kebaikan dan selangkah mendekatkan diri menuju Allah, maka seribu langkah Allah akan mendekati kita. Yang pasti kita harus bisa berusaha menjadi yang terbaik untuk sang Khalik. Tidakkah Allah adalah kekasih kita? Jika ya Allah (Tuhan) adalah kekasih kita, mengapa kita enggan melakukan yang terbaik untuk kekasih kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yah kalau begitu rumusnya, jom lah kite berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik tanpa buang waktu sedetik pun. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Lets be the best...........&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8494971215266948810?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8494971215266948810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8494971215266948810' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8494971215266948810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8494971215266948810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/03/be-best.html' title='Be The Best'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8zpaxP5SbI/AAAAAAAAAF8/ZWdlELsCyrE/s72-c/tulip.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8363158429993782634</id><published>2008-03-03T21:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:31.548-08:00</updated><title type='text'>Keluh Kesah No!!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8zj0hP5SZI/AAAAAAAAAFs/V-m5IZcuLUk/s1600-h/3.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 154px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8zj0hP5SZI/AAAAAAAAAFs/V-m5IZcuLUk/s400/3.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173760563359598994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dont be Keluh Kesah&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jangan khawatir apa pun yang kau lakukan saat ini, jika itu hal yang benar Alah akan memberikan yang luar biasa jangan khawatir akan janji Allah. Itu yang sering diungkapkan oleh seseorang kepada ku jika aku sedang krisis semangat. &lt;i&gt;Ambar yakin dengan Allah kan?&lt;/i&gt; Tanyanya. Nah yakin jugalah pada janji Allah. Sesungguhnya sakit yang dirasakan oleh seseorang, itu akan menghapuskan dosa-dosanya. Rasulullah Saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Apa yang menimpa seorang muslim, berupa kelelahan, kesulitan, kegelisahan, dan ganguan hingga duri yang menusuk tubuhnya, niscaya dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya.” (&lt;b&gt;Mutaffaq ‘alaih)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Apa yang ingin Rasulullah sampaikan pada kita semua umatnya? Terlalu banyak orang yang mengeluh pada kondisi yang dialaminya, padahal apa yang dilaminya juga dilalami oleh orang lain bahkan mungkin yang dialami oleh orang lain lebih sulit dan lebih sakit dari yang dialaminya. Manusia sering mengeluh jika sedang didera letih akibat pekerjaan yang menumpuk. Padahal ada hal lain yang lebih baik yang bisa dilakukan oleh orang tersebut. Membiasakan diri tidak mengeluh. Memang butuh latihan dan melakukan sesuatu tidak bisa serta merta. Dari hadist Rasullulah diatas, apa yang menimpa yang dirasakan oleh seorang muslim, baik kelelahan, kesulitan kegelisahan hingga duri yang menusuk anggota tubuhnya, dengan hal itu Allah mengugurkan dosa-dosa kita, bak dedaunan kering yang gugur dari pohonya, seperti sabda Rasul: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i&gt;Setiap Muslim yang mendapat suatu kesakitan, seperti tusukan duri dan yang lebih besar dari itu, niscaya Allah SWT. Akan menghapus dosa-dosanya, seperti pohon menjatuhkan dedaunnya.” (HR. Bukhari)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hal ini mengingatkanku pada seseorang yang selalu saja berusaha membuatku terus bersemangat dalam menjalani apa yang sedang kujalani. Salah satu bait kata-kata yang hingga saat ini terus lekat diingatanku adalah, &lt;i&gt;Jangan pernah mengeluh, karena kalau mengeluh sebagian semangat kita hilang seiring keluhan kita itu, &lt;/i&gt;begitu kira-kira kata-katanya. Dari awal aku sepakat dengan hal itu, tapi dasar aku yang tak genah kali ya! Aku masih juga sering mengeluh dalam keseharianku. Padahal bukan hanya sekali dua orang-orang disekelilingku mengingatkan jika aku jangan menjadi orang yang merasa terbebani dengan apa yang sedang dilakukan dan mengeluh. Aku juga tau kalau Allah tidak suka dengan hambanya yang hobi mengeluh bahkan Rasulullah pun sudah mengajarkan untuk menjadi umat yang penuh semangat dan tidak menjadi umat yang penuh dengan keluh kesah dalam kehidupan sehari-hari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ya Allah beitu seringnya aku mengeluh selama ini! Padahal dalam kondisi sakitpun kita dilarang berkeluh kesah. Mengadukan rasa sakit yang didera pada sahabat dan mungkin pada Allah, itu boleh tapi jika dalam pengaduan itu tersirat keluahan, maka anda salah kaprah. Berhati-hati dalam mengungkapkan perasaan mungkin itu yang harus selalu di camkan. Bahkan dalam kondisi sakitpun kita harus senantiasa bisa memuji Allah dan mensyukuri kondisi yang kita alami. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Betapa sempurnanya Islam, bahkan hal yang terkecil pun Islam memiliki kaedah aturannya. Tapi aturan dalam Islam tidaklah seperti aturan yang ada di Indonesia. Mungkin selama ini masyarakta sangat lekat dengan kata-kata “&lt;i&gt;aturan diciptakan untuk dilanggar”. &lt;/i&gt;Ya mengapa orang tak segan melangar aturan itu? Karena belum ada dampak yang dirasakan langsung. Coba kalau setiap pelangar aturan itu langsung mendapatkan aturan, pasti tertib lah Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yang pasti aturan yang ada dalam agama kita (Islam), bukalah aturan yang akan merugikan pengikutnya. Bahkan sebaliknya, adanya semua atuaran itu adalah demi kebaikan kita. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dont worry!!! Allah punya seseuatu yang luar biasa untuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa patuh dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;taat pada-Nya.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8363158429993782634?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8363158429993782634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8363158429993782634' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8363158429993782634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8363158429993782634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/03/keluh-kesah-no.html' title='Keluh Kesah No!!!'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8zj0hP5SZI/AAAAAAAAAFs/V-m5IZcuLUk/s72-c/3.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-3214326075613541312</id><published>2008-02-27T03:58:00.000-08:00</published><updated>2008-03-11T01:33:20.347-07:00</updated><title type='text'>Sesutau yang pernah ada</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Sesuatu yang tak terduga akan menjadi yang sangat luar biasa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;2 sendok iri hati&lt;br /&gt;Dituangkan dalam wajan penghianatan&lt;br /&gt;Ditumis dengan perbuatan kepentingan&lt;br /&gt;Yang sudah dibuang lapis kepercayaanya&lt;br /&gt;Maka ia akan siap untuk memangsa sahabatnya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segengam bubuk pengetahuan&lt;br /&gt;2 jumput kebijaksanaan&lt;br /&gt;Digoreng dengan minyak pengalaman &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Itulah yang diamakan manusia yang telah merasakan asam garam kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian sebuah&lt;br /&gt;Keinginan yang besar&lt;br /&gt;Dicampur sebutir imajinasi&lt;br /&gt;Digoreng dengan keindahan fatamorgana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit hati yang tak kepalang merupakan&lt;br /&gt;Kegeraman yang sudah dipenuhi rasa kesal&lt;br /&gt;Ditumbuk sampai melumat&lt;br /&gt;Kemudian diambil sarinya&lt;br /&gt;Dan diaduk dalam kegemasan yang memuncak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya terbuat dari bahan berbahaya yang utuh elemenya&lt;br /&gt;Dibentuk dengan ketidak pedulian&lt;br /&gt;Yang dilapisi dengan keteledoran&lt;br /&gt;Maka akan berjatuhan banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan uang suap yang sering dilakukan&lt;br /&gt;Seraut muka tebal&lt;br /&gt;Direndam dalam perasaan kerakusan&lt;br /&gt;Dihidangkan panas-panas&lt;br /&gt;Dengan ditaburi komisi kenikmatan&lt;br /&gt;Kadang dinikmati bersama-sama dengan birokrasi yang kental&lt;br /&gt;By: everiting simple coz isthere somting special for some people&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah kekuatan&lt;br /&gt;Sumber segala keindahan dan daya cipta&lt;br /&gt;Cintalah yang menjadikan impian menjadi nyata&lt;br /&gt;Dan menjadikan kehidupan semakin bermakna&lt;br /&gt;(By : Friend)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas ada dalam senyuman&lt;br /&gt;Sehat ada dalam rido&lt;br /&gt;Kehormatan ada dalam hijab&lt;br /&gt;Ketenagan ada dalam dzikrullah&lt;br /&gt;Kedamaian ada dalam sholat&lt;br /&gt;(By : Friend 19 feb 2008 02:28:25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ada didalam hati&lt;br /&gt;Bukan berada dalam suatu tempat&lt;br /&gt;Lebih bernilai bila berada di medan perbedaan&lt;br /&gt;(By: Friend 13 feb 2008 17:08:56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar malam menari diantara sinar bulan yang semakin redup&lt;br /&gt;Dan pagi datang dengan kemilau titik-titik embun&lt;br /&gt;Pejamkan mata nikmati belaian mimpi&lt;br /&gt;Esok aku akanmengajakmu melihat mentari&lt;br /&gt;(By : Lautan 11 feb 2008 23:09:37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wishing you a wonderful day&lt;br /&gt;And the coming year full with success and prosperty&lt;br /&gt;We look for word to be at your service again&lt;br /&gt;In new year&lt;br /&gt;(By : K~Ie 31 des 2008 ­24:48:06)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertambahnya usia&lt;br /&gt;Berarti semakin berkurang jatah untuk hidup&lt;br /&gt;Di kota persinggahan yang sementara ini&lt;br /&gt;Tunggu apa lagi?&lt;br /&gt;Lari dan lari menggapai hidayah-Nya&lt;br /&gt;Sebelum mencapai finish&lt;br /&gt;Dan dipecat dari duania fana&lt;br /&gt;(By : M’ Nur Ks 27 ok 2008 06:13:58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri day is the best time to say sorry&lt;br /&gt;Forgive me for every single thing I’ve done&lt;br /&gt;(By : Dina 13 ok 2008 22:13:29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hargai bila berdua&lt;br /&gt;Sayangi bila bersama&lt;br /&gt;Maafkan bila terluka&lt;br /&gt;Rindui bila berjauhan&lt;br /&gt;Fahami bila keliru&lt;br /&gt;Itulah arti ukhuwah dan persaudaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kehidupan lebih berarti bila kita nikmati bersama orang-orang disekitar kita yang kita sayangi dan menyayangi kita. Tak ada hadiah yang lebih luar biasa dari mereka, kecuali kasih sayang, dukungan, dan pengertian yang tulus, persahabatan dan persaudaraan tak mengenal pamrih itulah yang sangat istimewa. Merugilah orang yang tak bisa menghargai sebuah kebersamaan dan kasih sayang yang ada didepan mata. Beruntung memiliki orang-orang yang tak henti mengungkapkan bentuk kasih sayangnya. Tak pernah menduga akan menemui seseuatu yang tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-3214326075613541312?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/3214326075613541312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=3214326075613541312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3214326075613541312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/3214326075613541312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/sesutau-yang-pernah-ada.html' title='Sesutau yang pernah ada'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-79992571013744007</id><published>2008-02-24T23:30:00.001-08:00</published><updated>2008-03-11T01:34:38.765-07:00</updated><title type='text'>Doktor Cilik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doktor Cilik Di Kalbar, Mungkinkah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pontianak&lt;br /&gt;Dunia yang sudah semakin tua dan Zaman pun sudah semaikn moderen ini, sulit rasanya bisa menjumpai anak adam yang mampu menghafal, mengerti bahkan tahu letak dan posisi ayat tersebut Al-Qur’an. Terlebih jika yang memiliki kemampuan luar biasa ini adalah seorang bocah kecil berusia 5 tahun. Mungkin hal ini sering terdengar saat masa kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tapi ternyata hal ini tidak berlaku di di kota Qom yang jaraknya kira-kira 135 kilometer dari Teheran ibu kota Iran. Kota Qom memiliki suatu kebanggaan tersendiri, lantaran kecerdasan bocah cilik yang mampu menghafal, seluruh ayat yang ada didalam Al-Qur’an, mengerti bahkan letak, dibaris berapa ayat tersebut dan pada bagian yang keberapa bocah cilik yang masih berusia 5 tahun itu dan kini telah beranjak dewasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemasyuran si bocah kecil sudah banyak terdengar diluar maupun dalam negeri, dan kini kisah sibocah kecil itupun populer hingga di Kalimantan Barat, melalui sebuah buku yang berjudul ‘Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Qur’an’ ditulis oleh Dina Y. Sulaeman yang meraih predikat best seller. Dalam buku itu menceritakan kisah seorang bocah berusia 5 tahun yang telah hafal 30 juz Al-Qur’an, faham bahkan mengetahui posisi ayat-ayat tersebut, pada baris dan halaman berapa ayat tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada usianya yang menginjak tahun kelima itulah anak bernama Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i mengikuti ujian menghafal Al-Qur’an di &lt;i&gt;College Islamic University &lt;/i&gt;yang letaknya 32 kilometer dari kota Inggris bersama anak-anak sebayanya. Ternyata pada kesempatan itu Husein mendapat nilai yang cukup tinggi dan nilai tersebut merupakan nilai kategori Doktor, maka dari itulah Husein mendapat gelar Doktor Cilik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika kota Qom bisa memiliki seorang Doktor cilik dalam kategori menghafal dan meahami makna Al-Qur’an, mengapa di Kalimantan Barat Tidak bisa? Dan apa yang sedang terjadi, dan bagaimana kondisinya? Permasalahanya, bukan tidak bisa, tapi sejauh mana usaha untuk mencapai hal tersebut. Untuk mencetak generasi yang cerdas baik intelektualnya maupun sepiritualnya, pastinya memerlukan usaha yang gigih. Sangat jarang bisa ditemukan seseorang yang sukses tapi usahanya biasa-biasa saja. Yang sering tedengar adalah orang yang sukses, pasti usahanya juga setimpal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidak hanya anak anak yang harus digembleng, karena hakikatnya tidak akantercetak generasi yang cerdas dan luar biasa, jika tidak dihasilkan dari orang tua yang lauar biasa pula. Berawal dari orang tua yang luar biasalah akan hadir anak yang lebih laur biasa. Jika ingin memiliki anak yang mampu menghafal dan mengerti makna Al-Qur’an, orang tuanya juga harus melakukan hal yang serupa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika kita kembali pada kisah Husein, anak ketiga dari enam bersaudara ini, pada saat ayah dan ibunya baru menikah, mereka memiliki tekad untuk menghafal Al-Qur’an bersama-sama dan akhirnya anak-anaknya juga mampu menghafal Al-Qur’an dan ternyata Husein memiliki kemampuan yang lebih jika dibadingkan dengan sausara-saudaranya yang lain. pasangan Sayyid Muhammad Mahdi Tabataba’i da istrinya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diambil dari kisah tersebut, sudah barang pasti jika anaknya memiliki kemampuan yang luar biasa, karena ayah dan ibunya juga berusaha keras untuk dapat menghafal dan memahami Al-Quran. Sesuai kata pepatah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. Jadi jika menginginkan generasi yang laur biasa mulai dari saat inilah para calon ayah dan ibu mulai mempersiapkan diri. Jika persiapnnya matang, pasti hasilnya akan maksimal. Mana mungkin bisa memimiliki generasi yang laur biasa kecerdasannya, sedangkan masa mudanya dhabiskan untuk hal-hal yang tidak jelas tujuannya bahkan hal yang menimbulkan dampak negatif pada lingkungan (berbuat sesuka hati). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Remaja sekarang memiliki orientasi yang sedikit aneh. Menginginkan sesuatu yang baik, tapi dirinya sendiri tidak berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam semua aspek. Menginginkan generasi penerusnya patuh pada orang tua, tapi ia sendiri menjadi anak yang paling suka melawan kata-kata orang tua. Tidak heran jika saat ini banyak sekali generasi muda yang hanya bisa membuat onar di lingkungannya. Hal ini timbul karena apa? Bibitnya kurang maksimal dalam mempersiapkan dirinya dan usaha untuk mengarahkanpun tidak maksimal. Jika menginginkan yang terbaik untuk generasi penerus mulai memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri dan tidak menutupkemungkinan Kalbar akan memilki generasi yang luar biasa kecerdasannya. (Ambaryani anggota Lembaga Perss Mahasiswa Stain Pontianak).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"JIka menginginkan yang terbaik dalam hidupmu maka lakukanlah yang terbaik juga, who want the best in live, so do the best too".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-79992571013744007?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/79992571013744007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=79992571013744007' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/79992571013744007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/79992571013744007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/doktor-cilik.html' title='Doktor Cilik'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5180002890226879436</id><published>2008-02-23T05:44:00.001-08:00</published><updated>2008-02-23T05:46:09.264-08:00</updated><title type='text'>Persiapkan Diri menuju tahun 2010</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Persiapkan Diri Menuju Era Serba teknologi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pontianak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;2010 diprediksi sebagai era serba teknologi. Hal-hal yang diangap mustahil akan segera terwujud dan hal itu tidak akan lama lagi. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Yohanes Surya, Ph. D dalam seminar kemajuan teknologi dan masa depanku di hotel Kaapuas Palaace beberapa waktu lalu. Hal ini menjadi suatu &lt;i&gt;warning &lt;/i&gt;bagi seluruh generasi, terutama bagi generasi penerus yang perjalannya masih sangat panjang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Teknologi yang akan merajai dunia itu sudah terwujud beberaapa tahun lebih awal di negara-negara lain, tapi di Indonesia baru akan terwujud tahun 2010 nanti. Akan hadirnya masa-masa yang sarat dengan teknologi, menjadi suatu hal yang bisa dikatakan sebagai hal yang cukup menakjubkan, tapi dilain sisi juga menjadi suatu hal yang mengkhawatikan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menjadi suatu hal yang sangat menakjubkan sudah barang tentu. Betapa tidak, beberapa tahun mendatang, hal-hal yang ada disekitar kita yang berkaitan dengan aktifitas sehari-hari mengunakan alat yang memiliki kecangihan luar biasa. Alat-alat yang akan diciptakan nanti, akan membantu dan mempermudah kinerja manusia, dan manusia tidak perlu lagi mengandalkan hal-hal yang bersifat manual dan relatif lebih lambat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Zaman yang serba cangih itupun bisa menjadi suplemen yang luar biasa (motifasi), bagi rakyat Indonesia untuk menumbuhkan rasa pentingnya pendidikan dalam kehidupan, dan tidak ada lagi istilah pendidikan hanya menghabiskan uang (pemikiran masyarakat yang masih memghitung-hitung materi yang harus dikeluarkan demi pendidikan anak-anaknya).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin hal ini akan menjadi hal yang cukup membantu bagi kalangan intelektual dan kalngan yang menguasai pasar, dalam artian memiliki taraf ekonomi lebih. Tapi bayangkan apa yang akan terjadi beberapa tahun mendatang pada masyarakat di Indonesia. Tidak semua penduduk Indonesia bahkan mungkin masih banyak penduduk yang tidak mengenyam dunia pendidikan dan apa yang akan terjadi pada mereka? Pasti hal ini akan menjadi momok yang sangat menakutkan, karena mereka akan merasa jauh tertinggal jika memang itu yang terjadi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Masa yang nantinya akan mengandalkan alat-alat yang cangih dan mengunakjan tenaga robot, bahkan untuk teman bermain saja, nantinya akan memanfaatkan jasa robot. Apa yang akan terjadi pada kehidupan bermasyarakat, bagaimana sosialisasinya, jika manusia lebih memilih jalan praktis berinteraksi, bermain meminta bantuan pada robot yang luar biasa kecangihannya dibandingkan dengan manusia. Pendapat Aristoteles yang mengungkapkan bahwa manusia adalah mahluk sosial, mungkin tidak akan lagi digunakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Manusia sebagai mahluk sosial, artinya manusia hidup bermasyarakat dan membutuhkan orang lain dalam keseharinnya. Tapi jika manusia tidak lagi membutuhkan sesaama, dan lebih cenderung pada robot, fungsi maanusia sebagai mahluk sosial sedikit demisedikit akan terkikis dan tidak menutup kemungkinan akan ada temuan baru, bahwa manusia adalah maklhluk individual. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika beberapa tahun silam yang sering terdengar adalah Information Teknologi (IT), untuk masa mendatang yang akan &lt;i&gt;membuming&lt;/i&gt; adalah Infomation Comunication Teknologi (ICT). Tidak hanya ICT yang akan menguasai. Teknologi yang akan muncul nanti adalah hasil kombinasi dari Nano teknolog, Bio Teknologi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan ICT itu sendiri. Perpaduan ketiga unsur tersebut akan menghasilkan bermacam-macam alat yang cangih yang bisa manfaatkan dalam keseharian. ICT yang memadukan kecangihan teknologi dan komunikasi, tidak menutup kemungkinan unversitas-universiatas yang memiliki jurusan komunikasi akan menjadi incaran calon mahasiswa dan tidak menutup kemungkinan pula bebrapa perguruan tinggi akan mendirikan suatu jurusan atupun program studi baru yaitu komunikasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Teknologi yang akan merajai dunia itu menuntut semua orang waspada untuk menghadapinya. Waspada dengan perkembangannya yaitu dengan membentengi diri dengan ilmu yang memadai dan lebih jeli dengan informasi yang terus berkembang.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5180002890226879436?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5180002890226879436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5180002890226879436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5180002890226879436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5180002890226879436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/persiapkan-diri-menuju-tahun-2010.html' title='Persiapkan Diri menuju tahun 2010'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-9124504541881359526</id><published>2008-02-23T05:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:31.955-08:00</updated><title type='text'>Treee of Love, maybe</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8AedGsbEBI/AAAAAAAAAFE/zyT-ubMDDvw/s1600-h/leaf3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170165857583304722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: pointer; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8AedGsbEBI/AAAAAAAAAFE/zyT-ubMDDvw/s200/leaf3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Pohon Cinta&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pohon Cinta itu belum saatnya tumbuh sahabat&lt;br /&gt;Dia hanya akan subur bila waktunya tiba&lt;br /&gt;Jangan paksakan......&lt;br /&gt;Karena dia hanya akan kering dan menusuk kita&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Biarkan saja semua seperti ini&lt;br /&gt;Bunga-bunga persahabatan yang subur di taman hati&lt;br /&gt;Lebih indah dan berwarna&lt;br /&gt;Menemani kaki kita melangkah ke depan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ayolah Teman, lihatlah dunia sekelilingmu&lt;br /&gt;Ada bunga-bunga cantik yang menantimu di taman kalbunya&lt;br /&gt;Cobalah untuk merasakan harum semerbaknya&lt;br /&gt;Akan kau dapati sebuah ketenangan yang tak mampu kuberikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Lihatlah pagi itu....&lt;br /&gt;Fajar mungkin milik kita&lt;br /&gt;Tapi tidak untuk dilewati bersama&lt;br /&gt;Carilah jalanmu seperti aku mencari sayapku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu di sebuah persimpangan&lt;br /&gt;Sapalah aku sebagai sahabat yang pernah datang dalam hidupmu&lt;br /&gt;Aku akan tersenyum padamu&lt;br /&gt;Sebagai sosok kawan lama yang datang dari kenangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan kita akan kembali berjalan dengan mimpi kita sendiri&lt;br /&gt;Aku yakin saat itu telah ada bidadari di sampingmu&lt;br /&gt;Menguatkan langkah dan menggenggam tanganmu&lt;br /&gt;Mungkin begitu pula aku dengan sosok pangeran hatiku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt; Lalu akan kau ucapkan selamat tinggal pada perasaanmu&lt;br /&gt;Aku akan mengenangmu sebagai sosok teman yang takkan kulupakan&lt;br /&gt;Terimakasih atas segala yang kauberikan&lt;br /&gt;Maaf, aku masih ingin terbang terlalu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sahabat, kau harus yakin dengan satu hal&lt;br /&gt;Tuhan tak pernah terlelap&lt;br /&gt;Tuhan akan memberikan seseorang yang jauh lebih baik dariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan juga akan menghadiahkan seseorang yang akan mencintaimu sepenuhnya&lt;br /&gt;Dan saat itulah kau akan bersyukur karena&lt;br /&gt;Kau mengurungkan niatmu untuk menjadikan ku pohon cinta&lt;br /&gt;Yang kau tanam kokoh dalam hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup bangga denganmu sahabat&lt;br /&gt;Kau bisa memenerima dan faham dengan keputusanku&lt;br /&gt;Aku sangat bangga dengan hal itu&lt;br /&gt;Mengapa???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau harus tahu,&lt;br /&gt;Salama ini,jarang ku temui seseorang sehebat dirimu&lt;br /&gt;Selama ini aku sering menjumpai seseorang yang kekeh dengan keputusannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan hingga kini mungkin orang-orang yang pernah kutemui, masih mempertahankan keinginanya&lt;br /&gt;Semoga Tuhan akan memberimu yang lebih luar biasa dari yang kau pikirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ingin tahu mengapa?&lt;br /&gt;Karena kau adalah sosok yang luar biasa&lt;br /&gt;Sahabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan Dan ukhuwah bukan diukur pada keterikatan perasaan buka?&lt;br /&gt;Jadi roda persahabatan kita tetap berputar bukan?&lt;br /&gt;Atau mukin untuk bersahabat dengan ku pun kau taklagi sudi???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu terserah pada dirimu&lt;br /&gt;Tapi yang pasti bagiku&lt;br /&gt;Kau tetap sahabatku&lt;br /&gt;Apapun yang pernah terjadi pada dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;"Kata orang bijak, segala sesuatu ada aturannya dan ada yang mengatur, so... kita saat ini hanya berusah mengejar mimpi-mimpi dan cita-cita,sedangkan endingnya eetentang kehidupan,kita serahkan kepda sang penguasa hati,rasa,jiwa, rg dan nywa".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Design BY : Ambar `n lautan itu.......&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika persaan yang menguasi, maka sekeliling bagaikan miliknya, karena itulah puisi ini tercipta...agar roda kehidupan terus berputar dengan normal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-9124504541881359526?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/9124504541881359526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=9124504541881359526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/9124504541881359526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/9124504541881359526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/treee-of-love-maybe.html' title='Treee of Love, maybe'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R8AedGsbEBI/AAAAAAAAAFE/zyT-ubMDDvw/s72-c/leaf3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-410840863902305836</id><published>2008-02-20T05:43:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T05:48:13.328-08:00</updated><title type='text'>Pohon Cinta Dalam Hati Sahabatku</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Pohon Cinta Dalam Hati (Milik Sahabatku)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pergi, kurang lebih sepuluh menit yang lalu, gadis berjilbab itu mengatakan, "Aku&lt;br /&gt;percaya, kamu bukan pemuda cengang. Hampir sewindu kita telah menangis bersama-sama. Itu cukup tidak perlu diperpanjang lagi. Kita sudah berusaha untuk menemukan jalan terbaik, namun siapa sangka kereta perpisahan telah menjemput kita. Percayalah kepada Tuhan. Mungkin kini tempat lebih lapang dibanding kita saat ini. Tinggal kita mau hidup terus atau berlahan mati. Mata gadis bejilbab memandangiku tak lagi selembut air, yang bisa melobangkan batu setiap tetesan, memadamkan api saat membara. Tidak ada kelembutan dalam kata-katanya. Aku merasa ucapan gadis berjilbab begitu serius, tetapi tidak mengandung tekanan. Ia berbicara seperti menceritakan tentang kegiatan sehari-hari. Begitu datar. Tetapi hatiku terkesiap mendengarnya. Aku akan naik kekereta perpisahan pagi ini juga, sebelum orang ramai kejalan-jalan. Sebelum tampak kuda-kuda berdatangan parkir membentuk jejeran panjang, sebelum bel-bel itu berbunyi mengisyaratkan waktu belajar dimulai. Aku percaya, kamu sanggup menghadapi hari depanmu tanpa aku. Aku melihat kudamu cukup tangguh menemanimu diujung jalan, dan aliran darah otakmu masih lancar untuk menuju ruangan itu, dan terutama perasaanmu yang tabah, ingat jangan pernah menangis lagi." Bibirku mendadak gemetar seperti ada ratusan kata-kata berkerumun diujung lidah. Berdesakan ingin meletup, mendorong dinding gigi, membuat rahangku keras seperti tebuat dari longam tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. "Aku menulis surat untukmu, karena kukira kau takkan bangun saat subuh. Bacalah setelah matamu tak mampu memandang bayanganku. Sampai suara panggilanku tak mampu kudengar lagi." Dipeluknya tubuhku yang terkulai kaku, seolah-olah aku sendiri yang berduka dan dia berperan sebagai sang bijak yang berusaha menghiburku. "Maafkan aku selama ini tak pernah membuatmu bahagia." Tak ada kecupan dari gadis berjilbab. Tangannya mengusap pipiku, terasa halus. Aku mencium bau khas yang tak terhapus dalam sewindu. Dan kini gadis berjilbab melangkah dibelakangku sambil mengeluarkan sepucuk surat lalu berlalu. Seperti memberikan isyarat bahwa disana akan menjadi akhir dari perjalanannya. Begitu sadar gadis berjilbab telah semakin jauh, hanya kulihat tas merah yang diselempangkan dipinggang. Dan segerumbul pohon yang miring diujung pandangan siap mengaburkannya. "Aku berdebar membuka lipatan surat itu seakan akan hendak membaca testamen. Teryata hanya beberapa baris kalimat yang mudah dihapal setelah membaca dua kali". "Cinta bagaikan pohon dalam hati, akarnya kepatuhan padanya, batangnya; ma'rifah padanya, cabangnya; rasa takut padanya; daunnya; rasa malu padanya, Buahnya; ketaatan padanya dan pupuknya; dzikir padanya. Jodoh, rezeki udah ditentukan padanya, sampai ayank dipertemukan dengan yang lain, asalkan niat yang baik akan dapat yang baik pula. Sementara ayank bukanlah yang terbaik buat abang." Kini aku berjalan lunglai kembali ke kelas yang kini terasa tak memiliki siapa-siapa lagi. Terasa hidup sendiri dibawah langit yang selalu mendung. Kata sementara itu mulai tak terbatas. Terutama bagiku yang kini telah kehilanganmu. Satu-satunya tumpuan harapan telah meninggalkanku. Pergi begitu saja. Hanya meninggalkan kata-kata yang justru membuatku semakin terpuruk. Memang sekarang bukan lagi saatnya untuk menangis. Selain belajar, sesekali kuhabiskan waktuku untuk menanyakan kabar dari timur, barat, selatan dan utara. Dari seluruh penjuru mata angin. Adakah yang melihat gadis berjilbab? Adakah yang sempat bersimpangan jalan dengan ayank? Atau sekedar melihat tas warna merah yang terakhir dikenakannya, sebelum meninggalkanku. "Gadis berjibab, mungkinkah kita akan bertemu lagi." Namun aku tidak lagi bersama gadis berjilbab. Dia sudah pergi dan kini mungkin telah menemukan pohon cinta dalam hati." Dilamar orang dinegeri seberang." *** Saat mentari menampakkan sinarnya, ketika pertama kali ku memandang gadis berjilbab. Seperti biasa sebelum menginjakkan langkah kaki di kampus. Kuparkir kuda tuaku yang setahun lebih tua dariku disuatu surau, ukuran sepuluh kali sepuluh, terletak memunggungi kelas kearah selatan tempat biasa aku mangkal memutar otak. Sebetulnya kudaku sekilas memandang masih terlihat gagah saat di pacu, hanya saja dikerumuni kuda-kuda muda, polesan segala warna yang tampak memikat yang sedari tadi mengelilinginya, berjejer memanjang. Tak lama kaki melangkah terdengar alunan suara, nada-nada berirama, diselingi konsonan mengiang ditelingaku, terlihat para gadis berjilbab membentuk lingkaran secara bergantian melantunkan ayat-ayat suci dengan nada datar. Gadis-gadis berjilbab itu terlihat santri penuh kedamaian tak menghiraukan lalu lalang. Itulah alasan mengapa kudaku kuparkir ke tempat itu. Nada-nada itu seperti menyisakan decak kagum, menenangkan hati sebelum otakku terkuras. Sungguh sebuah ritual kulakukan di kala mentari. Saat sang surya berada diatas kepala, kududuk sendiri disebuah kursi memanjang dimuka pintu saat yang lain meninggalkan. "Menunggu Ya?" aku disini sedang menunggu, hidup itu menunggu untuk menempuh sebuah perjalanan yang jauh yang kita tak tahu ujungnya, kemudian berlalu. Kita juga akan kesana walau kita sekarang sedang menunggu. Kereta kehidupan membawa aku ketempat yang tak aku ketahui, aku hanya menjalaninya dan menunggu. Bayangan sang surya tak terlihat, muncul bayangan depan mukaku berjalan dengan segerombolan wanita berkerudung menyelusuri lorong setapak yang dihimpit sekat-sekat ruang yang penuh sesak kaum intelek. Sungguh pemandangan yang tampak asri di siang bolong. Mataku tertuju selayang elang pada gadis berjilbab paling depan. Terlihat tampak cerah dengan tas warna merah yang diselempangkan dipinggulnya. Wajah berseri, kepala terteduh jilbab putih diatas sinarnya. Berjalan penuh arti dikeramaian kampus, terlihat senyum dan lesung pipit saat disapa, kepala tertunduk tiap arjuna memandangnya. "Ah, bukankah itu gadis di surau kulihat dikala pagi", teriak dalam hati!. Parasmu sungguh menawan hati, tak kulihat garis-garis keriput diwajahmu, yang kulihat hanyalah sisa-sisa pancaran mentari pagi. Mungkin selama ini ku hanya melihatnya disela-sela nirwana, gejolak jiwa seakan membara saat utuh tubuhmu melintasiku. Waktu dzuhur itu tak kan kulewatkan, firasatku mengatakan gadis berjilbab itu akan melintasi jalan yang sama saat pertama mata memandang. Selang lama, kepalaku tertunduk memandang bayangan itu muncul tepat dikakiku, Aku mencium bau khas yang tak terhapus dalam sewindu. Hatiku bunga pikiranku hampa saat gadis berjilbab itu melintas didepanku, namun pemandangan itu tak seperti yang kulihat tadi, sendiri dengan penuh arti. "Inikah kesepatan taaruf bagiku" Dengan nada sedikit rendah, kusapa gadis bejilbab dengan ucapan salam, tiba-tiba langkah kakinya terhenti "Wassalam" dengan senyum termanis ditatapan mataku lalu berlalu. Berlalu sampai bayangan itu tak kutemui lagi bayangan gadis berjilbab. Mungkin tikungan atau atau sekat-sekat ruang, telah menyembunyikan arah langkahnya. "Ternyata ia menyambutku, girang dalam hati" kalimat itu terdengar acapkali seakan bulan purnama muncul kembali."Ya setelah lama tidur satu decade." Sudah saatnya hati ini kubuka selebar-lebarnya. Setelah luka lama itu sedikit menyisakan memoriku. Kini saatnya kumemuja rahasia. *** Akan tetapi lihatlah hari ini diambang waktu dhuha: ternyata akhirnya aku menangis. Dadaku terasa mau meledak oleh himpitan kesepian. Ketika gadis berjilbab meninggalkan surau, dihiasi sederetan kuda tampak memanjang. Hanya kulihat tas berwarna merah yang selalu dibawanya, jilbab putih mengandung aroma parfum yang khas. Ternyata aku salah. "Gadis berjilbab itu bukanlah matahari yang selama ini kukejar." Melainkan sebuah pelangi yang memberikan segala warnanya yang indah, tapi hanya sejenak." Sungguh sebuah anugerah yang tak pernah ku dapat. Pohon cintamu yang kau berikan akan kurawat hingga suatu hari berbuah dan bersemai sepanjang masa. "Maafkan aku juga"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tak ada yang bisa mematahkan pohon Cinta, jika memang cinta itu telah direstui oleh sang pemilik dan penguasa Cinta" keep up u'r true love.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-410840863902305836?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/410840863902305836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=410840863902305836' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/410840863902305836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/410840863902305836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/pohon-cinta-dalam-hati-sahabatku.html' title='Pohon Cinta Dalam Hati Sahabatku'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-7075432037502191873</id><published>2008-02-18T02:47:00.000-08:00</published><updated>2008-02-18T02:54:22.146-08:00</updated><title type='text'>Seminar Teknologi Komunikasi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Beruntung Rasanya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku merasa sangat beruntung bisa mengikuti seminar yang sangat erat hubungannya dengan jurusan yang sedang kugeluti. Yah adalah Seminar Tekhnologi dan Masa Depanku yang diselengarakan di hotel Kapuas Palace senin 18 Feb 2008, tepatnya pukul 15.00 dimulai. Awalnya aku sempat ragu untuk hadir diruangan tersebut, tapi akhirnya aku berhasil melawan rasa itu, dan dengan PD nya aku sendirian, hadir diruangan yang telah dibanjiri peserta yang ingin mengikuti seminar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Its funtastic&lt;br /&gt;Itu yang terbersit dalam benakku saat Prof. Yohanes memulai persentasinya mengenai teknologii dan komunikasi. DAlam hatiku berkata ini pas bangets dengan bidangku. Prof. Yohanes asik sekali menjelaskan mengenai tekhnologi Nanao ~Bio~Information (Teknologinya). Dan akupun menikmatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAn kukatakan sekali lagi, Im Like It and its funtastic and very interisting. Beruntunglah yang hadir waktu itu.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-7075432037502191873?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/7075432037502191873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=7075432037502191873' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7075432037502191873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7075432037502191873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/seminar-teknologi-komunikasi.html' title='Seminar Teknologi Komunikasi'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-4067951829718049712</id><published>2008-02-12T05:41:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T05:51:13.134-08:00</updated><title type='text'>Imlek Dengan Nuansa Baruuuu</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Imlek Nuansa Baru&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pontianak&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Imlek yang dirayakan beberapa waktu lalau, memiliki nuansa  baru. Kali ini yang merayakannya tidak hanya etnis Cina saja. Tapi ternyata banyak dari komunitas lain yang merayakannya. Hal ini merupakan bibit baru yang dilakukan untuk  menumbuhkan bibit perdamaian   dan memberantas virus konflik.&lt;br /&gt;Perayaan ilmlek dikenal hanya sebagia perayaan kebudayaan saja. Ternyata banyak dari komunitas lain yang merayakan moment itu. Setiap  etnis pasti memiliki budaya yang memilliki ciri khsa tersendiri. Banyaknya etnis yang terdapat di Indonesia dan masing-masing memilki kebudayaan uyang beragam.  Hidup  dalam lingkungan yang ber beda-beda latar belakangnya, pasti dibutuhkan toleransi dalam kelangsungnnya. Hal yang terjadi beberapa waktu lalau merupakan bentuk rill toleransi. Budaya yang ada dan yang sangat beragam   ini, perlu  adanya pelestarian.&lt;br /&gt;Antara kebudayaan yang ber beda yang satu dan yang lainnya, perlu adanya usaha untuk mengetahui  budaya yang dimiliki oleh komunitas lain. Jika satu komunitas   telah mengetahui budaya serta kebiasaan yang dimiliki oelh budaya lain pastinya usaha untuk mewujudkan masyarakat yang peduli pada  perdamaian  aakan mudah terwujud.&lt;br /&gt;Mengetahui dan mengerti budaya lain juga modal untuk menumbuhkan kehidupan yang kondusif.  Banyak konflik yang terjadi karena dalam keseharian berawal  dari ketidak fahaman  antara kebiasaan  dan kebudayaan yang satu dan yang lainnya. Merayakan budaya etnis lain dalam suatu kesempatan, merupakan salah usaha untuk mengetahui perayaan dalam budaya lain.&lt;br /&gt;Tidak jarang dalam perayaan satu kebudayaan akan berakhir ricuh. Pemicu hal ini karena kurangnya rasa saling menghormati dan kurangnya kesadaran bahwa banyak sekali perbedaan antara yang lainnya. Jika etnis lain  sudah memahami apa yang sering dilakuakn oleh etnis  Cina, tidak  ada lagi tanda tanya-tanda tanya besar yang timbul dari benak masing-masing.&lt;br /&gt;Dengan faham dengan budaya lain akan terbuka kesempatan memadukan budaya yang berbeda dan timbul satu budaya lain yang lebih berkualitas dan tidak  menghilangkan budaya lama yang telah ada,  dan hal tersebut sering terdengar dengan istilah asimilasi budaya. Imlek yang dirayakan oleh beberapa komunitas yang didalamnya tidak hanya terdapat etnis Cina saja membuktikan rasa toleransi yang tinggi. Terlebih lagi budaya Indonesia yang terkenal dengan budaya ketimuran yang akrab dengan ramah, sopan santun  ataupun  tepo slliro yang tinggi dan masih banyak budaya ketimuran yang sangat   tepat diterapkan dalm kehidupan  bermasyarakat di Pontianak khususnya dan Indonesia umumnya.&lt;br /&gt;Masyarakat yang memiliki latar belakang yang berbeda dan   bergabung dalam satu komunitas, merupakan tindakan yang tepat untuk menyandingkan perbedaan yang sangat bermacam-macam. Suatu komunitas terkadang elemen yang tergabung didalamnya hanya komunitas tersebut saja, tapi tidak jarang juga suatu komunitas terdiri dari  beragam latar  belakang kebudayaan.&lt;br /&gt;Budaya  Cina mungkin merupakan budaya yang sangat asing bagi etnis Melayu, padahal dua etnis tersebut sama-sama dominan. Jika dalam kesempatan kali ini, komunitas dari  etnis lain yang berbeda sangat menghormati perayaan imlek tahun ini, tidak menutup kemungkinan komunitas etnis  Cina juga akan melakukan hal yang sa ma saat etnis lainnya mendapatkan jatah giliran merayakan kebudayaanya. Yang pasti satu kebaikan akan menumbuhkan kebaikan-kebaikan yang lainnya dan hal tersebut akan  semakin meluas. Begitu juga sebaliknya, jika sesuatu hal diawalai  dengan  hal yang tidak nyaman (kekerasan, konflik)  akan ada anak pinak dari tindakan itu.  &lt;br /&gt;Memperingati kebudayaan masing-masing dengan tetap menjaga orang lain yang ada disekelilingnya tindakan yang sangat bijak dan tepat dilakukan. Karena berangkat dari teori aristoteles jika  mnausia tidak akan bisa hidup sendiri dan akan selalu hidup  berdampingan dengan orang lian yang belum tentu berangkat dari latar belakang yang sama, karena mnusia adalah mahluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam kelangsungan hidupnya. Menjaga keutuhan  dan keakraban  dengan orang-orang terdekat yang  ada disekeliling senantiasa diperlukan. (Ambaryani LPM Stain). &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-4067951829718049712?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/4067951829718049712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=4067951829718049712' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4067951829718049712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/4067951829718049712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/imlek-dengan-nuansa-baruuuu.html' title='Imlek Dengan Nuansa Baruuuu'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-1454289785840743873</id><published>2008-02-11T05:14:00.001-08:00</published><updated>2008-02-11T05:21:24.651-08:00</updated><title type='text'>Beasiswa Karya lmiah</title><content type='html'>Apresissi Beasiswa Karya Ilmiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak&lt;br /&gt;Perihal beasiswa yang diberikan oleh pihak akademik Stain Pontianak tahun ini, menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa. Betapa tidak, menjelang tahun ajaran baru, hal ini diangap hal yang bisa memberikan jalan keluar bagi mahasiswa yang memiliki masalah perokonomian. Banyak ketegori besiswa yang diberikan. Diantaranya beasiswa prestasi akademik, aktifis, mahasiswa kurang mampu, prestasi non akademik, dan karya ilmiah. &lt;br /&gt;Besiswa karya ilmiah, merupakan besiswa yang tidak terlalu diminati oleh mahasiswa. Padahal beasiswa ini merupakan kategori beasiswa yang perlu diberi apresiasi. Kategori beasiswa yang lainnya juga perlu diberi apresiasi, akan tetapi besiswa untuk mahasiswa yang memiliki karya tulis ilmiah belum banyak terdengar. Padahal karya ilmiah merupakan bagian penting bagi mahasiswa. Mungkin salah satu alasan pihak akademik Stain Pontianak memberikan beasiswa dengan kategori karya tulis ilmiah adalah untuk memberi motifasi kepada mahaiswa itu sendiri untuk terus berkarya dan meningkatkan daya kretifitasnya dalam bidang karya tulis ilmiah. Tidak banyak mahasiswa yang meminati dunia karya tulis ilmiah, walaupun dalam kesehariannya, selalau bergelut dengan karya tulis ilmiah.&lt;br /&gt;Tidak jarang mahasiswa merasa takut dengan kata-kata karya ilmiah, sebelum menghasilkan suatu karya tulis. Salah asatu penyebabnya adalah pemikiran mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa sering berfikir, karya tulis ilmiah akan selalu berkaitan dengan metodologi penulisan karya ilmiah dan atura-aturan lainnya yang membuatnya pusing sebelum bisa mengisi lembaran kertas kosong dengan tulisan-tulisannya. Hal inilah yang membuat mahasiswa jarang sekali mengeluti duania karya tuls ilmiah. Bahkan yang lebih parahnya, mahasiswa hanya mau berhubungan dengan karya tulis ilmiah karena terkait tugas, diluar itu hampir bisa dipastikan mahasiswa tidak respek terhadap karya tulis ilmiah. &lt;br /&gt;Dengan adanya beasiswa karya tulis ilmiah inilah, yang akan memberikan motifasi baru bagi kalangan mahasiswa yang belum berminat menekuni dunia karya tulis ilmiah. Paling tidak mahasiswa akan terus terpacu untuk menulis dengan motifasi beasiswa. Pemikiran takut dengan karya tulis ilmia mungkin sedikit-demi sedikit akan berkurang dengan adanya penghargaan bagi mahasiswa yang telah memiliki banyak karya ilmiah. Jika hal ini bisa terrelisasi setiap tahunnya, ketakutan ataupun tradisi malas menulis pada kalangan mahasiswa akan berkurang. Dengan adanya beasiswa ini juga merupakan salah satu bentuk kepedulian orang-orang intelektual kepada peserta didiknya.  &lt;br /&gt;Kalaulah memang pihak akademik memberiakan porsi yang banyak terhadap beasiswa dengan kategori karya ilmiah, mungkin hanya segelintir mahasiswa yang akan mengambil dan merebutkan bantuan dana dalam kategori tersebut. Usaha yang dilakukan oleh pihak akademik untuk memberikan penghargaan bagi mahasiswa yang telah banyak menghasilkan karya tulis ilmiah ini, belum banyak dijadikan kriteria beasiswa yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa. Mahasiswa juga belum begitu menyadari akan usaha yang sedang dilakukan oleh pihak Stain Pontianak. Karena kalangan mahasiswa masih acuh dengan hal ini. Padahal memiliki karaya tulis ilmiah merupakan hal yang membanggakan. &lt;br /&gt;Usaha yang dilakuakn oleh pihak Stain perlu diacungkan jempol, dan hal ini perlu dibudi dayakan untuk memberikan motifasi pada kalangan mahasiswa. Tinggal bagaimana usaha mahasiswa untuk terus memacu diri dan menjadi mahasiswa yang mendapatkan bantuan yang disediakan. &lt;br /&gt;Memiliki karaya tulis ilmiah merupakan memang hal yang cukup membangakan. Selain kita dapat mentransfer apa yang kita miliki melalui tulisan, karya tulis itu menjadi bukti usaha kita untuk peduli terhadap generasi penerus. Karena jika hampir setiap generasi tidak ada yang berminat dalam bidang karya tulis ilmiah, tidak akan ada budaya mewariskan ilmu pada generasi sesudah kita, karena karya tulis merupakan cara melestarikan ilmu dari orang-orang terdahulu. (Ambaryani LPM Stain).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-1454289785840743873?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/1454289785840743873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=1454289785840743873' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1454289785840743873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1454289785840743873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/beasiswa-karya-lmiah.html' title='Beasiswa Karya lmiah'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-2758583048269833475</id><published>2008-02-11T05:14:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T05:18:42.887-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Larangan Naga Beraksi di Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak&lt;br /&gt;Adanya larangan atraksi naga di kota Pontianak, mungkin menjadi hal yang aneh bagi masyarakat Cina. Atraksi naga yang pernah menjadi pusat perhatisn masyarakta Pontianak itu akhirnya tak lagi boleh dilakukan. Hal ini disebut-sebut sebagai buntut dari kejadian yang terjadi di Gg. 17 beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atraksi naga yang sering dilakuakn di sepanjang jalan, dan jika hal itu dilakukan lagi, dikhawatirkan akan memicu konflik di Pontianak lagi. Kejadian Gg. 17 yang melibatkan etnis Melayu dan Cina, yang belum lama terjadi itu, dikhawatirkan masih menigalkan bekas. Jika memang benar kejadian itu masih meningalkan bekas, adanya perayaan saat yang mengundang perhatian massa, diduga akan memnumbuhkan bibit-bibit konflik kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik yang terjadi antara etnis Jawa dan Cina didaerah klaten, bisa dijadikan salah satu referensi. Etnis Cina yang sedang mengarak naga dijalannan dengan lantuanan musik yang cukup besar, dianggap hal yang tidak nyaman bagi etnis Melayu dan akhirnya konflik pun terjadi. Berkaca dari kejadian itu, ini mungkin merupakan salah satu sebab mengapa atraksi naga yang keseringan dilakukan di beberapa ruas jalan yang telah ditentukan akhirnya dilarang. Terlebih setelah konflik yang cukup panas pernah terjadi antara dua etnis yang sama-sama dominan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca kejadian di Gg. 17 itu, instansi yang berwewenag juga warga Pontianak menjadi lebih waspada. Karena hal yang kecilpun mampu memicu terjadinya konflik. Adanya larangan itu, merupakan salah satu realisasi dari semboyan mencegah lebih baik  dari pada mengobati. Mencegah hal yang bisa memicu konflik, merupakan jalan yang tepat untuk diambil, ketimbang menangani konflik yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi konflik rawan terjadi setelah kejadian itu, karena warga lebih sensitif setelah adanya kejadian yang cukup membuat orang spot jantung itu. Hal apapun yang bisa menyebabkan terjadinya konflik kembali, sebisa mungkin untuk ditekan. Ini salah satu dampak dari konflik yang terjadi. Seharusnya ini menjadi salah satu hal yang harus direnungkan bersama bagi seluruh masyarakat untuk terus menjaga ketentraman, menjaga tingkah laku yang bisa merugikan orang lain. Karena konflik, kekerasan, anarkis dan kroni-kroninya, sangat merugikan terlebih untuk berlangsungnya kehidupan yang selalu berdampingan dengan orang-orang disekelling yang macam dan jenis yang beragam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling menjaga tindakan dan menekan ego masing-masing merupakan solusi dalam hidup bermasyarakat. Tidak jarang karena sikap yang tidak mau tau urusan orang lain akan berujung kekerasan. Menumbuhkan rasa sosial atau peduli dengan orang lain pupuk yang bagus untuk menumbuh suburkan perdamaian dalam kehidupan. Pupuk yang tidak dijual dan tidak perlu tidak perlu memerlukan uang untuk memilikinya itu ternyata tidak menjadi hal yang cukup mengoda bagi masyarakat. Tetapi masyarakat lebih suka tindakan yang membabi buta, tidak mengoptimalkan akal sehatnya dan lebih memilih tindakan yang merugikann masing-masing pihak baik fisik, moral maupun material. &lt;br /&gt;Jika konflik terjadi ketiga unsur itulah yang sering menjadi korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi fisik, pelaku kriminalitas, jiwanya terancam dan fisiknya juga saling tersakiti. Selain itu dari segi moral, pastinya akan ada bekas akibat dari konflik itu sendiri, dan tak jarang bibit dendampun tertanam yang kahirnya akan menimbulkan konflik yang lainnya. Kerugian dalam material hal material juga sangat mungkin terjadi. Saat konflik terjadi, tidak hanya orang yang bersangkutan yang akan menjadi korban, tapi hal lain juga. Seperti yang terjadi di Gg. 17. Buah konflik itu juga merusak klenteng milik entis Cina. Terlalu banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari konflik tersebut, jika, maka dari itulah semua pihak sangat wajar jika terus waspada untuk meminimalisir pontensi terjadinya konflik. (Ambaryani LPM Stain).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-2758583048269833475?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/2758583048269833475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=2758583048269833475' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/2758583048269833475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/2758583048269833475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/larangan-naga-beraksi-di-pontianak.html' title=''/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-744956747907873691</id><published>2008-02-09T05:11:00.001-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:32.217-08:00</updated><title type='text'>Sahabat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R62vdWsbD9I/AAAAAAAAAEo/5siSE6_ALr8/s1600-h/index.php.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R62vdWsbD9I/AAAAAAAAAEo/5siSE6_ALr8/s200/index.php.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164977266506797010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; SAHABAT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                           &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ternyata waktu yang pernah kita lalui bersama&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Terla&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;lu indah untuk ditepis dari ingatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Saha&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;bat...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mung&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kin kau tak pernah menyadari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam aku mengagumimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dengan gaya bicaramu, pemikiranmu, dan cara mu dalam menghadapi banyak hal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku bel&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ajar banyak darimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Malah terkadang aku ingin menjadi sepertimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Menadi orang yang santai, tapi pasti dalam melangkah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku tak berlebihan sahabat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku tak berani membohongi diriku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini hal yang terindah saat bersamamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kebersamaan ini belum lama kita jalin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                 &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sahabat...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Engkau membiuskan semangat baru dalam jiwaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Engkau juga mampu membuatku tercengang sesaat, jika kau berkata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kau terlalu hebat untuk terus bersembunyi sahabat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tapi harapanku padamu sahabat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah puas dengan apa yang telah kita lakukan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jika kau merasa kau bisa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pulalah kau berhenti untuk bisa berkembang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                 &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sahabat....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kau telah mengajariku banyak hal dalam kehidupan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kau mengajariku terus optimis tanpa peduli apa kata orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kau juga mengajariku untuk terus berjiwa besar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kau mengajariku untuk menjadi orang yang bisa memberikan sesuatu pada orang-orang yang ada disekelilingku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat beruntung mengenalmu sahabatku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Semoga persahabatan ini akan menjadi hal yang terindah dalam perjalanan kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita akan meraih sukses setelah jerih payah kita lakukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tuhan tak pernah tidur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik pada kita &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah akan hal itu sahabatku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sahabat lamaku yang baru ku temukan jati dirimu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-744956747907873691?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/744956747907873691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=744956747907873691' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/744956747907873691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/744956747907873691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/sahabat.html' title='Sahabat'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R62vdWsbD9I/AAAAAAAAAEo/5siSE6_ALr8/s72-c/index.php.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5153244616468374897</id><published>2008-02-09T05:11:00.000-08:00</published><updated>2008-02-09T05:12:56.578-08:00</updated><title type='text'>Kongres Rakyat Kalbar</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;KONGRES RAKYAT KALIMANTAN BARAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;Ambaryani, Dakwah (KPI)&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kongres rakyat Kalbar yang sudah santer terdengar di kalangan masyarakat, perlu adanya penanganan yang cukup serius karena jika hal tersebut tidak ditangani dengan serius, maka dampak yang akan timbul akan dirasakan oleh masyarakat luas. Kongres rakyat Kalbar yang diberitakan sebagai blueprint atau suatu rencana untuk Kalbar beberapa waktu kedepan. Maka dari itulah perlu adanya tangapan yang serius dari banyak pihak, baik itu orang-orang yang memiliki kapasitas dalam pengambilan keputusan itu maupun orang-orang yang dari kalangan masyarakat. Karena masyarakat adalah komponen yang bisa memberikan perubahan bagi Kalbar sendiri.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kalbar sendiri memiliki kebudayaan yang perlu di lestarikan, seperti tari khas dayak. Kebudayaan nenek moyang itu jika tidak dilestarikan akan punah ditelan kemoderenan zaman. Adanya kongres tersebut sangat bagus untuk Kalbar karena hal yang akan dibahas mencakup banyak hal. Sangat bagus sekali ketika adanya perencanaan serta alur atau arah yang jelas dalam hal kebudayaan, politik, pendidikan ekonomi dan hal lainnya yang akan dibahas. Dalam hal ekonomi sangat bagus untuk dibahas dan adanya perencanaan tersendiri. Jika hal tersebut bisa terlaksana, adanya kegiatan pelestarian kebudayaan, pengembangan budaya dan masih banyak lagi hal yang isa dilakukan dalam hal kebudayaan. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jika semua rencana dan bagai mana cara merealisasikannya telah terwujud, maka tidak akan ada lagi peristiwa perebutan kebudayaan. Seperti halnya pengakuan yang dilakukan oleh negara Malaysia terhadap reog yang mirip sekali dengan kebudayaan reog ponorogo yang dimiliki negara Indonesia. Jika di Kalbar ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengkoordiniran kebudayaan Kalbar dengan teratur, maka itu merupakan satu tindakan kepedulian yang dilakukan oleh rakyat Kalbar agar negara Indonesia tidak lagi kehilangan kebudayaan yang dimilikinya, dan tidak ada lagi perebutan kebudayaan. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Masyarakat yang peduli dengan kebudayaan Kalimantan Barat pasti akan berusaha keras untuk menjaga kebudayaan tersebut. Selain itu kebudayaan yang cukup banyak jika tidak diakomodir dengan baik, maka kebudayaan tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Jika kebudayaan tersebut dikelola oleh sumber daya manusia yang bekompeten dalam bidangnya, maka kebudayan tersebut bisa menjadi omset daerah. Akan tetapi jika kebudayaan tidak diangap penting dan keberadaanya tidak diindahkan, bukanlah bisa mendatangkan omset bahkan kebudayaan itun bisa habis dan musnah. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam bidang politik, adanya akomodir atau rencana pelaksanaan yang pasti dan transparan, maka jalanya pemerintahan pun akan lancar. Saat ini jika pemerintahan berjalan pada janalan yang tidak semestinya atau prosesnya yangtidak sesuai dengan ketentuan pastinya akan menimbulkan masalah bagi suatau daerah juga masyarakat yang dipimpinnya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bidang politik pada pemerintah pusat tidak akan berjalan seperti semestinya jika pemerintahan yang ada di daerah-daerah pun belum benar dalam pelaksanaanya. Adanya kecurangan-kecurangan dalam hal mendapatkan kursi jabatan itu merupaka suatu bukti tidak adanya sistem yang profesional, bagus serta bisa dipertanggung jawabkan. Kalaupun ada sistem yang bagus tapi tidak didukung dengan sumber daya manusia yang bagus, maka nihillah hasilnya. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Begitu juga dengan tindakan korupsi yang terjadi dikalangan para pejabat. Hal itu juga bisa terjadi karena tidak adanya tindakan tegas terhadap pelaku penyelewengan terhadap hal-hal politik. Walaupun tindakan itu bukanlah wewenag dari para pragtisi hukum, akan tetapi jika para pragtisi politik tidak sadar hukum dan tidak adanya peraturan tegas terhadap hal tersebut, maka akan tetap lestarilah budaya penyalah gunaan jabatan. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bidang pendidikan juga adalah elemen penting yang berada disuatu daerah atupun negara. Pendidikan merupakan hal yang penting karena dari pendidikan itulah rakyat yang merupakan generasi didik untuk bisa memajukan daerah dan negara. Jika tidak adanya sistem pendidikan yang tetap dan perencanaan yang bagus, maka mutu dan kualitas pendidikan kita tidak akan pernah maju. Jika perubahan sistem pendidikan yang hampir terjadi setiap tahunnya terus dibiarkan terus menerus, maka tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adanya konsisten serta loyalitas para pragtisi penkdidikan. Jika para pragtrisinya saja tidak konsisten dengan apa yang dilakukan dan tidak bisa melakukan sesuatu secara total bahkan ada yang menjadikan pendidkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hal yang ke sekian dalam kehidupannya, maka tidak akan adanya kemajuan yang berarti pada daerah kita juga negara ini.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kualitas sumberdaya manusia tergantung pada kualitas pendidikannya. Mungkin dengan adanya kongres rakyat Kalbar ini akan mengilhami adanya suatu sistem yang baku, tetap tidak berubah-ubah pada pemerintah pusat. Hal yang selalu terjadi adalah adanya polemik tahunan mengenai ujian nasinal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mascyarakat luas baik pragtisi pendidikan dan lembaga yang serupa mengtakan polemik ini mertupakan hasil dari ketidak konsistenan pemerintah terhadap sistem pendidikan kita. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Teori yang bisa digunakan adalah, jika menginginkan ilmu yang melekat pada diri dan ingatan kita kuncunya adalah kontinou dan konsisten dalam belajar dan mengamalkannya. Jika belajar hanay sekali, setelah itu tidak pernah lagi belajar dan mengasah kemampuan maka ilmu tersebut tidak akan berbuah hasil.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam bidang ekonomi. Kalimantan Barat merupakan daerah yang memiliki sumberdaya alam yang luar biasa. Sumberdaya alam yang terus di eksploitasi tanpa henti demi kepentingan ekonomi, maka hasilnya dalah terjadinya banjir dan yang sedang gencar adalah global warming. Terjadinya kerusakan alam serta lingkngan adalah akibat kegiatan ekonomi yang tak terkendali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akan adanya daerah Kubu Raya yang beberapa daerah yang termasuk kedalam kawasan Kubu Raya adalah Sintang, Melawi dan Ketapang yang akan tergabung, dan daerah tersebut merupakan &lt;i&gt;heart of Borneo&lt;/i&gt; paru-paru Kalimanntan Barat. Daerah &lt;i&gt;heart of Borneo, &lt;/i&gt;yang akan menjadi provinsi sendiri, maka ada suatu kekhawatiran Borneo akan kehilangan paru-parunya. Karena salah satu motifasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adanya pemisahan kawasan tersebut adalah prospek dalam bisdang ekonomim yang cukup bagus. Jadi pemanfaatan atau pengambilan sumber daya alam harus tetap diakomodir dan diawasdi dengan ketat demi mencapai kesetabilan daerah serta lingkungan (alam).&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5153244616468374897?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5153244616468374897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5153244616468374897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5153244616468374897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5153244616468374897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/kongres-rakyat-kalbar.html' title='Kongres Rakyat Kalbar'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-6811797537967735331</id><published>2008-02-08T03:38:00.001-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:32.531-08:00</updated><title type='text'>Saatnya Media Efaluasi Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6xEigSKoaI/AAAAAAAAAEg/CP2GPriB2UI/s1600-h/writing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6xEigSKoaI/AAAAAAAAAEg/CP2GPriB2UI/s200/writing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164578232259486114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Saatnya Media Efaluasi Diri   &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pontianak&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Media selalu bisa menjadi jembatan masyarakat untuk menyampaikan bermacam ragam informasi yang ada disekitarnya. Media juga terbukti mampu menjadi jembatan dalam menangani dan membedah suatu kasus. Bagaimana tidak, karena wartawan sendiri adalah manusia yang selalu ingin tahu. Mungkin inilah sebabnya banyak hal yang bisa dipublikasikan oleh media, karena rasa ingin tahu yang tinggi. Permasalahan yang diberitakan berfariasi. Mulai dari perkara yang sederhana hingga perkara yang luar biasa. Dari lingkungan pribadi (praivesi) hingga perihal besar yang terjadi disuatu instansi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bakan ada orang yang lebih takut menghadapi satu jurnalis dari pada harus menghadapi seribu tentara. Itu artinya wartawan atau jurnalis memilki kekuatan yang luar biasa. betapa tidak, tulisan seorang jurnalis mampu mempengaruhi banyak orang. Jurnalis selalu bisa mengorek dan membedah suatau hal yang diangap tidak bisa dilakuakn oleh oran lain. Media juga selalu menjadi sarana yang paling bisa memberikan kritik pada orang lain. Media yang serba bisa menuntaskan dan menyoroti suatu kasus. Tapi apakah suatau media mampu mengkritik dirinya sendiri? &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tidak jarang media hanya bisa mempublikasikan dan melakukan riset terhadap kasus orang lain, tapi untuk meneliti apa yang sedang terjadi dalam lingkungannya sendiri tak mampu dilakuakn.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Media mampu membongkar suatu sistem pada suatu perusahan ataupun kinerja para pejabat tinggi, tapi sudahkah media melakukan efaluasi sistem yang ada didalam media itu sendiri? Baik dari kinerja pimred yang memegang kendali. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Sudahkah redaktur bekerja optimal dengan space atau bidang masing-masing? Sudahkah bagian pemasaran dan periklanan melakuakn amanahnya sesuai dengan ketentuan yang ada? Sudahkah wartawan mengakses informasi yang selayaknya? Dan sudahkah berita yang disajikan itu benar-benar fakta yang tidak ada motif lain didalamnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak jarang sistem yang semrawut, bisa terbaca oleh pembaca. Baik itu dari hasil pengeditan berita, ragam sajiannya, hingga proses pemasaran koran yang sudah siap dikonsumsi oleh pembaca. Mungkin media lupa jika pembacanya juga ternyata orang-orang yang kritis dalam dunia jurnalistik, dan pembacanya juga cukup cerdas mengamati perkembangan media yang selama ini dijadikan media yang mampu memeberikan informasi yang dibutuhkan pembaca.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Benarkah redaktur hanya melakukan tugasnya sebagai pengedit berita? Atau redaktur juga mampu menangani bagian periklanan, hingga antara fakta dan iklan bercampur baur. Jika media mampu menjadi bahan efaluasi banyak hal, mengapa media tak bisa mengefaluasi dirinya sendiri. Lagi-lagi hal ini berkaitan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan elemen yang tergabung didalamnya. Jika media diibaratkan mesin, mesin akan berfungsi dengan baik jika onderdil yang ada didalamnya juga baik begitu juga halnya dengan media. Tak salah jika ada pepatah mengatakan jadilah yang terbaik dari yang baik, orang bijak juga mengatakan ”Orang yang bisa memberikan kebaikan kepada orang lian tapi ia tak mampu memberikan yang kebaikan pada dirinya sendiri, maka ia akan habis terbakar ibarat lilin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menyala”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Itu artinya Media akan menjadi media yang cukup baik dan diminati oleh banyak orang jika usaha untuk menjadi yang terbaik selalu dilakukan. Tanpa menyertakan unsur-unsur lain yang bisa mematahkan usaha untuk menjadi yang terbaik. Media juga jangan menjadi lilin yang terbakar, ia hanya bisa memberikan kritik pada banyak hal, tapi untuk bisa mengkritik dan mengefaluasi diri tak bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Jangan pernah berhenti berusaha. Berhenti berusaha sama artinya menghentikan roda kehidupan. harus disadari hidup takkan bisa sendiri. Kadang teman membuat kita lebih kuat dan memotifasi untuk lebih baik lagi. Jangan salahkan orang lainjika menemui kegagalan. Efaluasi diri apa yang telah kau lakukan pada kehidupanmu..... Good Luck Buat Semua....."&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-6811797537967735331?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/6811797537967735331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=6811797537967735331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/6811797537967735331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/6811797537967735331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/saatnya-media-efaluasi-diri.html' title='Saatnya Media Efaluasi Diri'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6xEigSKoaI/AAAAAAAAAEg/CP2GPriB2UI/s72-c/writing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-1992620525627470068</id><published>2008-02-07T05:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:32.657-08:00</updated><title type='text'>Kekhawatiran Kala Valenite Menjelang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6sIOwSKoYI/AAAAAAAAAEQ/1mHoUEIsxFI/s1600-h/hargai%2Bdiri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6sIOwSKoYI/AAAAAAAAAEQ/1mHoUEIsxFI/s200/hargai%2Bdiri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164230447282692482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;        &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Budaya Valentine&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-weight: bold;"&gt;Pontianak&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;14 Februari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya tinggal enam hari lagi. Banyak remaja yang menanti kedatangan bulan Februari (valentine). Budaya atau kebiasaan merayakan hari Valentine sanggat akrab dengan dunia remaja. Banyak remaja yang belum mengetahui apa sebenarnya makna dari hari valentine tersebut. Tidak jarang juga remaja merayakan valentine karena gengsi. Tetapi apakah mereka mengetahui apa itu valentine? Valentine yang jattuh pada tanggal 14 Februari sering dirayakan dengan hal yang identik dengan bagaimana menunjukkan rasa kasih sayang pada orang yang disayangi. Hari valentine juga disebut-sebut sebagai hari kasih sayang. Bentuk dan cara mengungapkan rasa sayang itupun sangat beragam. Baik itu dengan bertukar kado, coklat dengan dibungkus sedemikian indah dengan nuansa warna pink karena diyakini warna pink merupakan warna yang berhubungan dengan hal yang berbau &lt;i&gt;love. &lt;/i&gt;Hal itu yang sering dilakuakn oleh muda mudi saat 14 Februari datang, bahkan ada pula yang merayakannya dengan melakukan hal diluar batas kewajaran dengan tameng ingin menunjukkan rasa kasih sayang. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sudah banyak dijumpai di hampir seluruh super market atau departement store yang dihiasi aksisoris bernuansa pink, dan didalamnya banyak sekali menyediakan bingkisan yang bermacam ragam. Hal ini menandakan semua orang mendukung dan setuuju dengan adanya hari kasih sayang. Tetapi salah jika kebanyakan orang mengira jika hari sepecial dalam kasih sayang hanya jatuh pada 14 Februari saja. Jika itu yang terjadi, artinya diluar hari valentine kasih sayang tidak lagi menghiasi dalam sosialisasi. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Makna yang sangat esensi adalah bagaimana kita bisa mengungkapkan rasa sayang kita pada semua orang-orang terdekat. Hal yang telah mendarah daging selama ini, valentine hanya untuk remaja saja, khususnya pada pasangan kekasih. Apakah orang lain tidak layak mendapatkan ungkapan kasih sayang? Jika hal itu yang dilakukan, artinya remaja Indonesia memiliki &lt;i&gt;maind set &lt;/i&gt;yang salah. Kasih sayang haruslah ada disepanjang waktu dan kasih sayang tidak mengenal waktu. Semua orang berhak mendapatkan ungkapan rasa kasih sayang dengan dibatasi koridor atau aturan dan norma yang ada. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tidak hanya dibatasi oleh skup percintaan muda mudi. Remaja Indonesia selalau berusaha bisa mengungkapkan rasa kasih sayang pada orang yang diangap ia sayangi, tapi pernahkah mereka mengungkapkan rasa kasih sayang mereka pada kedua orang tua juga keluarga besarnya. Jika ini tidak pernah itu artinya ia tidak begitu menghiraukan orang-orang yang sebenarnya begitu menyayanginya. Pernahkah seorang remaja yang berstatus remaja mengungkapkan rasa sayangnya pada sang guru yang telah banyak memberikan ilmunya padanya. Pernahkah remaja berusaha mengungkapkan rasa sayangnya pada Tuhan yang telah begitu baik dan kasih sayangnya tidak bisa ditandigi oleh siapapun. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kesadaran akan asas sepiritual menjadi modal dasar bagi remaja. Hal yang sangat disesalkan adalah remaja tidak mengetahui batasan-batasan yang harus senantiasa dijaga. Karena moment valentine bayak mengarah pada pergaulan bebas yang mengakibatkan pada seks bebas. Ada juga remaja yang ingin menunjukkan rasa kasih sayangnya hingga ia rela melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan setelah ikatan pernikahan ada diantara dua mahluk yang berlainan jenis. Dampak yang ditimbulkan dari perayaan hari valentine begitu menghawatirkan dikalangan remaja. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Banyak orang tua yang membiarkan anaknya larut dalam nuansa valentine. Padahal valentine seharusnya menjadi moment yang patut diwaspadai. Perlu adanya pengawasan ketat dari orang tua agar anaknya yang menyandang predikat generasi penerus bangsa tidak terjerumus pada hal yang tidak dinginkan dari pergaulan bebas hingga seks bebas. Jika itu yang terjadi maka hancurlah moral generasi penerus. Jangan biarkan generasi penerus rusak karena budaya valentine kasih sayang yang seharusnya bisa diungkapkan setiap detik pada semua orang yang ada disekeliling kita. &lt;/p&gt;   &lt;span style="font-family:&amp;quot;;font-size:130%;"&gt;Mengungkapkan rasa kasih sayang tidak harus menunggu moment valentine. Setiap hari setiap saat kita dianjurkan untuk berkasih sayang pada sesama. Jika untuk mengungkapkan kasih sayang harus menunggu moment 14 Februari kehidupan yang berjalan jauh dari nuansa kasih sayang. Menunjukkan rasa kasih sayang banyak cara yang lebih baik dan murah dibandingkan harus merayakan hari valentine dengan membeli coklat dan jenis kado yang lainnya yang relatife mahal. Jurus yang sangat ampuh untuk mengungkapkan rasa sayang pada orang tua dan orang-orang terdekat adalah dengan menunjukkan prestasi atau kesuksesan yang kita raih, diiringi dengan sikap yang sesuai dengan aturan. Perayaan valentine day harus sudah diwaspadai jauh hari sebelum 14 Februari. (Ambaryani LPM Stain)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-1992620525627470068?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/1992620525627470068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=1992620525627470068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1992620525627470068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1992620525627470068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/kekhawatiran-kala-valenite-menjelang.html' title='Kekhawatiran Kala Valenite Menjelang'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6sIOwSKoYI/AAAAAAAAAEQ/1mHoUEIsxFI/s72-c/hargai%2Bdiri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8511386362343481297</id><published>2008-02-03T05:40:00.000-08:00</published><updated>2008-02-03T05:59:00.919-08:00</updated><title type='text'>Sulitkah Untuk Menulis???</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Sulitkah Untuk Menulis?&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 3 Februari 2008&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menulis merupakan hal biasa yang sering dilakukan banyak orang, tetapi tidak sedikit orang yang mengaku kesulitan jika menulis untuk dikonsumsi khalayak, baik itu dalam sebuah opini, artikel, berita maupun tulisan panjang. Salah satu faktor yang melatar belakangi adalah tulisan yang selama ini dihasilkan hanya untuk dikonsumsi pribadi. Tidak sedikit mahasiswa jurusan Dakwah Program studi Komunikasi Penyiaran Islam STAIN Pontianak yang didalamnya terdapat suatu kompetensi yaitu jurnalistik, mengeluh kesulitan untuk menulis pada suatu media cetak lokal. Banyak keluahan dari mahasiswa saat hendak menuangkan ide kedalam tulisan yang akhirnya bisa dikonsumsi oleh khalayak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pemicu fenomena ini adalah karena terlalu terpaku pada  konsep menulis. Untuk memulis ada aturan-ataurannya tersendiri yang terangkum dalam satu kaidah tulisan. Banyak literatur yang berisi kaidah-kaidah dalam menulis menulis, baik itutulisan dalam bentuk straigh news, naratife reporting, artikel, opini, maupun laporan panjang. Teori, aturan ataupun kaidah dalam menulis itu sangat penting untuk dimiliki oleh calon penulis. Tetapi untuk penulis pemula, terlalu terpaku pada kaidah akan mempersulit tahap awal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk menimbulkan rasa suka menulis, salah satu yang harus dikesampingkan aadalah rasa takut salah. Lantaran terlalu mengikuti prosedur yang diangap masih asing dan sulit akhirnya penulis kesulitan dan kahirnya keinginan untuk menulis stop hanya sampai pada kaidah yang dipelajarinya. Disisi lain aturan dalam penulisan juga bisa mempermudah penulis jika ia merasa terbantu dengan adanya aturan dan teori tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain rasa takut salah yang harus dikesampingkan untuk tahap awal menulis, tulis hal-hal yang kecil, dekat dengan dan sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Karena hal tersebut dekat dengan kehidupan si penulis dan sering dijumpai dalam kehidupan, penulis akan merasa mudah karena mengetahui hal tersebut dan banyak hal yang bisa ditunagkan dalam tulisan tersebut. Setiap ada ide langsung tuangkan dalam bentuk tulisan. Menulis tidak perlu menunggu ada ide yang brilian dan wah. Jangan biarkan ide tadi menghilang. Biasakan untuk menulis apa saja yang sedang dipikirkan. Banyak juga yang beralasan tidak bisa menuangkan ide karena tidak memiliki komputer. Padahal yang perlu diketahui, menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan tidak hanya didalam komputer. Biasakan juga untuk rajin menuangkan ide-ide kecil tersebut dalam buku dan sewaktu-waktu buka kembali buku tersebut lalu baca tulisan itu. Kebiasaan menulis dairy ternyata kebiasaan yang bagus karena kebiasaan untuk selalu menuangkan apa yang sedang dipikirkan sudah tumbuh.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang orang yang memiliki hobi menulis akan menuliskan apa yang sedang ia pikirkan walaupu hanya dalam secarik kertas. Tetapi kelemahan dari kebiasaan itu adalah tulisan tidak terinfentaris dengan baik, bisa jadi kertas-kertas tersebut ada yang hilang. Banyak membaca salah satu aktifitas yang sangat mendukung keinginan untuk menulis. Karena dengan membaca perbendaharaan kata akan terus bertambah. Buku-buku yang dibacapun tidak hanya terpaku pada jenis-jenis buku tertentu, tetapi timbulkanlah kebiasaan menyukai membaca semua buku, sehingga bisa mengetahui banyak hal dari referensi yang kita baca. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang sering dijumpai, saat aktifitas membaca dilakuakn, buku-buku yang dibaca hanya berkutat pada jenis buku yang sama. Jika hal ini yang terjadi, tulisan yang akan dihasilkan pun tidak jauh berbeda dengan pemikiran yang  ada pada buku tersebut. Memutuskan untuk banyak mempelajari karya orang lain, merupakan langkah jitu untuk mengawali proses menulis. Dengan mempelajari tulisan orang lain bisa ditemukan dengan sendirinya kepahaman dalam menulis. Selain itu dengan banyak membaca karya orang lain setelah membekali diri dengan teori bisa membandingkan bagaimana kuaalitas tulisan yang dihasilkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Awali sesuatu dengan kata-kata mudah, karena ketika ingin melakukan sesuatu dan diawali dengan kata mudah, hal tersebut akan mengsugesti semangat untuk melakukannya. Terlalu banyak orang yang telah mendoktrin dirinya tidak bisa padahal belum ada usaha yang dilakukannya. Dengan mengatakan susah, itu artinya separuh dari semangat yang dimiliki sudah luntur. (Ambaryani anggota lembaga perss mahasiswa LPM  STAIN Pontianak).  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Hal inilah yang sedang ku lakukan. Berusaha dan terus berusaha menuliskan apa yang sedang ku pikirkan, kurasakan dan yang sedang ku lihat dan kudengar apapun halnya. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8511386362343481297?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8511386362343481297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8511386362343481297' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8511386362343481297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8511386362343481297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/sulitkah-untuk-menulis.html' title='Sulitkah Untuk Menulis???'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8400444845182929096</id><published>2008-02-02T05:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:32.871-08:00</updated><title type='text'>Our Story in RRI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6R1HQSKoXI/AAAAAAAAAEI/r4PIeJKHoa8/s1600-h/Radio.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6R1HQSKoXI/AAAAAAAAAEI/r4PIeJKHoa8/s200/Radio.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162379840364126578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Catatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Studi Banding Radio PROKOM 107, 5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;FM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Radio Pro Komunitas (PROKOM) lakukan setudi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banding di beberapa media penyiaran lokal,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baik media&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;audio maupun audio visual. Kegiatan ini merupakan ide dari direktur radio Prokom Amalia Irfani, S.Sosi beberapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;waktu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lalu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Studi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banding ini rencananya akan kita adakan di beberapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;media&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lokal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diantaranya di radio RRI, Katulistiwa TV, KCTV, TVRI,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;RUAI TV, ungkap Amalia Irfani. Studi banding ini sudah kita mulai hari ini yang dimulai dari RRI, yang seharusnya kami dari pihak Radio Prokom menjadwalkan pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hari sabtu, tapi setelah dikonfir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masi ternyata pihak RRI bisanya hari ini. Hari ini seluruh crue Prokom berkunjung ke RRI dan sayangnya saya tidak bisa mendampingi karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada tugas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kantor yang tidak bisa ditinggalkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Manager siaran radio Prokom Muhamad ilham mengungapkan bahwa tujuan awal dari dia daknnya studi banding ini adalah untuk meningkatkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kualitas SDM crue Prokom. Studi banding yang dimulai (16/1) pukul 10.00 pagi kemarin men dapat sam butan hangat dari pihak RRI. Saat memasuki area gedung RRI kami &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;disambut oleh beberapa pegawai yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada di sana. Koordinator Pemerintah beritaan Pranowo Adi yang sekaligus mewakili pimpinan RRI yang sedang berhalangan serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa rekan kerjanya menyambut hangat kedatangan kami. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Mereka mengingiring kami menuju suatu ruangan yang telah tersedia didalamnya jajaran kursi yang tersusun rapi dengan udara dingin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;AC yang sangat terasa. Kami dari crue Prokom mengambil posiosi duduk masing-masing. Awal perjumpaan itu diawali dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penjelasan mengenai apa itu RRI, bagaimana proses penyiarannya, tekhnologi yang digunakan hingga deskripsi acara siaran yangt dipaparkan oleh beberapa orang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dari pegawai RRI yang berkompeten dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bidang masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Setelah perbin cangan itu usai kami melanjutkan penjelajahan di beberapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagian gedung RRI. Dilanjutkan dengan mem&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;asuki ruangan yang posisinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berhadapan degan ruangan yang baru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saja kami tingalkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Diruangan itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diperlihatkan dan dijelaskan mengenai alat yang digunakan untuk mengolah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bahan siaran yang akhirnya siap untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengudara (ruangan rekaman). Kami juga diberi penjelasan mengenai tekhnologi yang digunakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diruangan tersebut oleh pegawai RRI Sigit yang mendampingi kami seluruh crue Prokom. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Setelah itu lanjut ke ruangan yang berada dipojok depan bagunan yang &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terdiri dari banyak jkomputer yang berjejer disana. Ruangan ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah ruangan dimana reporter &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lapangan mengetik berita yang didapatkan dari lapangan, dan disini juga kita melakukan rapat redaksi sebelum reporter mencari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berita dilapangan, ujar Pranowo Adi. Jadi prosesnya kurang lebih sama dengan proses kerja wartawan media&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cetak (koran) ya pak? Tanya Yani &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;salah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;crue Prokom. Ya &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;proses kerjanya memang hampir &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sama, mungkin bedanya adalah di penyajian beritanya saja, jawab Pranowo. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Menuju&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke bagian belakang gedung, yaitu studio Pro 1&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;RRI. Disana terlihat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada dua orang penyiar yang sedang asik dengan peralatan siaran yang ada didepannya, serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa penyiar yang sedang berunding diruangan yang sama. Bagian penyiaran RRI Agustini yang mendampingi kami, memperkenalkan kondisi ruangan serta beberapa penyiar yang ada didalam ruangan tersebut. Canda tawapun pecah disana karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ada beberapa crue Prokom yang telah mengenal penyiar RRI. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Selang beberapa menit, kami di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bawa kebagian ujung dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;posisinya berada dibelakang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagian gedung tersebut. Kami memasuki ruangan yang terdiri banyak peralatan besar yang cukup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aneh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi kami. Boyke yang menagani bidang tersebut mem berikan pejelasan satu persatu peralatan yang terdapat diruangan tersebut, ini semua namanya pemancar, dan pemancar ini masing-masing ada peman car Pro 1, Pro 2&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Pro 3. penjelasan it uterus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berlangsung, kamipun menyimaknya walaupun kon&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disi ruangan tersebut cukup sesak dengan pemancar besar setinggi manusia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Setelah menghabiskan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;waktu sekitar 15 menit diruangan tersebut kami langsung menuju&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke studio Pro 2 RRI. Diruangan tersebut sudah ada penyiar yang siap mengudara dengan program&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;siaran yang akan dibakannya. Penyiar Pro 2 yang membawakan program tips, Indra menghentikan aktifitasnya sejenak dengan kedatangan kami. Seluruh crue yang berkunjung saling berkenalan dan berpose bersama Indra diruangan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Selang beberapa waktu kemudian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tiba&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saatnya Indra&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengudarakan program&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;acara yang telah dipersiapkannya sembari tadi. Agustini dan rekannya yang mendampingi kami waktu itu menawarkan kepada salah satu diantara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kami untuk siaran bersama I ndra pada kesempatan itu. Akhirnya Ilham&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Lismardianalah perwakilan dari crue yang ikut siaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersama Indra pada kesempatan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tepat pukul 12.50 siang kemarin, setelah acara duet siaran bersama Indra pun usai, kami &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pemit untuk segera mengakhiri kunjungan atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;studi banding yang kami lakuakn pada kesempatan itu. Diakhiri dengan berjabat tenagan dengan beberapa pegawai RRI dan penyiar yang mendampingi kami,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;dan perjumpaan itupun berakhir dengan penuh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nuansa keakraban. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Usai kunjungan kami diantara crue sempat melakukan perbincangan diarea parkir RRI, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saat ditanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenai apa yang didapatkan dari studi banding teersebut, Ilham menjawab yang pasti kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jadi tahu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagaimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagaimana managemen siaran yang professional, peralatan yang memadai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan SDM yang terampil. Selain itu hasil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari studi banding ini, dapat kita jadikan contoh untuk meningkatkan mutu siaran, percakapan itupun usai dan akhirnya kami pergi dengan tujuan masing-masing. (Ambaryani, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;crue Prokom &amp;amp; anggota lembaga pers mahasiswa Stain Pontianak).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8400444845182929096?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8400444845182929096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8400444845182929096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8400444845182929096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8400444845182929096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/our-story-in-rri.html' title='Our Story in RRI'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6R1HQSKoXI/AAAAAAAAAEI/r4PIeJKHoa8/s72-c/Radio.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-7262801692766674249</id><published>2008-02-02T05:26:00.000-08:00</published><updated>2008-02-02T05:32:04.461-08:00</updated><title type='text'>Media Cetak dan SDM nya</title><content type='html'>Media Cetak dan SDM nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak 2 Februari 2008&lt;br /&gt;Media yang sering disebut-sebut sebagai alat kontrol sosial memiliki peran yang sangat penting dalam  mayarakat. Karena tugas utama media adalah memberikan informasi pada khalayak yang akhirnya informasi tersebut memberikan efek positif maupun negatif. Selain menjadi alat kontrol sosial, media juga menjadi sarana untuk mencerdaskan pembacanya, dengan informasi yang disajikannya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan fungsi itu tidak bisa terlaksana lantaran SDM yang mengelolanya tidak sadar akan fungsi dasar suatu media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu instansi maupun media tidak bisa berdiri sendiri, dalam artian harus dikelola dan dikembangkan dengan banyak unsur yang ada didalamnya. Salah satu unsur yang harus ada didalam sebuah media adalah sumber daya manusia yang berkualitas. Suatu persoalan akan berjalan dengan baik jika ditangani oleh orang yang berkometen dalam hal tersebut. Namun sebaliknya, jika suatu hal ditangani oleh orang yang tidak memeiliki kemampuan, maka kehancuranlah yang akan terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari beberapa media ditangani dan dikelola oleh SDM yang memiliki pendidikan yang memadai. Tetapi tidak sedikit pula apa yang disajikan jauh dari kata mendidik. Berita yang disajikan terkadang terkait dengan kepentingan suatu oknum atau bahkan suatu instansi tertentu. Jika ini yang terjadi, maka khalayak tidak akan mendapatkan informasi yang benar-benar harus didapatkannya, karena media menyajikan informasi atas kepentingan orang yang berkepentingan, bukannya atas dasar kepentingan khalayak atau pembaca. Hal ini sudah saatnya ditangani secara serius oleh orang-orang yang tergabung pada suatu media tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang demikian sudah menjadi rahasia publik. Pertanyaanya apa yang sedang terjadi pada media kita? Apakah hal ini terjadi karena adanya fakta dan kepentingan yang berdampingan? Ataukah adanya ketidak sehatan dalam menjalankan aturan main? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terjawab dengan menilik bagaimana kondisi SDM yang ada didalamnya. Tidak sedikit media yang memberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas SDM yang tergabng didalm media tersebut, bahkan ada pula yang memberikan kesempatan itu menuntut ilmu hingga keluar negeri. Tetapi pertanyaan yang selanjutnya adalah, apakah pernah suatu media memberikan pelatihan kepribadian pada karyawannya? Padahal hal tersebut tidak kalah pentingnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari kalangan wartawan disebuah media berpatokan pada sembilan elemen jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosensteil, dan kode etik wartawan Indonesia, saat menjalankan tugasnya. Tapi apakah semua wartawan menanamkan prinsip tersebut? Its oke jika wartawan memegang prinsip tersebut, selanjutnya apakah itu membekas pada keseharian atau dalam prakteknya dan apakah prinsip itu digunakan? &lt;br /&gt;Kepribadian atau akhlak wartawan saat menjalankan tugasnya berperan penting hal ini dapat diterima baik beragam apapun wartawan tersebut. Karena semua agama pasti mengajarkan unsur-unsur kebenaran dan kepribadian yang baik dalam keseharian. Hal ini dapat dipahami sebagai bukti dari tindakan keseharian yang bersangkutan. Yang selanjutnya adalah jika seseorang saat menjalani sesuatu dapat menjiwai tidak hanya mengedepankan intelektual saja tapi mempertimbangkan sisi spiritual, hingga apa yang dicarinya, dan ditulisnya sesuai dengan hati nuraninya (menulis mengunakan hati), tidak berpihak pada oknum tertentu tanpa mengesampingkan kepentingan pembaca yang sudah selayaknya mendapatkan informasi yang akurat dan loyalitas utama jurnalisme adalah warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat proses penyeleksian untuk menjadi wartawan  dalam sebuah media, apakah sisi kepribadian atau akhlak pernah dititik beratkan hingga menjadi salah satu syarat bisa atau tidaknya seseorang menjadi wartawan  pada suatu media. Manakala semua itu dikesampingkan, tidak heranlah terjadinya ketidak beresan saat menlakoni profesi sebagai seorang wartawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia jurnalistik dikenal dengan garis api yang merupakan garis pembatas independensi berita. Tidak jarang garis api tersebut tidak dihiraukan dan akan terjadilah ketidak jelasan antara kebenaran dan kepentingan. Karena terkadang kebenaran dan kepentingan selalau berdampingan. (Ambaryani, anggota Lembaga Perss Mahasiswa STAIN Pontianak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus berush hingga detik terakhir. Yang pasti tak ada kata menyerah. Sepakat???”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-7262801692766674249?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/7262801692766674249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=7262801692766674249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7262801692766674249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/7262801692766674249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/media-cetak-dan-sdm-nya.html' title='Media Cetak dan SDM nya'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-9193820869997029213</id><published>2008-02-01T05:46:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:33.054-08:00</updated><title type='text'>Ketidak Langengan Proses Komunikasi Dalam Keluarga Beda Agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6MjvwSKoWI/AAAAAAAAAEA/rlYjJaYASlk/s1600-h/Kartun+ungu.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6MjvwSKoWI/AAAAAAAAAEA/rlYjJaYASlk/s200/Kartun+ungu.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162008901218640226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan izinkan kami menjadi hambamu yang ingin selalu menjadi yang terbaik, untuk engkau Robku dan orang-orang disekelilingku dan bantu aku, izinkan aku untuk bisa membahagiakannya, amin. Biarkan kami terus berusaha sekuat tenaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketidak Langengan Proses Komunikasi Dalam Keluarga Beda Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pontianak &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Terjadinya perbedaan dalam kehidupan sehari-hari merupakan hal yang wajar. Perbedaan pendapat dalam menyikapi suatu permasalahan, maupun dalam memutuskan suatu pilihan hal itu masih bias ditolransi. Tetapi jika perbedaan itu menyangkut hal yang sangat vital, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Agama dalam suatu keluarga merupakan hal yang sangat urgen, karena tidak jarang dalam satu keluarga, agama menjadi landasan berpijak atau menjadi barometer dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang pula orang tua menanamkan asas-asas agama sejak dini pada anak agar anak dapat bertindak sesuai dengan aturan agama. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Keluarnya fatwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari Majelis Ulama Indinesia (MUI)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenai pernikahan beda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agama yang dianggap kharam, merupakan salah satu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;solusi meminimalisir terjadinya diskomunikasi atau proses komunikasi tidak yang normal. Proses komunikasi yang tidak normal, merupakan proses komunikasi yang berlangsung akan tetapi ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa hambatan yang membuat pesan yang ingin disampainakan tidak bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai dengan maksimal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh MUI ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagian komunitas yang tidak menyetujinya, dengan alasan melangar hak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;asasi manusia. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Keluarnya fatwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari Majelis Ulama Indinesia (MUI)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenai pernikahan beda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agama yang dianggap kharam, merupakan salah satu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;solusi meminimalisir terjadinya diskomunikasi atau proses komunikasi tidak yang normal. Proses komunikasi yang tidak normal, merupakan proses komunikasi yang berlangsung akan tetapi ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa hambatan yang membuat pesan yang ingin disampainakan tidak bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai dengan maksimal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh MUI ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagian komunitas yang tidak menyetujinya, dengan alasan melangar hak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;asasi manusia. Fatwa MUI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak langsung&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;mempersempit perceraian yang sering terjadi. Pernikahan yang tidak langgeng,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;salah satu pemicunya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah perbedaan agama. Ketika rumah tangga terbentuk dengan dengan latar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belakang yang berbeda, salah satu yang akan terhambat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah proses komunikasi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Apa yang akan terjadi jika hal yang terpenting dalam keluarga tersebut berbeda-beda. Proses komunikasi bisa berlangsung jika ada beberapa unsur. Diataranya orang yang menyampaikan pesan (komunikator), orang yang menerima pesan tersebut (komunikan), pesan yang disampaikan (massage), sarana untuk menyampaikan pesan tersebut (media) dan yang terakhir adalah timbal balik (feed back). Jika kelima unsur tersebut terpenuhi, maka komunikasi bisa terjadi. Akan tetapi dalam proses komunikasi tersebut tidak jarang pula terjadinya ganguan. Baik ganguan dari pihak yang sedang melakukan proses kimunikasi maupun dari pihak luar.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perbedaan prinsip atau cara pandang dalam suatu permasalahan pasti akan menjadi penghambat proses kimunikasi dan komunikasi pun tidak bisa berjalan dengan lancar. Dalam suatu keluarga pastinya butuh adanya saling keterbukaan dalam berbagai hal. Akan tetapi jika dalam segi agama saja berbeda, maka tidak semua hal bisa dipecahkan bersama. Dalam agama Islam, walaupun individu tersebut merupakan anggota keluarga (mukhrim), jika ia berbeda agama maka orang tersebut dianggap bukan lagi mukhrim. Maka akan adanya batasan-batasan mengenai hal yang akan dibicarakan. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Saat komunikasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berlangsung selayaknya ada umpan balik (&lt;i style=""&gt;feed back) &lt;/i&gt;yang baik dari lawan bicara (komunmikan). Jika komunikan memiliki argumen serta pijakan yang berbeda untuk memecahkan suatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masalah, besar kemungkinan komunikasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengalami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ganguan (miss&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;communication). Setiap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agama memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;aturan yang berbeda-beda, hal itu yang sering&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nampak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dewasa ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baik itu gaya hidup maupun dalam menyikapi satu permasalahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Komunikasi juga akan terbentuk dengan langgeng jika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adanya respon yang baik. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Proses komunikasi akan terhambat karena adanya sekatan-sekatan, proses komunikasipun akan terhambat karena satu permasalahan disikapi dengan cara dan prinsip yang berbeda dan tidak semua individu bisa menrima hal tersebut terutama hal yang berkaitan langsung dengan agama. Suatu permasalahan bisa diselesaikan dengan banyak argumen serta solusi dari banyak pihak dan hal tersebut sangat benar. Tetapi jika masing-masing individu ingin mempertahankan argumen masing-masing dan berjalan pada jalan yang telah dipilih oleh masing-masing individu tersebut, maka yang akan terjadi adalah perpecahan dalam satu keluarga. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tidak jarang hubungan silaturahim pada suatu keluarga akan tergagu dan faktor utamanya adalah agama. Adanya fenomena mengenai perbedaan itu indah, tidak bisa disalahkan. Karena hal itu benar adanya, tapi tidak pada hal agama. Masing-masing individu yang berlainan agama, pasti akan mempertahankan eksistensi agama masing-masing. Dengan adanya hal tersebut maka akan terjadi benturan-benturan yang akan membuat kebersamaan pudar. Selain itu, gaya hidup satu agama dengan agama yang lain pastilah berbeda. Perbedaan gaya hiduppun akan menimbulkan ketidak nyamanan dalam menjalani proses komunikasi dan dinding pemisah akan terus terjadi. (Ambaryani, anggota lembaga perss mahasiswa STAIN Pontianak)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-9193820869997029213?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/9193820869997029213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=9193820869997029213' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/9193820869997029213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/9193820869997029213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/02/ketidak-langengan-proses-komunikasi.html' title='Ketidak Langengan Proses Komunikasi Dalam Keluarga Beda Agama'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R6MjvwSKoWI/AAAAAAAAAEA/rlYjJaYASlk/s72-c/Kartun+ungu.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-8214593099642891153</id><published>2008-01-29T01:46:00.001-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:33.280-08:00</updated><title type='text'>Kekagumanku Pada Bintang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R572SwSKoVI/AAAAAAAAAD4/l6hAtOaFxRc/s1600-h/Langit+malam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R572SwSKoVI/AAAAAAAAAD4/l6hAtOaFxRc/s200/Langit+malam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160833025072341330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Langit tampak gelap malam ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tak ada sinar bulan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Yang ada hanya bintang-bintang kecil yang tampak dari kejauhan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Yang membuat indah suasana malam ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Udara malam tak begitu membuatku risih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tak biasanya pula Jalanan lengang malam ini &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sesekali aku mencuri pandangan dari berbagai arah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ku tatapi langit dihampir sepanjang jalan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tak ku sadari ternyata &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku sedang mengagumi keindahan malam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Yang gelap, tapi tampak indah dengan hadirnya bintang-bintang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku terus berbicara dalam hati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Walaupun langit gelap, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tapi dengan kehadiran bintang-bintang semuanya berubah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku juga kagum pada matahari siang yang tampak perkasa dengan sinarnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku juga kagum dengan bulan dimalam hari yang mampu menyinari malam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku mengagumi ketiganya, matahari, bulan dan bintang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tapi aku hanya ingin menjadi bintang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kecil tapi bersnar dan memberikan keindahan gelapnya malam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sinarnya terlihat jelas walaupun bintang itu kecil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Bintang teruslah bersinar dan memberi keindahan saat malam tiba&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku mengagumi citaan-Mu Tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku mengagumimu bintang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-8214593099642891153?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/8214593099642891153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=8214593099642891153' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8214593099642891153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/8214593099642891153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/01/kekagumanku-pada-bintang.html' title='Kekagumanku Pada Bintang'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R572SwSKoVI/AAAAAAAAAD4/l6hAtOaFxRc/s72-c/Langit+malam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5465154140294926556</id><published>2008-01-28T03:51:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T19:53:04.134-08:00</updated><title type='text'>Saatnya Rakyat dan Pemimpin Sadar</title><content type='html'>Sudah saatnya kita semua sebagai rakyat sadar akan apa yang telah kita lakukan dan akibat yang akan kita terima. Bukan hanya kita sebagai rakyat yang harus sadar tapi semua orang termasuk pemimpin-pemimpin kita yang sedang mengemban amanah besar. Minggu siang 13.10 WIB, 27 Januari 2008 Indonesia berduka cita karena mantan presiden kedua NKRI meninggal dunia. Tidak hanya keluarga yang merasa terpukul, para petinggi, rekan-rekan almarhum juga rakyat ikut larut bela sungkawa.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari itu berderet upacara diselenggarakan untuk melepas kepergian Soeharto yang pernah menjadi orang no 1 di Indonesia. Mantan presiden menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit Pusat Pertamina Jakarta karena sakit yang diderita. Saat itu aku sebagai rakyat yang pernah dipimpinnya, mengucapkan terima kasih pada mantan presiden Soeharto atas apa yang telah dilakukannya selama ini, sempat juga aku berkata dalam hati, selamat jalan semoga bias melalui perjalannan selanjutnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak tahu kapan kita kan dijemput oleh sang khalik? Kita juga tidak tahu apakah kita masih diberi kesempatan dan masih punya cukup waktu untuk memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan. Kita juga bahkan tidak tahu sudah berapa banyak orang yang selama ini kita sakiti, dan suatu saat nanti kita harus menghadap pada sang pencipta, hakim yang maha menghakimi dan kita akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang telah kita lakukan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maut, memang tidak ada seorang pun yang tahu kapan engkau akan menyambangi kita semua. Untuk ku pribadi aku belajar dari apa yang telah dialami oleh orang-orang terdahulu. Hatiku sempa berbisik, apa yang sedang terjadi didunia ini, apa yang sedang terjadi dengan Indonesiaku ini. Mengapa banyak sekali manusia yang memperebutkan jabatan tapi akhirnya ia tak bisa menjalankan tugas, amanah yang ada dan didapatkannya. Mengapa banyak manusia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan? Mengapa banyak orang membayar mahal demi satu kedudukan yang belum tentu kedudukan itu bisa kita pertanggung jawabkan kelak. Mengapa banyak orang yang belum sadar sesungguhnya ia sedang memperebutkan kursi untuk menjadi pelayan rakyat!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah pemimpin tugasnya memimpin rakyat? Tidakkah pemimpin harusnya memenuhi hak rakyat dan menepati janji-janjinya pada rakyat yang telah memilihnya? Tidakkah sang pemimpin masih memililiki banyak hutang pada rakyat yang telah memilihnya? Tapi apa yang rakyat dapatkan? Apa yang dilakukan oleh kebanyakan pemimpi? Aku juga tidak tahu, kecewakah aku dengan kondisi ini? Haruskah aku bangga dengan kondisi seperti ini? Tapi yang jelas TIDAK! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wahai pemimpin ku sudah saatnya menjadikan apa yang telah terjadi sebagai cermin besar, dengan cermin besar itu kita bisa melihat seluruh badan kita dan akan kita ketahui kondisi badan kita. Sesungguhnya apa yang ada hanyalah tipuan belaka, karena manusia takkan tampak wibawa jika tak berbusana. Terlebih lagi jika jasmani dan rohaninya tidak memiliki busana alami yaitu akhlak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mantan presiden kita memang telah pergi, tapi yang sanggat disayangkan, kepergiannya lantas tidak menghapuskan perkara pidananya. Tidakkah harusnya kita bisa belajar dari kejadian ini! Beruntunglah jika kita memiliki perbuatan yang bermanfaat dan jika kita wafat hal tersebut bisa menjadi salah satu tabungan yang akan membantu kita di alam akhirat nanti. Beruntunglah manusia yang kepergiannya akan dirindukan dan semua orang tak sanggup mengenag keburukannya karena terlalu banyak kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya. Tapi aku juga tak tahu pertanda apa jika hingga kita tak ada lagi di dunia ini, tapi keburukan kita masih terus diusut dan diteliti oleh banyak orang. Pertanda apakah itu?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita tak usah berfikiran negative. Tapi yang pasti persiapkan diri agar jika giliran kita nanti yang harus mengakhiri hidup ini, orang-orang disekeliling kita akan senantiasa mendokan kita bukan mencari-cari kesalahan kita. Para pemimpin ku! Berhentilah mendzalimi rakyatmu! Berhentilah untuk menganiaya dirimu. Karena sesungguhnya apa yang kau dapatkan saat ini apa yang kau miliki saat ini jika cara mendapatkannya dan cara mempergunakannya salah, semua itu akan engkau rasakan akibatnya diakhirat kelak. Balasan dan pertanggung jawaban itu tidak hanya milik kaum Muslim, tapi milik semua orang yangtelah Allah ciptakan dan pernah hidup didunia ini.&lt;br /&gt;Berhentilah memikirkan kepentingan dirimu sendiri. Berhenti mendzalimi, menindas orang lain, itu artinya kita melepaskan jerat rantai yang akan membelanggu kita. Semua pemimpin yang saat ini sedang memimpin. Pemimpin Negara (Presiden), Wali Kota, Gubernur,Camat, pemimpin Universitas, pemimpin Sekolah tinggi, pemimpin sekolah, pemimpin perusahaan, pemimpin media cetak, pemimpin media elektronik,pemimpin keluarga dan pemimpin diri sendiri, dan semua pemimpin. Lets we up!!! Semuanya akan kembali pada ALLAH. Semuanya akan kembali pada TUHAN. Semuanya akan dipertanggung jawabkan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5465154140294926556?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5465154140294926556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5465154140294926556' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5465154140294926556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5465154140294926556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/01/saatnya-rakyat-dan-pemimpin-sadar.html' title='Saatnya Rakyat dan Pemimpin Sadar'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-5794893565805678851</id><published>2008-01-22T01:29:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:33.469-08:00</updated><title type='text'>Laut Kehidupan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R5W_F7GaeyI/AAAAAAAAADg/Wx_At6QObXY/s1600-h/Ombak.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158239056707615522" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 566px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" height="150" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R5W_F7GaeyI/AAAAAAAAADg/Wx_At6QObXY/s200/Ombak.bmp" width="316" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menatap dunia dengan segala yang terjadi dalam kehidupan ini bagaikan menatap lautan yang penuh dengan badai dan ombak. Suara lautan sewaktu-waktu bisa memberika ketenangan. tapi lautan akan berubah menjadi menyeramkan jika ombak dan badai menerjang.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku teringat satu hal. Semua orang sedang berusaha danberjuang untuk selalu memberikan yang terbaik padaku. Sesekali ku tatap wajah ayahku yang sedang sibuk dengan aktifitasnya. Aku bergumama dalam hati, ayah betapa engkau menyayangiku, hingga engkau tidak peduli dengan kehidupan ayah sendiri, ayah juga tidak menghiraukan lelah yang menyergab badan ayah yang kini mulai menua. Ayah engkau selalu ingin menunjukkan jika ayah sangat menyayangiku, ayah juga selalu berusaha ingin mngatakan jika aku yang terbaik bagi ayah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasanya aku tak sangup melihat ayahku banting tulang dibawah terik matahari untuk menjemput rezeki. Sekali lagi batinku menjerit aku saying ayah dan aku tak sangup melihat ayah seperti ini. Ayah apa yang bias kulakukan untuk membalas semua yang telah ayah berikan padaku? Apa yang bias kulakukan untuk bias membuat ayah tersenyum banga dan puas karena Tuhan telah menghairkan aku dalam kehidupan ayah dan ayah sangat menyayangiku karena kau tahu ayah juga begitu menyayangi sang maha Pencipta, dan ayah tak akan bias menyalah gunakan kepercayaan yang telah Tuhan berikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ayah jika kapan anakmu ini bisa mengantikan posisi ayah? Aku ingin ayah bahagia. Aku merasa tidak bisa memberikan apa-apa bahkan hanya sekedar hadiah sederhana pun aku tak mampu memberikannya oada ayah. Ayah, engkau memang luar biasa, beruntung sekali aku memilikimu ayahku. Pasti ibu juga demikian. Ibu merasa begitu beruntung memiliki suami yang luar biasa sepertimu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ayah aku akan berusaha sekuat mugkin karena aku tak mau mengecewakan ayhku. Ayah aku ingin bilang aku begitu mengagumi dan menyayangimu ayah. Ibu, sedang apa ibuku saat ini? Pasti ibuku saat ini sedang banting tulang membantu ayahku. Ibu, maafkan anakmu karena tak bisa memberikan yang terbaik untuk ibu. Tapi selama Tuhan masih mengizinkan anakmu ini merasakan kasih sayang ayah dan ibu, anakmu akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk orang yang telah mengorbankan dirinya bahkan kehidupannya untuk diriku. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Terimakasih Tuhan, aku Engkau lahirkan ditengah keluarga yang begitu menyayangiku dan begitu mengerti diriku. Tuhan berikan yang terbaik untuk ayah bundaku. Jangan engkau kecewakan kedeaunya. Tuhan ampuni segala dosanya, terimalah segala amal baik keduanya, dan tuntunlah keduanya kejalan-Mu. Aengkau berikan keduanya tempat yang terbaik, amin”. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-5794893565805678851?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/5794893565805678851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=5794893565805678851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5794893565805678851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/5794893565805678851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/01/laut-kehidupan.html' title='Laut Kehidupan'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R5W_F7GaeyI/AAAAAAAAADg/Wx_At6QObXY/s72-c/Ombak.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-1762369559541985167</id><published>2008-01-21T01:42:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:06:33.662-08:00</updated><title type='text'>Haruskah Memilih???</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jika kondisi dan apa yang sedang ada dihatiku bisa terlihat, mungkin kondisinya bagaikan gambar hati yang sedang bertautan itu dan susah untuk dipisah satu dan yang lainnya. Hatiku sudah terlanjur mencintai kesemuanya yang ada dihadapanku. Aku juga tak tau mengapa aku bisa menjadi sedemikian serakahnya dengan semua hal. Saat harus memilih diantara dua hal yang sama-sama kita cintai, memang terkadang sangat sulit untuk bisa memilihnya. Aku merasa serba salah, dengan diantara dua hal yang sama-sama aku merasa nyaman berada didalamnya. Harus memilih diantara salah satu antara ayah atau ibuku aku tak akan bias memilihnya, itulah ibaratnya. Tapi bukan itu yang sednag kualami itu hanya sebagai perumpamaan saja. Dalam banyak hal aku dihadapkan pada banyak pilihan. Bagaikan&lt;br /&gt;Terus terang kukatakan aku enjoy dengan duniaku saat ini. Aku bisa aktif didunia penyiaran, aku menemukan kepuasan batin &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R5Rr-LGaexI/AAAAAAAAADY/LKg-bjrk9wc/s1600-h/Hati.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157866189121813266" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 258px; CURSOR: hand; HEIGHT: 220px" height="180" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R5Rr-LGaexI/AAAAAAAAADY/LKg-bjrk9wc/s200/Hati.bmp" width="200" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tersendiri. Demikian juga saat aku menemukan hal baru didunia jurnalistik, aku juga merasakan bahwa dunia jurnalistik sudah mengisi sebagian besar ruang hatiku.&lt;br /&gt;Jika suatu saat nanti aku benar-benar harus memilih aku akan merasa sangat sulit untuk memilih. Semoga saja seiring berjalannya waktu akau kan mendapatkan yang terbaik diantara keduanya. Aku hanya bias mengikuti alur jalanya kehidupan ini, dan akan ku biarkan alur kehidupan ini mengalir bagaikan air yang mengalir tenag, tampak keindahan dibalik aliran sungai itu, terdapat bebatuan yang keras tapi bias meambah indah suasana air yang menlir di sungai, ada juga ikan yang berenag bebas dan menikmati kehidupannya. Aku ingin segala sesuatu yang kujalani mengalir bagaikan air. Yang terpenting aku akan selalu berusaha semaksimal mungkin dan aku juga yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik jika hambanya berusaha yang dengan usaha yang terbaik juga. Semoga saja Allah merestui, meridhoi perjalannan ini.&lt;br /&gt;Banyak aktifitas dan kegiatan asik dan memberikan kesan tersendiri bahkan ada kesan beda didalamnya. Tapi karena kau manusia biasa yang bias merasakan lelah, aku juga kadang merasa sangat capek, jenuh dengan apa yang kujalani. Tapi aku selalu berusaha menepis pikiran negatifku pada kehidupan yang sedang kujalani. Aku selalu mejadikan Ibuku motifatorku. Aku pernah menanyakan pada ibuku. “Bu! Apa ibu kuat dan tidak lelah dengan apa yang ibu lakukan selama ini?”. Apa jawaban ibuku! Jika ibu lelah sudah lama ibu lari dari kehidupan ini, tapi semua ini sudah ibu jalani 20 tahun lamanya, dan ibu tidak akan merasa lelah karena ibu memiliki kalian bertiga anak-anak ibu”. Jika aku merasa lelah dan dengan aktifitaku, aku selalu teringat kata-kata ibuku. Aku tidak boleh menjadi wanita yang lemah. Aku dilahirkan dari wanita yang luar biasa, aku juga diciptakan oleh pencipta nomer satu, aku juga pemenag maka lahirlah aku, dan aku harus berusaha yang terbaik agar aku bias memtik buah yang terbaik sekaligus menghadiahkan sesuatun yang terbaik untuk ayah, ibuku, orang-orang yang menyayangiku, orang-oarang yang telah banyak berkorban untuk kelangsungan hidupku, dan yang terpentingf adalah aku harus berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk agar aku bias menghadap Robku dengan kondisi yang terbaik pula.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;"jika burung bisa terbang bebas, aku juga ingin merasakan betapa indahnya menjalani hidup ini dengan melihat dan menyelami banyak hal hingga akhirnya aku tidak sangup lagi untuk menikmati semuanya karena kau sudah tak lagi berada diduni afan nan indah ini. Aku akan menigalkan keindahan dunia dan menemui keindahan dunia lain yang abadi dan kekal selamanya. Samangatlah generasi muda, penerus yang akan terus semanagt untuk melanjutkan perjalanan". Aku yang tak pernah bosan berusaha walau kadang bosan juga ada. Tapi jangan biarkan bosan mengalahkan semangat kita. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4814168511549587943-1762369559541985167?l=ambaryanie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ambaryanie.blogspot.com/feeds/1762369559541985167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4814168511549587943&amp;postID=1762369559541985167' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1762369559541985167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4814168511549587943/posts/default/1762369559541985167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ambaryanie.blogspot.com/2008/01/haruskah-memilih.html' title='Haruskah Memilih???'/><author><name>ambaryani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17135142139142958559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_ZSWPOJfqtts/R7UgBWsbD_I/AAAAAAAAAE0/JPCvEocud6o/S220/AMBAR+VARIASI1.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ZSWPOJfqtts/R5Rr-LGaexI/AAAAAAAAADY/LKg-bjrk9wc/s72-c/Hati.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4814168511549587943.post-4971088026364111375</id><published>2008-01-19T00:19:00.000-08:00</published><updated>2008-11-28T19:59:21.238-08:00</updated><title type='text'>Continue My Profile</title><content type='html'>Kehidupan kecilku selalu penuh dengan hal-hal yang kecil yang membuat aku mulai merasakan harus menyelesaikan tanggung jawabku, tapi ternyata hal itu sangat bermanfaat bagiku. Aku tumbuh menjadi anak yang penuh dengan keinginan dan cita-cita, dan tanpa kusadari aku memiliki jiwa petualang. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasarku, aku tidak pernah memiliki niat untuk melanjutkan pendidikannku disekolah yang relative dekat dengan kampong halamanku. Aku ingin tempat yang jauh dari kampong dan kedua orang tuanku, karena sudah lama aku menginginkan tingal jauh dari orang tua lantaran aku ingin belajar mandiri. &lt;br /&gt;Niat awalku, aku i
